
"Permisi, semuanya!"
Sapaan menyela seorang dokter yang baru keluar dari ruang IGD membuyarkan suasana akrab bercampur rasa haru sebuah keluarga yang tengah berkumpul di ruang tunggu rumah sakit itu.
"Bagaimana keadaan Floretta, Dokter? Apa tindakan terhadapnya berjalan lancar?"
Baruna bergegas menghampiri dokter itu dan dia terlihat sangat tidak sabar ingin mengetahui bagaimana keadaan kekasihnya.
"Proses kuretase-nya berjalan lancar. Pasien juga sudah sadar dan Alhamdulillah tidak terjadi hal yang serius terhadapnya. Walau pasien harus kehilangan bayinya, tapi kami tidak ada menemukan cedera lain di rahimnya. Dan pastinya organ reproduksi pasien masih tetap sehat. Pasien masih tetap bisa hamil lagi," ujar dokter itu sambil tersenyum bangga karena sudah berhasil menyelamatkan pasiennya.
"Ahh..... syukurlah Flo baik-baik saja." Baruna juga seketika tersenyum dan merasa sedikit lega.
"Alhamdulillah..... terima kasih ya, Tuhan!" ucap semua orang yang ada di ruang tunggu itu. Mereka semua merasa bersyukur karena apa yang mereka khawatirkan tidak terjadi.
"Apa saya boleh menemuinya, Dokter?" tanya Baruna.
Dokter itu tidak langsung menjawab. Dia hanya menyipitkan sebelah matanya dan mengeratkan kacamata di atas hidungnya, sambil memperhatikan beberapa orang yang terseyum penuh harap kepadanya.
"Boleh-boleh saja! Tetapi, karena keadaan pasien masih sangat lemah dan harus banyak beristirahat, sebaiknya hanya satu orang saja yang boleh masuk untuk saat ini," terang dokter itu.
"Saya yang akan menemuinya, Dokter!" seru Diaz. Tentunya dia juga sangat ingin menemui adiknya. Sebagai seorang kakak, pastilah dia sangat mengkhawatirkan kondisi Flo saat itu.
"Aku yang akan menemuinya lebih dulu, Diaz!" sergah Baruna, dengan cepat menyela ucapan Diaz. Dia tidak bisa menerima kalau Diaz yang menemui Flo, mendahului dirinya.
Diaz hanya mengehela nafas datar dan mangangguk. "Baiklah, Baruna. Silahkan kau temui Flo sekarang," ucapnya seraya mengusap pundak Baruna dan terus tersenyum menatap wajah Baruna.
"Setelah nanti pasien kami pindahkan ke ruang perawatan, kalian semua juga boleh menemuinya." Dokter itu ikut tersenyum ramah kepada semua orang disana, seraya membuka pintu ruang IGD dan mempersilahkan Baruna masuk.
Di dalam ruang ICU, mata Baruna seketika menatap nanar. Sebingkai kaca seketika menghiasi netranya tatkala melihat seorang wanita yang sangat dicintainya sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan posisi setengah bersandar di headboard tempat tidur itu.
Flo sudah sadar ketika itu, tetapi tatapan matanya terlihat sendu. Sebuah kesedihan mendalam tersirat jelas di pancaran bola matanya yang berwarna biru.
"Flo...."
Baruna segera mendekati ranjang itu dan duduk di tepi ranjang di sebelah Flo.
"Bagaimana keadaanmu, Flo?" Baruna memegang erat kedua tangan Flo dan dia bisa merasakan tangan itu sedikit basah, mengeluarkan keringat dingin.
Tidak ada jawaban terdengar dari mulut Flo. Hanya mata sayunya yang terlihat menatap kosong ke arah Baruna. Namun, bulir bening menetes begitu saja membasahi wajahnya yang masih terlihat pucat.
"Kamu tenang saja, Sayang. Kita disini sudah aman. Kita semua selamat dari kecelakaan kapal itu," hibur Baruna, mengurangi rasa taruma yang mungkin saja masih dirasakan Flo akibat kecelakaan itu.
__ADS_1
Dengan lembut, tangan Baruna mengusap wajah Flo seraya menyelipkan helai rambut yang menutupi wajah cantik itu di balik telinganya.
"Bagaimana keadaan Kak Diaz, Baruna? Apa dia selamat?" Akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir Flo yang berucap lirih. Akan tetapi, raut trauma akan kejadian yang baru saja dialaminya akibat kecelakaan kapal itu, kini terlihat semakin jelas di guratan wajahnya.
Baruna tersenyum menatap wajah Flo yang tidak lagi sedatar sebelumnya. "Diaz baik-baik saja, Flo. Kakakmu hanya mengalami sedikit cedera di kakinya. Dia juga ada di luar, tapi dokter hanya mengijinkan aku yang menemuimu," terang Baruna.
"Tapi bayiku ... " Wajah Flo kembali terlihat murung dan air mata semakin deras membanjiri pipinya.
"Sudahlah, Flo. Saat ini yang terpenting adalah keselamatan jiwa serta kesehatanmu. Kamu tidak perlu memikirkan yang lain dulu," ujar Baruna tetap berusaha menghiburnya. Dia tahu kalau Flo pastilah sangat sedih dan terpukul karena harus kehilangan janin yang baru saja bertumbuh di rahimnya.
"Bayi kita, Bar....." Flo memejamkan matanya, tetapi dia semakin terisak, hingga tubuhnya pun ikut berguncang menahan tangisnya.
"Aku tahu itu, Sayang." Baruna mengusap air mata di pipi Flo dan menatapnya penuh rasa haru.
"Maafkan aku, Bar! Aku tidak bisa menjaga benihmu di rahimku." Flo terus terisak.
