
"Bertahanlah, Flo! Aku akan menolongmu!"
Baruna segera melompat turun ke deck kapal yang posisinya lebih rendah dari tempatnya berada ketika itu.
Air sudah memenuhi bagian deck itu sehingga Baruna harus berenang untuk bisa mendekat ke arah dimana Flo berada.
Tiba di dekat Flo, Baruna langsung mengulurkan tangan kanannya kepada Flo sedangkan tangan kirinya tetap memegang erat besi pinggiran kapal. Hampir setengah dari tubuhnya kini juga sudah terendam di dalam air laut.
"Pegang yang kuat, Flo. Aku akan menarikmu!" seru Baruna lagi. Saat itu, Flo sudah berhasil menggapai tangannya dan memegangnya dengan sangat erat.
"Ayo naiklah, Flo!" Baruna terus memegang erat tangan Flo dan mencoba sekuat tenaga menariknya agar bisa kembali naik ke atas kapal.
"Aku nggak kuat, Bar! Gelombang ini sangat kencang. Aku tidak sanggup lagi melawannya!" teriak Flo sambil terus berusaha menahan tubuhnya dari terjangan gelombang laut. Satu tangannya juga berpegangan pada besi kapal sedangkan tangan satunya memegang erat tangan Baruna. Sudah cukup lama dia berusaha menyelamatkan diri dan bertahan dengan memegang besi pada kapal tersebut, hingga kini tenaganya sudah semakin melemah.
Posisi kapal kian lama kian miring. Flo kini sudah tidak mampu lagi berpegangan pada besi yang posisinya juga ikut semakin masuk ke arah dasar lautan seiring badan kapal yang semakin terbenam.
"Flo.... bertahanlah!" Baruna terus memberi semangat agar Flo terus berusaha dan tidak melepaskan pegangan tangannya.
"Baruna....!"
Di waktu yang bersamaan, Genta sudah ada di dekat tempat itu. Akan tetapi, tempatnya berpijak saat itu juga sudah semakin miring. Genta tidak mampu mendekat ke posisi Baruna. Air laut sudah memenuhi semua area deck kapal di bawahnya.
"Baruna....!"
"Flo.....!"
"Kalian bertahanlah! Tim SAR sebentar lagi akan menolong kalian!" pekik Genta. Dia tetap memberi semangat, walau sebenarnya dia sendiri merasa sangat panik dan cemas akan keselamatan Baruna. Namun, Genta sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa, kapal sudah semakin karam dan air laut sudah memenuhi semua bagian di kapal itu.
Byuuurrrr!
Tiba-tiba gelombang yang sangat besar kembali datang menerjang.
"Flo......!" Baruna berteriak. Gelombang yang datang begitu dahsyat, sehingga tangan Flo terlepas dari tangannya.
"Baruna...!" hanya teriakan itu saja yang terakhir terdengar dari Flo.
Sama halnya dengan yang terjadi di dalam mimpi Baruna. Tubuh Flo kini sudah tidak terlihat lagi dan dia hanyut terbawa arus gelombang yang begitu kencang menerjangnya.
"Tidakkkk!" Baruna menjerit histeris. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, Baruna ikut melompat ke tengah laut dan berenang kekuatan penuh untuk mencari Flo.
"Aku tidak boleh menyerah. Aku harus menemukan dan menyelamatkan Flo," batin Baruna menguatkan dirinya.
__ADS_1
Tanpa rasa takut sedikitpun, Baruna terus berenang melawan gelombang. Dia yakin Flo masih berada tidak terlalu jauh dari posisinya saat itu.
"Baruna! Tolong aku....!"
Seperti dugaan Baruna, tidak jauh dari posisinya, Flo juga terlihat terus berenang dan berusaha melawan gelombang besar yang terus menerjangnya. Baju pelampung yang masih melekat di tubuh Flo saat itu, sangatlah membantunya untuk tetap bisa bertahan. Samar-samar Flo juga bisa melihat Baruna menyusulnya berenang ke tengah laut. Sekuat yang dia mampu, Flo juga terus berusaha mendekatinya. Namun, frekuansi gelombang yang semakin kencang justru menghanyutkan tubuh mereka semakin menjauh.
