Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #9 Sexy Dancer


__ADS_3

Alunan musik DJ kian menghentak dan terdengar hingar-bingar. Kerlap-kerlip lampu yang menerangi lantai diskotik tampak seirama dengan ritme musik yang semakin malam semakin menggelegar. Semua itu memaksa aktivitas motorik para pengunjung di sebuah nightclub untuk ikut menggerakkan badannya, berjoget, tanpa peduli gerakannya itu enak ditonton ataupun tidak.


Di sebuah meja, duduk sekelompok pemuda dengan banyak jenis minuman beralkohol tersaji di hadapannya.


"Jangan sampai kamu mabuk lagi, Jeff! Kalau kamu mabuk lagi seperti waktu itu, aku tidak akan mengurungmu di kamar mandi lagi, tapi aku akan membenamkan kamu di kolam renang!" teriak Baruna meledek Jeffrey yang malam itu sedang bersamanya minum, ditemani beberapa orang sahabatnya yang lain. Suara musik sangat keras, sehingga bila berbincang, mereka harus saling berteriak tepat di telinga lawan bicaranya.


"Malam ini aku jamin tidak akan sampai mabuk, Bar. Soalnya aku mau nunggu seorang bintang yang akan hadir malam ini disini," sahut Jeffrey ikut berteriak seraya mendekatkan mulutnya ke telinga Baruna.


"Seorang bintang?" Baruna mengerutkan keningnya. "Bintang apaan? Bintang kejora?" tanyanya berseloroh.


"Akan ada sexy dancer baru yang jadi bintang malam ini disini," ujar Jeffrey memperjelas berita yang disampaikannya kepada Baruna.


Baruna hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dia ingat, menjelang tengah malam akan selalu ada sexy dancer yang akan memeriahkan suasana malam di night club itu.


"Katanya sih bintang itu sangat cantik dan seksi. Semua orang disini mengidolakannya," timpal temannya yang lain.


"Tahu dari mana kamu, Tob?" tanya Baruna kepada temannya itu.


"Jangan panggil aku Tobias kalau informasi semacam itu saja aku tidak tahu," sahut Tobias penuh percaya diri.


Baruna hanya menaikkan satu ujung bibirnya menanggapi jawaban Tobias.


Mereka tetap asyik duduk di meja itu dan menikmati minumannya. Mereka juga tidak tertarik untuk ikut turun melantai seperti kebanyakan pengunjung yang lain, hingga waktu kini sudah mendekati tengah malam.

__ADS_1


Beberapa saat, suara musik berhenti dan semua lampu ikut dipadamkan di tempat itu. Untuk sejenak suasana menjadi hening disana.


Suara musik kembali menghentak diiringi lighting panggung yang kembali menyala terang. Dari balik panggung muncul beberapa orang wanita berpakaian seksi, menari meliuk-liukkan badannya seiring alunan musik yang semakin menggema memenuhi semua area di nightclub itu.


Semakin lama, gerakan-gerakan para penari semakin erotis. Pakaian yang menutupi tubuh para penari itu pun, kian larut malam kian berkurang. Mereka menghempaskan satu-persatu pakaiannya ke lantai panggung itu.


Sorak-sorai para pengunjung terdengar riuh saat para penari itu semakin erotis menggerakkan tubuh molek mereka, yang kini hanya tinggal mengenakan bikini di atas panggung. Decak kagum para pemuja kenikmatan malam tidak terelakkan. Meski para lelaki hidung belang sangat berhasrat ingin menikmati salah seorang dari gadis penari itu, akan tetapi mereka tidak akan sembarangan bisa menyentuhnya. Para penari itu selalu didampingi para bodyguard berbadan kekar dan tegap yang berdiri di sekeliling panggung. Sehingga tidak seorangpun bisa mengganggu mereka saat menari.


"Uuuhh, semuanya cantik dan seksi!" seru Jeffrey sangat kagum melihat penampilan para sexy dancer malam itu.


"Asal lihat yang bening sedikit saja, matamu itu selalu jelalatan!" umpat Baruna seraya menempelkan tangannya di wajah Jeffrey, untuk menutupi kedua matanya.


"Sialan kamu, Bar!" Jeffrey menangkis tangan Baruna agar tidak menutupi matanya lagi.


Seketika, semua mata terfokus pada penari bertopeng itu. Meski tertutup gaun panjang dengan belahan di bagian paha, tubuh penari itu tetap terlihat sangat indah. Lekuk tubuhnya membuat semua mata memandang kagum.


