Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #55 Curiga


__ADS_3

Kobaran si jago merah terlihat begitu ganas melalap habis semua yang ada disana. Api membesar dengan sangat cepat karena tiupan angin yang cukup kencang saat itu. Bengkel yang isinya lebih banyak adalah barang-barang yang mudah terbakar dan bahkan pemicu api itupun dengan mudah hangus dan luluh-lantah olehnya.


Para petugas pemadam kebakaran dan beberapa warga yang tempat usaha ataupun tempat tinggalnya dekat dengan lokasi kebakaran, terlihat sibuk dalam upaya pemadaman. Orang-orang terlihat panik dan suasana disana menjadi sangat mencekam.


Suara raungan sirine dari mobil-mobil pemadam kebakaran pun terdengar menggema memenuhi lokasi kejadian. Mobil-mobil pemadam itu silih berganti menuju tempat terjadinya kebakaran.


Setelah berjalan cepat bahkan hampir setengah berlari, Baruna dan Ardila kini sudah sampai disana. Mereka tercengang kala melihat kobaran api sudah berhasil membumihanguskan semua yang ada di hadapan mereka.


"Ya, Tuhan semoga tidak ada korban jiwa akibat kebakaran ini." Ardila berdoa dalam hati.


Entah bagaimana, tiba-tiba saja ada kekhawatiran yang memenuhi benaknya.


"Semoga saja Om Alfin tidak jadi korban kebakaran. Aku tidak mengerti, kenapa aku kepikiran tentang dia dan mencemaskan keselamatan jiwanya?" batin Ardila penuh kegalauan.


"Saudara-saudara sekalian, tolong menyingkir dari lokasi ini segera! Mohon kerjasamanya agar kami para petugas bisa bekerja secepatnya memadamkan api!"


Seruan peringatan dari petugas pemadam itu terdengar lantang melaui sebuah toa, untuk mengingatkan agar warga tidak berkerumun disana karena akan menghambat upaya pemadaman.


"Bagaimana ini, Una?" Ardila tidak mampu menyembunyikan rasa cemasnya.


"Kita akan cari informasi apa ada korban yang terjebak di dalam api, Kak!"


Baruna dan Ardila lalu memberanikan diri mendekati salah seorang petugas pemadam kebakaran disana.


"Apa ada korban jiwa dalam insiden ini, Pak?" Baruna bertanya dengan sopan kepada petugas itu.


"Setahu kami tidak, Mas. Bengkel sedang kosong saat kebakaran terjadi," sahut petugas yang mulai menggulung selang pemadam karena tangki air di mobilnya sudah kosong dan akan bersiap untuk mengisinya lagi.


"Sedang kosong?" Baruna mengernyitkan alisnya.


"Iya, Mas. Untung hari ini Jumat, mereka sudah tutup jam dua siang tadi. Jadi dipastikan tidak ada orang di dalam bengkel saat kebakaran terjadi. Tapi itu masih perkiraan kami saja. Kami masih terus menyelidiki dan mengupayakan pemadaman ini segera," sahut petugas itu.


Baruna mengangguk, dia baru ingat kalau bengkel biasanya memang buka hanya setengah hari menjelang weekend.


Ardila menghela nafas dalam, hatinya sedikit lega setelah mendengar penjelasan petugas itu. "Pasti Om Alfin dan Diaz selamat, karena mereka sedang tidak ada di bengkelnya," batinya merasa senang.


"Tapi apa pemilik bengkelnya ada disini, Pak?" Baruna lanjut bertanya lagi.

__ADS_1


"Tadi siang sudah pulang, tapi setelah terjadi kebakaran, pemilik bengkel belum ada kesini lagi, Mas. Pihak kepolisian juga sedang menghubunginya."


Baruna dan Ardila saling menatap mendengar keterangan petugas pemadam itu.


"Ini aneh, Kak. Bengkelnya dilanda kebakaran, tapi Diaz tidak bisa dihubungi." Baruna berbisik kepada kakaknya.


"Benar, Una." Ardila hanya mengangguk.


Keduanya lalu berjalan menjauhi lokasi kebakaran, karena petugas melarang mereka mendekat. Posisi mereka cukup dekat dengan bengkel itu dan itu pastinya sangat berbahaya.


Beberapa menit berselang, Baruna dan Ardila tetap diam di lokasi tersebut, di antara orang-orang yang juga masih ramai berkerumun disana.


"Aku rasa ada yang aneh, Kak. Bengkelnya terbakar, tapi Diaz tidak ada datang kesini. Aku curiga ada sesuatu yang tengah terjadi," terka Baruna mengikuti firasatnya.


"Kakak juga punya kecurigaan yang sama, Una. Kakak khawatir ini ada hubungannya dengan Daniel. Kemarin sewaktu Diaz menolong Kakak, Daniel terlihat sangat marah kepadanya." Ardila juga mengungkapkan kecurigaannya.


"Bagaimana kalau kita datangi rumahnya dan mencari tahu, Kak?"


