Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #50 Berbalik Membela


__ADS_3

Matahari sudah sangat condong ke arah barat, Diaz bergegas keluar dari bengkelnya untuk segera pulang.


"Aaahhh, hari ini benar-benar sial! Gara-gara Om Alfin, aku gagal lagi mendapatkan Ardila!" Diaz berdecak gusar seraya memukul setir mobilnya ketika dia tengah ada di jalan dan dalam perjalanan pulang. Dia sangat kecewa dengan sikap Alfin yang kian hari semakin berani menentangnya.


"Apa sebenarnya hubungan Om Alfin dengan Ardila, mengapa dia begitu marah dan tidak ingin aku menyakitinya?" Pertanyaan itu juga selalu ada di kepala Diaz dan dia semakin tidak habis pikir dibuatnya.


Diaz terus memacu mobilnya perlahan menyeruak di antara kemacetan jalan kota petang hari itu.


"Kenapa kepalaku rasanya mumet sekali hari ini?" Diaz mengusap kepala dan meremas rambutnya kasar. "Sebaiknya aku cari hiburan sebentar," sungutnya.


Diaz lalu mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas dashboard mobil itu dan hendak menelpon seseorang.


"Apa kamu free hari ini?" tanya Diaz kepada seseorang yang sudah menjawab panggilan teleponnya di seberang sana.


"Aku selalu free buat kamu, Diaz. Kapan saja kau butuh aku, aku siap melayanimu," sahut seorang wanita dengan nada manja dan menggoda melalui sambungan telepon.


"Benarkah? Coba tunjukkan padaku kalau kau memang benar-benar siap untukku," balas Diaz juga dengan suara genitnya.


"Baiklah, ayo nyalakan kamera ponselmu! Aku akan tunjukkan pesonaku kepadamu!"


Diaz lalu mengganti mode teleponnya ke video call. Diaz tersenyum ketika melihat seorang wanita cantik di layar ponselnya. Wanita itu mengenakan busana sangat minim bahkan sangat terbuka di bagian dada.


Di depan kamera, wanita itu meliuk-liukan tubuh seksinya sambil melepaskan kaca mata pelindung serta meremas dua keindahan di dadanya yang terlihat padat dan bulat menantang. Sesekali dia juga menyibakkan segitiga pengaman tipisnya seraya memperlihatkan bagian paling indah di belahan pahanya. Semua itu memang sengaja ditunjukkannya untuk menarik perhatian Diaz.


"Hmmm." Diaz tersenyum penuh hasrat. Melihat seorang wanita tengah mempertontonkan kemolekan tubuhnya di layar ponselnya itu, membuat sesuatu yang bersembunyi di bagian bawah Diaz terbangun begitu saja.


"Tunggulah! Dua puluh menit lagi aku akan sampai disana dan kau harus siap melayaniku sampai aku benar-benar puas malam ini," pungkas Diaz, menutup pembicaraan melalui video call dengan wanita itu.


Diaz lalu mengarahkan mobilnya menuju ke sebuah jalan yang cukup sepi. Jalan itu yang akan membawanya lebih cepat sampai ke sebuah tempat dimana dia biasa mencari kepuasan batinnya untuk sesaat.


Suasana sudah semakin gelap, lampu-lampu di beberapa area juga sudah mulai menyala.


Diaz mempercepat laju mobilnya, sesuatu yang tengah membuncah di jiwanya mendorongnya untuk segera sampai di tempat tujuannya.

__ADS_1


Tiba-tiba Diaz memperlambat laju mobilnya. Kedua alisnya seketika tersentak bersamaan ketika pandangannya terarah ke tepi ruas jalan di seberangnya. Di sisi yang berlawanan arah dari posisinya saat itu, dia melihat sebuah premium SUV berwarna abu metalic terparkir disana.


"Itu kan mobilnya Daniel. Kenapa bisa ada disini?" Diaz mengerutkan keningnya dan memperhatikan area sekitar mobil itu. Jalanan itu terlihat sepi dan sedikit gelap karena lampu penerangan jalan terhalang sebuah pohon besar yang ada di sisi samping jalan itu.


Diaz kembali tersentak ketika pandangannya juga tertuju pada sebuah premium hatchback yang juga terparkir di lajur yang sama.


"Kalau tidak salah itu mobil milik Ardila. Kenapa mobil itu juga ada disini?" gumam Diaz merasa penasaran.


"Ahhh, masa bodoh! Buat apa aku peduli sama Ardila ataupun Daniel. Aku tidak perlu berurusan dengan mereka, karena dua orang itu sekarang adalah musuhku," cebik Diaz tidak ingin peduli.