Penari itu melangkah dengan anggun di antara penari yang lain. Saat musik kembali diputar, penari bertopeng ikut meliuk-liukkan badannya selaras dengan gerakan penari yang lain.


"Ini dia bintangnya, Bar. Cantik, bukan?" Tobias menyenggol siku Baruna, mengungkapkan kekagumannya tentang penari bertopeng itu.


Lagi-lagi Baruna hanya tersenyum tipis dan menaikkan satu ujung bibirnya.


"Cantik dari mana? Dia kan pakai topeng, mana tahu lah dia cantik atau enggak. Bisa jadi saja di balik topengnya itu ternyata wajahnya sangat menyeramkan!" gerutunya tidak terlalu tertarik dengan penampilan penari bertopeng itu.

__ADS_1


Beberapa menit beraksi, penari bertopeng juga ikut melepaskan gaun yang dipakainya. Sehingga, dia pun kini sama dengan penari yang lain. Sama-sama hanya mengenakan bikini saja.


"Aku bilang apa? Dia ini memang layak jadi bintang disini. Lihat tubuhnya, sangat seksi dan menggairahkan. Pantas dia selalu jadi idola disini," bisik Jeffrey, sangat kagum dengan keindahan tubuh sang bintang malam. Bentuk badannya memang sangat proporsional. Kulit putih mulus tanpa cacat serta kaki jenjang yang amat indah. Sangat serasi dengan high heels yang tengah dikenakannya.


"Apa kamu tidak tertarik dengan penari bertopeng itu, Bar? Dengar-dengar sih, katanya dia masih perawan loh. Dan dia akan menjual keperawanannya itu kepada laki-laki yang bisa membayarnya dengan sangat mahal," celetuk Tobias berusaha memanas-manasi Baruna. Dia tahu, Baruna berasal dari keluarga kaya raya, sehingga Baruna pasti mampu membayar gadis itu berapapun besar tarif yang dipasangnya.


"Buat apa aku mengeluarkan banyak uang hanya untuk bisa menikmati satu malam dengan gadis perawan? Asal kamu tahu, di Sydney aku bisa dengan mudah mendapatkan gadis perawan tanpa harus membayar sepeserpun!" ucap Baruna jumawa. Memang benar adanya seperti itu. Selama di luar negeri, sudah banyak gadis yang dia ambil keperawanannya tanpa ada unsur paksaan, apalagi harus mengeluarkan uang untuk hal semacam itu.


Pada sesi berikutnya, para pengunjung mendapat kesempatan berinteraksi dengan para penari.


Semua sexy dancer itu akan turun dari panggung dan mendekati para pengunjung, tentunya para bodyguard akan selalu mengawal mereka dengan sangat ketat. Sehingga, tetap tidak ada yang bisa berbuat kurang ajar terhadap para penari itu.


Sambil terus menggerakkan tubuhnya dengan lincah, para penari berkeliling di antara para pengunjung. Tepuk tangan para pengunjung pun terdengar saling bersahutan, suasana semakin panas terasa di diskotik itu.


Jeffrey, Tobias dan beberapa teman Baruna yang lainnya, tampak sangat antusias saat para penari itu mendekat ke meja mereka.


"Wow, benar-benar seksi!" Jeffrey mengerucutkan bibirnya membentuk huruf o saat penari bertopeng itu melintas di depan meja mereka.


Baruna hanya diam tanpa ekspresi, sama sekali tidak ada rasa ketertarikannya terhadap wanita penari itu. Akan tetapi, saat penari bertopeng itu benar-benar tepat ada di hadapannya, untuk sesaat Baruna bisa menatap matanya.


Baruna terhenyak, meski wajah penari itu ditutupi oleh topeng yang dikenakannya, untuk sesaat dia bisa melihat sebuah keindahan yang sangat unik di mata penari itu. Manik matanya berwarna biru bening, bibirnya terlihat sangat ranum. Rambut penari itu juga berwarna pirang alami, pastinya wanita itu bukanlah orang asli Indonesia.


Baruna menatap lekat mata penari itu, tanpa disadarinya sebuah kekaguman juga ada dalam hatinya.

__ADS_1


"Sepertinya wanita ini memang sangat cantik," puji baruna dalam hatinya. Dia sangat kagum akan keindahan mata biru nan unik milik penari bertopeng itu.


__ADS_2