
"Bagaimana, Om? Apa Om Rendy sudahmendapatkan informasi tentang keberadaan Diaz dan Floretta?" Baruna menanyakan tentang sebuah tugas yang dititahkan oleh Arkha sebelumnya, kepada asisten kepercayaannya itu.
"Belum, Baruna. Sampai saat ini aku dan anak buahku masih terus melakukan pencarian. Dan ... polisi juga masih terus menyelidiki untuk bisa menemukan keberadaan mereka," sahut Rendy.
Sore itu di kantor perusahaan milik Arkha. Baruna, Arkha dan Rendy tengah berbincang bersama membahas pekerjaan mereka di ruang kerja Arkha. Di sela pembahasan itu, mereka juga membicarakan tentang menghilangnya Diaz dan Flo setelah kejadian malam itu.
Hari itu, sudah lebih dari dua minggu berlalu setelah kejadian malam dimana Alfin kehilangan nyawanya dan Daniel juga sudah berhasil diamankan polisi. Akan tetapi, hingga saat itu, tidak seorangpun mengetahui dimana keberadaan Diaz dan Flo.
"Harus kemana lagi kita akan mencari mereka, Rendy? Apa kau yakin, kalau kau sudah menelusuri dan mencari di semua tempat?" Arkha ikut menimpali. Dia menyadari, semenjak dua minggu setelah kejadian itu, Baruna memang terlihat sedikit kacau. Baruna terlihat uring-uringan dan lebih sering melamun. Kehilangan jejak dari kekasih yang masih begitu dicintainya, membuat putranya itu bagai tengah berputus asa dan tidak bersemangat menjalani harinya.
"Sudah, Bos. Anak Buah saya bahkan sudah menyisir hingga pulau-pulau seberang. Tempat kejadian waktu itu tidak terlalu jauh dari pelabuhan, bisa jadi saja mereka menyeberang dengan kapal laut dan pergi jauh dari kota ini," terang Rendy lagi.
"Aku tidak mau tahu bagaimanapun caranya, Om. Kita harus menemukan mereka. Kalau perlu, aku juga akan ikut bersama orang-orangmu itu untuk mencari mereka!" ujar Baruna tegas. Ada sedikit rasa kecewa di hatinya karena sampai saat itu, Rendy belum mendapat informasi apapun tentang keberadaan Diaz dan Flo, walau dia dan anak buahnya sudah melakukan berbagai upaya pencarian.
Berdasarkan laporan orang hilang yang dibuat Arkha, polisi juga melakukan pencarian, tetapi sampai saat itu juga belum berhasil menemukan jejak mereka. Berdasarkan data di pelabuhan, tidak ditemukan petunjuk apapun yang menyatakan bahwa Diaz dan Flo pernah masuk ke area pelabuhan itu untuk menyeberang ke pulau yang lain.
Selama ini Baruna juga sangat ingin ikut melakukan pencarian. Akan tetapi, Arkha selalu melarangnya. Arkha tidak mengizinkan putranya itu ikut mencari keberadaan Diaz dan Flo. Dia lebih mempercayakan semua itu kepada Rendy beserta anak buahnya.
"Tidak, Una. Kau tidak perlu ikut mencari mereka. Percayakan semua pada Om Rendy. Papa yakin mereka pasti akan segera menemukan Diaz dan Flo," tampik Arkha. Tentunya dia tidak ingin putranya ikut melakukan pencarian, dia ingin agar Baruna lebih fokus pada pekerjaanya saja.
"Kira-kira apa alasan mereka kabur malam itu?" Arkha menekan keningnya. Dia tidak habis pikir untuk apa Diaz dan Flo melarikan diri seperti itu, sedangkan setelah tertangkapnya Daniel, polisi sudah membekukan semua jaringannya, sehingga dipastikan Diaz bisa bebas dari pengejaran polisi.
"Sepertinya Diaz takut anda akan menuntutnya, Bos. Kebencian yang dia tanamkan terhadap anda dan juga perusahaan ini yang membuatnya seperti itu," beber Rendy.