"Stttt!"
"Jangan berkata seperti itu, Sayang!" Baruna menggeleng sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir Flo.
"Ini semua adalah kesalahanku, Flo. Aku yang seharusnya minta maaf. Karena khilaf-ku, kamu yang jadinya menanggung semua ini." Baruna memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya itu. Tanpa dia sadari, matanya pun berkaca dan butiran air mata kini tidak terelakkan menetes dari sudut matanya. Meski sesungguhnya mereka berdua merasa memang belum menginginkan kehadiran seorang bayi di antara mereka, akan tetapi baik Flo maupun Baruna, tetap merasa sangat kehilangan. Kehadiran sebuah kehidupan baru yang pernah singgah di rahim Flo membuat sejuta perasaan haru menyelimuti hati pasangan kekasih itu, walau mereka belum mengikat sebuah pernikahan.
"Sepertinya Tuhan marah dan sedang memberi teguran kepada kita, Baruna. Tidak seharusnya kita melakukan itu sebelum kita menikah," sesal Flo dan dia masih terus terisak.
Baruna menatap kedua mata Flo.
"Semua yang terjadi pasti menyisakan hikmah buat kita Flo. Bayi itu mungkin hanya singgah sebentar di rahimmu. Tapi karena kehadirannyalah, semua kini menjadi jelas. Karena kehamilanmu, Ayah Genta akhirnya mengetahui kalau kau tengah mengandung benihku sehingga berniat membawamu kembali ke kota ini. Dan sekarang, Diaz juga sudah mengakui kekeliruannya. Dia sadar kalau tidak seharusnya dia menyimpan dendam terhadap Papa Arkha. Semua hanya kesalahpahaman saja," urai Baruna bercerita panjang lebar.
Flo mengangguk. Mendengar penjelasan Baruna, hatinya menjadi sedikit tenang dan kini dia bisa merelakan kehilangan janin itu. Meski hanya sebentar bisa merasakan kehidupan lain di dalam rahimnya, tetapi kehadiran bayi itu jugalah yang membawanya kembali untuk bertemu lagi dengan pria yang sangat dia cintai.
"Aku sangat mencintaimu, Flo. Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu," bisik Baruna. Tangannya kembali meraih kedua tangan Flo dan memegangnya sangat erat.
"Mulai saat ini aku tidak ingin kita terpisah lagi. Aku akan menepati semua janji yang pernah aku ucapkan padamu, Flo."
"Aku juga sangat mencintaimu, Bar," balas Flo.
Seiring isak tangisnya, Flo kini juga bisa tersenyum menatap wajah Baruna.
"Tadinya aku sempat berpikir buruk tentang kamu, dan aku juga sangat takut kalau kamu akan melupakan aku setelah aku menyerahkan segala-galanya untukmu, Bar. Tapi sekarang aku merasa bahagia. Aku tahu kamu juga pasti mencintaiku, bahkan kau begitu berani mempertaruhkan nyawamu demi menyelamatkanku sewaktu kecelakaan di kapal terjadi."
"Semua itu tidak seberapa, Flo." Baruna balas tersenyum menatap wajah Flo yang semakin basah oleh air matanya. Namun, bukan lagi hanya air mata kesedihan, tetapi kini air mata haru lah yang menitik membanjiri pipinya.
__ADS_1
"Rasa cintaku kepadamu, jauh lebih besar dari semua itu," imbuh Baruna meyakinkan.
Untuk sesaat, kedua orang yang saling mencintai itu terdiam dan hanya saling menatap penuh rasa haru.
"Flo ... "
"Iya ... "
"Aku punya satu permintaan."
"Apa, Baruna?"
"Maukah kamu menikah denganku?" Baruna mengecup mesra kedua punggung tangan Flo dan terus tersenyum menatapnya.
"Aku tidak ingin kita melakukan dosa itu lagi. Setelah kamu sah menjadi istriku nanti, kita tidak perlu merasa bersalah lagi, kalau kita melakukan kekhilafan itu, bukan?"
Tatapan Baruna menyiratkan banyak makna.
Flo mengangguk dan ikut tersenyum penuh arti.
"Iya, aku mau, Bar."
"Terima kasih banyak, Sayang." Baruna kembali memeluk erat tubuh Flo dan Flo juga ikut memeluknya lebih erat.
"I love you, Flo!" Baruna lalu mengecup kening Flo. Rasa haru dan bahagia kian menyelimuti keduanya.
"I love you too, Baruna," sambut Flo.
Wajah Baruna dan Flo saling menatap dan sangat dekat. Dengan dua jarinya, Baruna mengangkat dagu Flo. Perlahan Baruna mendekatkan bibirnya ke bibir Flo dan mendaratkan sebuah kecupan disana.
"Maaf! Apa pasien sudah siap? Kami harus segera memindahkannya ke ruang perawatan!"
Seruan seorang petugas medis yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu, membuyarkan semua yang tengah terjadi antara Baruna dan Flo.
Buru-buru Baruna melepaskan pelukannya dari Flo dan berdiri dari tempat duduknya.
"Oh iya, sudah suster!" sahut Baruna, tetapi pandangannya tetap tertuju pada Flo. Keduanya tersipu malu kala menyadari mungkin saja petugas medis itu, melihat mereka berdua saat sedang berciuman di ruangan itu.
...****************...
Buat pembaca setia, author bau kencur tetap minta dukungannya ya...
__ADS_1
Terutama silent reader mohon dengan sangat untuk sesekali meninggalkan coretan yang bisa memberi semangat, pada kolom komentar.
Terima kasih dan tetap ikuti kelanjutannya.