Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #44 Tidak Diizinkan Bertemu


__ADS_3

Pagi hari yang sama di Kediaman Waradana.


Arkha, Mutiara, Ardila dan Baruna sudah duduk di meja makan dan tengah menikmati sarapan pagi bersama.


"Tumben jam segini papa belum berangkat ke kantor?" Ardila memulai obrolan makan pagi mereka sembari menikmati omlete dan mashed potato yang tersaji di piring di hadapannya.


"Iya, hari ini papa berangkat agak siang. Akan ada meeting di luar kantor, jadi dari rumah papa akan langsung berangkat ke tempat itu saja," sahut Arkha. "Belakangan ini papa sangat sibuk, banyak pekerjaan yang tertunda. Semenjak Baruna tidak ke kantor lagi, semua pekerjaannya harus papa sendiri yang menyelesaikannya," sambung Arkha seraya milirik ke arah Baruna yang duduk di sebelahnya dan masih asyik menikmati segelas jus semangka dan sepotong sandwich.


"Sabar dulu, Bang. Baruna masih belum sepenuhnya sembuh. Nanti kalau dia sudah pulih pasti dia akan bantu Abang lagi di kantor," celetuk Mutiara menyela ucapan suaminya.


"Aku sudah sembuh, Ma!" protes Baruna menyanggah ucapan mamanya. Dan kalau kehadiranku memang sangat dibutuhkan di kantor, nggak apa-apa kok, Pa. Aku bisa datang untuk mulai bekerja lagi hari ini. Aku juga bosan terus-terusan hanya di rumah saja dan nggak bisa kemana-mana seperti ini," celoteh Baruna, meyakinkan papa dan mamanya kalau dia sudah siap kembali bekerja hari itu.


"Enggak, Una. Mama nggak setuju kamu ke kantor dulu. Wajahmu saja masih penuh luka lebam seperti itu!" sergah Mutiara, tidak setuju putranya sudah kembali bekerja dalam keadaannya yang masih belum sembuh dari semua luka-lukanya.


Beberapa hari menjalani rawat jalan di rumah, luka bekas tembakan di kaki Baruna memang sudah jauh lebih baik. Akan tetapi, luka lebam yang memenuhi hampir sekujur tubuhnya, masih terlihat jelas.


Ting!


Suara berdenting itu muncul dari ponsel Arkha yang menandakan ada tanda pesan singkat masuk ke ponselnya. Arkha segera meraih ponsel yang sedari tadi ada di atas meja di sebelahnya itu. Keningnya berkerut ketika membaca sebuah pesan disana.


Arkha meghembuskan nafasnya panjang. "Kau memang tidak perlu kemana-mana dulu, Una! Tetap tinggal di rumah sampai kau benar-benar sembuh!" perintahnya sambil menatap tegas ke arah putranya.


"Iya, Pa!" sahut Baruna singkat tanpa ada keinginan membantah. Meski sebenarnya dalam hati, dia sudah tidak sabar ingin keluar rumah untuk kembali mencari tahu tentang keberadaan Flo saat itu, yang sangat dikhawatirkannya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Arkha kembali masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Karena hari sudah semakin siang, dia pun harus bersiap untuk pergi bekerja.


Seperti biasa, Mutiara mengantarnya sampai di depan pintu.


"Aku berangkat dulu, Sayang." Arkha mengecup kening istrinya dan Mutiara membalas dengan mencium punggung tangan suaminya.


"Tolong awasi Baruna. Tadi Rendy mengirim pesan kepadaku, katanya gadis yang bernama Floretta itu, pagi ini sempat datang ke kantor. Setelah tidak bertemu dengan Baruna disana, mungkin saja gadis itu akan datang kesini. Tolong sebisa mungkin, jangan sampai Baruna bertemu dengannya. Itu akan sangat berbahaya bagi keselamayannya," celoteh Arkha memberi perintah kepada Mutiara.


Mutiara hanya tersenyum datar dan mengangguk. Walau sebenarnya dalam hati dia tidak tega melarang putranya berhubungan dengan wanita yang dicintainya, akan tetapi semua perkataan Arkha haruslah dituruti. Keselamatan putranya jauh lebih penting dari rasa tidak teganya itu.


"Baiklah, Abang juga hati-hati ya!" Mutiara melambaikan tangannya sesaat sebelum Arkha masuk ke dalam mobilnya.


Arkha bergegas berjalan menuju mobilnya lalu menyentuh pegangan pintu untuk membukanya. Belum sempat masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Arkha terperanjat dan diam mematung. Kedua netranya terpaku tatkala melihat seorang wanita muda ada di depan pintu gerbang rumahnya. Wanita itu terlihat sedang berargumentasi dengan salah seorang penjaga rumah yang melarangnya masuk.


Arkha tersenyum kecut dan tidak jadi masuk ke dalam mobilnya. Arkha lalu menutup kembali pintu mobilnya dan melangkah mendekati pintu gerbang utama rumahnya itu.


