
Hari demi hari terasa berganti begitu cepat. Hubungan antara Baruna dan Floretta juga semakin hari semakin dekat. Baruna sudah meyakinkan hatinya kalau dia memang sudah jatuh cinta kepada Flo. Akan tetapi, entah mengapa dia merasakan sesuatu yang sangat berbeda ada di diri Flo, sehingga membuat dia sampai saat itu belum berani mengutarakan isi hatinya kepada gadis tegar dan apa adanya itu.
Ada dekat bersama dengan Flo, juga membawa pemikiran berbeda tumbuh di benaknya. Semenjak lebih sering menghabiskan waktu bersama Flo, Baruna juga semakin jarang kumpul bersama teman-temannya. Walaupun Jeffrey dan Tobias sering menghubunginya dan mengajaknya clubbing serta minum-minum, tetapi Baruna selalu berusaha menghindari mereka. Ada saja alasan yang dia utarakan untuk menolak ajakan kawan-kawannya itu.
.
Di satu sore yang sangat cerah, sang surya masih setia menyinari seisi kota dengan pancarannya yang sudah sedikit meredup karena posisinya sudah condong di ufuk barat.
Seperti biasa, Baruna sudah siaga menunggu Flo, pulang dari kantor tempatnya bekerja.
Dari kantor itu, Baruna tidak langsung membawa Flo pulang ke kontrakannya, melainkan mengajaknya ke sebuah pantai yang ada di kota itu.
Keduanya lalu duduk bersebelahan di atas pasir pantai itu dan menunggu terbenamnya matahari disana. Deburan ombak sesekali menyapa telapak kaki mereka yang tanpa alas dan membiarkan saja air laut membasuh pasir yang menempel disana. Semilir angin juga senantiasa menerpa wajah dan rambut keduanya.
"Tumben kamu mengajakku ke tempat ini, Bar?" Flo tersenyum senang karena hari itu Baruna mengajaknya ke satu tempat yang indah dan romantis. Setelah penat bekerja seharian itu, duduk santai sambil memandangi hamparan laut yang membentang dihadapannya, membuat rasa lelah Flo, seakan tersamarkan. Apalagi, ada pria yang selalu membuatnya merasa aman juga ada menemaninya.
"Iya sesekali, Flo. Supaya kamu tidak jenuh dengan pekerjaanmu," sahut Baruna ikut tersenyum menanggapi rasa senang Floretta ketika itu.
"Minggu depan, kamu sudah akan bekerja di perusahaan pengalengan ikan itu kan, Bar? Setelah itu, aku yakin kita akan sangat jarang bisa bersama seperti ini. Kamu pasti akan sangat sibuk dengan semua pekerjaamu di perusahaan ternama itu," urai Flo.
Baruna memang sudah bercerita kepada Flo kalau dia juga sudah mendapatkan pekerjaan. Namun, dia masih tetap berbohong dan mengatakan kalau dia hanya bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan milik papanya itu.
"Enggak lah, Flo. Walaupun nanti kita sudah sama-sama bekerja, kita pasti tetap akan sering bisa ketemu. Aku kan sudah janji akan selalu antar jemput kamu dari kantor," kilah Baruna.
"Aku nggak tahu bagaimana lagi harus berterima kasih sama kamu, Bar. Kamu sudah sangat banyak membantuku. Kamu juga sudah membebaskan aku dari pekerjaan nista yang nyaris menghancurkan masa depanku." Floretta menatap wajah Baruna sambil terus tersenyum. Kian hari, rasa nyaman semakin dirasakannya saat Baruna ada di dekatnya.
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih, Flo. Aku melakukan semua itu karena aku ..." Baruna menghentikan ucapannya dan ikut hanya menatap kedua mata Floretta dengan penuh arti. "Sebenarnya aku suka sama kamu, Flo." Akhirnya kata-kata itu terucap dari mulutnya.
"Apa ... a-apa kamu mau jadi pacarku, Flo?" tanya Baruna sedikit grogi. "Aku jatuh cinta sama kamu, Flo," akunya jujur karena sudah tidak mampu menyembunyikan semua perasaannya terhadap gadis di hadapannya. Untuk pertama kalinya kalimat jujur itu terucap dari mulutnya. Meski selama ini dia dekat dengan banyak gadis, tetapi ini kali pertama dia mengucapkan kata cinta dengan sepenuh hatinya kepada seorang wanita.
