
"Di mana adik saya, Dok? Apa dia baik-baik saja?"
Diaz yang menerima kabar bahwa Flo jatuh pingsan di tempatnya bekerja, langsung mendatangi klinik dan terlihat sangat panik mencari-cari keberadaan adiknya.
"Pasien sudah sadar dan masih harus observasi dulu," terang dokter yang sebelumnya menangani Flo.
"Apa saya boleh menemuinya?" tanya Diaz tidak sabar ingin segera mengetahui keadaan adiknya.
"Boleh, silahkan!" sahut dokter mempersilahkan.
"Tunggu, Anak Muda! Aku juga ikut menemuinya bersamamu!" sela Kapten Genta seraya menghampiri Diaz.
"Apa anda yang membawa adik saya kesini?" Diaz menatap Kapten Genta dengan penuh tanda tanya.
"Iya, saya dan beberapa rekannya yang mengantarkan Flo ke klinik ini," sahut Kapten Genta sambil menunjuk ke arah Sinta yang juga masih ada di klinik itu dan ikut menunggu Flo.
"Terima kasih banyak, Captain." Diaz membungkuk hormat sebagai ungkapan terima kasihnya karena Kapten Genta sudah bersedia ikut mengantarkan adiknya ke klinik. Meski tanpa berkenalan, Diaz tahu kalau pria berseragam putih hitam di hadapannya adalah seorang kapten kapal.
"Apa kamu kakak kandungnya, Flo?" Kapten Genta bertanya sambil menatap takjub melihat sosok Diaz.
"Benar, Capt. Saya Diaz kakak kandungnya, Flo." Diaz mengangguk.
Kapten Genta terus memperhatikan wajah Diaz. Dia juga ikut menganggukan kepalanya ketika menyadari wajah Diaz memang sangat mirip dengan Flo dan sama-sama memiliki wajah yang dominan seperti bule.
"Ya sudah, ayo kita temui Flo sekarang!" Kapten Genta menepuk pundak Diaz dan mengajaknya masuk ke ruang observasi pasien.
Di dalam ruang observasi, Flo terbaring lemah di atas ranjang berwarna putih. Wajahnya tampak basah, air mata menganak sungai dari manik birunya. Mengetahui hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan kalu dia positif hamil, membuat berjuta perasaan berkecamuk di dalam dadanya.
"Mengapa, Tuhan ... mengapa aku harus hamil?" batinnya tidak bisa menerima.
"Bagaimana aku harus menjalani hariku dengan perutku yang akan semakin membesar? Lalu bagaimana aku akan menjelaskan kepada orang-orang, apabila ada yang bertanya siapa ayah dari bayi yang sedang kukandung saat ini? Apa aku akan sanggup menjadi single parent untuk anakku nanti?"
Berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya, menumbuhkan bimbang dan cemas bercampur aduk di dalam jiwanya.
"Baruna......" Flo menyentuh perutnya dan mengusapnya perlahan.
"Haruskah aku menyembunyikan semua ini darimu, Bar? Aku mengandung benihmu, bagaimana aku akan mengatakan semua ini padamu?" Air mata semakin deras membasahi pipinya, hatinya kian galau. Namun, Flo tidak tahu apa yang bisa dilakukannya saat itu.
Ceklek!
Pintu ruangan observasi pasien itu terbuka. Diaz bersama Kapten Genta bergegas menghampiri Flo dan masing-masing duduk di kursi di sebelah ranjang.
"Apa yang terjadi, Flo? Kenapa kamu bisa sampai pingsan seperti ini?" Diaz memegang erat tangan adiknya dan menatap wajahnya yang masih pucat dan terlihat sedang sangat memendam kepedihan.
"Bagaimana hasil pemeriksaan dokter? Kamu sakit apa, Flo ... mengapa kamu menangis seperti ini? Apa penyakitmu parah?" cecar Diaz penasaran, karena menyadari Flo semakin terisak dan menangis tersedu.
__ADS_1
"Tidak, Kak," sahut Flo lirih. "Aku hanya ... hanya ... " bibir Flo membeku tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Tiba-tiba dia merasa takut akan reaksi kakaknya apabila mengetahui keadaannya yang sebenarnya bahwa dia tengah mengandung benih yang merupakan darah daging dari seseorang yang sangat dibenci oleh kakaknya itu.
"Kamu kenapa, Flo?" ulang Diaz bertanya.
