Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #47 Mencoba Mencari Tahu


__ADS_3

Asap rokok mengepul disertai wangi aroma kopi yang menguar dari balkon sebuah kamar di lantai dua Kediaman Waradana. Baruna duduk pada sebuah kursi panjang di balkon itu sambil menyelonjorkan kakinya dan menatap kosong ke arah taman di halaman rumah besarnya.


Jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Suasana di balkon itu sudah sangat terang karena posisinya menghadap tepat ke arah munculnya sang surya.


Hawa pagi itu juga terasa cukup hangat, matahari kembali menampakkan pesona sinarnya secara utuh dan menyapu sisa-sisa titik embun yang masih menempel pada dedaunan karena sempat diguyur hujan tadi malam.


Baruna menyesap rokoknya perlahan, meski raganya ada di tempat itu, tetapi hatinya entah ada dimana. Ingatannya selalu tertuju pada Floretta, wanita yang sangat dia cintai tetapi sekaligus juga membuatnya merasa patah hati.


"Untuk apa kau melakukan semua ini, Flo?" Baruna mengusap wajahnya kasar. Semua hal yang dikatakan Flo kepadanya terasa sungguh menyesakkan dadanya. Diputuskan secara sepihak saat masih sayang-sayangnya, benar-benar membuatnya merasa kecewa.


"Aku tidak percaya Flo secepat itu berubah pikiran. Kenapa tiba-tiba dia menerima keputusan kakaknya untuk menikah dengan Daniel? Apakah Diaz sedang mengancamnya?" Baruna sangat gundah dengan berbagai pertentangan di benaknya.


Seiring putaran jarum jam, matahari pun kian meninggi. Hari sudah semakin siang, tetapi Baruna tetap duduk di balkon itu ditemani berbagai kegalauan yang tengah dirasakannya.


Tanpa Baruna sadari, dari balkon kamar di sebelahnya, Ardila diam-diam terus memperhatikannya.


Kamar mereka memang letaknya bersebelahan, sehingga Ardila sering bisa melihat kegiatan Baruna di balkon itu. Dia tahu kalau adiknya suka merokok dan duduk menyendiri disana ketika sedang memiliki beban pikiran.


"Kasihan Baruna. Dia begitu sakit hati karena ditinggal Flo." Ardila menggumam, dia turut bisa merasakan apa yang tengah dirasakan oleh adiknya.


"Aku juga tidak percaya kalau Flo bisa secepat itu ingin berpisah dengan Baruna, padahal hubungan mereka sudah kelewat batas. Apa Diaz sudah melakukan sesuatu yang membuat Flo tiba-tiba memutuskan hubungannya dengan Baruna?" Keraguan itu juga ada di pikiran Ardila.


"Aku akan coba cari tahu tentang Diaz, aku yakin semua yang dilakukan Flo, ada kaitannya dengan Diaz."


Ardila menjentikkan jarinya. Dia meyakinkan hatinya akan mencari tahu banyak hal lain tentang kehidupan Diaz. Dan dia sudah tahu apa yang akan dia lakukan untuk mendapatkan banyak informasi tentang pria yang juga adalah mantan kekasihnya itu.


"Tapi bagaimana kalau aku bertemu dengan Diaz dan dia malah ingin menyakitiku lagi?" Rasa bimbang kembali melintas di hatinya.

__ADS_1


"Ah, aku hanya akan cari tahu tentang Diaz saja. Aku tidak perlu bertemu dengannya." Ardila meyakinkan apa yang akan dilakukannya.


Ardila bergegas mengganti pakaiannya dan keluar dari rumahnya. Sudah pasti, baik Arkha maupun Mutiara, tidak ada menaruh kecurigaan apapun terhadap putrinya itu, karena Ardila sudah memberi alasan akan pergi ke kampusnya.


Ardila terus memacu mobilnya di tengah kemacetan jalan-jalan di pusat kota itu. Dia menemui beberapa orang teman serta mengunjungi tempat-tempat yang dia ingat pernah ada hubungannya dengan Diaz.


Sampai hari berganti sore, Ardila akhirnya bisa memasang sebuah senyum di bibirnya. Dari informasi-informasi yang dia dapatkan dari teman-temannya ataupun orang lain yang mengenal Diaz, dia mendapatkan alamat sebuah bengkel mobil yang mengarahkannya ke bengkel serta showroom mobil milik Diaz.


Tanpa pikir panjang, Ardila segera menuju alamat tersebut. Dia mempercepat laju mobilnya karena sudah memperkirakan butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di alamat itu dari tempatnya berada saat ini.


