Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #31 Orang Yang Menembak Baruna


__ADS_3

Isak tangis Mutiara tak tertahankan tatkala melihat putranya terbaring lemah di ranjang rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Setelah mendapat kabar bahwa Baruna tertembak dari Rendy, Arkha dan Mutiara memang langsung ke rumah sakit menyusul Rendy.


Selang infus masih terpasang di tangan Baruna, alat bantu pernafasan juga masih menutupi hidungnya. Saat itu, Baruna baru saja dipindahkan ke ruang perawatan setelah melewati operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kakinya setelah tembakan pria yang menghadangnya. Kala itu dia juga belum sadar dari pengaruh anastesi yang masuk ke tubuhnya sewaktu menjalani operasi.


"Una, kenapa sampai seperti ini, Nak?" Mutiara memegang erat tangan putranya dan terus terisak.


"Jangan terlalu mengkhawatirkan putra kita, Sayang. Baruna adalah anak yang kuat, hanya sebutir timah panas tidak akan membuatnya kenapa-kenapa!" hibur Arkha yang ketika itu juga ada di sebelah Mutiara.


Dengan lembut Arkha mengusap punggung Mutiara dan berusaha mengurangi kekhawatiran istrinya itu.


"Siapa yang tega menembak putra kita, Bang? Apa yang dia perbuat sampai ada orang yang ingin mencelakainya seperti ini?" isak Mutiara dengan suaranya yang masih serak menahan tangis.


"Aku dan Rendy akan menyelidikinya, Sayang. Ku mohon kamu tenanglah. Baruna pasti akan baik-baik saja!" Arkha terus berusaha menenangkan istrinya yang terlihat sangat khawatir akan keadaan putranya.


Arka lalu menoleh ke arah Rendy yang juga masih ada di ruangan itu.


"Rendy, ikut aku!" ajak Arkha memberi isyarat agar Rendy ikut dengannya keluar dari ruang perawatan Baruna dan meninggalkan Mutiara sendiri menemani Baruna disana.


"Baik, Bos!" Rendy menggangguk dan segera mengikuti perintah atasannya itu.


Arkha dan Rendy lalu berjalan beriringan, keluar dari ruang perawatan Baruna dan duduk di kursi ruang tunggu yang ada di area VIP rumah sakit itu.


"Informasi apa yang sudah kamu dapatkan, Rendy?" tanya Arkha memulai percakapan serius di antara mereka.


"Siapa gadis yang sedang dekat dengan Baruna itu, dan siapa orang yang menebak putraku?" telisik Arkha.


"Gadis yang sedang dekat dengan Baruna itu bernama Floretta, Bos. Dia hanya seorang gadis sederhana yang bekerja sebagai staff administrasi di sebuah perusahaan finance," terang Rendy mulai mengungkapkan semua informasi tentang apa yang sudah dia selidiki sebelumnya, sesuai perintah Arkha.


Semenjak Baruna kembali ke tanah air dan sering pulang larut malam, Arkha memang menugaskan Rendy secara diam-diam mengawasi gerak-gerik putra sulungnya itu. Terlebih, setelah Baruna bersedia mengikuti kemauannya dan mulai belajar untuk mengurus perusahaannya, Arkha sedikit menaruh kecurigaan kepada putranya.


Arkha heran karena setiap hari Baruna memilih memakai motornya sendiri saat akan berangkat ke kantor, tidak pernah bersedia ikut di satu mobil bersamannya. Baruna juga selalu berangkat lebih pagi mendahuluinya. Akan tetapi, Baruna tiba di kantor justru belakangan darinya.


Sore harinya, Baruna juga selalu meninggalkan kantor lebih awal. Namun, Baruna akan juga senantiasa pulang saat malam sudah sangat larut.

__ADS_1


Karena hal itu pula lah Rendy bisa tiba-tiba muncul di tempat kejadian sewaktu Baruna tertembak. Rendy memang sudah sembunyi-sembunyi membuntuti Baruna semenjak dia keluar dari kantornya.


Arkha hanya menganggukan kepalanya pelan. Baginya tidak penting siapa dan apa latar belakang gadis yang menjadi kekasih putranya. Selama ini dia juga selalu memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih sendiri calon pendamping hidupnya kelak.


"Lalu apa hubungan gadis itu dengan penembakan terhadap Baruna, Rendy?" tanya Arkha lagi.


"Sebelum menjalin hubungan dengan Baruna, gadis itu sudah dijodohkan oleh kakaknya dengan seorang pimpinan mafia, Bos. Dan orang itulah yang sudah menembak Baruna," ungkap Rendy menerangkan semua informasi yang dia dapatkan selama mengawasi Baruna.


"Pimpinan mafia?" Arkha mengerutkan keningnya. "Siapa dia, Rendy?" tanyanya penasaran.


"Daniel, Bos! Daniel Denaro, mafia yang sangat disegani di dunia narkotika!" beber Rendy.


"Apa ... Daniel Denaro?!" Arkha membelalakan matanya mendengar informasi yang disampaikan asistennya. Tentu saja dia sangat terkejut. Siapa yang tidak kenal dengan Daniel Denaro, seorang mafia narkoba yang sudah sangat terkenal dan menjadi rahasia umum di kota itu. Tidak ada orang yang berani kepadanya, bahkan karena berbagai alasan, polisi pun sangat sulit untuk bisa menangkapnya.


"Benar, Bos! Karena itu, saya sarankan agar Baruna sebaiknya tidak lagi berhubungan dengan gadis yang bernama Floretta itu. Apabila Baruna masih bersama dengannya, maka sudah pasti Baruna, Anda, seluruh anggota keluarga Anda dan juga perusahaan Anda akan berada dalam bahaya!" tegas Rendy.


