Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #58 Sudah Dikepung


__ADS_3

Diaz, Baruna dan Flo berhasil turun ke lantai dasar villa itu tanpa sedikitpun hambatan.


Dengan perlahan mereka kembali berjalan melewati area kitchen untuk menuju ke halaman villa.


"Berhenti.....! Mau kabur kemana kalian, hah?!"


Diaz, Baruna dan Flo terhenyak ketika mendengar suara teriakan seorang pria yang seketika menghentikan langkah mereka. Ketiganya sontak menoleh ke arah datangnya suara teriakan itu, dan merasa sangat terkejut.


John, asisten kepercayaan Daniel, sudah berdiri di belakang mereka dan menatap dengan sorot mata tajam.


"Celaka! John mengetahui keberadaan kita disini," bisik Diaz seraya menarik nafas dalam-dalam.


"Kita akan hadapi dia!" ujar Baruna ada rasa takut.


"Kita tidak akan sanggup melawan mereka, Baruna. Setelah John mengetahui kehadiran kita disini, dia dan anak buahnya yang lain pasti akan menyerang kita!" urai Diaz sedikit gentar, karena dia tahu bahwa John pasti akan memanggil kawan-kawannya yang lain.


"Kalau begitu, ayo secepatnya kita lari dari sini!" ajak Baruna seraya menarik tangan Flo, dan mereka bertiga segera berlari sekencang-kencangnya melewati halaman villa itu.


"Mau lari kemana kalian? Kalian sudah lancang masuk kesini. Apa kalian pikir akan bisa lolos dari kami!" teriak John.


Prok..... prok.... prokk!


John menepuk tangannya beberapa kali sebagai isyarat memanggil anak buahnya yang lain.


"Kejar orang-orang itu dan jangan biarkan mereka lolos!" perintah John kepada anak buahnya dan mereka semua bergegas berlari mengepung semua area disana.


"Ada apa, John?"


Daniel yang mendengar suara keributan itu, ikut keluar dan menghampiri John.


"Floretta dibawa kabur oleh Diaz dan Baruna, Bos!" terang John.


"Apa?!" Daniel mendengus. "Bagaimana bisa orang-orang itu masuk kesini?" tanyanya penuh kekesalan, karena pengamanan di villanya berhasil di bobol oleh Diaz dan Baruna.


"Maaf, Bos. Tadi kami sedikit lengah. Tapi, kami akan segera menangkap mereka!"


Tidak ingin dicecar kemarahan Daniel, John bergegas berlari menyusul anak buahnya untuk ikut mengejar Diaz, Flo dan juga Baruna yang sudah berhasil keluar dari villa itu melalui pintu utama.


"Aaargghh.... Diaz memang betul-betul sialan! Dia dengan mudah menyusup kesini karena dia tahu semua seluk-beluk di villa ini. Dan Baruna ... bocah sialan itu sudah menolongnya!" Daniel berdecak gusar.


Tanpa membuang waktu, dia bergegas masuk ke dalam villa untuk mengambil senjatanya dan ikut keluar dari villa itu mengejar buronan mereka.


Di antara semak belukar dan rumput-rumput liar yang tumbuh di tanah lapang sekeliling villa itu , Baruna bersama Flo dan juga Diaz terus berlari. Mereka ingin segera sampai di mobil mereka, agar bisa segera kabur dari tempat itu.


"Ayo, Flo. Kita harus berlari lebih cepat!" Baruna terus berlari sambil memegang tangan dan mengimbangi laju kaki Flo. Sedangkan, Diaz sudah berlari jauh di depan mereka.

__ADS_1


"Aaawww...!" Flo berteriak meringis.


Bruugh!


Tubuhnya jatuh terjerembab ke tanah akibat kakinya yang tersandung pada sebuah batu saat dia berlari.


"Flo....!"


Baruna langsung menangkap tubuh Flo dan membantunya berdiri.


"Apa kamu terluka, Flo?" tanya Baruna dengan kekhawatiran, sambil memegang kedua pundak Flo dan memapahnya.


"Tidak apa-apa, Bar. Ayo kita lari lagi!" Flo hanya menggeleng, tetapi bibirnya tidak bisa berbohong. Dia meringis seraya memegang lututnya yang lecet akibat menyentuh tanah kasar ketika tadi dia terjatuh.


Walau terpincang-pincang, Flo tetap berusaha melanjutkan berlari dan Baruna terus menyertainya.


"Berhenti! Kalian sudah tidak bisa lari kemana-mana lagi! Tempat ini sudah dikepung!"


Baruna dan Flo terkesiap. Teriakan seorang pria itu terdengar sudah sangat dekat dengan mereka.


"Ayo kita tangkap mereka!" pekik pria itu dan dari berbagai arah muncul pria-pria lain, mengepung mereka.