'Rivaldy Oto Repair'


Ardila menghentikan mobilnya ketika membaca nama sebuah bengkel yang kini sudah ada di depannya.


"Ini pasti bengkel milik Diaz. Dia memakai nama belakang keluarganya sebagai nama bengkelnya." Ardila kembali tersenyum. Alamat bengkel milik Diaz ternyata dengan mudah bisa ditemukannya.


"Mbak, apa benar ini bengkel milik Diaz Marvelino Rivaldy?" tanya Ardila kepada seorang penerima tamu di konter depan bengkel itu.


"Iya benar, Mbak. Apa ada yang kami bisa bantu?" sambut penerima tamu itu ramah.


"Aku hanya ingin tanya-tanya sedikit tentang Diaz, apa ... kira-kira mbak bisa memberikan informasi yang aku cari?"


"Informasi apa, Mbak?"


"Apa saja, Mbak. Pokoknya semua hal tentang Diaz. Rumahnya dimana dan keluarganya bagaimana?" celoteh Ardila menguraikan semua hal yang ingin diketahuinya tentang Diaz.


Penerima tamu itu mengerutkan keningnya. Mendengar pertanyaan Ardila menimbulkan rasa tidak senang di hatinya. Tentu saja, informasi yang ditanyakan Ardila termasuk privasi yang selama ini tidak sembarangan mereka bisa sampaikan kepada orang lain.

__ADS_1


"Maaf, Mbak. Kalau semua informasi itu saya tidak tahu," sahut penerima tamu itu singkat dan sedikit ketus.


Ardila menghela nafas datar. "Tolong, Mbak. Tolong kasih tahu aku alamat rumahnya Diaz. Aku ini sahabatnya," pinta Ardila.


"Eheemm!"


Tiba-tiba suara dehem seorang pria terdengar dari belakang konter itu, yang sontak membuat Ardila menoleh.


"Kau kesini mencariku, Dila?" Wajah seorang pria menyembul dari belakang wanita penerima tamu dan tersenyum penuh arti menatap ke arah Ardila.


Ardila terperangah, dia sama sekali tidak menyangka kalau Diaz ada di tempat itu dan mengetahui kedatangannya.


"Aku tahu, kau pasti sangat merindukan aku kan, makanya kau jauh-jauh kesini untuk mencariku," ujar Diaz mencibir.


"Jangan ge-er kamu, Diaz. Aku kesini hanya untuk ..." Ardila menundukkan wajahnya. Kehadiran Diaz di hadapannya membuatnya tidak mampu untuk melanjutkan menjawab cibiran sarkasme Diaz. Meskipun dia selalu berusaha menumbuhkan kebencian terhadap pria itu, akan tetapi senyum manis Diaz belum sepenuhnya mampu dia lupakan. Bagaimanapun juga, Diaz adalah cinta pertama di hati Ardila.


Diaz lalu melangkah keluar dari konter itu dan menghampiri Ardila lebih dekat.


"Ayo kita bicara di ruangan kantorku saja! Ku rasa banyak hal yang kau ingin ketahui dariku, kan?" Diaz menengadahkan tangannya dan menunjuk sebuah koridor yang menuju ke ruangan kantornya yang ada di belakang area showroom itu.


Ardila tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Ajakan Diaz tentulah tidak semudah itu diikutinya. Pastinya dia sangat khawatir kalau-kalau Diaz bisa saja berniat menyakitinya lagi.


"Hei! Apa kau pikir aku akan berbuat sesuatu yang tidak baik terhadapmu, Dila?" seringai Diaz. Melihat Ardila yang hanya diam dan memasang wajah kecut terhadapnya, dia tahu kalau Ardila pasti menaruh prasangka terhadap dirinya.


"Banyak orang yang ada di kantor ini, Dila. Kau tidak perlu takut seperti itu terhadapku. Aku tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu," tegas Diaz berusaha meyakinkan Ardila agar tidak takut kepadanya.


Entah mengapa hati Ardila tidak ingin menolak. Senyum ramah dan semua perkataan Diaz saat itu terdengar sopan, tidak ada menunjukkan hal yang mencurigakan, apalagi berniat berbuat tidak baik terhadapnya. Selain itu, dia juga tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Dia sudah jauh-jauh datang ke bengkel itu, tentunya dia harus mendapatkan semua informasi yang ingin didapatkannya.

__ADS_1


__ADS_2