
Diaz tersenyum menatap wajah ragu Ardila. Perlahan dia meraih kedua tangan gadis di hadapannya dan memegangnya erat.
"Dila, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu pasti takut apabila ada tanggapan-tanggapan tidak mengenakkan tentang hubungan kita kan?" Dengan lembut, Diaz mengangkat semua jari-jari lentik itu lalu mengecup punggung tangan Ardila dengan mesra.
"Aku mencintaimu, Dila. Aku tidak peduli tentang apa kata orang di luar sana. Karena hubungan ini adalah tentang kita, bukan mereka," terang Diaz sambil terus tersenyum manis berusaha menghilangkan semua keraguan Ardila.
"Sekarang katakanlah kalau kamu juga mencintaiku," pungkas Diaz, berharap Ardila bersedia menerima semua ungkapan perasaannya.
Ardila membeku dan menundukkan wajahnya. Perlakuan manis Diaz membuatnya salah tingkah, dia tidak tahu bagaimana harus menanggapi semua yang diutarakan Diaz kepadanya. Namun, gemuruh dalam dadanya seolah bersorak, berseru dan menyuruhnya menjawab sesuai kata hatinya.
"Aku juga mencintaimu, Diaz." Kalimat jujur itu pun terucap lirih dari bibirnya.
"Terima kasih, Dila. Aku sangat senang karena kamu bisa mempercayaiku lagi. Dan aku berjanji, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaanmu." Senyum bahagia itu kian mengembang di wajah Diaz.
"Tapi, bagaimana kita akan mengatakan semua ini pada Papa Arkha dan Mama Mutiara? Apa mereka akan setuju dengan hubungan kita?" Ardila kembali memperlihatkan rasa ragu di wajahnya.
"Om Arkha dan Tante Mutiara bukan orang yang punya pemikiran sempit. Aku sangat yakin, mereka pasti akan menerima dengan senang hati hubungan kita."
Ardila menganggukkan kepalanya. Seperti semua yang dikatakan Diaz, dia pun kini ikut meyakinkannya hatinya. Dia tahu kalau dua orang yang dianggap sebagai orang tuanya selama ini, memang adalah orang-orang yang berpikiran sangat terbuka. Sudah pasti Arkha dan Mutiara, tidak akan mengekangnya untuk menentukan apa saja, terutama dalam hal memilih calon pendamping hidupnya.
"Kalau kamu setuju, bahkan malam ini pun aku bisa membicarakan semua ini dengan mereka, Dila. Aku akan ceritakan kalau aku sangat serius ingin hidup bersamamu." Diaz menyambung kembali kalimatnya dan Ardila membalasnya hanya dengan senyuman tanpa sanggup berkata apapun lagi.
"Jangan sekarang, Diaz. Aku ingin buat kejutan untuk semua orang rumah. Sebaiknya kita tunggu saat yang tepat, setelah Baruna dan Flo kembali dari bulan madunya," tolak Ardila dengan alasan yang cukup menarik.
Kini giliran Diaz yang menanggapi dengan hanya menganggukkan kepalanya.
Keduanya sama-sama tersenyum. Tak lama kemudian, Diaz dan Ardila pun beranjak pergi dari restoran itu untuk kembali pulang.
__ADS_1
****
Pagi hari berikutnya di Kediaman Waradana.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Akan tetapi, Ardila masih sibuk berganti pakaian di kamarnya.
"Aduh... warna baju ini terlalu norak. Nggak cocok untuk kerja." Ardila menggerutu. Sudah banyak baju yang dia keluarkan dari dalam lemari pakaiannya. Namun, tidak satupun yang dia rasa pas untuk dipakainya hari itu.
Hari itu adalah hari pertama Diaz akan mulai mengelola Rivaldy's Company dan sesuai permintaan Arkha sebelumnya, Ardila lah yang akan membantunya.
Pagi itu, Diaz berencana mengajak Ardila bersamanya untuk mulai menata kantor baru mereka. Karenanya, Ardila ingin tampil cantik di hadapan pria pujaan hatinya tersebut, di hari pertamanya bekerja.
"Aaah, yang ini juga nggak bagus, terkesan sangat santai." Ardila mendengus, dia merasa masih belum pas mengenakan baju kesekian yang dicobanya.
