
Matahari kian meninggi, pagi yang sejuk kini sudah berganti siang dan cuaca hari itu sepertinya sangat cerah, sehingga setiap individu merasa bersemangat menjalani hari yang penuh makna.
Baruna melajukan mobilnya perlahan menyusuri jalanan kota yang sudah mulai padat oleh kendaraan.
"So, aku harus mengantar Kakak kemana hari ini?" tanya Baruna kepada Ardila yang saat itu duduk di kursi penumpang di sebelah kemudi bersamanya.
"Jalan saja dulu. Nanti kalau sudah sampai Kakak akan kasih tahu kamu, Una." Ardila tetap belum memberi tahu kemana dia akan pergi siang itu. Tangannya hanya menunjuk satu ruas jalan yang harus mereka lewati untuk sampai ke tempat tujuannya.
Baruna pun tidak ingin bertanya lagi, dia terus menjalankan mobil menuju ke suatu tempat yang dimaksud oleh Ardila.
Baruna menghentikan mobil itu di tepi jalan, karena mereka sudah sampai di tujuan. Keduanya kemudian turun dari mobil dan berjalan beriringan menuju ke sebuah area yang terlihat cukup sepi.
"Kenapa Kakak membawaku kesini?" Baruna merasa sedikit heran karena Ardila mengajaknya ke sebuah area pemakaman.
"Kakak ingin ziarah ke makam Mama Livina, Una. Sudah lama Kakak tidak kesini mengunjungi mama," ujar Ardila menerangkan tujuannya membawa Baruna ke area pemakaman itu.
Baruna hanya mengangguk dan tetap mengikuti langkah Ardila menyusuri area pemakaman itu.
Keduanya lalu berhenti di sebuah makam yang letaknya agak ke tengah.
Ardila menaikkan kerudung yang sedari tadi dia kalungkan di lehernya, untuk menutupi kepalanya, serta mengenakan kaca mata hitamnya. Ardila kemudian berjongkok di sisi makam yang nampak bersih dan terawat itu. Mata gadis itu menatap ke sebuah batu nisan disana.
'Livina Binti Gunawan'
Ardila mengusap sebuah nama yang tertulis di batu nisan yang terbuat dari marmer berwarna hitam tersebut.
"Bagaimana kabar mama disana? Dila kengen sama mama," lirih Ardila. Tanpa dia sadari sebulir air mata berlinang membasahi pipinya tatkala ia terkenang akan ibu kandungnya yang sudah meninggal lima belas tahun silam, ketika dia baru berusia sembilan tahun.
Baruna juga ikut berjongkok di samping makam itu, dengan posisi berseberangan dengan Ardila. Perlahan, tangannya turut mengusap pahatan nama yang ada di batu nisan itu.
__ADS_1
"Mama Livina pasti sudah tenang di alam sana, Kak. Dan aku yakin, Mama Livina juga pasti sangat bahagia melihat Kakak disini, sudah tumbuh dewasa menjadi seorang wanita yang cantik dan sangat pintar," sanjung Baruna, sekedar untuk menghibur Ardila yang terlihat sedih ketika teringat akan mama kandungnya yang sudah tenang dalam tidur panjangnya di makam itu.
Ardila hanya tersenyum tipis sambil memperhatikan beberapa tangkai bunga sedap malam yang sebelumnya ia beli di depan area pemakaman itu. Ardila lalu meletakkan bunga-bunga itu di atas batu nisan mamanya.
Di saat yang sama, pandangan Ardila tertuju pada setangkai bunga mawar merah yang ada di sebelah nisan itu.
"Bunga mawar?" Ardila sedikit terkejut mendapati setangkai mawar yang masih segar ada di makam itu.
"Siapa yang ziarah ke makam mama?" Ardila merasa bingung, lalu meraih mawar itu dan memperhatikannya dengan seksama.
Selama ini memang hampir tidak pernah ada yang ziarah ke makam Livina, kecuali dia sendiri. Walaupun kadang Arkha dan Mutiara juga berkunjung kesana, tetapi biasanya Ardila akan selalu ikut bersama mereka. Sanak saudara Livina pun tinggal jauh dari kota itu, sehingga sangat jarang ada yang datang untuk nyekar ke makam mamanya itu.
"Ada apa, Kak?" Baruna ikut bingung melihat Ardila yang tiba-tiba terpaku mengamati setangkai mawar merah hati di tangannya.
"Lihat ini, Una!" Ardila menunjukkan bunga itu kepada Baruna.
"Sepertinya ada yang baru saja berkunjung kesini dan meletakkan mawar ini di makam mama," terka Ardila.
"Kira-kira siapa ya yang berkunjung kesini? Selama ini, tidak pernah ada yang nyekar ke makam mama kecuali Kakak. Mama tidak punya siapa-siapa di kota ini," gumam Ardila.
