Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #67 Kapten Kapal Yang Baik Hati


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul dua kurang lima belas menit. Semua karyawan di restaurant tempat Flo bekerja sudah siaga menyambut kedatangan sebuah kapal pesiar mewah yang membawa wisatawan untuk berlabuh satu hari di pulau itu. Kapal itu tidak terlalu besar, akan tetapi bisa menampung penumpang hingga seratusan orang. Setiap dua kali dalam sebulan, kapal itu akan berlabuh di pulau itu dan menikmati wisata satu hari (one day trip) disana. Restaurant tempat Flo bekerja memang menjalin kerjasama dengan cruise itu dan para penumpang akan difasilitasi fullboard meal di restaurant itu selama berwisata di pulau itu.


Setelah kapal pesiar itu berlabuh di dermaga yang letaknya tidak terlalu jauh dari restaurant, para penumpang berhamburan turun dan menyerbu restaurant, dimana makan siang tersaji secara buffet (prasmanan) untuk mereka.


Dengan sigap semua waiter dan waitress melayani para wisatawan cruise disana.


"Flo, kamu layani VVIP kita!" perintah Dewi, menugaskan Flo untuk melayani salah seorang tamu penting dari kapal pesiar itu.


VIP itu tidak lain adalah kapten kapal pesiar tersebut, yang juga selalu turun untuk beristirahat serta makan siang di restaurant tempatnya bekerja.


"Dan ingat, layani dia dengan baik. Jangan melakukan kesalahan apapun! Kalau sampai terjadi masalah, maka siap-siap kamu akan kehilangan pekerjaanmu!" tegas Dewi dengan sedikit ancaman.


"Baik, Bu Dewi!" sahut Flo tanpa membantah.


Tidak lama kemudian, di antara kerumunan penumpang kapal pesiar yang mulai menikmati makan siangnya, seorang pria paruh baya terlihat turun dari atas cruise. Dengan seragam putih hitam ciri khas seorang kapten kapal, pria itu melangkah penuh wibawa masuk ke area restaurant.


"Selamat datang kembali di restaurant kami, Capt!" sambut Dewi membungkuk hormat.


Kapten kapal itu hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah. Dengan langkah tegap dia menuju meja VIP yang ditunjukkan oleh Dewi.


"Selamat datang, Capt. Silahkan duduk!" sambut Flo ramah.


Di samping meja VIP, Flo juga sudah siaga untuk melayani kapten kapal itu dan bergegas menarik kursi yang akan diduduki oleh sang kapten kapal yang memang cukup disegani disana.


"Terima kasih."


Kapten pun duduk di kursinya dan tetap tersenyum ramah kepada siapa saja yang dia temui disana termasuk semua karyawan restaurant yang sudah sangat mengenalnya.


"Silahkan drink list-nya, Capt!" tawar Flo.


Setelah memasangkan napkin di pangkuan kapten itu, Flo menyodorkan daftar menu minuman di hadapannya.


Kapten kapal tidak langsung meraih menu itu, akan tetapi matanya terus memperhatikan Flo.


"Kamu karyawan baru ya disini?" tanyanya sopan kepada Flo.

__ADS_1


"Betul, Capt. Saya baru beberapa minggu bekerja disini," sahut Flo tetap membungkuk hormat.


"Siapa namamu?"


"Saya Floretta, Capt. Biasa dipanggil Flo."


"Kamu blasteran ya? Wajahmu lebih mirip bule?"


"Iya, Capt. Papa saya orang asli pribumi sedangkan mama saya orang Belgia."


Kapten kapal itu menganggukan kepalanya. Dia sedikit heran melihat seorang warga keturunan bersedia bekerja hanya sebagai seorang waitress di restaurant itu.


"Saya Captain Genta. Saya sering ke pulau ini membawa wisatawan yang berlayar di cruise tempat saya bekerja." Kapten kapal yang mengaku bernama Genta itu mengulurkan tangannya kepada Flo dan juga disambut ramah oleh Flo.


Hingga makan siang penumpang cruise itu menjelang selesai, Flo sukses menghidangkan semua makanan mulai dari appetizer hingga dessert dengan sangat baik untuk Kapten Genta. Sebagai kapten kapal, Genta mendapat perlakuan istimewa disana. Menu makanan dibuat khusus untuknya, dan disajikan secara set menu.


Kapten Genta pun terlihat senang dengan pelayanan Flo yang sangat cekatan dan selalu tersenyum ramah kepadanya.


"Flo! Kesini kamu!" teriak Dewi ketika melihat Flo baru saja membawa piring yang dia clear up dari atas meja Kapten Genta.


"Mentang-mentang kamu sukses melayani Kapten Genta, kamu jangan merasa senang dulu ya! Dan kamu juga nggak perlu sok centil, sok cantik, cari-cari perhatian Kapten Genta. Kerja disini harus profesional tidak perlu memamerkan fisik!" hardik Dewi terhadap Flo. Dari kalimat yang diucapkan Dewi saat itu, bisa ditangkap sebuah nada cemburu.