Flo hanya menggeleng, akan tetapi air mata kian membanjiri wajahnya, bahkan tubuhnya sampai berguncang menahan tangisannya.
"Katakan, Flo! Apa yang sebenarnya terjadi?" Diaz memegang kedua pundak Flo dan membantunya duduk di atas ranjang itu. Dia merasa sangat heran melihat Flo yang sepertinya enggan menjawab pertanyaannya.
"Adikmu hamil, Diaz," sela Kaptain Genta. Melihat Flo yang sepertinya tidak sanggup bercerita kepada kakaknya, Kapten Genta langsung mengungkapkan semuanya. Dia ingin Diaz segera tahu tentang kondisi adiknya yang sebenarnya.
"Apa, hamil?!" Mata Diaz terbelalak lebar mendengar apa yang disampaikan Kapten Genta.
"Tidak mungkin, Flo! Ini tidak mungkin!" Diaz mengusap kasar wajahnya dan menggeleng tidak percaya.
"Iya, itu memang benar, Kak. Aku memang hamil," ungkap Flo jujur.
"Lalu siapa ayah dari bayi yang kau kandung, Flo? Apa Daniel sudah berhasil memaksamu sewaktu dia menyekapmu di rumahnya waktu itu?"
"Bukan, Kak! Bukan Daniel. Dia sama sekali tidak pernah menyentuhku," tampik Flo tegas.
"Kalau bukan Daniel, lalu ... " Diaz terdiam, dia langsung bisa menebak siapa laki-laki yang sudah menanamkan benihnya di rahim adiknya.
Flo tetap tidak menjawab, akan tetapi air matanya semakin tidak terbendung mengalir semakin deras membasahi pipinya.
"Aaahh.... kurang ajar!" Diaz berdecak dan langsung berdiri dari tempat duduknya, kemudian membalikkan badannya.
Tangannya yang mengepal, memukul dinding ruangan klinik itu dengan sangat keras.
"Kenapa harus dia, Flo? Kenapa?!" pekik Diaz dengan kedua tangannya yang terus mengepal kuat, air mata juga menggenang di mata birunya. Rasa marah dan kecewa begitu menyesakkan dadanya. Dia sungguh tidak bisa menerima kalau pria yang sangat dibencinya sudah benar-benar menghancurkan masa depan adiknya.
"Tenang dulu, Diaz! Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?"
Kapten Genta yang sedari tadi hanya diam, mencoba menenangkan Diaz yang terlihat sangat emosi ketika mengetahui laki-laki yang sudah menghamili adiknya. Dia juga berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri Diaz dan menepuk punggungnya beberapa kali.
"Maafkan kalau aku turut campur urusan pribadi kalian. Kalau boleh aku tahu, apa yang sebenarnya terjadi?" ujar Kapten Genta mencoba bijaksana menanggapi permasalahan yang tengah dihadapi Diaz dan Flo. Namun, Diaz hanya terdiam dan tidak menjawab. Air mata luapan emosinya akhirnya menetes juga dari sudut matanya.
"Maafkan aku, Kak Diaz!" sesal Flo diiringi suara serak menahan isak tangisnya. "Ini semua memang salahku. Aku yang tidak bisa menjaga kehormatanku dan menyerahkan diriku begitu saja kepadanya. Itu semua aku lakukan karena aku sangat mencintai Baruna, Kak!" beber Flo jujur.
"Baruna??" Kapten Genta mengerutkan keningnya.
"Bocah tengik itu memang pembawa sial dalam kehidupan kita, Flo!" Diaz kembali berdecak. Akan tetapi, dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Semua hal sudah terjadi di luar kendalinya.
"Apa kalian berdua datang dari kota?" tanya Kapten Genta mencoba mengorek informasi lain dari dua anak muda di hadapannya.
"Iya, Capt. Kami baru sebulan merantau ke pulau ini," jawab Diaz.
__ADS_1
"Siapa laki-laki bernama Baruna yang kalian maksud? Apakah dia putra dari Arkha Waradana, pengusaha yang sangat terkenal di kota itu?" terka Kapten Genta.
"Apa ... anda mengenalnya, Capt?"
"Eee ... iya! Semua orang pasti mengenalnya. Arkha itu kan sangat terpandang dan berpengaruh di kota. Selain itu dia juga sangat dermawan, bukan?"