Diaz kembali menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam agar bisa melaju lebih cepat. Selain itu, dia juga sudah tidak sabar ingin segera menyalurkan sesuatu yang sudah kebelet ingin dikeluarkannya bersama seorang wanita yang akan menjadi teman kencannya malam itu.


Trriiittttttt!


"Stooooopppp!"


Diaz menginjak rem mobilnya secara mendadak dan dia tersentak kaget tatkala seorang wanita berteriak dan menghadang mobilnya di tengah jalan itu.


"Ardila!"


Tok! Tok! Tok!


"Tolong aku! Ada orang jahat yang sedang mengejarku dan ingin menculikku!" Ardila mengetuk kaca mobil Diaz disertai nafasnya yang tersengal dan raut wajahnya yang nampak sangat ketakutan.


Diaz tersenyum tipis. Meski awalnya Diaz tidak ingin peduli, tetapi ketika melihat Ardila dengan keadaan seperti itu, dia bergegas membuka pintu dan keluar dari mobilnya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan Ardila.


"Kau!"


Mata Ardila seketika membulat. Dia tersentak karena sama sekali tidak menyangka kalau Diaz lah orang yang turun dari mobil itu dan wajahnya menjadi semakin terlihat ketakutan. Ardila kebingungan dan tidak tahu harus berlari kemana lagi mencari perlindungan.


Keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya, seperti itulah yang tengah dirasakannya. Di hadapannya kini ada Diaz, sedangkan di belakangnya ada Daniel dan Jhon, yang juga sedang mengejarnya.


Ardila mundur beberapa langkah. "Oh, Tuhan! Bagaimana ini?" takutnya dengan kaki gemetar, pasrah menerima nasibnya hari itu.

__ADS_1


"Mau lari kemana lagi kau, Cantik? Ayo ikutlah denganku. Aku akan membawamu ke istanaku. Hahaha!" tawa seorang pria terdengar nyaring dari arah belakang posisi Ardila berdiri saat itu. Daniel terbahak karena sangat yakin Ardila sudah tidak bisa lagi lari darinya.


"Tangkap gadis itu, Jhon!" perintah Daniel kepada asistennya.


"Baik, Bos!" Jhon segera menghampiri Ardla yang sudah terdesak dan mencekal tangannya dengan kasar.


"Tidak! Lepaskan aku!" pekik Ardila sambil meronta dan berusaha keras melepaskan tangan Jhon dari tangannya.


"Hentikan Daniel! Jangan pernah berbuat kasar pada Ardila!" teriak Diaz seraya mencengkram pundak Jhon dan menariknya kuat-kuat agar melepaskan tangannya dari Ardila.


Plaakk!


Diaz menghadiahkan sebuah pukulan keras di wajah Jhon yang membuat Jhon seketika terjengkang ke belakang beberapa jarak jauhnya. Kemudian Diaz segera menarik tangan Ardila dan membawanya bersembunyi di balik tubuhnya.


"Tenang saja, Dila. Tidak akan aku biarkan laki-laki bejat ini menyakitimu!" ujar Diaz berusaha menenangkan Ardila yang nampak sangat ketakutan.


Pasrah akan nasibnya, Ardila hanya bisa menurut saja dan bersedia berlindung di balik tubuh Diaz.


"Diaz!!" pekik Daniel mendengus marah.


"Apa kau ingin terlihat seperti seorang pahlawan di depan gadis itu sehingga kau ingin melindunginya?" teriak Daniel dengan senyum seringai licik tersungging di bibirnya seraya memberi tatapan mata yang menyala ke arah Diaz.


"Mau kau apakan wanita ini, Daniel?" Diaz ikut tersenyum mengejek.


"Bukan urusanmu, Diaz!"


"Apa kau juga akan menjadikan dia pemuas nafsumu? Setelah kau campakkan adikku, apa kau pikir kau bisa mendapatkan kesucian seorang wanita dari wanita ini?" sindir Diaz.


"Apa maksudmu, Diaz?"


"Percuma kau menangkap gadis ini, Daniel. Ardila tidak seperti yang kamu harapkan. Dia sudah tidak perawan lagi, karena aku sudah mengambil kesuciannya!" ucap Diaz sangat acuh sekaligus juga berbohong, karena dalam hatinya dia sangat tidak rela Daniel menyakiti Ardila.


"Apa??" Mata Daniel mendelik.

__ADS_1


Ucapan remeh Diaz terdengar seperti sebuah penghinaan baginya.


__ADS_2