
"Om Alfin!" Diaz mendengus kesal. "Kenapa Om selalu saja mengacaukan semua rencanaku? Bukannya membantuku, tapi Om malah lebih membela gadis ini!" bentaknya sambil memperlihatkan urat-urat di tangannya yang mengepal, tepat di depan wajah Alfin.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Diaz! Tidak tahu malu! Aku sudah mengingatkan kamu untuk jangan pernah sekali-kali menyakiti Ardila lagi!" balas Alfin juga dengan tekanan nada suaranya yang meninggi.
"Kalau kau sampai berani menyentuh Ardila sedikit saja, maka aku tidak akan takut untuk membunuhmu, Diaz!" ancam Alfin seraya memberi tatapan tajam kepada Diaz.
"Hmm...!" Lagi-lagi Diaz tersenyum sinis. "Aku semakin tidak paham apa sebenarnya yang ada dipikiranmu, Om Alfin? Apa hubungan Om dengan Ardila sampai-sampai Om begitu membelanya?" cibir Diaz disertai gerakan kepalanya, heran.
"Tentu saja aku akan selalu melindungi Ardila dari siapa saja yang punya niat jahat terhadapnya, karena Ardila adalah ..." Intonasi suara Alfin yang sebelumnya sangat tinggi, sontak kembali datar. Untung saja dia berhasil menahan emosi serta menghentikan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan mengatakan bahwa Ardila adalah putrinya. Ketika pandangan Alfin tertuju pada Ardila, saat itu pula dia sadar kalau belum saatnya dia membongkar kebenaran tentang dirinya, baik kepada Ardila maupun Diaz.
"Siapa, Om Alfin?" tanya Diaz mencibir. "Ardila itu adalah anak dari Arkha, musuh besar kita! Memang apa untungnya Om membela gadis ini?" sambung Diaz semakin heran dengan sikap Alfin.
"Ardila hanyalah seorang wanita, Diaz! Kau tidak pantas memperlakukannya dengan kasar seperti itu?" hardik Alfin mengalihkan.
"Alasanmu sangat tidak masuk akal, Om. Entah apa hubungan Om dengan gadis ini sampai Om berani menentangku! Om jangan pernah lupa kalau Om Alfin punya hutang budi kepadaku, karena aku yang sudah membebaskan Om dari- ..."
"Tutup mulutmu, Diaz!" bentak Alfin seketika memotong kalimat Diaz. "Kau tidak perlu mengingatkan hal itu lagi kepadaku! Aku memang berhutang budi padamu, tapi bukan berarti aku harus membiarkan kau berbuat jahat dan menyakiti Ardila!" tegas Alfin sangat kesal dengan ungkapan Diaz yang menegaskan sebuah pamrih.
Diaz memalingkan wajahnya. "Aku tidak punya waktu berdebat denganmu, Om Alfin! Kali ini, aku masih bisa memberi toleransi padamu. Tapi, sekali lagi Om berani merusak rencanaku, maka aku pastikan kalau aku akan mengembalikan Om ke tempat asal Om!" pekik Diaz sarat akan ancaman sembari melangkah keluar dari ruangannya.
Alfin mengusap wajahnya kasar. Setelah Diaz keluar dari ruangan itu, Alfin lalu menghampiri Ardila yang masih duduk membeku di sofa ruangan itu.
"Kamu nggak apa-apa kan, Dila?" tanya Alfin seraya menatap wajah putrinya yang terlihat sedikit shock.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih banyak karena untuk kedua kalinya Om Alfin sudah menyelamatkan aku lagi." Ardila mengangkat wajahnya dan tersenyum saat membalas tatapan Alfin.
"Tapi, kenapa Om bisa ada di tempat ini? Apa hubungan Om dengan Diaz?" tanya Ardila merasa sangat penasaran mengapa Alfin bisa tiba-tiba muncul disana.
"Om bekerja di bengkel ini, Dila."
__ADS_1
"Om bekerja dengan penjahat itu?" Ardila membulatkan matanya.
"Lalu mengapa tadi Diaz mengatakan kalau dia, dan juga Om Alfin memusuhi papaku? Permusuhan apa, Om? Papaku pria yang baik, dia tidak pernah punya musuh. Lalu buat apa kalian memusuhinya? Bukankah Om Alfin adalah sahabat masa kecil Papa Arkha?" Ardila menyelidik. Tentu saja dia sangat heran kenapa Diaz dan Alfin membahas sebuah permusuhan dengan papanya.
"Ahh, bukan apa-apa, Dila. Kau tidak perlu salah paham. Diaz memang suka berbicara ngawur kalau sedang kesal," kilah Alfin mencoba mencari alasan.