"Aah, paling juga teman-temannya Mama Livina, Kak. Mungkin saja ada sahabat lama mama, yang kebetulan mampir kesini." Baruna tidak terlalu menanggapi. Baginya, bukan hal yang aneh kalau ada orang yang sekedar berkunjung ke makam itu.
"Hmm, mungkin kamu benar, Una. Bisa jadi saja ada teman lama Mama sempat kesini," angguk Ardila.
"Sudah lima belas tahun mama meninggalkan Kakak, Una. Selama ini, Mama Mutiara selalu menyayangi Kakak seperti anak kandungnya sendiri, dan Kakak juga sangat menyayangi Mama Mutiara." Ardila tersenyum. Meskipun Livina, mama kandungnya sudah tiada lagi di dunia ini, tetapi dia masih tetap bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Walau Mutiara hanya mama sambung baginya, tetapi Mutiara selalu tulus menyayanginya bahkan melebihi kasih sayang yang diberikan Livina.
"Kakak tahu, semasa hidupnya, Mama Livina banyak berbuat kesalahan terhadap Papa Arkha dan juga Oma Yuna. Mama Livina juga sudah menerima karma atas semua kekeliruan yang dia buat." Lagi-lagi mata Ardila berkaca-kaca saat mengenang kisah hidup Livina.
"Akibat menderita depresi berat, Mama Livina memilih mengakhiri hidupnya sendiri di rumah sakit jiwa tempat dia dirawat." Air mata itu kini sudah tidak tertahankan menetes membasahi pipi Ardila. Semua kenangannya akan Livina, membuatnya merasa sedih.
__ADS_1
"Seburuk apapun perbuatan Mama Livina di masa lalu, dia tetap mama kandung Kakak, Una. Dia yang sudah melahirkan Kakak ke muka bumi ini." Ardila mengusap air matanya dan menghela nafas panjang.
"Iya, Kak. Aku bisa memahami perasaan Kakak." Baruna mengusap pundak Ardila dan ikut berempati akan semua yang tengah dirasakan Ardila saat itu.
Sambil terus bertukar keluh kesah, Ardila dan Baruna tetap berada di makam itu dan berdoa bersama disana.
Tidak jauh dari makam itu, di balik rerimbunan pohon kamboja, sepasang mata tengah mengawasi mereka.
Seorang pria mengenakan jaket warna hitam, masker penutup wajah serta topi, berdiri memperhatikan Ardila dan Baruna yang masih ada di makam itu.
"Ardila! Kamu sudah dewasa dan tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, Nak." Pria itu melepaskan kaca mata hitamnya dan terus mengarahkan pandangan kepada Ardila. Senyum takjub terlihat melengkung lebar di bibir pria itu, ketika dia melepaskan masker penutup wajahnya.
"Livina, anak kita sudah sebesar itu. Dia sangat cantik dan wajahnya sangat mirip denganmu." Genangan air mata juga tidak tertahankan menghiasi mata sayunya. Selintas kisah masa lalu seakan tengah membuatnya terkenang akan sebuah kepedihan.
Pria itu tidak lain adalah Alfin, mantan suami Livina yaitu ayah biologis Ardila yang sebenarnya.
Setelah Ardila dan Baruna meninggalkan area pemakaman itu, Alfin lalu melangkahkan kakinya mendekati makam itu.
Alfin berjongkok di sebelah makam dan tangannya meraih bunga mawar merah itu lalu kembali meletakkannya bersebelahan dengan bunga sedap malam yang baru saja ditaruh oleh Ardila di atas batu nisan Livina. Sebelumnya, dia juga lah yang meletakkan bunga mawar tersebut disana.
"Livina, aku sangat merindukanmu dan juga putri kita, Sayang." Alfin mengusap batu nisan Livina.
"Seandainya kamu masih ada, kamu pasti juga sangat bahagia melihat putri kita. Dia sekarang sudah tumbuh dewasa dan sangat cantik," ucap Alfin lirih sambil terus memandangi batu nisan di hadapannya.
"Sekarang kamu sudah tenang disana, Vin. Kamu sudah lebih dulu meninggalkanku untuk selama-lamanya." Alfin juga menitikkan air mata teringat akan seseorang yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.
"Semua ini gara-gara Arkha! Dia yang sudah menyebabkan kita terpisah dan hidup menderita selama ini, Vin!" geram Alfin. Kobaran dendam terpancar dari sorot matanya saat itu.
"Baruna!" dengus Alfin, menggeleng dan tersenyum kecut.
__ADS_1
"Aku akan mendukung Diaz untuk segera menghabisi bocah itu! Arkha juga harus merasakan pedihnya kehilangan orang yang paling dia cintai, seperti apa yang aku rasakan!" Alfin berdecak. Amarah dan dendam memenuhi jiwanya. Kebencian akan sahabat masa kecilnya yang kini menjadi musuhnya, kian terpancar dari sorot matanya.