"Baruna.....!" Flo terus memanggil dan sambil berenang, tangannya juga terus dinaikkannya agar Baruna bisa tetap melihatnya.
"Flo....!" Baruna tidak patah semangat dan terus mencoba berenang melawan arus. Di tengah kepanikan itu, Baruna beruntung menemukan sebatang kayu yang hanyut di antara terjangan ombak. Baruna segera meraih batang kayu itu dan kembali berenang mendekati tubuh Flo yang semakin jauh terhempas ke tengah laut.
"Pegang kayu ini, Flo!" teriak Baruna lagi ketika dia berhasil mendekat ke arah Flo. Dengan sisa tenaganya, Flo berupaya meraih kayu itu dan berpegangan disana.
Baruna dan Flo terus bertahan dengan berpegangan pada kayu itu dan tubuh mereka tetap mengapung di atas permukaan laut.
"Bertahanlah, Flo. Pegang yang kuat kayu ini. Sebentar lagi Tim SAR pasti akan datang menolong kita." Baruna memegang tangan Flo agar tetap bertahan pada kayu.
"Aku sudah tidak kuat lagi, Baruna!" keluh Flo. Tenaganya memang sudah semakin lemah, ditambah lagi kerasnya hantaman gelombang, sangat mustahil mereka akan bisa selamat dari sana.
"Tuhan.....! Selamatkanlah kami!" Hanya-hanya doa itu yang mampu mereka panjatkan dan berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkan mereka.
Tiba-tiba gulungan ombak yang sangat tinggi kembali terlihat datang dari tengah samudera.
.
Gelombang yang sangat besar itu datang benar-benar tidak terduga. Kejadiannya sangat cepat sehingga Baruna tidak mampu mengingat apa yang terjadi dan bagaimana dia tetap bertahan untuk menghadapinya.
Sebuah keajaiban yang dia harapkan dalam doanya benar-benar terjadi. Gelombang besar itu justru kini mengehempaskan tubuhnya ke dekat pantai yang lumayan jauh dari pelabuhan dan juga tempat kapal yang karam itu.
Merasakan ada pasir laut menyentuh kakinya, Baruna menyadari posisinya sudah dekat dengan pantai dan dia pun segera berenang menuju ke tepian.
"Flo.....!" Baruna berteriak. Meskipun dia selamat, tetapi dia tidak menemukan Flo ada di dekatnya.
"Flo... kamu dimana?" Baruna menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari Flo ada dimana. Dia sudah berjalan di atas pasir pantai kala itu, tetapi Flo sama sekali tidak terlihat.
Dari sebuah aliran muara sungai yang menuju ke laut, pandangan Baruna tetap menyapu ke tengah samudera. Samar-samar di kejauhan dia melihat ada sesuatu berwarna kuning yang terombang-ambing di permukaan ombak dan posisinya juga sudah tidak terlalu jauh dari pantai.
"Flo...!" teriak Baruna lagi seraya kembali berlari ke tengah laut dan berenang mendekati benda berwarna kuning yang tak lain adalah warna dari baju pelampung yang masih dikenakan oleh Flo.
Setelah menemukan Flo, Baruna terus berenang sambil menarik tubuh Flo menuju ke tepi. Flo sudah sangat lemah ketika itu, dan matanya juga tertutup rapat, tidak sadarkan diri.
Jarum jam menunjukkan bahwa hari itu masih siang, hujan yang turun deras sebelumnya pun, kini hanya sisa gerimis kecil. Seharusnya di waktu itu matahari tengah bersinar dengan teriknya. Akan tetapi, langit masih tampak diselimuti awan kelam sehingga tidak banyak aktivitas yang terlihat di pantai tempat Baruna dan Flo terdampar. Bahkan tempat itu sangatlah sepi, sehingga tidak seorangpun ada yang melihat mereka.
