
Pagi beranjak menuju siang di sebuah pulau yang cukup terpencil dan jauh dari kebisingan kehidupan kota.
Matahari sudah cukup tinggi memancarkan terik panasnya. Hamparan pasir putih terlihat sangat indah, berkilauan, berpadu dengan birunya air laut yang diterpa sinaran sang surya. Gulungan ombak pun senantiasa setia dan tiada rasa bosan mencumbu bibir pantai. Hembusan Hyang Bayu juga selalu hadir menggerakkan daun-daun nyiur dan seolah tidak pernah lelah menari-nari dengan diiringi alunan suara deburan ombak tiada henti.
Panorama alam yang begitu indah menyisakan suasana tenang dan damai terasa di tempat itu. Karenanya, tidak salah tempat itu menjadi sebuah destinasi wisata dan banyak dicari oleh para penikmat wisata alam bawah laut. Warna-warni terumbu karang nan mempesona dikelilingi ragam biota laut lainnya juga bisa disaksikan secara nyata dari permukaan air laut yang bersih dan sangat bening. Semua itu tentunya menjadi daya tarik tersendiri sehingga mampu meraup minat banyak turis dari manca negara untuk berkunjung ke pulau tersebut.
Di sebuah sunbed yang tertata rapi di pinggir pantai, Floretta duduk termenung sendiri dan matanya tidak pernah lepas memandangi lautan luas yang membentang di hadapannya. Fisiknya berada di tempat itu, akan tetapi pikirannya mengembara entah dimana. Ingatannya selalu tertuju kepada seseorang yang masih sangat dicintainya yaitu Baruna.
"Apa kabar kamu di kota sana, Baruna? Semoga kamu sehat dan semakin sukses." Untaian doa seperti itu selalu terucap tulus dari dalam hatinya. Kendati dia terus mencoba melupakan pria yang sudah mendapatkan segala-galanya dari dirinya itu, namun dia tetap tak mampu menghapuskan semua kenangan indahnya bersama Baruna.
"Sudah sebulan aku ada di pulau ini, dan aku merasa semakin jauh darimu, Bar. Tapi, kenangan ini akan selamanya aku simpan di dalam hatiku." Flo terus menggumam sendiri kala teringat kenangan indahnya bersama sang pujaan hati. Tanpa dia sadari bulir bening menetes membasahi kulit mulus di wajahnya. Begitu berat rasanya harus kehilangan cintanya, tatkala cinta itu sendiri sedang mekar bersemi di dalam sanubarinya.
"Eheemm......"
Suara deheman seorang wanita mengagetkan Flo dari lamunannya. Sambil bergegas mengusap air mata di pipinya, Flo menoleh ke arah seseorang yang sudah berdiri di hadapannya dengan menyilangkan kedua tangan di dada serta menatap dirinya, sinis.
"Enak ya, kamu duduk berleha-leha disini sementara di dalam sana masih banyak pekerjaan yang belum kamu selesaikan!" ketus wanita itu menatap tajam ke arah Flo.
"Mm-ma-maaf, Bu Dewi. Saya baru saja selesai membersihkan sunbed-sunbed ini. Saking panasnya cuaca, tadi saya hanya ingin berteduh sebentar di bawah payung ini," kilah Flo. Jari telunjuknya menunjuk ke sebuah payung besar yang menaungi kepalanya, tetapi pandangannya menoleh ke arah yang berbeda, tidak ingin menatap wajah judes seorang wanita dewasa yang terus memelototinya dengan sorot mata tidak senang.
"Jangan cari alasan saja kamu, Flo. Sekarang cepat masuk! Bersihkan semua cutleries dan polishing semua glassware. Setelah itu set up semua meja. Jangan ada yang terlewatkan lagi seperti kemarin!" bentak wanita itu.
"Baik, Bu!" Flo membungkukkan punggungnya dan menganggukan kepala lalu bergegas masuk ke dalam sebuah lounge restaurant dan beach club mewah yang posisinya tepat menghadap ke pantai.
"Dasar anak baru pemalas! Bukannya bekerja, malah enak-enakan melamun disini!" umpat wanita itu menggerutu seraya ikut melangkah masuk ke dalam restaurant.
__ADS_1
Wanita itu bernama Dewi, dan dia merupakan seorang Restaurant Manager di sebuah restaurant bintang lima tempat dimana Flo bekerja.
Semenjak memilih menetap di pulau itu, Flo dan juga Diaz memang tidak sulit untuk bisa mendapatkan pekerjaan disana. Wajah blasteran dan kecakapan mereka dalam berbahasa Inggris, membuat mereka dengan mudah diterima bekerja di dunia pariwisata. Meskipun hanya sebagai waitress di restaurant itu, Flo tetap merasa bangga. Latar belakang pendidikannya yang hanya lulusan SMA, juga tidak terlalu jadi permasalahan disana.
Berbeda dengan Flo, Diaz juga bekerja sebagai seorang speaking driver di pulau itu. Berbekal sebuah LCGC (Low Cost Green Car) yang disewanya, Diaz sehari-hari berkeliling di pulau itu untuk memandu wisatawan asing menikmati semua keindahan alam yang tersaji di pulau tersebut. Melakoni pekerjaan itu, membuatnya mendapat bayaran instant setiap harinya, sehingga dia bersama Flo bisa tetap bertahan dengan uang harian yang diterimanya.
