
Di sepanjang jalanan kota yang sudah mulai padat oleh kendaraan, mobil yang membawa kabur Floretta menyeruak di antara mobil-mobil yang lain.
Mobil itu lalu menuju ke sebuah rumah yang memiliki dua pilar besar, menjulang tinggi dan berbentuk bulat seperti tabung panjang sebagai penyangga bagian depan bangunannya.
Rumah besar yang hampir semua dindingnya tampak dicat warna putih dengan desain ala kolonial itu terlihat sepi, tatkala mobil itu kini sudah berhenti tepat di depan pintu masuk.
Tiba di tempat itu, Flo langsung memasang wajah kesal. Dia sudah langsung mengetahui siapa yang mendalangi penculikan atas dirinya pagi itu.
"Lepaskan aku! Kalian tidak perlu menarikku dengan paksa seperti ini lagi! Aku bisa jalan sendiri dan aku tahu siapa yang harus aku temui di rumah ini!" geram Floretta, seraya melepaskan kasar tangan dua orang pria yang menangkapnya kini menariknya dengan paksa agar dia bersedia turun dari dalam mobil.
Dipenuhi beribu rasa jengkel dan amarah, Floretta melebarkankan langkah kakinya. Dengan cepat ia melewati pintu utama rumah itu lalu menerobos masuk ke dalam, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ataupun mengucapkan kata permisi.
Floretta mendengus kesal tatkala melihat seorang pria tengah duduk dengan santainya di sofa ruang tamu sambil menyesap sebatang rokok.
"Akhirnya kamu pulang, Flo!" sambut pria itu dengan nada menyeringai ketika melihat Flo masuk ke dalam rumahnya.
Pria itu juga tidak sedikitpun bergeming dari tempat duduknya, dia tetap asyik duduk menyilangkan kakinya di sofa sambil menyemburkan asap rokok dari mulutnya serta menyeruput secangkir kopi di hadapannya.
"Untuk apa lagi kau menyuruh anak buahmu membawaku kesini, Diaz! Sudah berapa kali aku katakan padamu kalau aku tidak akan pernah mau tinggal di rumah ini!" bentak Flo ketus sambil menatap sinis ke arah kakaknya, Diaz.
"Rumah ini milikmu juga, Flo! Sudah seharusnya kamu tinggal disini bersamaku," urai Diaz juga dengan senyum miring yang masih terlukis di bibirnya.
__ADS_1
"Ciih!" Mulut Flo berdecih kasar.
"Apa kau pikir aku akan bersedia mengikuti semua kemauanmu dan ikut tinggal di rumah ini, Diaz? Dari pada harus tinggal di rumah yang kau dapatkan dengan cara tidak halal ini, aku lebih baik tinggal di jalanan saja!" ketus Flo lagi sambil menudingkan telunjuknya ke arah Diaz.
Mendengar kalimat yang diucapkan adiknya, Diaz hanya menaikkan satu ujung bibirnya lalu perlahan berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Flo, yang masih menatapnya dengan sorot mata tidak senang.
"Kau itu terlalu keras kepala, Flo! Rumah ini aku dapatkan dengan cara halal maupun haram, memangnya apa masalahnya? Aku hanya ingin kau hidup lebih baik disini bersamaku. Dan kau juga tidak perlu lagi bekerja banting tulang hanya untuk memenuhi kehidupan sehari-harimu. Di rumah ini semua kebutuhanmu akan aku penuhi, bahkan kau bisa dengan mudah memperoleh apa saja yang tidak pernah kau dapatkan selama ini di luar sana, Flo!" beber Diaz dengan nada suara meninggi tanda luapan emosinya.
"Hidup lebih baik?" Flo tersenyum kecut. "Jadi, dengan hidup di dunia kejahatan dan menjual aku kepada pimpinan penjahat itu, kau berharap hidup kita akan lebih baik? Begitukah, Diaz?" seringai Flo dan tetap menatap Diaz dengan tatapan sinisnya.
"Jangan sembarangan bicara, Flo!" tampik Diaz dengan wajah berubah semakin kesal setelah mendengar pernyataan Flo.
"Aku sama sekali tidak ada niat menjualmu kepada siapapun!" ketus Diaz seraya membuang nafas kasar.
