
Hari-hari berjalan normal, siang dan malam juga berganti seperti biasa. Cuaca dan musim berganti tanpa bisa terduga, panas dan hujan pun datang tiada terkira.
Semenjak sore, langit kota terlihat diselimuti barisan awan hitam, rintik hujan akhirnya turun tanpa diminta. Cakrawala yang seharusnya sangat indah diterangi pancaran cahaya sang rembulan kala purnama malam itu, nampak ikut bermuram durja. Malam yang gelap tanpa bertabur bintang-bintang kala itu, seolah tengah mewakili perasaan seseorang yang sedang bersusah hati, karena terkenang akan pujaan hati yang sangat dirindukan. Namun, jarak dan waktu harus memisahkan, bahkan tidak seorangpun mampu meramalkan kapan pertemuan akan terjadi sehingga jiwa-jiwa yang kini tengah merindu, akan bisa dipersatukan kembali.
Seperti itulah gambaran perasaan yang saat ini tengah dirasakan oleh Baruna. Semenjak Flo menghilang dari kota bersama kakaknya, Baruna merasakan seolah tidak ada lagi semangat hidupnya. Meski berbagai upaya sudah dilakukannya, tetapi dia tetap belum ada petunjuk apapun yang dia dapatkan tentang kekasih yang sangat dicintainya itu.
Di Kediaman Waradana, malam itu Baruna sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang di dalam kamarnya. Kendati waktu kini sudah hampir tengah malam, akan tetapi sejauh itu dia belum bisa memejamkan mata.
"Flo, kamu dimana, Sayang? Semoga saat ini kamu sedang baik-baik saja." Pikiran Baruna tidak pernah bisa lepas dari gadis yang sudah sangat dia rindukan.
"Sudah sebulan kamu menghilang dari kota ini, Flo. Dan betapa payahnya aku karena sampai sekarang aku belum bisa menemukanmu!" batin Baruna menggumam penuh penyesalan.
Entah mengapa malam itu, Baruna merasakan rindu yang begitu berbeda terhadap sang pemilik hati. Namun, kerinduan itu sungguh tidak biasa, seakan mengisyaratkan sebuah firasat tidak baik dalam benaknya.
Berkali-kali Baruna mengusap wajahnya dan membolak-balikkan badannya. Walau perasaannya sangat tidak tenang, dia tetap mencoba untuk bisa tidur.
Baruna memejamkan mata seraya meraih bantal lalu menutupi wajahnya. Karena kelelahan, perlahan kantuk pun mulai datang menghampiri dan Baruna akhirnya tertidur juga.
****
Di ujung sebuah dermaga yang ada entah dimana di alam bawah sadar Baruna. Dia berdiri dan memandang hampa ke tengah lautan luas yang membentang di hadapannya.
"Baruna! Aku pulang untukmu, Bar!" Teriakan seorang gadis terdengar sayup-sayup menyebut namanya dari kejauhan.
__ADS_1
Baruna dengan sangat jelas bisa mengenali suara gadis itu, akan tetapi Baruna sama sekali tidak ingin menoleh ke arah seorang gadis yang kini berlari kecil mendekatinya. Dia tetap membeku di tempatnya berdiri hingga gadis itu ada di dekatnya dan segera memeluk pinggangnya dari belakang. Gadis itu merebahkan kepalanya di punggung Baruna dan ada isak tangis yang terdengar keluar dari mulutnya.
"Maafkan aku karena aku terpaksa harus menerima perjodohan oleh kakakku, Baruna," ucap gadis itu seraya menangis.
"Apa kamu kesini hanya untuk mengatakan itu padaku?" tanya Baruna dengan nada kecewa.
"Sekali lagi maafkan aku, Bar! Aku tidak bisa menolaknya."
Baruna hanya menggeleng dan berkata, "Tinggalkan saja aku dan menikahlah dengan laki-laki pilihan kakakmu itu, Flo!" Dengan berat hati Baruna melepaskan tangan Floretta yang memeluknya dan terus menangis tersedu.
"Tapi aku tidak mungkin meninggalkanmu, Baruna! Aku sudah menyerahkan segala-galanya untukmu, karena aku sangat mencintaimu." Floretta semakin terisak dan tetap tidak mau melepaskan pelukannya.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan, Flo! Kakakmu sangat membenci papaku dan juga semua orang di keluargaku. Diaz adalah satu-satunya keluarga yang kamu miliki. Dan pastinya dia jauh lebih penting dari pada aku."