Hari semakin siang, Flo terlihat masih sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dengan cekatan tangannya menata semua alat-alat makan seperti napkin, sendok, garpu dan gelas di atas meja sesuai standard set up restaurant bertaraf international. Semilir angin pantai yang terus berhembus, menyamarkan cuaca panas di sebuah open air area di restaurant dan beach club itu.
Sesekali Flo menyeka peluh yang membasahi keningnya, ada rasa lelah menyerangnya karena belum sempat beristirahat.
Praang!
"Astaga, gelasnya jatuh dan pecah!" Flo menepuk keningnya sendiri.
Tanpa dia sengaja sebuah water goblet yang akan ditatanya di atas meja, tiba-tiba terlepas dari genggamannya. Tangannya terasa lemas, kepalanya pusing dan keringat dingin keluar dari telapak tangannya itu.
Dewi sang Restaurant Manager seketika membelalakan matanya ketika melihat Flo sudah memecahkan sebuah gelas disana.
"Maaf, Bu Dewi. Saya tidak sengaja menjatuhkan gelas ini," ucap Flo gugup.
"Kamu memang tidak becus bekerja, Flo! Dari tadi aku perhatikan kamu tidak pernah fokus. Apa kamu tahu berapa harga gelas itu, hah!?" bentak Dewi semakin sinis.
"Asal kamu tahu, gajimu sebulan disini tidak cukup untuk membayar harga satu buah gelas itu!"
"Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja."
__ADS_1
"Aaahhh.... alasan saja kamu! Sekarang cepat bersihkan pecahan gelas itu! Kalau setiap hari ada saja barang-barang yang pecah seperti ini, bukan hanya gajimu saja, tapi gaji kita semua akan dipotong lost and breakage fee dari perusahaan!" celoteh Dewi bersungut panjang lebar dan semakin menegaskan kemarahannya.
"Baik, Bu!" Flo menundukkan wajahnya dan segera berjongkok untuk memunguti pecahan-pecahan gelas yang berserakan di lantai.
Mendengar kemarahan Dewi, para waitress lainnya yang juga bertugas shift itu, sontak menoleh ke arah Flo dan Dewi. Akan tetapi, mereka semua tidak ada yang berani berkomentar. Mereka semua tahu kalau Dewi memang seorang atasan yang killer dan suka marah-marah. Kedudukannya sebagai seorang Restaurant Manager disana kadang membuatnya merasa di atas awan dan cenderung merendahkan semua karyawannya. Dia juga sangat jarang memasang wajah ramah kepada semua bawahannya, sehingga semua karyawan disana enggan bersinggungan dengannya.
"Kalian semua lihat apa?" bentak Dewi lagi sambil menatap ke arah satu persatu waiter dan waitress yang lain.
"Ayo lanjutkan pekerjaan kalian dan ingat, jangan ada kesalahan sekecil apapun! Sebelum jam dua semua harus siap. Kali ini semua penumpang cruise akan mendarat dan makan siang di restaurant kita. Aku mau semuanya harus perfect!" oceh Dewi melanjutkan perintahnya.
"Meja yang ada di ujung itu!" Dewi menunjuk sebuah meja yang ada di pojok lounge dan menghadap tepat ke tengah laut. "Set up meja itu sebaik mungkin karena itu akan kita block khusus untuk ship captain dari cruise itu!" lanjutnya masih dengan perintahnya.
"Baik, Bu!" sahut para waitress disana kompak bersamaan.
Setelah Dewi meninggalkan tempat itu untuk masuk ke ruangan kerjanya, beberapa orang waitress bergegas mendekati Flo.
"Kamu nggak apa-apa kan, Flo?" tanya seorang waitress yang adalah rekan kerja terbaik Flo selama bekerja di restaurant itu dan Flo hanya menggeleng.
"Ya ampun, Flo.... wajah kamu pucat sekali. Apa kamu sakit?" Waitress yang bernama Sinta itu menatap wajah Flo yang tiba-tiba terlihat pucat dan sepertinya dia sedang tidak enak badan.
"Nggak apa-apa, Sin. Mungkin aku hanya kelelahan saja," sahut Flo.
"Ya sudah, ayo kita cepat-cepat selesaikan pekerjaan ini supaya kita bisa segera beristirahat makan siang. Lagian nanti kita pasti akan sangat sibuk dengan ramainya penumpang-penumpang cruise yang akan bersandar dan makan siang disini!" ajak Sinta memberi semangat.
Flo hanya menganggukkan kepalanya dan mereka bergegas melanjutkan kembali semua pekerjaan mereka, setelah sempat break sejenak demi mendengar ocehan kemarahan Dewi, atasan mereka yang memang dikenal arogan dan jutek.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa kurang sehat ya hari ini? Kepalaku pusing dan rasanya lelah sekali," keluh Flo dalam hati. Beberapa hari belakangan dia memang merasa kondisi fisiknya kurang fit. Dia merasa gampang lelah dan sering pusing terutama saat dia terbangun di pagi hari.