"Menjodohkanku dengan seorang penjahat demi uang dan kekuasaan, itu sama saja kau ingin menjualku kepadanya, Diaz. Sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan harga diriku untuk pria bajingan seperti Daniel! Aku tidak pernah silau akan kemewahan ataupun kekuasaan yang dia janjikan. Aku hanya ingin hidup dengan orang baik-baik, bukan dengan penjahat seperti dia!" sengit Flo, sangat menentang keinginan kakaknya yang tidak sesuai dengan kata hatinya selama ini.
"Tutup mulutmu, Flo!" Dengan penuh kemarahan, Diaz mencekal lengan Flo dan memberinya tatapan setajam pisau belati.
"Harga diri? Harga diri seperti apa, Flo? Apa kamu pikir dengan menjalin hubungan dengan pria tengik seperti Baruna, kau bisa menjaga harga dirimu?" cibir Diaz masih dengan suara penuh emosi.
"Memangnya kenapa, Diaz? Baruna itu pria yang baik dan bertanggung jawab. Walau dia hanya pria sederhana, aku yakin bisa hidup bahagia bersamanya." Flo membalas menatap Diaz juga dengan kedua matanya yang memerah, semakin kesal dengan semua perlakuan kakaknya terhadapnya.
__ADS_1
"Pria sederhana?" Lagi-lagi senyum miring itu tersungging di bibir Diaz.
"Kau belum tahu siapa sebenarnya Baruna itu, Flo?!"
Diaz melepaskan kasar tangannya dari lengan Flo dan membalikkan badannya membelakangi Flo. Dihelanya nafasnya dalam-dalam, Diaz bisa menyadari kalau adiknya itu kini sudah bisa dipengaruhi oleh kebohongan Baruna.
"Baruna sudah membohongimu selama ini, Flo! Baruna itu bukan pria sederhana seperti yang kau pikirkan! Dia hanya ingin mempermainkanmu!"
"Dan ketahuilah, Flo. Laki-laki yang bernama Baruna itu tidak lain adalah putra dari Arkha Waradana, orang yang paling aku benci dalam hidupku! Orang yang sudah menghancurkan keluarga kita!" Diaz membuang nafas kasar dan mengusap dadanya. Aura kebencian begitu membludak di jiwanya ketika dia menyebut nama 'Arkha'. Dendam kesumat semakin meradang dan terasa bagai mencabik-cabik dalam hatinya.
"Apa?!" Flo membulatkan matanya mendengar apa yang Diaz sudah ungkapkan tentang Baruna, kekasihnya.
"Jadi, Baruna itu adalah keturunan keluarga Waradana?" tanyanya seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Diaz utarakan kepadanya.
"Iya, itu benar, Flo! Dan kau tahu, Arkha Waradana beserta semua anggota keluarganya yang lain adalah musuh kita! Aku harus segera membalaskan semua dendamku terhadapnya!" Suara Diaz bergetar dan tangannya mengepal kuat. Kebencian terhadap Keluarga Waradana semakin tidak dapat dibendungnya.
Flo seketika terdiam dan tidak dapat lagi berargumentasi dengan Diaz. Dia hanya bisa menundukkan wajahnya dengan berjuta perasaan dan pertanyaan kini bermunculan di kepalanya.
"Apa itu artinya, Baruna selama ini sudah membohongiku, dan ... janji-janji manisnya itu apakah hanya bualannya saja?" batin Flo tiba-tiba bergejolak. Rasa kecewa semakin memenuhi sukmanya. Pria yang begitu dicintainya ternyata menyembunyikan banyak kepura-puraan di hadapannya.
"Dan perusahaan pengalengan ikan tempat Baruna bekerja itu adalah perusahaan papanya sendiri," gumam Flo dalam hati.
__ADS_1
"Untuk apa Baruna melakukan semua ini terhadapku? Apa memang benar aku ini hanya mainan baginya, karena dia hanya menginginkan tubuhku saja?" Perasaan curiga itu semakin membuncah di jiwanya.
"Mulai detik ini, kau tidak perlu berhubungan lagi dengan Baruna, Flo! Tinggalkan dia dan menikahlah dengan Daniel. Setelah kita bisa membalaskan dendam kepada Arkha dan membangun lagi perusahaan papa, kehidupan kita akan tenang. Almarhum papa juga pasti akan bahagia di alam sana, ketika nanti kita sudah sukses disini, Flo!" tegas Diaz menekankan keinginannya kepada adiknya itu.