Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #29 Khilaf


__ADS_3

Suara nafas Flo dan Baruna tiba-tiba memburu, jantung keduanya sama-sama berpacu tidak beraturan dan aliran darah merekapun berdesir lebih cepat.


Entah dorongan apa yang membuat keduanya tidak ingin lepas satu sama lainnya, dan justru ada hasrat ingin bersentuhan lebih dekat membuncah di hati keduanya.


"Aku mencintaimu, Flo," bisik Baruna di telinga Flo sambil memberi kecupan hangat disana, yang membuat tubuh Flo seketika menegang hebat.


"Aku juga sangat mencintaimu, Baruna," balas Flo sambil mengangkat kepalanya dan membiarkan Baruna terus menerus mencubu leher juga dadanya.


Sesaat mata mereka kembali saling menatap. Flo terus mengulas senyum manis di bibirnya. Melihat senyum tulus itu, Baruna merasa mendapat lampu hijau sehingga tanpa meminta izin dari Flo, dia lanjut mencium bibir Flo lebih dalam serta mengecup semua yang ada di wajah Flo penuh gairah. Kecupan-kecupan panas Baruna semakin ganas mendarat di sembarang area, dan jejak kenakalan bibir Baruna itu pun sudah pasti tertinggal banyak disana.


Tangan Baruna juga tidak hanya diam, kini dengan lincah jari-jarinya bermain di antara dua gundukan di dada Flo.


Satu persatu kancing piyama tidur yang dikenakan Flo saat itu dia lepaskan. Dengan sangat leluasa matanya kini bisa melahap pemandangan indah di depan matanya. Baruna tersenyum, sejauh itu, tetap tidak ada penolakan sedikitpun dari Flo.


Walau hanya samar-samar diterangi lampu senter di ponselnya, Baruna bisa merasakan dengan jelas lekuk tubuh indah Flo yang membuat hasratnya kian bergelora dan tidak mampu untuk dibendungnya lagi.


Baruna dan Flo sama-sama sudah hanyut dalam buaian hasrat. Tanpa penolakan sedikitpun dari Flo, Baruna kini sudah berhasil melepaskan semua kain yang menutupi tubuh Flo.


Kembali Baruna tersenyum takjub, tubuh Flo terlihat begitu polos dan menantang, tanpa sehelai benangpun menutupinya. Dengan tergesa, Baruna juga melepaskan jaket dan kemejanya seraya menghempaskannya sembarangan ke lantai kamar itu. Setelah celana yang dia kenakan juga dilepaskannya, Baruna menarik tangan Flo lalu diarahkannya ke bagian utamanya.


Flo tersenyum geli seraya memejamkan mata saat tangannya menyentuh dan merasakan sesuatu di balik celana pendek yang dikenakan Baruna itu sudah mengeras. Ukurannya yang juga lumayan besar, membuat Flo menelan ludahnya dan kembali memejamkan matanya.


Tatkala gairah begitu menguasainya, Baruna dengan liar mencumbu semua yang ada di tubuh Flo. Dia bahkan tidak ragu mengarahkan bibirnya ke bagian inti Flo. Bagian paling indah di tubuh Flo itupun dilummatnya dengan lembut yang membuat Flo semakin mend*sah, tidak mampu mengendalikan gairah yang sudah memenuhi seluruh jiwanya.


"Kamu sudah siap, Sayang?" bisik Baruna genit. Dari gerak tubuh dan suara lenguhan yang keluar dari mulut Flo, Baruna bisa menyadari kalau Flo sudah cukup siap menerima serangan dahsyat darinya.

__ADS_1


Perlahan Baruna mengarahkan keperkasaanya ke liang kehangatan Flo sambil mendorongnya kuat, menerobos masuk ke dalam goa indah itu.


"Aahh! Sa-kit, Bar!" ringis Flo dengan matanya yang tertutup semakin rapat menahan rasa sakit luar biasa menghujami bagian intinya saat batang besar milik Baruna itu menusuknya.


"Aaahh! Sempit sekali, Sayang!" Baruna ikut mend*sah. Cukup sulit baginya menerobos dinding penghalang di raga Flo yang masih tertutup rapat.


"Sa-sakit, Bar!" Rintihan itu terus keluar dari bibir Flo. Dia menggigit bibir bagian bawahnya sendiri dan terus mengerang kesakitan. Tangannya meremas kuat-kuat bantal disebelahnya. Hujaman demi hujaman yang diberikan Baruna, betul-betul membuatnya menahan nafas merasakan rasa sakit tak tertahankan.