"Iya, Kakak setuju, Una."


Baruna dan Ardila lalu kembali berjalan menuju tempat mereka memarkirkan mobilnya.


Berbekal alamat yang sudah dikantongi Ardila sebelumnya, Baruna memutar setir mobilnya dan mengikuti arahan map di aplikasi ponselnya menuju ke alamat rumah Diaz yang kalau tidak macet akan mereka tempuh sekitar tiga puluh menit dari tempat kebakaran itu.


.


"Apa Kakak yakin ini rumahnya Diaz? Apa alamat dan map di aplikasi sudah sesuai?" tanya Baruna ketika notifikasi di map itu menunjuk mereka untuk berhenti di depan sebuah rumah berwarna putih dengan desain kolonial Eropa tampak dari depan.


"Tidak salah lagi, Una. Kakak ingat itu mobil milik Diaz!" Ardila menunjuk sebuah Medium MPV berwarna hitam, yang terparkir di halaman depan rumah itu. Ardila tahu kalau itu adalah mobil yang sehari-hari dipakai oleh Diaz dari dulu, bahkan dari sewaktu mereka pernah menjalin hubungan.


"Tapi kenapa rumah ini terlihat sepi?" Baruna mengedarkan pengelihatannya menyapu semua sudut di rumah itu. Meski malam sudah menjelang dan suasana semakin gelap, tetapi tidak satu lampu pun terlihat menyala disana.


Tidak ingin rasa penasaran memenuhi pikiran mereka, Ardila dan Baruna lalu turun dari mobilnya dan mendekat ke pintu pagar utama rumah itu. Beberapa kali Baruna menekan bel yang ada di sisi pintu pagar itu, akan tetapi tidak ada jawaban dan tidak seorangpun terlihat disana.


"Rumah ini kosong, Kak!" Baruna menghentikan kegiatannya menekan bel itu, karena tidak ada tanda-tanda orang yang akan datang membukanya.


"Kita pulang saja, Kak. Tidak ada orang di rumah ini. Kita akan cari tahu tentang Om Alfin di tempat lain saja," ajak Baruna sambil berbalik dari pintu rumah itu dan hendak kembali ke mobilnya.

__ADS_1


"Iya, Una." Ardila pun mengikuti adiknya.


Praaangg!


Belum sempat menggerakkan kakinya, Baruna dan Ardila sama-sama terkejut. Terdengar suara sebuah benda terjatuh dari dalam rumah itu. Dari lengkingan suaranya, seperti ada benda pecah belah terjatuh menimpa lantai.


"Una, suara itu datangnya dari dalam rumah ini!" seru Ardila menghentikan langkah Baruna.


"Benar, Kak. Aku curiga ada yang tidak beres di rumah ini!" timpal Baruna.


"Kita harus masuk dan memeriksanya, Kak!"


Baruna kembali medekati pintu pagar itu.


"Pintu ini terkunci, Una. Bagaimana kita bisa masuk?"


"Kita panjat, Kak. Pintu ini tidak terlalu tinggi."


Ardila menghirup udara perlahan sambil mengusap dada dan sejenak memperhatikan penampilannya. Saat itu dia mengenakan celana legging panjang dengan kaos casual dan sepatu sneakers. Ardila tersenyum, dengan pakaiannya itu, dia akan sangat leluasa bergerak sehingga dia yakin bisa memanjat pintu itu mengikuti ajakan Baruna.


"Ayo, Una!"


Ardila lalu mencari celah untuk pijakan kakinya bisa menaiki pagar itu. Dibantu oleh Baruna, dengan mudah dia mampu melewatinya.


Baruna juga menyusulnya memanjat pagar itu dan keduanya kini sudah ada di halaman rumah yang cukup luas.


Di depan pintu utama rumah itu, Baruna dan Ardila kembali terdiam, mereka tidak menemukan tanda-tanda adanya orang di dalam rumah itu. Walau sudah menetuk pintu berkali-kali, tetap tidak ada jawaban dari dalam.


"Aneh. Rumah sebesar ini sepi begini. Masa tidak ada seorang pelayan ataupun penjaga yang mendengar kita!" Baruna kembali mengedarkan pandangannya menelisik semua area di rumah itu.


Praakkk!


"Suara apa itu, Una?"


Suara benda terjatuh lagi-lagi terdengar dari dalam rumah itu yang membuat Ardila dan Baruna terperanjat bersamaan.


Baruna hanya menyipitkan sebelah matanya lalu menempelkan telinganya ke pintu rumah itu, mencoba mencari tahu apa yang terjadi di dalam.

__ADS_1


Baruna menahan nafas dan menajamkan pendengarannya. Samar-samar dari dalam salah satu ruangan di rumah itu terdengar jeritan minta tolong. Tetapi suaranya terdengar parau, seperti suara seseorang yang mulutnya tertutup sebuah benda.


"Ada suara mencurigakan di dalam sana, Kak!" pekik Baruna menceritakan apa yang dia dengar kepada kakaknya.


__ADS_2