"Baruna, kita sudah tidak bisa lari dari sini. Mereka sudah mengepung kita," keluh Flo cemas.


Baruna terus memegang erat tangan Flo sambil berjalan mundur karena orang-orang itu terus mendesak mereka.


Dari arah berlawanan, Diaz juga terdesak dan berjalan mundur hingga kini kembali berada di dekat Baruna dan Flo. Ternyata semua penjuru memang sudah dikepung oleh John dan anak buahnya, yang berarti sangat kecil kemungkinan mereka bisa berlari lagi dari tempat itu.


"Mereka sudah mengepung kita, Baruna," bisik Diaz.


"Kita terpaksa harus menghadapi mereka, Diaz!"


"Cepat.... tangkap mereka!!"


Pria-pria yang dikomandoi oleh John itu langsung bergerak menyerang. Baruna begitu pula Diaz, tentu tidak hanya tinggal diam. Mereka juga memasang kuda-kuda bersiap untuk melawan pria-pria itu.


Blaakk! Bluukk!


"Haap...! Huupp!"


"Hyap!"


Di lahan kosong yang cukup lapang itu, perkelahian sengit pun tidak bisa dihindari. Baruna dan Diaz terus diserang secara bertubi-tubi oleh John dan anak buahnya yang berjumlah kurang lebih sekitar delapan orang.


Baik Baruna maupun Diaz, memang sangat terlatih dalam hal bela diri. Mereka mampu dengan mudah menangkis dan menghindar dari serangan pria-pria yang mengeroyok mereka. Dengan beberapa kali pukulan dan tendangan, mereka bahkan bisa melumpuhkan beberapa orang anak buah John dengan sangat mudah.

__ADS_1


"Berhenti......!! Jangan ada yang bergerak lagi!"


Teriakan seorang pria yang sangat tidak asing terdengar memekik dari balik rerimbunan semak. Semua orang seketika menghentikan gerakannya dan serempak menoleh ke arah datangnya suara.


Daniel muncul dari balik kegelapan. Tentunya dia tidak ingin perkelahian itu dilanjutkan lagi, karena dia tahu akan jatuh korban dari pihak anak buahnya sendiri.


"Lepaskan aku, Daniel....!!"


Kini terdengar suara Ardila juga tengah berteriak sambil meronta berusaha keras melepaskan lengan kekar Daniel yang tengah membekuk lehernya.


Sebelumnya, sewaktu Ardila tengah berada di dalam mobilnya untuk menunggu Diaz dan Baruna, dia sama sekali tidak menyangka Daniel tiba-tiba muncul disana dan menangkapnya.


"Ardila...!" Diaz berteriak seraya berlari mendekat ke arah Daniel yang menyandera Ardila.


"Kak Dila...!" Baruna juga berteriak dan menyusul Diaz mendekati Daniel.


"Berhenti dan jangan coba mendekat! Atau peluru ini akan menembus kepala gadis ini!" balas Daniel memberi ancaman seraya menodongkan sebuah pistol tepat di kepala Ardila.


Ardila hanya bisa memejamkan matanya dan sangat ketakutan karena ujung pistol Daniel begitu dekat menempel di sela-sela rambutnya.


"Pengecut kamu Daniel!" umpat Diaz. "Lepaskan gadis itu.... Cepat!!!" bentaknya sangat tidak rela Daniel menyakiti Ardila.


"Hahaha...!! Beruntung sekali aku malam ini." Daniel tertawa licik.


"Sekali dayung, dua pulau terlampaui ... Kau bersama bocah tengik itu kesini sengaja untuk menyerahkan nyawa kalian, sekaligus juga membawakan gadis ini khusus untukku, bukan?! Hahaha......!" kekeh Daniel, menyeringai miring dengan gayanya yang sangat angkuh.


"Lepaskan kakakku, Daniel! Jangan pernah berani menyakitinya!" teriak Baruna sambil menunjukkan tangannya yang mengepal kuat serta urat-uratnya yang terlihat mengeras.


"Lepaskan saja kalau kau sanggup! Malam ini aku pastikan kalian berdua akan mati disini! Hahaha....!!" Daniel terus tertawa dengan seringai kesombongannya.


"Dasar laknat! Cepat lepaskan Ardila, atau aku akan membunuhmu!" Diaz mendengus kasar dan sangat emosi mendengar ucapan ejekan Daniel.


Tanpa memikirkan resiko yang akan dihadapinya, Diaz langsung menyerang Daniel dengan sebuah tendangan.


Dooorrr!


Daniel menarik pelatuk pistolnya dan sebuah peluru meluncur kencang dari ujung senjata apinya itu.


...----------------...


Author tetap butuh saran dari pembaca agar kelanjutan cerita ini makin seru.


So jangan lupa kasih jempol dan coretan kecil di kolom komentar ya....


Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2