"Tidak, Baruna! Aku juga tidak mau kehilanganmu! Aku ingin kamu membawaku pergi jauh dari sini, agar kita bisa terus bersama dan hanya maut yang akan bisa memisahkan kita."
Bersamaan dengan kalimat terakhir yang diucapkan Flo, tiba-tiba ombak besar datang menggulung dan menerjang tubuh keduanya. Pelukan tangan Flo di pinggang Baruna terlepas dan tubuh mereka pun terhempas, terpisah saling berjauhan hingga ke tengah lautan. Ombak terus bergemuruh, semakin lama semakin kencang menggulung. Baruna berenang sekuat tenaga berusaha menggapai bibir pantai dan tubuhnya terhempas di dekat sebuah muara sungai.
"Tolong aku, Bar!"
Sesaat Baruna masih bisa mendengar jeritan Flo yang terus memanggilnya dan meminta tolong. Akan tetapi, dia tidak bisa melihat Flo ada dimana. Gulungan ombak begitu tinggi menerjang. Semakin lama suara Flo juga semakin tidak terdengar lagi.
"Flo.......!" teriak Baruna berkali-kali memanggilnya. Namun, tidak ada lagi gadis itu membalas panggilannya. Ganasnya gulungan ombak sudah menghanyutkan Flo, menyeretnya jauh hingga ke tengah samudra.
__ADS_1
****
"Flo....!" racau Baruna berteriak dan terlonjak bangun dari tidurnya.
"Astaga! Rupanya aku bermimpi." Baruna mengusap wajahnya berkali-kali, dia tersadar kalau dia baru saja bermimpi buruk.
"Kenapa pikiranku sungguh tidak tenang? Apa terjadi sesuatu dengan Flo?" Kegalauan seketika melanda hatinya, firasat buruk semakin menghantui pikirannya. Dia sangat takut apabila suatu hal yang tidak diinginkan terjadi terhadap gadis yang sangat dia cintai.
Baruna mengangkat punggungnya lalu duduk di atas ranjang. Suara derai hujan yang turun begitu deras saat itu, semakin membuat rasa tidak tenang itu kian mengusik di jiwanya.
Perlahan Baruna beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kakinya mendekati jendela. Disibaknya tirai yang menutupi jendela itu dan Baruna mengedarkan pandangannya ke luar kamarnya. Hujan turun sangatlah deras. Sesekali langit yang gelap terlihat terang benderang. Kilatan cahaya petir yang disambung gelegar suara mengiringi perjalanan waktu malam itu.
"Tuhan! Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap Flo. Firasatku sungguh tidak tenang. Ditambah lagi, mimpi buruk baru saja hadir dalam tidurku," doa Baruna dalam hati.
Beberapa menit lamanya, Baruna terus berdiri di depan jendela kamarnya dan memandangi hujan yang masih turun deras seolah tiada akan berhenti.
Sekilas Baruna melirik jam dinding yang menempel di dinding kamarnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Baruna menutup kembali tirai kamarnya dan melangkah menuju kamar mandi. Setelah membasuh muka dan buang air, dia kembali menyandarkan punggungnya di tepi atas tempat tidurnya. Diraihnya gelas yang ada di meja nakas dan dalam hitungan detik, air di dalam gelas itu habis diteguknya.
Baruna menarik selimut dan kembali mencoba untuk tidur, namun pikirannya menerawang jauh. Yang terjadi dalam mimpinya terus melintas di ingatannya.
"Mengapa mimpiku seperti begitu nyata?" Baruna menutup matanya.
__ADS_1
"Pertanda apakah ini, ya Tuhan? Mengapa perasaanku semakin tidak enak?" Semakin dia berupaya memejamkan mata, bayangan akan mimpi buruk itu semakin nyata terlintas di pelupuk matanya. Rasa khawatir semakin merajam dan menyesakkan dadanya.
Hingga waktu terus berjalan, Baruna sama sekali tidak bisa kembali tidur. Baruna mencoba mengatur nafasnya dan kini dia juga menyadari bahwa sudah beberapa malam dia lewati dengan insomnia yang selalu menyerangnya. Semenjak Flo menghilang darinya, Baruna tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak.