
Ardila dan Diaz lalu berjalan beriringan menuju ke ruangan kantor Diaz. Yang dikatakan Diaz memang benar adanya, banyak staf yang terlihat tengah bertugas di kantor itu, karena bagian administrasi bengkel juga berkantor di sana. Sehingga, tanpa ragu Ardila bersedia ikut masuk ke ruangan Diaz.
Diaz lalu duduk di kursi kerjanya seraya mempersilahkan Ardila duduk di kursi di depan meja di hadapannya. Sejenak mata Ardila berputar menyapu dan menelisik setiap sudut di ruangan kerja Diaz. Kantor Diaz letaknya memang menyendiri di bagian paling belakang bengkel tersebut. Ruangan kerja Diaz juga tidak terlalu luas, tetapi nampak tertata apik dengan sebuah sofa panjang sebagai kursi tunggu terdapat di sudut samping ruangan.
"Bengkel dan ruangan ini tampak biasa-biasa saja. Sama sekali tidak ada menunjukkan kalau bengkel ini hanya kedok seorang Diaz yang merupakan seorang penjahat," batin Ardila menerka-nerka. Melihat situasi di sekelilingnya dia sungguh tidak bisa percaya kalau Diaz adalah seorang pimpinan penjahat, pengedar narkotika serta suka membuat onar seperti yang pernah dia dengar dari Baruna dan juga cerita beberapa teman-temannya yang lain.
"Apa yang ingin kamu ketahui tentang aku, Dila?" tanya Diaz memulai percakapan mereka dan sejenak membuyarkan semua yang tengah dipikirkan Ardila.
"Aku hanya ingin tahu tentang Floretta. Apa saat ini dia ada bersamamu?" Tanpa ingin banyak berbasa-basi, Ardila langsung mengutarakan apa yang menjadi tujuan utamanya mencari tahu tentang Diaz hingga ke bengkel itu.
"Memangnya apa pedulimu dengan adikku itu?" Diaz mencebikkan bibirnya.
"Tentu saja aku peduli! Semua hal yang berkaitan dengan Baruna, juga akan menjadi urusanku!" jawab Ardila ketus.
"Aku tidak ingin kau menyakitinya lagi, Diaz!"
"Baruna ..." Diaz mendengus pelan. "Adikmu yang seorang bajingan itu sudah menodai adikku. Dia sudah menghancurkan masa depan Floretta!" geram Diaz sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Dengar, Diaz! Baruna bukanlah seorang bajingan. Dia justru ingin bertanggung jawab atas semua kekhilafan yang dia dan Floretta sudah lakukan. Tapi, kamu sendirilah yang sudah menghancurkan masa depan adikmu itu, Diaz!" balas Ardila membentak gusar.
"Kau sengaja menjodohkan Flo dengan seorang penjahat hanya demi keuntunganmu sendiri! Dan ketahuilah, Diaz! Hanya seorang manusia berhati iblis yang tega melakukan hal sekeji itu terhadap adik kandungnya sendiri!" Ardila mendelikkan kedua matanya dan menatap tajam mata Diaz. Jari telunjuknya juga diarahkannya tepat ke depan wajah Diaz.
__ADS_1
"Flo itu adik kandungku, Ardila! Aku berhak melakukan apa saja demi kebahagiannya!"
"Kebahagiaan?" Ardila mengangkat satu ujung bibirnya. "Apa dengan menukar adikmu dengan kekuasaan dan uang, kau berpikir semua itu akan membuatnya merasa bahagia?" Ardila terus menatap miring ke arah Diaz.
"Iya....! Seharusnya dia bahagia. Kalau saja adikmu, Baruna si keparat itu tidak pernah hadir di kehidupan Floretta, Dila!" balas Diaz menyeringai.
"Bukan Baruna ... tapi kau lah yang sebenarnya seorang keparat, Diaz! Kau bahkan lebih menjijikkan dari seorang bajingan! Apa kau lupa kalau kau juga pernah mencoba menodaiku!" hujat Ardila marah.