"Maaf, Tuan. Saya sudah melarangnya, tapi gadis ini tetap memaksa masuk," ujar satpam itu mendahului. Arkha hanya sekilas melirik ke arah satpam itu, tatapannya tetap tertuju kepada gadis yang msih berdiri di depannya.


"Setelah semua kesialan yang kau ciptakan untuk putraku, apa sekarang kau datang kesini untuk membawa petaka yang lain lagi?" tuduh Arkha sangat tidak suka akan kehadiran gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Floretta.


Sontak Flo menoleh ke arah Arkha. Flo terperangah, begitu melihat wajah serta penampilan Arkha, dia sudah langsung mengetahui bahwa pria yang ada tepat di hadapannya kini, adalah papa kandung dari kekasihnya, Baruna.


"Om, aku kesini memang untuk bertemu dengan Baruna. Tolong izinkan aku bertemu dengannya sebentar saja." Flo langsung menunjukkan lagi wajah memelasnya kepada Arkha. Dia sangat berharap Arkha akan merasa iba dan memberinya kesempatan bertemu dengan Baruna.

__ADS_1


"Aku dengar, Baruna hampir saja celaka gara-gara aku, Om. Untuk itulah aku ingin menemuinya, aku ingin meminta maaf atas semua perbuatan tidak baik yang dilakukan kakakku, Diaz dan juga Daniel, terhadapnya," beber Flo mengutarakan keinginannya sambil mencakupkan tangan serta membungkukan punggungnya.


"Tidak perlu lagi minta maaf! Semua itu percuma! Apa dengan kata maaf saja, kau pikir akan bisa menjamin keselamatan putraku?" ketus Arkha.


Sejenak netra Arkha menelisik. Bola matanya berputar memperhatikan Flo dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Hmmm ... gadis ini rupanya memang sangat cantik. Walau penampilannya sedang lusuh, tetapi aura kecantikannya sangat terpancar dari wajahnya. Pantas saja Baruna tergila-gila pada gadis ini," batin Arkha.


Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Arkha sangat tidak ingin berbicara ketus apalagi kasar kepada gadis itu. Ditambah lagi dia juga tahu kalau putranya juga sangat mencintai Floretta.


Kala itu penampilan Flo memang terlihat sangat kusut, rambutnya acak-acakan, lingkar matanya menghitam bak mata panda, wajahnya terlihat letih, baju yang dikenakannya pun sudah sangat lusuh. Bagaimana tidak, beberapa hari berada di sangkar emas Daniel, selama itu pula dia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Rasa khawatir dan takut selalu menghantuinya. Dan tadi malam hingga dia berhasil melarikan diri dari rumah Daniel itupun, bahkan dia tidak tidur sama sekali.


"Sekali lagi aku mohon, Om. Tolong izinkan aku bertemu Baruna sebentar saja. Aku hanya ingin meminta maaf, setelah itu aku janji aku tidak akan pernah datang kesini lagi. Aku tidak akan mengusik kehidupan kalian lagi," pinta Flo semakin memelas.


"Tidak bisa! Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan kamu menemuinya. Baruna tidak boleh berhubungan dengan siapapun yang bisa membawanya dalam bahaya! Asal kau tahu, dia sudah dua kali hampir kehilangan nyawanya gara-gara kamu!" hujat Arkha semakin sinis.


"Siapa dia, Bang? Kenapa Abang membentak dan mengusirnya seperti itu?" tanya Mutiara langsung ikut menghampiri ke gerbang rumahnya, ketika melihat Arkha seperti tidak senang akan kehadiran gadis itu disana.


"Dia gadis yang sudah membuat Baruna dan juga kita semua dalam ancaman, Ra. Aku tidak akan pernah membiarkan dia menemui Baruna lagi!" sahut Arkha tegas.


Mutiara menggelengkan kepalanya pelan dan hanya bisa menghela nafas dalam mendengar penuturan suaminya. Dia kemudian berjalan lebih mendekat ke arah dimana Flo terdiam dan berdiri membatu. Mutiara lalu ikut menatap Floretta dan memperhatikan dengan seksama wajah gadis di hadapannya.


"Sepertinya kamu adalah seorang gadis yang baik. Sejujurnya, baik aku maupun papanya Baruna tidak pernah melarang Baruna menjalin hubungan dengan gadis manapun tanpa memandang siapa dia dan bagaimana statusnya. Tapi, bersamamu situasinya jadi berbeda. Kehadiran kamu di kehidupan putraku sudah mengancam keselamatan jiwanya," terang Mutiara sambil memegang kedua pundak Flo dan terus menatap mata sayunya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Tante. Semua ini memang salah saya. Karena saya, Baruna mengalami banyak masalah." Flo menundukkan wajahnya. Dia semakin menyaadari kalau hubungannya dengan Baruna terhalang banyak hal. Dendam kakaknya serta kekecewaan Daniel, sudah pasti memang sangat mengancam kehidupan Baruna dan semua keluarganya.


"Tapi saya mohon dengan sangat, Tante. Tolong izinkan saya bertemu Baruna sebentar saja. Saya janji, setelah melihatnya saya akan pergi dari kehidupan kalian untuk selamanya." Flo kembali memohon.


__ADS_2