Arkha hanya menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan asistennya itu.
"Semua ini hanya salah paham, Rendy. Aku sediktpun tidak ada keinginan untuk menuntut Diaz. Sejujurnya aku kasihan terhadap mereka. Diaz sudah salah paham terhadapku. Seandainya saja mereka tidak melarikan diri seperti sekarang, aku pasti akan membantu Diaz membangun kembali bengkelnya yang sudah hancur, bahkan aku juga bisa membantu Diaz untuk membangun kembali Rivaldy's Company," sesal Arkha, masih sangat menyayangkan Diaz yang menaruh dendam terhadapnya akibat salah pemahaman akan dirinya.
Arkha, Rendy dan juga Baruna terlihat sangat serius membahas rencana mereka melanjutkan pencarian terhadap Diaz dan Flo sampai tanpa terasa, waktu sudah semakin sore.
"Pekerjaanku sudah beres, Pa. Aku izin pulang lebih awal. Aku akan coba mendatangi pelabuhan untuk mencari tahu, mungkin saja ada petunjuk lain yang bisa aku temukan tentang Diaz dan Flo disana," pamit Baruna.
__ADS_1
"Silahkan, Una. Semoga saja kali ini justru kamu beruntung bisa menemukan informasi disana," ujar Arkha tidak menolak keinginan putranya. "Dan apapun yang nanti bisa kamu temukan nanti disana, kamu jangan lupa mengabari papa atau Om Rendy. Papa tidak ingin kamu bertindak sendiri-sendiri lagi, karena itu bisa membahayakan keselamatanmu sendiri!" Arkha menegaskan nasehatnya.
"Baik, Pa!" Baruna mengangguk dan tidak membantah.
"Oh ya, Una. Papa baru ingat. Malam ini papa mengundang rekan bisnis papa, namanya Om Andreas. Dia bersama putrinya akan datang untuk makan malam di rumah kita. Papa ingin kamu juga ikut menemani mereka," terang Arkha lagi, dia berharap putranya mau ikut menemani makan malamnya dengan rekan kerjanya itu.
"Siap, Pa! Sebelum jam delapan aku pasti sudah tiba di rumah," sahut Baruna patuh.
Baruna lalu bergegas meninggalkan kantornya. Mengendarai motor besarnya, dia menuju ke pelabuhan terbesar di kota itu yang juga tidak terlalu jauh dari pelabuhan pribadi milik perusahaan papanya.
Tiba di pelabuhan itu, Baruna langsung menemui beberapa orang petugas dan bertanya prihal apa saja tentang Diaz dan Flo. Namun, tidak seorangpun yang dia temui bisa memberikan informasi yang dia cari.
Dengan wajah lesu, Baruna kemudian meninggalkan pelabuhan itu dan menuju ke sebuah pantai di kawasan yang lain. Pantai tersebut juga letaknya tidak terlalu jauh dari pelabuhan.
Baruna melangkahkan kakinya di atas pasir putih. Tanpa tujuan yang pasti, dia terus berjalan menyusuri area pantai yang semakin sore semakin ramai dikunjungi orang-orang untuk menyaksikan keindahan pemandangan di kala matahari terbenam.
Hingga dia tiba di dekat sebuah muara, Baruna menghentikan langkahnya. Di atas pasir dia duduk sendiri dan memandangi hamparan laut di hadapannya. Pikirannya menerawang jauh, dan hanya satu orang yang selalu dipikirkannya yaitu Floreta, gadis yang masih begitu dia cintai.
"Dimana kamu saat ini berada, Flo. Mengapa kamu harus meninggalkan kota ini dan meninggalkan aku disini?" Baruna mengusap wajahnya. Dia terkenang, di tempat itulah untuk pertama kalinya dia menyatakan perasaan cintanya kepada Floretta.
