Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #64 Menolak Dijodohkan


__ADS_3

"Putramu sangat gagah dan tampan, Arkha," puji Andreas sangat mengagumi sosok Baruna.


"Putrimu juga sangat cantik, pintar dan berpendidikan tinggi," balas Arkha ikut menyanjung putri rekan bisnis sekaligus sahabatnya itu.


Baruna hanya tersenyum tipis menanggapi semua pujian yang dilontarkan Andreas. Sejenak dia menoleh ke arah Jessica yang juga selalu tersenyum lebar mendengar sanjungan Arkha.


Acara makan malam informal di Kediaman Waradana antara dua keluarga itupun berlangsung penuh keramah tamahan.


Arkha dan Andreas sangat menunjukkan keakraban mereka, keduanya begitu antusias membahas bisnis yang tengah mereka garap bersama. Akan tetapi, justru hal sebaliknya yang dirasakan Baruna. Acara makan malam itu terasa begitu membosankan baginya. Apalagi, di sela-sela perbincangan antara papanya dengan Andreas, terdengar mereka saling membahas tentang dirinya dan Jessica.


Baruna menjadi sangat risih dengan sikap Andreas yang terlihat begitu impresif terhadapnya. Beberapa kali juga Andreas menyinggung masalah kedekatan antara dia dengan Jessica. Dari semua ungkapan itu Baruna bisa mencium aroma perjodohan yang digagaskan oleh Andreas untuk putrinya bersama dirinya.


Setelah acara makan malam selesai dan Andreas bersama Jessica pun sudah meninggalkan rumahnya, Baruna duduk sendiri di ruang tengah dan melamun disana.


"Oh ya, Arkha ... bagaimana kalau kita jodohkan saja putramu dengan putriku? Ku rasa itu akan bisa lebih mempererat kelangsungan kerjasama kita kedepannya."


Baruna teringat sebuah kalimat yang diucapkan Andreas ketika tadi acara makan malam sedang berlangsung.


"Hmm ... ku rasa itu ide yang bagus, apalagi mereka juga sudah kenal lama. Tapi ... menurutku semua tergantung mereka saja. Kalau mereka bersedia, kenapa tidak. Aku akan sangat senang kita bisa jadi besan."


Baruna tersenyum kecut ketika ingat tanggapan papanya atas rencana perjodohan yang disarankan Andreas.


Entah mengapa dia merasa kalau papanya juga setuju akan perjodohan itu, sementara dia sendiri jelas-jelas mengatakan kalau dia sudah jatuh cinta kepada seorang wanita yang sampai saat ini selalu ada di hatinya, yaitu Floretta.


"Kamu belum ke kamarmu, Una?"


Sapaan itu membuyarkan lamunan Baruna.

__ADS_1


"Belum ngantuk, Pa," jawab Baruna datar, ketika melihat Arkha menghampirinya dan ikut duduk di sebelahnya.


"Bagaimana pendapatmu tentang Jessica, Una? Papa lihat kalian sangat akrab dan sudah berteman cukup lama. Apa tidak ada keinginanmu lebih dekat dengannya?" tanya Arkha mencoba berbicara dari hati ke hati dengan putranya. Arkha hanya ingin melihat putranya kembali bersemangat, dia berharap Jessica lah gadis yang bisa membuat Baruna melupakan Floretta yang belum tentu akan bisa ditemukannya lagi.


"Biasa saja, Pa," sahut Baruna singkat.


"Aku dan Jessica sudah berteman hampir delapan tahun dan hubungan kami juga tidak akan lebih dari sekedar teman," sambung Baruna tidak ingin menanggapi serius harapan papanya.


"Kamu harus menata lagi kehidupanmu, Una. Saran papa, cobalah move on dari Flo. Kita belum tentu akan bisa menemukan dia dan juga kakaknya lagi. Apalagi, Diaz menaruh kebencian terhadap papa, sudah pasti dia tidak akan menyetujui kamu menjalin hubungan dengan adiknya. Bahkan, bisa jadi saja Diaz juga sudah menjodohkan Flo dengan pria lain," beber Arkha panjang lebar berusaha meyakinkan Baruna untuk bisa melupakan Floretta.


"Tidak, Pa!" tampilk Baruna. "Sampai kapanpun aku tidak akan melupakan Flo. Dan aku akan terus mencarinya sampai ketemu. Papa tidak perlu menjodohkan aku dengan Jessica hanya agar aku bisa move on dari Flo," tegas Baruna menolak saran perjodohan dari papanya.