Ardila kembali membuka lemarinya dan memilih beberapa baju serta rok untuk dia coba padu-padankan lagi. Namun, semuanya masih belum sesuai dengan keinginannya.
Ardila tersenyum ketika dia menemukan sebuah mini dress hitam bermotif polkadot putih, terselip di antara beberapa baju lamanya.
Ardila bergegas mengganti lagi baju yang sebelumnya dia pakai dengan dress itu. "Baju ini masih bagus. Aku akan pakai yang ini saja," gumamnya tersenyum lebar.
Ardila terus memandangi bayangannya di depan cermin. Akan tetapi, tiba-tiba saja senyum di bibirnya kembali berubah cemberut. "Dress ini terlalu terbuka, cocoknya buat jalan-jalan bukan buat kerja," sungutnya tetap belum puas dengan penampilannya pagi itu.
Tok... Tok... Tok...
"Dila.... kamu sudah siap, Sayang? Diaz sudah datang. Ayo segera turun, kita sarapan pagi sama-sama!"
Ketukan pintu terdengar bersamaan dengan suara Mutiara, memanggilnya.
__ADS_1
"Diaz sudah datang?!" Ardila terperanjat. "Kenapa dia datang sepagi ini?" sungutnya, karena merasa waktu saat itu masih terlalu pagi.
"Iya! Sebentar, Ma! Aku ganti baju dulu," sahut Ardila membalas panggilan Mutiara, sembari merapikan baju-baju yang masih berserakan di atas tempat tidurnya.
"Tumben jam segini kamu masih ganti baju, Sayang?!" Mutiara merasa penasaran karena tidak biasanya Ardila berdandan sampai begitu lama. Dia pun langsung membuka pintu dan masuk ke kamar putrinya.
Mata Mutiara terbelalak melihat kamar Ardila sangat berantakan dan baju-bajunya juga terlihat berserakan di atas ranjang dan meja riasnya.
Mutiara menggeleng. "Hei... ada apa ini, Dila?" herannya.
"Aku lagi pilih-pilih baju, Ma. Hari ini kan hari pertama aku bekerja di Rivaldy's Company. Aku bingung mau pakai baju yang mana." Ardila tersipu, namun tetap berkata jujur kepada mamanya.
Mutiara tersenyum seraya menghampiri gadis itu. "Baju yang ini bagus kok. Kamu sangat cocok memakainya. Karena kamu itu sangat cantik, baju apapun yang kamu pakai, semuanya jadi terlihat menarik," sanjung Mutiara, sambil merapikan dress yang dikenakan Ardila saat itu.
"Tapi apa nggak terlalu terbuka ya, Ma?" Ardila menggeleng dan kembali menatap bayangannya di pantulan cermin.
Mutiara hanya tersenyum tipis dan bergegas membuka lemari pakaian Ardila. Mutiara lalu mengambil sebuah cardigan disana dan menyerahkannya kepada Ardila. "Pakai ini sebagai outer, Sayang! Dengan cardigan ini, penampilan kamu akan terlihat lebih formal," sarannya.
"Aku coba ya, Ma." Ardila bergegas meraih cardigan itu dari tangan Mutiara dan memakainya. Ardila tersenyum lebar, cardigan yang memiliki warna senada dengan dress-nya itu terlihat serasi kala dipakainya.
"Akhirnya aku menemukan baju yang pas! Terima kasih banyak ya, Ma. Mama memang selalu tepat memilihkan outfit buatku," ucap Ardila senang, seraya memuji Mutiara.
"Ya sudah, ayo cepat selesaikan berdandannya! Papa sudah menunggu kita di meja makan," ajak Mutiara. Dia bergegas keluar dari kamar putrinya dan meninggalkan Ardila menuju ruang makan.
"Baik, Ma!" sahut Ardila, segera mengenakan sepasang sepatunya lalu menyusul Mutiara ke ruang makan dimana Arkha dan Diaz sudah menunggunya disana.
...----------------...
__ADS_1
Buat teman-teman yang sudah kasih saran di episode sebelumnya, Author ucapkan terima kasih banyak. Karena pembaca sudah setuju Diaz dan Ardila dipersatukan, jadi selamat menunggu kelanjutan kisah mereka ya!
Tetap ditunggu dukungan pembaca semua dengan memberi like, komen, vote, hadiah serta bintang lima pada karya ini.