Arkha menghela nafas panjang mendengar semua penuturan Rendy. Bagaimana pun juga, dia memang harus bersikap tegas. Kedekatan Baruna dengan Flo secara tidak langsung sudah pasti akan membahayakan semua orang di keluarganya. Dan apabila hal itu dibiarkan, banyak kemungkinan-kemungkinan yang lebih buruk bisa saja terjadi.


"Tapi kalau Baruna sungguh-sungguh mencintai gadis itu, bagaimana aku tega memisahkan mereka, Rendy?" Arka terlihat bimbang.


"Tidak usah menyindirku, Rendy!" ketus Arkha kesal. Dia tahu kalau asistennya itu tengah mencibirnya, karena dia tahu masa lalu Arkha, dulu memang adalah seorang yang mudah diperbudak oleh cinta. Terutama kepada wanita kampung sederhana yang menjadi istrinya saat ini, yaitu Mutiara.


****


Sementara itu di tempat yang berbeda.


Sebuah rumah besar nan mewah, terlihat dijaga ketat oleh pria-pria berbadan tegap disetiap sudutnya.


Seorang dokter terlihat sibuk dengan beberapa alat medis di tangannya dan tengah mengobati luka di tangan seorang pria di salah satu kamar di rumah itu.


"Untung peluru itu hanya mengenai permukaan kulit dan tidak sampai menembus tangan anda, Tuan Daniel," celoteh dokter itu seraya membalutkan perban di tangan pria yang menjadi pasiennya.


"Hari ini aku benar-benar sial! Gara-gara Bocah Bau Kencur itu, tanganku sampai terluka!" geram pria itu dengan sorot matanya yang masih dipenuhi rasa amarah.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Permisi, Tuan Daniel. Pak Diaz sudah datang."


Seorang pelayan masuk ke kamar pria yang bernama Daniel itu dan mengatakan pada majikannya tentang kedatangan seseorang yang sudah dinantikannya.


"Ok, suruh dia masuk!" perintah Daniel kepada pelayan itu sekaligus mempersilahkan dokter pribadinya keluar dari kamarnya, karena dokter itu sudah selesai mengobati lukanya.


Seorang pria lain kemudian masuk ke dalam kamar itu sambil menundukkan wajahnya, takut, tidak berani menatap pria yang ada di hadapannya.


"Kau sudah tahu kan, apa tujuanku memanggilmu kesini, Diaz?" sinis Daniel menatap tajam ke arah Diaz yang berdiri gemetar, takut akan kemarahannya.


"Ma-maafkan saya, Bos. Sa-saya ... saya ..." Diaz tergagap. Dia sangat takut dan tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Daniel kepadanya.


"Kau sudah terlalu banyak menghabiskan kesabaranku, Diaz! Kau selalu berjanji akan segera menyerahkan Floretta kepadaku, tapi mana buktinya? Sampai sekarang Floretta belum bisa jadi milikku dan bahkan dia sekarang justru dekat dengan Bocah Ingusan itu!" bentak Daniel dengan penekanan emosinya.


"Sekali lagi maafkan saya, Bos. Selama ini saya berusaha membujuk Flo dengan cara baik-baik. Tapi kalau dia tetap tidak bersedia saya jodohkan dengan anda, maka saya akan melakukannya dengan paksa." Akhirnya Diaz memberanikan dirinya menjawab dan membela diri, namun aura ketakutan masih terlihat dari raut wajahnya.


"Dengar baik-baik, Diaz! Aku tidak peduli bagaimanapun caranya, kau harus segera membawa Floretta kesini untukku! Aku tidak mau laki-laki sialan bernama Baruna itu mengambilnya dariku. Gara-gara bocah itu, hari ini tanganku terluka!" ketus Daniel lagi dan Diaz kembali hanya diam tidak berani menyahut.


"Aku kasih kamu waktu tiga hari, Diaz! Kalau dalam tiga hari ini kamu tidak bisa menyerahkan Flo kepadaku, maka bersiaplah! Aku tidak akan pernah membantumu lagi. Dan aku juga akan membuat polisi menangkapmu dan memasukkanmu ke dalam penjara!" tegas Daniel lagi dengan penuh ancaman.


"Ba-baik, Bos!" sahut Diaz singkat dan dengan suara bergetar. Dia semakin takut akan ancaman pria yang sudah banyak membantunya itu.


"Satu hal lagi, Diaz! Segera singkirkan laki-laki yang bernama Baruna itu untuk selama-lamanya dari muka bumi ini. Kalau kau butuh bantuan, kau tinggal menghubungiku. Kau silahkan bawa anak buahku berapa orangpun yang kamu mau! Culik dan habisi dia!"


"Siap, Bos!" sanggup Diaz.


.


Beberapa menit setelah keluar dari rumah besar milik Daniel, Diaz duduk terpaku di dalam mobilnya.


"Baruna! Laki-laki brengsek itu selalu saja membawa sial!" Diaz berdecak dan terlihat begitu kesal.

__ADS_1


"Aku harus segera mengabisi Baruna. Bos Daniel hanya memberiku waktu tiga hari, bagaimana caranya agar aku bisa membawa Flo kesini dalam waktu sesingkat itu?" Diaz mengusap wajahnya kasar dan tetap diam di dalam mobilnya. Setelah mendengar ancaman Daniel terhadapnya, tentunya dia menjadi sangat bingung dan harus memutar otaknya mencari cara untuk bisa menghabisi Baruna serta membawa Flo ke hadapan Daniel, seperti yang dia sudah janjikan selama ini.


__ADS_2