"Hahaha!" Diaz terbahak begitu mendengar ucapan Ardila yang menghardiknya. "Waktu itu, aku memang tidak berhasil mendapatkanmu, Ardila! Tapi, hari ini kau datang sendiri kesini untuk menyerahkan dirimu kepadaku. Hahaha!" Tawa Diaz semakin menggelegar. Niat jahatnya kembali muncul setelah mendengar Ardila mengumpatnya.
Diaz bergegas berdiri dari tempat duduknya dan mencekal tangan Ardila. Senyum licik terulas di bibirnya. Keinginannya untuk mendapatkan Ardila kembali membuncah di jiwanya.
"Coba saja kau lepaskan sendiri, Dila! Hari ini tidak akan ada yang bisa menghentikan aku untuk mendapatkanmu. Seperti halnya Baruna yang sudah merenggut kesucian adikku, seperti itu pula aku akan mengambil permata milikmu sekarang juga!" Senyum intimidasi itu terpasang jelas di bibir Diaz. Pupil matanya seketika melebar. Dengan tatapan penuh hasrat, Diaz menarik pinggang Ardila dan menempelkan tubuh Ardila di tubuhnya.
"Lepaskan, Diaz! Kalau kau berani macam-macam, aku akan berteriak!" ronta Ardila ketakutan dan berusaha keras melepaskan cengkraman Diaz yang semakin kuat mendekap pinggangnya.
"Berteriak saja, Dila! Berteriaklah sekencang-kencangnya! Tidak akan ada seorangpun yang bisa menyelamatkanmu! Ini kantorku. Apa kau pikir akan ada yang mau memperdulikanmu disini, hah?! Hahaha!" Diaz kembali tergelak. Tentu saja dia merasa mendapat kemenangan, karena tidak akan mungkin ada seorangpun yang berani menentangnya apalagi membela Ardila di kantor itu. Dia tahu semua karyawannya sangat patuh dan tunduk terhadapnya. Melawan orang seperti Diaz juga tidak akan mungkin mereka lakukan, karena justru akan membahayakan keselamatan jiwa mereka sendiri.
Diaz lalu mendorong tubuh Ardila kuat-kuat sehingga tubuh mereka sama-sama terjatuh ke atas sofa dan Diaz menindih tubuh Ardila dengan sangat kasar.
"Jangan, Diaz! Tolong jangan lakukan ini terhadapku!" rengek Ardila dengan suaranya yang terdengar serak, tidak dapat berkutik di bawah kungkungan tubuh Diaz.
__ADS_1
"Diamlah, Ardila! Aku tahu kau masih mencintai aku, kan? Kau tidak perlu terus menolakku, kita akan bersenang-senang sebentar saja disini," bisik Diaz genit, seraya mencumbu leher serta mencium bibir Ardila dengan sangat kasar.
Ardila terus meronta dan berusaha menghindarkan wajahnya dari wajah dan bibir jallang Diaz yang terus mendesaknya. Akan tetapi, Diaz sudah begitu rapat mengurung tubuh Ardila dengan kedua tangan kekarnya.
Braaak!
Di saat yang sama, terdengar pintu ruangan itu didobrak paksa oleh seseorang, sehingga pintu itupun terbuka lebar.
"Hentikan, Diaz! Jangan pernah kau sentuh Ardila!" Seorang pria berteriak geram menghentikan semua yang dilakukan Diaz saat itu.
"Aaahhh! Sialan!" dengus Diaz seraya melepaskan cengkramannya dari Ardila.
Diaz lalu berdiri dan menoleh ke belakang. Senyum kecut langsung tersungging di bibirnya begitu melihat siapa pria yang sudah merusak lagi rencananya menggagahi Ardila hari itu.
...----------------...
Buat para reader semua terutama silent reader, mohon sesekali berikan dukungannya ya. Sekedar kasih jempol dan komen yang positif, akan membuat Author tetap semangat melanjutkan cerita ini.
Bagi yang mengharapkan adegan perselingkuhan serta konflik rumah tangga, silahkan ambil sandal dan pergi ke lapak lain, karena konflik seperti itu tidak ada di cerita ini.
Terima kasih untuk semua yang tetap setia menyimak dan menunggu kelanjutan cerita ini ya....
__ADS_1