"Kapten Genta itu sudah tua, sudah punya istri dan anak. Jadi, kamu nggak perlu sok-sok ganjen di hadapannya!" kata Dewi benada ketus, dengan satu ujung bibirnya yang terangkat.


Flo hanya menggelengkan kepala mendengar ocehan Dewi yang menghardiknya. Mungkin saja dia iri ketika melihat Kapten Genta yang tampak seperti sangat mengagumi sosok Flo. Padahal, Flo sendiri tidak ada punya niat sedikitpun cari perhatian dari Kapten Genta yang memang sudah terlihat tidak muda lagi dan pantasnya jadi ayahnya saja. Namun, penampilan Kapten Genta masihlah memiliki kharisma tersendiri bagi semua orang, terutama karyawan-karyawan wanita di restaurant itu.


"Jangan dengerin ocehannya si Nenek Lampir, Flo. Dia itu memang selalu iri sama semua cewek disini. Maklum Bu Dewi itu kan perawan tua. Jablay kelas kakap...." sentil seorang waiter mencibir. Waiter itu merasa tidak nyaman mendengar apa yang Dewi katakan, dan seolah bernada tuduhan terhadap Flo. Tetapi, Flo hanya tersenyum nyengir, tidak terlalu ingin menanggapinya.


Flo kembali mendekati meja Kapten Genta dengan membawa sebuah round tray (nampan bundar) di tangannya yang berisi secangkir kopi.


"Silahkan kopinya, Capt." Flo mengangkat cangkir kopi itu dari atas tray dan hendak menyuguhkannya untuk Kapten Genta. Namun, di waktu yang sama, tiba-tiba dia merasa kepalanya pusing lagi dan pandangannya berkunang-kunang.


Praang!


"Aaww!"

__ADS_1


Cangkir itu terjatuh dari tangan Flo dan tak elak kopi yang masih panas mengenai Kapten Genta. Dia langsung meringis kala merasakan panasnya kopi mengenai tangannya.


Bruugh!


Bersamaan itu pula, tubuh Flo ambruk ke lantai restaurant dan matanya terpejam tidak sadarkan diri.


"Astaga! Apa yang terjadi denganmu, Flo!"


Kapten Genta bergegas mengangkat punggung Flo yang sudah lemas.


"Gadis ini pingsan. Ayo cepat bawa dia ke klinik!" Kapten Genta memanggil karyawan lain yang ada di restaurant itu untuk memberi bantuan untuk Flo.


Suasana mendadak tegang di tempat itu. Semua mata menoleh ke arah Flo dan Kapten Genta.


"Dasar ganjen! Benar kan aku bilang apa....?! mentang-mentang cantik, cari perhatian saja perempuan itu!" sirik Dewi, ketika melihat semua orang mengerubuni Flo dan ramai-ramai mengangkat tubuhnya untuk dibawa ke sebuah klinik tak jauh dari restaurant itu.


.


"Tolong periksa gadis ini, Dok. Sepertinya dia kelelahan sehingga dia pingsan seperti ini!"


Kapten Genta ikut mengantarkan Flo ke klinik dan memastikan agar Flo segera mendapat penanganan yang baik disana.


"Baik, Capt. Mohon tunggu sebentar, kami akan segera menangani pasien." Dokter itu menutup pintu ruang IGD untuk memeriksa Flo.


Beberapa menit kemudian, Dokter itu terlihat keluar dari ruang IGD dan bergegas menghampiri Kapten Genta yang masih duduk menunggu di ruang tunggu.


"Bagaimana, Dok. Apa gadis itu sudah sadar?" tanya Kapten Genta tidak sabar ingin mengetahui kondisi Flo.


"Sudah, Capt. Gadis itu sepertinya memang kelelahan. Dia terlalu memaksakan dirinya untuk bekerja padahal saat ini dia tengah mengandung," terang dokter itu.


"Mengandung?" Kapten Genta menaikkan satu ujung alisnya dan dahinya berkerut.


"Jadi, gadis itu sudah menikah? Tega sekali suaminya membiarkan dia bekerja saat sedang hamil." Kapten Genta menggelengkan kepalanya. Ada rasa iba yang seketika dia rasakan terhadap Flo. Dia berpikir bahwa pastinya Flo sangat membutuhkan biaya hidup sehingga suaminya tega membiarkan dia tetap bekerja sementara dia tengah hamil.


"Setahu kami, Flo itu belum menikah, Capt. Dia baru sekitar sebulanan tinggal di pulau ini bersama kakaknya," timpal Sinta yang juga ikut menemani Kapten Genta membawa Flo ke klinik saat dia pingsan tadi.

__ADS_1


__ADS_2