__ADS_1
"Flo.... bertahanlah! Kita sudah selamat!" Baruna lalu mengangkat tubuh Flo dan membopongnya menuju bibir pantai.
"Flo....! Bangun, Flo!" jerit Baruna panik. Flo sama sekali tidak bergerak dan matanya juga masih terus tertutup.
Di atas pasir pantai, Baruna membaringkan tubuh Flo dan memeriksa nafas serta denyut nadinya.
"Flo pingsan. Aku harus memberi pertolongan pertama padanya." Kendati sangat panik dan cemas akan keadaan Flo, Baruna tetap tidak lupa akan apa yang harus dia lakukan untuk memberi pertolongan pertama kepada Flo.
Baruna lalu melepaskan baju pelampung dari tubuh Flo dan meletakkan kedua tangannya di dada Flo. Baruna menekan dada Flo beberapa kali untuk melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation/ resusitasi jantung paru).
"Uhuuk... uhuuk...." Tubuh Flo bereaksi. Dia terbatuk dan memuntahkan banyak air laut dari dalam mulutnya, tetapi matanya masih tertutup dan tubuhnya tetap tidak bergerak.
Melihat Flo belum juga sadar dari pingsannya, Baruna segera berganti posisi untuk segera memberi nafas buatan. Ibu jari dan telunjuk tangan kanannya menjepit ujung hidung Flo. Baruna lalu menekan rahang Flo dengan tangan kiri, untuk membuka sedikit mulutnya. Dengan bibirnya yang terkatup, Baruna mendekatkan mulutnya ke mulut Flo dan meniupkan udara beberapa kali.
"Flo, bangun!" Baruna mengguncang-guncangkan pundak Flo yang masih juga belum bereaksi setelah dia beri nafas buatan.
"Aku harus cari bantuan. Flo harus segera di bawa ke rumah sakit!" Baruna mengedarkan pandangannya ke sekilingnya.
Area pantai tempat mereka berada terlihat sangat sepi, sepertinya orang-orang enggan pergi ke pantai karena hujan terus mengguyur kota semenjak beberapa hari.
Melihat situasi sekelilingnya, Baruna langsung teringat kalau pantai tempat mereka berada saat itu, adalah sebuah pantai yang tidak terlalu jauh dari pelabuhan dan di tempat itu pula lah pertama kalinya dia pernah menyatakan cintanya kepada Flo.
"Uhuukk.... uhuukk....." Flo kembali terbatuk dan matanya yang tadi tertutup, mulai sedikit terbuka.
"Flo, kamu sudah sadar!" Baruna bisa sedikit tersenyum lega menyadari Flo sudah sadar dari pingsannya.
"Baruna....." lirih Flo dengan bibirnya yang meracau.
"Iya, Flo. Aku ada disini dan kita berdua selamat dari terjangan badai di tengah laut!" Baruna meraih tangan Flo dan memegangnya lalu memeluk tubuh Flo sangat erat. Air mata haru tak terbendung menetes dari ujung matanya. Sungguh sebuah mukjizat Tuhan yang maha luar biasa, sehingga mereka bisa bertahan dari ganasnya terjangan gelombang.
"Sakit...." rintih Flo seraya menggigit bibir bawahnya.
"Apanya yang sakit, Flo?" Baruna melepaskan pelukannya, kemudian memeriksa dan memperhatikan seluruh bagian tubuh Flo. Namun, tidak ada satupun luka yang terlihat disana.
"Sakit sekali, Baruna!" ringis Flo lagi seraya mengusap perutnya.
"Apa yang terjadi, Flo? Apa perutmu terluka?" Baruna terlihat sangat kebingungan.
Tiba-tiba saja matanya terbelalak lebar saat dia melihat bagian paha Flo.
"Darah?" Baruna menggeleng dan semakin panik, ketika mendapati ada tetesan darah segar yang tampak keluar dari pangkal paha Flo.
__ADS_1