Floretta terdiam dan menundukkan wajahnya. Sejujurnya, dia tidak terlalu terkejut mendengar pengakuan Baruna, dari perlakuan dan perhatian yang Baruna berikan kepadanya, dia bisa menebak kalau Baruna memang menyimpan rasa untuknya. Hanya saja dia tidak cukup percaya diri, sampai akhirnya kini Baruna mengungkapkannya langsung dengan sangat manis kepadanya.
"Kamu tidak menjawab pertanyaanku, Flo. Apa ... kamu tidak cinta sama aku?" Baruna mengulang bertanya karena Flo hanya diam tanpa kata.
"Apa kamu serius, Baruna?" Perlahan Flo mengangkat wajahnya dan kembali menatap wajah Baruna.
"Iya, tentu saja! Memangnya aku terlihat sedang bercanda ya?" kelakar Baruna, tetapi ucapannya terdengar bersungguh-sungguh.
Lagi-lagi Flo hanya tersenyum. Namun, kini ada sebingkai kaca menghiasi mata birunya.
"Aku juga cinta sama kamu, Bar," ucapnya berterus terang. Dia juga tidak mampu membohongi hatinya yang selama ini juga menyimpan rasa terhadap pria baik hati dan hadir bak dewa penolong dalam hidupnya itu.
"Harusnya aku yang berterima kasih sama kamu, Bar. Selama ini kamu terlalu baik buatku." Flo membenamkan kepalanya di dada Baruna. Untuk sesaat suasana hangat begitu terasa di antara keduanya.
Menit demi menit terus berjalan, Baruna dan Flo tetap asyik duduk berdua di pantai itu menikmati keindahan langit kala matahari yang mulai terbenam. Tidak banyak kata terucap dari mulut keduanya, hanya hati yang tengah berbincang. Dua manusia yang sedang jatuh cinta itu hanya saling melempar senyum dengan perasaan bahagia yang menyelimuti hati satu sama lain.
"Sudah malam, Bar. Sebaiknya kita pulang sekarang," ajak Flo karena suasana di pantai itu sudah semakin gelap dan ramai orang-orang yang juga ada disana untuk menikmati pemandangan matahari yang beranjak ke peraduan pun, kini sudah mulai meninggalkan pantai itu.
"Iya, Flo. Ayo kita pulang!" Baruna mengangguk. Mereka juga ikut berlalu dari pantai itu bersama pengunjung yang lain, dan menuju ke rumah kontrakan Flo.
***
__ADS_1
"Ayo masuk dulu, Bar!" Floretta menggandeng tangan Baruna dengan manja dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.
"Duduk dulu, aku akan buatkan teh buat kamu," ujar Flo, mempersilahkan Baruna duduk menunggu di sofa usang di ruang tamu. Seperti biasa Baruna memang selalu mampir dan minum teh buatan Flo disana.
Flo bergegas melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuat teh. Senyum indah terus terulas di bibirnya kala menyadari Baruna, pria yang selalu dekat dengannya selama ini, kini sudah resmi menjadi kekasihnya.
Praangg!
Asyik melamun, tanpa dia sadari tangannya menyenggol cangkir yang dipersiapkannya untuk menyajikan teh. Cangkir itu jatuh ke lantai dapur dan hancur berkeping-keping.
"Aaww!" ringis Flo, ketika tiba-tiba merasakan perih di jari telunjuknya saat membersihkan pecahan cangkir yang berserakan di lantai.
Mendengar suara ribut di dapur, Baruna bergegas menghampiri kesana.
"Flo!" pekik Baruna terperanjat. "Kamu terluka?" Baruna membulatkan matanya saat melihat ada darah segar di jari Flo yang terluka akibat tersayat pecahan cangkir.
Baruna bergegas memegang tangan Flo dan membasuh darah yang keluar dari lukanya itu di wastafel.
"Ayo, Flo. Lukamu harus diobati biar nggak infeksi!" Baruna memapah Flo keluar dari dapur.
"Kotak P3K ada di bawah rak TV, Bar!" Flo menunjuk sebuah laci di paling bawah di dekat TV ruang tamu dan meminta Baruna untuk mengambilnya.
"Ayo sekarang aku akan balut lukamu," ucap Baruna seraya menempelkan plester obat di jari telunjuk Flo yang terluka.
"Apa ini sakit?" tanya Baruna terlihat sedikit khawatir akan keadaan Flo.
__ADS_1
Flo tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap Baruna. Perhatian kecil yang diberikan Baruna begitu berkesan di hatinya.
Beberapa saat, keempat netra mereka beradu. Berbagai perasaan bergejolak di hati mereka. Yang pasti, rasa cinta diantara mereka semakin dalam. Jatuh cinta untuk pertama kalinya membuat hati mereka berbunga-bunga.