"Ini sudah sore, Dila. Sebaiknya kamu segera pulang. Kamu pasti akan kemalaman tiba di rumahmu, karena tempat ini cukup jauh dari sana." Alfin terus mengalihkan. Dia tidak ingin Ardila banyak bertanya lagi kepadanya.
"Ayo, Dila! Om akan antar kamu sampai di mobil, Om tidak ingin Diaz sampai mengganggumu lagi." Alfin mengangkat pundak Ardila dan mempersilahkannya keluar dari ruangan Diaz. Ardila hanya mengangguk dan bergegas melangkahkan kakinya keluar dari bengkel itu ditemani oleh Alfin yang berjalan di depannya.
"Aku pulang dulu, Om. Sekali lagi terima kasih banyak karena Om sudah menyelamatkanku dari Diaz," ucap Ardila ketika dia sudah berada di dalam mobilnya dan bersiap meninggalkan bengkel itu.
"Iya. Hati-hati di jalan ya, Nak!" Alfin melambaikan tangannya hingga mobil yang dikendarai Ardila sudah berlalu dari hadapannya.
.
Tak jauh dari tempat itu, sebuah premium SUV berwarna abu metalic juga terlihat baru saja berhenti di depan bengkel milik Diaz, dan itu hanya beberapa detik berselang setelah Ardila berlalu dari sana.
"Gadis itu adalah putri pertama dari Arkha Waradana. Dia kakaknya Baruna, Bos Daniel," sahut asisten itu.
"Cantik juga gadis itu, siapa namanya?"
"Namanya Ardila, Bos."
"Hmmm, sangat cantik dan seksi!" Pria yang tak lain adalah Daniel itu, tersenyum takjub.
"Untuk apa dia kesini?" sambungnya penasaran.
"Saya juga kurang tahu, Bos." Asisten Daniel yang bernama Jhon itu hanya hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kita ikuti gadis itu, Jhon!" perintah Daniel.
"Hah ... untuk apa kita mengikutinya, Bos? Bukannya tujuan kita kesini ingin menemui Diaz?" Jhon tersentak mendengar permintaan Daniel.
"Ikuti saja perintahku, dan jangan membantah!" tegas Daniel membentak asistennya itu.
"Baik, Bos!" sahut Jhon patuh tanpa berani lagi menolak apalagi membantah.
Dengan segera, Jhon melajukan mobil itu lebih cepat agar bisa menyusul mobil Ardila yang sudah cukup jauh mendahului mereka.
.
Ardila terus memacu mobilnya. Sepanjang perjalanan, hatinya dipenuhi berbagai pertanyaan.
Dia merasa sangat kesal saat teringat akan Diaz yang begitu liar ingin menodainya lagi untuk kedua kalinya. Akan tetapi, dia juga sangat bersyukur karena Alfin datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkannya.
"Apa maksud Diaz mengatakan kalau papa adalah musuhnya? Apa Diaz mempunyai dendam terhadap papa?" Pertanyaan itu yang selalu memenuhi kepala Ardila.
"Diaz selalu ingin menyakitiku. Diaz juga tidak ingin Baruna dekat dengan adiknya, Flo. Apa semua ini ada kaitannya?" Ardila terus berusaha mencerna semua yang terjadi dan berusaha menemukan jawabannya sendiri.
"Papa bilang kalau Om Alfin itu adalah sahabat masa kecilnya tapi kenapa Diaz justru mengatakan kalau papa adalah musuhnya?" Ardila menjadi semakin bingung. Tidak satupun pertanyaan itu bisa dia temukan sendiri jawabannya.
Ardila melirik jam yang tertera di layar head unit mobilnya.
"Sudah jam enam, tapi jalanan masih macet. Aku bisa kemalaman sampai di rumah dan papa pasti akan memarahiku lagi," gerutu Ardila merasa cemas karena sudah pasti dia akan terlambat sampai di rumahnya, sedangkan jalanan yang harus dilaluinya masih sangat macet, karena itu adalah waktu bagi sebagian orang yang baru pulang dari tempatnya beraktivitas.
"Sebaiknya aku mencari jalan pintas saja supaya bisa sampai di rumah lebih cepat."
Ardila lalu memutar setir mobilnya dan berbelok ke sebuah jalan kecil. Dia tahu jalan itu akan membawanya sampai di rumahnya lebih cepat.
__ADS_1
Mobil Ardila berjalan lambat karena harus melewati sebuah gang sempit di kawasan perumahan warga dan mobil Daniel, dari kejauhan juga terus mengikutinya.