
"Tolong aku, Baruna! Selamatkan bayi kita," ucap Flo masih dengan suara lirih.
"Bayi?" Kening Baruna berkerut. Sesungguhnya dia tidak paham dengan maksud perkataan Flo. Namun, baginya keselamatan Flo jauh lebih penting dari apapun saat itu, sehingga dia tidak peduli dengan apa yang diucapkan Flo barusan.
"Bertahanlah! Aku akan cari bantuan, Flo. Secepatnya aku harus membawamu ke rumah sakit!" Baruna bergegas mengangkat tubuh Flo dan kembali membopongnya.
Baruna berjalan tergopoh meninggalkan pantai itu. Dia tahu pasti kemana dia akan mencari bantuan, karena dia sangat mengenal area pantai yang cukup sering dia kunjungi selama ini.
"Tolong kami.....!" Baruna berteriak lantang ketika dia sudah dekat dengan area yang dipadati cafe serta rumah makan di pinggir pantai.
Orang-orang yang tadinya ada di dalam cafe atau pun hanya tengah berteduh di sekitar tempat itu, sontak beramai-ramai mendekati Baruna dan Flo.
"Apa kalian korban kecelakaan kapal itu?" tanya seseorang disana.
Melihat keadaan Baruna dan Flo, ada berbagai reaksi tampak dari orang-orang di tempat itu dan mereka juga saling berbisik, merasa terkejut sekaligus juga terharu. Kejadian kecelakaan kapal pesiar itu pastinya sudah menjadi buah bibir di antara mereka, dan mereka sama sekali tidak menduga ada sebuah keajaiban yang bisa membawa salah satu penumpang kapal itu kini terdampar di pantai tersebut, padahal jaraknya puluhan kilometer jauhnya dari lokasi kapal yang mengalami kecelakaan dan sedang dalam proses evekuasi oleh petugas.
"Iya benar. Kami berdua penumpang kapal itu. Kami hanyut dan terdampar di pantai ini," sahut Baruna.
Tanpa berpikir panjang orang-orang disana langsung mengambil tindakan pertolongan. Di dorong oleh rasa kemanusiaan, salah seseorang disana segera mempersiapkan mobil dan mengantar Baruna dan Flo menuju rumah sakit terdekat dari pelabuhan.
****
Di sebuah kursi tunggu di depan ruang IGD rumah sakit, Baruna duduk gelisah menunggu kabar Flo yang tengah mendapat penanganan dari dokter disana.
"Bayi? Apakah Flo tengah mengandung?" Pikiran Baruna teringat akan perkataan Flo sebelumnya. Selama perjalanan ke rumah sakit, Baruna dan Flo memang tidak sempat saling bicara lagi. Baruna tidak ingin mempedulikan apapun selain keselamatan Flo.
"Kalau dia sedang hamil, apakah dia mengandung benihku?" Berbagai pertanyaan muncul di benak Baruna.
"Una, apa kamu baik-baik saja, Nak?"
Suara seorang pria sontak membuyarkan lamunan Baruna. Begitu mendapat kabar dari putranya, Arkha bergegas ke rumah sakit itu dan menemui putranya.
"Aku baik-baik saja, Pa," jawab Baruna sambil menoleh ke arah papanya.
"Bagaimana keadaan Flo?" Arkha ikut duduk di sebelah Baruna seraya mengusap punggung putranya itu.
__ADS_1
"Dokter sedang memeriksanya, Pa."
"Tenanglah, Una. Flo pasti juga akan baik-baik saja," hibur Arkha.
"Bagaimana dengan Ayah Genta dan Om Rendy? Apa papa sudah mendapat kabar tentang mereka?" tanya Baruna. Dia juga teringat akan keselamatan dua orang kepercayaan papanya itu.
"Mereka berdua baik-baik saja, Una. Justru mereka tadi sangat panik dan khawatir akan keselamatanmu. Sekarang mereka berdua masih di pelabuhan untuk membantu upaya evakuasi. Mudah-mudahan tidak ada korban jiwa akibat kecelakaan itu," terang Arkha.
"Lalu ... bagaimana dengan Diaz, Pa?"
"Diaz juga sudah mendapat pertolongan. Kalau tidak salah dia juga dilarikan ke rumah sakit ini. Nanti papa akan cari tahu dimana dia dirawat."
"Syukurlah! Semoga semua baik-baik saja, Pa!" Baruna mengangguk.
"Una....!"
Dari lorong berbeda di rumah sakit tersebut, juga terdengar teriakan lain memanggilnya.
Mutiara dan Ardila berjalan tergesa, menghampiri Baruna dan Arkha di ruang tunggu. Setelah mendapat kabar tentang Baruna, mereka yang merasa sangat was-was ikut segera menyusul ke rumah sakit tersebut.
"Sungguh ini sebuah keajaiban Tuhan, Una. Kamu harus bersyukur karena masih bisa selamat dari musibah itu." Mutiara memeluk erat putranya dan merasa sangat terharu sekaligus juga bersyukur atas mukjizat yang Tuhan berikan, sehingga putranya berhasil selamat tanpa cedera sedikitpun.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang IGD.