"Ahh, semua itu hanya pencitraan saja!" Diaz tersenyum sinis. "Sayangnya, semua orang hanya mengenal kebaikannya saja. Tidak ada yang tahu kalau sebenarnya laki-laki yang bernama Arkha itu sangat jahat dan tidak berperasaan. Aku sangat membencinya. Karena dia lah aku dan Flo hidup menderita!" sengitnya penuh kebencian.
Kapten Genta kembali mengerutkan keningnya. "Atas dasar apa kamu mengatakan kalau Arkha itu orang jahat, Diaz?" tanya Kapten Genta seraya menggeleng cepat.
"Dia yang sudah menghancurkan perusahaan papaku dan secara tidak langsung sudah membunuh papa dengan cara liciknya!"
"Menghancurkan perusahaan papamu?" Mata Kapten Genta membulat. "Siapa sebenarnya kalian?" tanyanya seraya memegang kedua pundak Diaz dan menatap wajahnya penuh rasa ingin tahu.
"Eee ... maaf, Capt. Kami bukan siapa-siapa," elak Diaz. Saking emosinya dia lupa kalau mereka berdua tengah menyembunyikan identitasnya dan mengasingkan diri di pulau itu.
Diaz buru-buru memalingkan wajahnya dari tatapan Kapten Genta dan kembali menghampiri Flo yang masih duduk tersedu di atas ranjang.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, Flo. Kurasa kamu sudah cukup kuat. Akan lebih baik kalau kamu beristirahat di rumah," ajak Diaz, mencoba mengalihkan semuanya dari Kapten Genta.
"Tunggu, Diaz!" Kapten Genta menahan pundak Diaz dan kembali menatapnya.
"Ceritakan padaku siapa sebenarnya kalian, kenapa kamu begitu membenci Arkha?" Kapten Genta mencoba menginterogasi lagi.
"Maaf, Capt. Saya harus segera membawa Flo pulang. Terima kasih banyak atas semua kepedulian anda terhadap adik saya," pungkas Diaz ingin segera berlalu dari Kapten Genta.
Bergegas dia membantu Flo turun dari atas ranjang dan memapah Flo untuk membawanya keluar dari ruangan observasi itu.
"Sebentar, Diaz!" cegah Kapten Genta lagi. "Apa kalian anak-anak dari Almarhum Aryo Rivaldy?"
Diaz dan Flo tersentak mendengar pertanyaan Kapten Genta. Keduanya saling menatap lalu secara bersamaan menoleh ke arah Kapten Genta.
"Apa anda mengenal papa kami, Capt?" tanya Diaz dengan nada terkejut.
"Iya, aku mengenalnya dan aku juga kenal baik dengan Arkha Waradana," ungkap Kapten Genta.
"Kalau papamu adalah Aryo Rivaldy, maka merupakan sebuah kesalahan besar kamu membenci Arkha, Diaz. Arkha tidak pernah menghancurkan Rivaldy's Company. Kamu salah paham menilai dia!"
"Salah paham?" Senyum niring terulas di bibir Diaz mendengar penjelasan Kapten Genta.
"Anda berkata seolah anda sudah sangat mengenal Arkha!" hardiknya ketus.
"Tentu saja aku sangat mengenal Arkha, Diaz. Aku pernah bekerja untuknya puluhan tahun lamanya. Hal sekecil apapun tentang Arkha, aku tahu semuanya, Diaz!" terang Kapten Genta lagi.
"Anda pernah bekerja untuk Arkha?" Kedua alis Diaz berkerut mendengar apa yang dungkapkan Kapten Genta.
__ADS_1
"Iya! Aku dulu adalah asisten kepercayaan Bos Arkha. Sudah lima tahun ini aku berhenti bekerja untuknya. Itu semua terpaksa aku lakukan karena aku tidak bisa lagi tinggal di kota dan aku harus membawa keluargaku pulang ke kampung halamanku," terang Genta bercerita.
"Asisten kepercayaan?" Diaz kembali tersentak kaget. Wajahnya memerah dan terlihat sangat gugup. Ternyata dunia ini begitu sempit. Meski sempat merasa cukup aman di pulau itu, tetapi dia kini merasa kembali khawatir. Dengan adanya Genta yang menemukannya disana, sudah pasti dia sudah tidak bisa menghindar lagi. Diaz menjadi sangat takut kalau polisi pasti akan segera datang menangkapnya di pulau itu.