"Aku mencintaimu, Flo. Semoga saja cinta kita akan membawamu kembali padaku. Sampai kapanpun aku akan tetap menunggumu. Seumur hidupku aku akan selalu mengingatmu." Seperti itulah harapan dan janji yang selalu di ada di dalam sanubarinya.
Mata Baruna berkaca, ada genangan air mata yang tidak bisa dibendungnya. Ditinggalkan oleh wanita yang masih sangat dicintainya membuatnya merasa sedih dan hilang semangat.
Matahari kini sudah terbenam dan rona jingga di langit sudah berganti gelap.
Baruna masih tidak beranjak dari pantai itu dan tetap duduk termenung disana.
Drrrtt! Drrrtt! Drrrtt!
Baruna menyentuh saku celananya dan merasakan ponselnya bergetar tanda seseorang tengah meneleponnya.
__ADS_1
"Iya, sekarang aku pulang, Pa!" pungkas Baruna setelah menerima panggilan dari Arkha. Dia teringat kalau papanya memang sudah berpesan agar dia pulang sebelum jam delapan.
Tanpa pikir panjang lagi Baruna bergegas beranjak pergi dari pantai itu untuk segera pulang.
Tiba di rumah, senyum hangat Mutiara sudah siaga menyambut Baruna di depan pintu.
"Akhirnya kamu sampai di rumah tepat waktu, Una. Om Andreas dan putrinya baru saja sampai," sambut Mutiara menyampaikan bahwa tamu mereka sudah tiba lebih dulu sebelum dia pulang.
"Iya, maafkan aku sedikit terlambat, Ma. Jalanan cukup padat, untung aku pakai motor jadi bisa sampai di rumah lebih cepat," sahut Baruna memberi alasan.
"Nggak apa-apa, Sayang. Acara makan malamnya juga baru akan dimulai. Sekarang ayo kamu langsung ke meja makan, ya!"
Mutiara menggandeng tangan putranya dan membawanya langsung ke ruang makan dimana Arkha, Ardila dan dua orang tamunya sudah siaga ditempat duduknya masing-masing untuk menunggunya disana.
"Nah ini dia yang ditunggu-tunggu sudah datang!" seru Arkha ketika melihat Baruna dan Mutiara sudah masuk ke ruang makan.
"Una, kenalkan ini Om Andreas rekan bisnis papa, dan ini putrinya Jessica." Arkha memperkenalkan rekannya itu kepada Baruna.
"Hai, Baruna." Andreas segera berdiri dari duduknya seraya mengulurkan tangan kepada Baruna.
"Hai, selamat datang di rumah kami, Om." Baruna menjabat uluran tangan Andreas dengan ramah akan tetapi fokusnya tertuju kepada gadis cantik yang juga berdiri disebelahnya dan diakui putri oleh pria bernama Andreas itu.
"Hai, Baruna. Bagaimana kabarmu?"
Gadis itu tersenyum manis dan menyapa Baruna dengan ramah.
"Jessica!?" Mata Baruna membulat, dia sama sekali tidak menyangka kalau Jessica, gadis yang menjadi teman kencannya selama ini ternyata adalah putri dari rekan bisnis papanya.
Jessica langsung memeluk Baruna, lalu keduanya cipika cipiki tanpa rasa canggung dan terlihat sangat akrab.
Arkha tersenyum. "Wah, rupanya kalian sudah saling kenal," ucapnya senang. Ada harapan di hati Arkha agar putranya itu bisa dekat dengan Jessica sehingga dia sesaat mampu melupakan Flo yang hingga saat ini belum diketahui keberadaanya.
__ADS_1
"Aku dan Baruna kuliah di universitas yang sama di Sydney, Om. Tapi Baruna sangat cerdas, dia bisa menyelesaikan kuliahnya jauh lebih awal dari pada aku," sanjung Jessica untuk mengutarakan kepada semua orang disana bahwa dia sudah kenal baik dengan Baruna.
"Kamu terlalu berlebihan, Jess." Baruna tersenyum tersipu.