Arkha hanya menghela nafas panjang. "Baiklah, Una. Apapun keputusan kamu, papa akan selalu mendukungmu. Papa juga tidak akan pernah memaksakan kehendak papa sama kamu. Dengan siapa nanti kamu akan berjodoh, papa juga akan menerimanya dengan tangan terbuka. Papa hanya ingin kamu bahagia dan tidak terus-terusan hanya memikirkan Floretta saja," pungkas Arkha. Sesungguhnya dia sendiri juga tidak ingin menjodohkan putranya dengan siapapun. Dia memberikan kebebasan sepenuhnya kepada putranya itu untuk memilih calon pendampingnya kelak.


.


Hari berlalu dengan cepat. Meskipun Arkha memang sudah menegaskan bahwa dia tidak akan memaksakan keinginannya menjodohkan Baruna dengan Jessica, tetapi tanggapan yang berbeda malah dia dapatkan dari Andreas. Sahabat sekaligus rekan bisnisnya itu justru sangat ingin melanjutkan perjodohan putrinya dengan Baruna. Dan demi menghormati sahabatnya itu, Arkha bersedia merencanakan sebuah acara makan malam romantis untuk anak-anak mereka.


Sedari awal Baruna memang sangat tidak tertarik dengan acara itu. Namun, dia tidak ingin menolak papanya yang terus membujuknya. Semua itu dia lakukan dengan terpaksa hanya demi menghormati papanya dan juga Andreas semata.


"What happen to you, Baruna? You seem to be force having dinner with me? (Ada apa denganmu, Baruna? Sepertinya kamu terpaksa bersedia makan malam denganku?)" tanya Jessica ketika menyadari Baruna lebih banyak diam dan terlihat tidak tertarik dengan acara makan malam romantis yang dipersiapkan kedua orang tua mereka.


"Nothing (Tidak apa-apa)," sahut Baruna singkat.


"Cukup lama kita tidak bertemu, Baruna. Apa kamu nggak kangen sama aku?"


"Sorry, Jess. I am so busy with my new job. I have no time to contact you. (Maaf, Jess. Aku sangat sibuk dengan pekerjaan baruku sampai aku tidak pernah sempat menghubungimu)."

__ADS_1


"Never mind (Tidak masalah)." Jessica mengangkat kedua alisnya dan menggeleng.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Jess."


"Hmm."


"Sepertinya orang tua kita menginginkan perjodohan di antara kita."


"Iya, lalu kenapa, Bar?"


"Maafkan aku, Jess. Bagiku kamu hanya sahabatku. Walau hubungan kita sudah melewati batas, tapi aku tidak pernah mencintaimu. Yang terjadi antara kita hanya untuk having fun saja."


"So do I (Begitu pula aku)." Jessica menengadahkan kedua telapak tangannya di hadapan Baruna tanda dia juga tidak menyetujui perjodohan itu.


"Aku masih senang tinggal di Aussi, Bar. Mommy juga masih disana untuk mengurus butiknya. Aku belum ingin menikah apalagi menetap di tanah air lagi untuk saat ini," terang Jessica juga menegaskan penolakan akan perjodohan yang direncanakan daddy-nya.


"Aku bersedia makan malam denganmu hanya untuk menghormati daddy saja."


Baruna tersenyum mendengar jawaban Jessica. Dia juga ingat kalau Jessica adalah seorang gadis yang menyukai kebebasan, selama ini dia juga tidak pernah punya niat menjalin komitmen dengan lelaki manapun.


"Apa itu artinya kamu juga akam menolak perjodohan kita?" tanya Baruna senang.


"No!" Jessica menggelengkan kepalanya. "Kalau daddy punya keinginan, so aku nggak akan berani menolaknya, Bar," ucapnya ragu.


"Tapi kita sama-sama tidak menginginkan perjodohan ini, Jess. Apa kamu juga tetap akan menerimanya, meski kita tidak saling mencintai?" heran Baruna.


"I can't do nothing, Baruna! (Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Baruna!) Kalau aku menolak, pasti daddy akan memarahiku dan tetap akan memaksa."

__ADS_1


"Aku akan coba bicarakan semuanya baik-baik dengan Om Andreas. I think that he will understand us (Aku rasa beliau pasti bisa mengerti)," pungkas Baruna dan Jessica hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


Keduanya sama-sama tidak menginginkan perjodohan itu terjadi.


__ADS_2