
"Kita naik lewat tangga darurat saja, Una! Letaknya ada di sebelah sini!" seru Genta sembari menunjuk sebuah lorong yang akan membawa mereka naik ke deck utama kapal itu melalui sebuah tangga darurat. Ketinggian air saat itu sudah mencapai lutut orang dewasa di koridor kabin yang mereka lewati.
"Baik, Yah!" Baruna bergegas mengikuti langkah Genta. Dia tahu pasti Genta pastilah lebih tahu semua jalur evakuasi disana.
"Tolong....! Tolong aku....!"
Ketika melewati sebuah ruangan di kabin itu, tiba-tiba sebuah suara jeritan minta tolong terdengar samar.
"Tunggu, Yah! Sepertinya masih ada orang yang terjebak di kabin ini!" pekik Baruna, sehingga keduanya sama-sama menghentikan langkahnya.
"Tolong...!" Jeritan itu terdengar lagi.
Baruna menempelkan telinganya di pintu ruangan itu untuk memastikan lagi pendengarannya. Baruna lalu meraih gagang pintu yang bertuliskan emergency exit itu dan berusaha mendorong sekuat tenaga untuk membukanya.
"Pintu itu terkunci secara elektrik, Una. Mungkin pintu itu mengalami kerusakan sehingga saat terjadi keadaan darurat pintu itu justru tidak bisa terbuka!" ujar Genta merasa khawatir.
"Bagaimana kalau kita dobrak saja, Ayah!" seru Baruna.
"Tidak bisa, Una! Pintu itu hanya bisa dibuka dengan kunci elektronik."
"Lalu bagaimana ini, Yah? Kita tetap harus menyelamatkan mereka yang masih terjebak di dalam sana kan?"
"Ayah akan kembali ke anjungan kapal untuk mengambil kunci master. Kamu naiklah ke deck utama dan cari Flo disana. Sementara mereka yang masih ada disini, biar Ayah yang nanti akan menolong mereka!" perintah Genta. Tanpa menunggu, Genta bergegas berlari untuk kembali ke anjungan kapal dan meninggalkan Baruna untuk mengambil kunci master.
Baruna hanya terdiam di tempat semula. Sejujurnya dalam hati dia ingin segera menaiki tangga darurat untuk segera naik ke deck utama dan mencari keberadaan Flo dan Diaz di deck paling atas kapal itu. Namun, kakinya terasa berat dan seolah ada sesuatu yang menahan kakinya itu untuk tidak bergerak. Dia merasa seakan ada sebuah ikatan yang memanggilnya untuk membantu orang-orang yang masih terjebak di kabin itu.
"Tolong....! Siapapun yang ada disini, tolong aku!" Suara jeritan yang sama kembali terdengar. Bahkan jeritan itu semakin serak. Pastilah orang di dalam sana sangat cemas karena air semakin lama semakin tinggi dan posisi kapal juga sudah semakin miring.
"Aku harus menolong orang itu terlebih dahulu," pikir Baruna seraya terus memperhatikan pintu darurat di hadapannya.
__ADS_1
"Kalau harus menunggu Ayah Genta kembali, mungkin saja orang yang ada di dalam sana sudah tidak selamat. Aku harus mencari cara membuka paksa pintu ini." Baruna menekan keningnya. Bola matanya berputar berusaha mencari-cari sesuatu yang bisa dia pakai untuk membuka pintu.
Untuk sejenak, pandangannya tertuju pada sebuah kapak pemadam kebakaran yang terpasang di dinding kabin itu. Letak kapak itu bersebelahan dengan sebuah tabung karbon dioksida dan merupakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan benda itu pastinya ada di setiap lorong di dalam kabin kapal.
Baruna segera meraih kapak itu. "Aku akan hancurkan kunci elektrik pintu darurat itu. Dengan begitu aku akan bisa membukanya," yakinnya.
Praakk!
Baruna memukulkan kapak itu pada electric box di gagang pintu dengan sangat keras sehingga kotak itu pun hancur berkeping-keping.
Braakk!
Ketika electric box itu berhasil di rusaknya, Baruna langsung menendang pintu dan mendobraknya.
Ketika pintu sudah terbuka, Baruna membelalakkan matanya dan sangat terkejut.
"Diaz.....!" teriak Baruna ketika melihat Diaz terduduk di lantai kabin tanpa bisa bergerak, dan air laut yang menggenang sudah mencapai lehernya.