Baruna juga menghela nafas panjang, tidak mudah baginya menancapkan paku besar itu di tubuh Flo. Akan tetapi, Baruna tidak menyerah begitu saja. Dia justru lebih tertantang untuk bisa segera menembus semua yang terasa sempit dan menghimpit disana.


Bleess!


Tak lama kemudian, Baruna sudah berhasil menancapkan miliknya secara utuh di raga Flo. Setetes noda merah keluar dari permata milik Flo, ketika keperkasaan Baruna sudah sepenuhnya tertanam sangat dalam disana.


"Baruna!" Bibir Flo berdesis, bulir air mata menetes tak tertahankan keluar dari ujung matanya. Satu hal yang paling berharga miliknya yang selalu ia jaga serta pertahankan selama ini, kini sudah diambil oleh Baruna, dan ia serahkan secara sekarela kepada pria yang begitu dicintainya itu.


Hanya deru nafas dan suara d*sahan yang terdengar diantara keduanya.


Lampu di komplek perumahan itu masih padam, hujanpun turun masih cukup deras. Di balik kilatan petir dan suara gemuruh yang masih terus saling bersahutan, Baruna dan Flo tetap asyik melanjutkan gairah dan kemesraannya tanpa peduli akan sebuah dosa besar yang tengah mereka lakukan saat itu.


"Aaahhhh!!" d*esahan terus keluar dari mulut Flo saat merasakan kenikmatan percintaannya bersama Baruna.


Rasa sakit yang tadi dirasakannya kini sudah tidak ada lagi, meski keperkasaan Baruna yang bersize XL itu sudah sukses merobek selaput daranya.


Ini memang untuk pertama kalinya Flo merasakan sentuhan seorang laki-laki, tetapi semakin lama rasa sakit itu mulai berganti dengan kehangatan dan kenikmatan yang membuat Flo dan Baruna semakin hanyut dalam hasrat dan gairah cinta mereka malam itu.

__ADS_1


Kurang lebih satu jam lamanya mereka bergulat panas. Flo sudah beberapa kali merasakan puncak gairahnya. Keperkasaan seorang Baruna benar-benar membawanya terbang ke angkasa dan melayang di langit ke tujuh.


"Aaaahh!!" Baruna ikut mengerang. Sensasi kenikmatan yang begitu luar biasa juga dirasakannya. Untuk pertama kalinya dia melakukan hal seperti itu tanpa karet pelindung menutupi batang kejantanannya. Sehingga, dia bisa merasakan satu hal berbeda saat lelehan lava panasnya menyebur kencang menyirami raga Flo.


Nafas mereka sama-sama berpacu, keringat membanjiri tubuh polos mereka.


Setelah menuntaskan semua hasratnya malam itu, Baruna dan Flo merebahkan tubuh lelah mereka di atas ranjang dan saling berpelukan.


"Flo!" Baruna memanggil Flo dengan suara lirih saat menyadari Flo hanya diam tanpa kata setelah pergumulan mereka.


"Maafkan aku khilaf, Flo!" ucap Baruna seraya mengusap rambut dan menatap wajah Flo yang kala itu menyandarkan kepala di pundaknya.


Flo hanya menggeleng dan menghela nafasnya. "Aku sudah menyerahkan segalanya buat kamu, Bar. Semoga saja setelah ini kamu nggak akan ninggalin aku gitu aja!" sahut Flo juga sangat lirih.


Kendati menyesali apa yang baru saja mereka lakukan, tetapi dia sama sekali tidak ingin menyalahkan Baruna ataupun dirinya sendiri. Semuanya mereka lakukan atas dasar suka sama suka tanpa adanya unsur paksaan.


"Aku sangat mencintaimu, Flo. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Baruna mengecup kening Flo penuh rasa cinta.


"Aku janji akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kita lakukan malam ini. Aku minta kamu bersabar, Flo. Apabila pekerjaanku sudah settled nanti, aku akan menikahimu secepatnya," janji Baruna tulus.


Setelah semuanya terjadi di antara mereka, Baruna bertekad untuk memiliki Flo seutuhnya. Dia tidak ingin kehilangan apa yang sudah begitu indah mereka kecapi berdua malam itu.


Ditambah lagi Baruna tahu kalau Flo masih suci dan dialah yang sudah merenggut semua itu dari Flo. Timbul niat di hati Baruna untuk menjadikan Flo sebagai pendamping hidupnya selamanya.


"Terima kasih, Baruna. Aku akan pegang semua janjimu," balas Flo sambil mengecup pipi Baruna dengan manja.

__ADS_1


Senyum bahagia mengembang di bibir Baruna dan Flo. Kekhilafan yang baru saja terjadi di antara mereka, justru membuat kedekatan semakin istimewa terasa bagi keduanya.


__ADS_2