Baruna bergegas beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri dokter itu. Dia sudah tidak sabar mengetahui keadaan kekasihnya.
"Bagaimana keadaan Floretta, Dok. Apa dia mengalami luka serius?" tanyanya sangat ingin tahu.
"Maaf, apa anda suaminya?" Dokter itu menatap ke arah Baruna dengan kedua alisnya yang saling bertautan.
"Memangnya kenapa, Dok?" Baruna tampak bingung.
"Kami butuh tanda tangan dari keluarga terdekat pasien, terutama suaminya, untuk menandatangani surat pernyataan ini. Pasien mengalami pendarahan dan kami harus segera melakukan tindakan kuret, karena bayi dalam kandungan pasien tidak bisa terselamatkan."
"Bayi?" Baruna kembali tersentak. "Jadi, Flo benar-benar sedang hamil, Dok?" tanyanya seraya menggeleng tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, kandungannya sudah masuk bulan kedua, tapi sayangnya pasien mengalami keguguran. Ketika tragedi terjadi, kemungkinan rahim pasien sempat terbentur dan menyebabkan bayinya tidak selamat."
Deg!
Baruna terkesiap. "Ya, Tuhan! Flo hamil.... dan aku yakin dia mengandung benihku. Aku yang telah mengambil kesuciannya dan kami juga sudah beberapa kali melakukannya tanpa pengaman," batin Baruna menggumam. Dia kembali teringat akan dosa dan khilaf yang sudah mereka lakukan sebelumnya dan dia juga sangat yakin kalau Flo pastilah mengandung anaknya.
"Apa ini arti dari mimpi dan firasat burukku malam itu?" pikir Baruna dan merasa telah kehilangan sesuatu dalam hidupnya.
"Kalau anda adalah suaminya, sebaiknya segera tanda tangani surat ini, agar kami bisa segera mengambil tindakan. Ini sangat darurat, keselamatan istri anda jauh lebih penting," lanjut dokter itu lagi seraya menyerahkan selembar kertas dan sebuah pena kepada Baruna.
Baruna meraih kertas itu dari tangan dokter dan membacanya perlahan.
"Kenapa sampai seperti ini, Tuhan?" Tanpa Baruna sadari, air mata menggenang di sudut matanya. Rasa bersalah, menyesal, sedih dan terharu bercampur aduk di dalam dadanya.
"Ada apa, Una?"
Melihat putranya yang tiba-tiba terlihat sedih, Arka juga ikut menghampiri Baruna. Arkha merampas surat pernyataan itu dari tangan Baruna lalu membacanya.
"Katakan, apa Flo mengandung anakmu, Una?!" tanya Arkha sambil memegang kedua pundak Baruna dan menatapnya dengan sorot mata penuh tanya serta rasa kecewa akan sebuah kesalahan yang sudah dilakukan putranya.
"Iya, Pa," jawab Baruna singkat dan mengangguk.
"Kenapa kamu sampai melakukan dosa sebesar ini, Una?" Arkha mendengus dengan gigi gemeretak seraya mengusap wajahnya kasar. Dalam hatinya dia sangat marah dan kecewa. Dia tidak bisa menerima kesalahan yang sudah dilakukan oleh putranya. Menghamili seorang wanita sebelum menikah, tentu bukan hal yang ingin dia dengar tentang putranya itu. Namun, nasi kini sudah menjadi bubur dan Arkha tidak bisa berbuat apa-apa. Semua sudah terjadi, bahkan Flo juga kini harus kehilangan bayinya yang juga merupakan darah dagingnya.
"Maafkan aku, Pa!" Baruna menundukkan wajahnya.
"Mohon maaf, Pak. Kalau anak muda ini bukan suami pasien, lalu siapa yang akan menandatangani surat ini?" sela dokter itu lagi. "Kami harus segera mengambil tindakan. Kalau ditunda lagi, takutnya pasien akan kehilangan lebih banyak darah," tegas dokter itu berharap segera mendapat persetujuan untuk menindak lanjuti penanganan pasien.
Baruna dan Arkha tetap terdiam dan sejenak saling menatap tanpa tahu apa yang harus mereka lakukan.
"Saya yang akan tanda tangan surat itu, Dok. Saya kakak kandung pasien dan saya bertanggung jawab penuh atas keselamatannya!" seru seseorang dari tempat berbeda, menyela pembicaraan antara dokter, Arkha dan juga Baruna.
"Diaz!" Baruna membulatkan matanya.
Diaz tampak berjalan tertatih dengan dibantu sebuah tongkat mendekat ke arahnya. Kaki Diaz juga sudah terlihat dibalut gips dan perban, kecelakaan itu sudah menyebabkan sebelah kakinya mengalami patah tulang dan saat itu dia sudah mendapat penanganan medis juga di rumah sakit yang sama.
__ADS_1