Tanpa menunggu apapun, Baruna bergegas mengangkat sebuah locker besi yang sangat berat dan sebelumnya menghimpit kaki Diaz.
"Apa yang terjadi denganmu, Diaz? Mengapa kau bisa ada di tempat ini? Dimana Flo? Apa dia sudah naik ke deck utama?" cecar Baruna sambil mengangkat tubuh Diaz dan membantunya berdiri.
"Flo.....! Tolong selamatkan dia, Baruna! Dia juga masih terjebak di ruangan ini!" panik Diaz ketika ingat akan adiknya.
"Aargghh!" Diaz meringis dan tidak mampu berjalan, dia merasakan sakit teramat sangat di kakinya.
"Sebelah kakimu cedera, Diaz!" panik Baruna, dia menyadari kalau kaki kanan Diaz terluka akibat tertimpa reruntuhan benda-benda keras di dalam ruangan itu.
"Baruna....!"
__ADS_1
Di waktu yang sama terdengar teriakan dua orang pria yang menghampiri mereka.
"Kau sudah berhasil membuka pintu ini sebelum Ayah, Una!" Genta tersenyum bangga melihat Baruna sudah bisa masuk ke ruangan itu, meski tanpa menggunakan kunci master.
"Ayah Genta, Om Rendy! Tolong selamatkan Diaz! Aku harus mencari Flo. Diaz bilang Flo juga terjebak di kabin ini!" Baruna segera berlari menuju lorong yang lain melalui ruangan itu untuk mencari keberadaan Floretta.
"Jangan kesana, Una! Lorong itu menuju sisi kapal. Gelombang akan sangat besar di luar sana! Jangan sampai kamu keluar dari deck kapal!" cegah Genta memberi peringatan. Akan tetapi, Baruna tidak mempedulikan peringatan Genta sama sekali. Dia mempercepat laju kakinya untuk mencari keberadaan Flo.
"Tolong selamatkan Diaz, Rendy! Aku akan menyusul Baruna agar dia tidak sampai keluar dari deck kapal!" seru Genta.
"Ok, Genta! Kamu tolong pastikan Baruna selamat. Aku akan menyelamatkan Diaz. Selain itu, bantuan dari Tim SAR juga sudah datang. Aku harus membantu evakuasi penumpang yang lain." Rendy mengangguk dan bergegas memapah Diaz untuk menuju ke jalur evakuasi dan hendak membawanya menuju fast boat-nya.
"Flo....!"
"Flo.... kamu dimana?" teriak Baruna memanggil nama Floretta.
Baruna berusaha mempercepat langkahnya menyusuri koridor, tetapi langkahnya sangat terhambat karena di tempat itu posisi kapat sudah sangat miring. Berkali-kali dia terpeleset, sehingga sambil berjalan, kedua tangannya harus berpegangan erat pada terali besi di sisi kapal.
Posisinya sudah ada di pinggir kapal kala itu, sehingga guncangan kapal yang terus diterjang gelombang sangat terasa disana.
"Tolong! Tolong!"
Baruna tersentak. Suara teriakan itu terdengar jelas di telinganya.
Baruna menoleh ke sisi kapal dan walau tidak terlalu jelas, dia bisa melihat seorang wanita tengah berpegangan ke sebuah besi di pinggir kapal, tetapi sebagian tubuhnya sudah ada di tengah laut. Wanita itu juga terlihat sudah mengenakan baju pelampung, sehingga tubuhnya tetap mengambang di permukaan. Gelombang besar terus menerjangnya dan wanita itu tetap berusaha keras memegang erat besi di depannya untuk bisa menahan gelombang yang akan menghempaskannya semakin ke tengah samudera.
"Flo ... diakah itu?"
Baruna merasa sangat cemas, cipratan air laut mengaburkan penglihatannya, yang membuatnya tidak yakin dengan siapa wanita yang dilihatnya disana. Sambil terus berpegangan pada besi pembatas pinggiran kapal, Baruna merayapkan kakinya mendekati wanita itu.
__ADS_1
"Flo......!" Baruna semakin terkejut. Ketika posisinya sudah ada di dekat wanita itu, dia bisa melihat dengan jelas Flo lah yang disana sedang berjuang melawan ganasnya terjangan gelombang.
"Baruna...! Tolong aku, Bar!" Flo juga berteriak dan terlihat sangat ketakutan.