Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #76 Menyadari Kekeliruan


__ADS_3

Dengan cepat Diaz mengambil alih selembar kertas yang berisikan peryataan setuju untuk tindakan kuretase terhadap Flo itu dari tangan dokter. Tanpa pikir panjang dia pun langsung menandatanganinya.


"Saya sudah tanda tangan, Dok. Sekarang segara lakukan tindakan terbaik untuk adik saya. Keselamatan jiwanya adalah yang terpenting," ucap Diaz seraya menyerahkan lembaran surat pernyataan itu kembali kepada dokter.


"Baik. Kami pasti akan berusaha melakukan yang terbaik!" Dokter itu mengangguk dan bergegas kembali masuk ke ruang IGD.


"Ya, Tuhan! Mengapa semua jadi begini, Una?" Mutiara yang sedari tadi duduk di kursi ruang tunggu langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Sedih, kecewa bercampur cemas berkecamuk dalam hatinya. Dia merasa sedih karena Flo harus kehilangan bayinya. Namun, sama halnya seperti suaminya, dia juga merasa kecewa atas kesalahan besar yang sudah dilakukan oleh putranya.


"Maafkan aku, Ma. Hubunganku dengan Flo memang sudah kelewat batas. Tapi, kami bedua melakukannya, karena kami saling mencintai. Dan aku juga sudah berjanji akan bertanggung jawab kepadanya." Baruna berjongkok di hadapan Mutiara dan memegang tangannya. Dia sadar kalau kesalahan yang dia perbuat selama ini sudah membuat rasa kecewa di hati kedua orang tuanya.


"Tapi bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan Flo, Una? Sebagai seorang wanita, mama juga sangat mengkhawatirkannya!" sergah Mutiara.


"Tenanglah, Ma. Semua pasti akan baik-baik saja!" potong Ardila sambil memeluk erat Mutiara dan ikut duduk di sebelahnya.


Baruna mengusap dan meremas rambutnya sendiri dengan kasar. Kecemasan yang dirasakan oleh Mutiara, adalah juga kecemasan yang sama tengah dia rasakan. Baruna lalu menoleh ke belakang dan menatap tajam ke arah Diaz.


"Ini semua gara-gara kamu, Diaz!" decak Baruna seraya mendekati Diaz dan menudingkan telunjuknya tepat di depan wajah Diaz.


"Kau sudah dengan sengaja memisahkan Flo dari aku. Kakak macam apa kamu itu, Diaz?" Baruna menyeringai tajam.


"Hanya seorang kakak durhaka yang begitu tega menyerahkan adiknya itu kepada laki-laki bejat seperti Daniel, hanya demi keuntungannya saja! Benar-benar biadab dan tidak punya perasaan kamu, Diaz! Kau sama sekali tidak pantas menjadi seorang kakak!" hardik Baruna mengumpat marah, sambil mencengkram kerah baju Diaz dengan kasar.


"Dan kalau saja kau tidak membawanya kabur malam itu, Flo juga tidak akan pernah kehilangan bayinya!" Baruna terus berceloteh dan membentak berang sembari menatap Diaz dengan sorot mata sinis, menegaskan kemarahannya.


"Maafkan aku, Baruna! Ini semua memang salahku. Aku memang bukan kakak yang baik," aku Diaz. "Aku juga baru tahu kalau Flo hamil setelah kami berusaha bersembunyi dan mengasingkan diri di pulau itu." Diaz menundukkan wajahnya, merasa malu.

__ADS_1


"Dasar pengecut! Kau membawa Flo kabur dan bersembunyi di pulau itu, hanya karena kau takut polisi akan menangkapmu, 'kan?!" umpat Baruna lagi seraya melepaskan kerah baju dan mendorong tubuh Diaz hingga dia terjengkang pada dinding ruangan itu. Tongkat yang dipegangnya sebagai penyangga kakinya juga terlepas dan jatuh ke lantai, sehingga dengan kondisi kakinya yang masih mengalami cedera tersebut, Diaz kesulitan untuk bisa berdiri lagi.


"Hentikan, Una!" pekik Ardila. "Kamu nggak perlu menyalahkan Diaz terus! Apa untungnya kamu memarahinya? Semua sudah terjadi, Una. Dan lihatlah, Diaz juga sedang dalam keadaan cedera. Dia pasti juga tidak pernah  mengharapkan semua jadi seperti ini!"


Ardila segera berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Diaz yang terpojok bahkan hampir tersungkur di sudut dinding ruangan itu.


"Ayo, berdirilah, Diaz!" Ardila mengambilkan tongkat untuk Diaz dan membantunya berdiri.


"Terima kasih, Dila," ucap Diaz sambil tersenyum menatap wajah gadis di hadapannya.


"Wajar kalau Baruna marah terhadapku, Dila. Semua ini memang salahku. Aku yang sudah salah paham selama ini terhadap kalian semua," urai Diaz.


"Om Arkha!"


Diaz berjalan tertatih mendekati Arkha yang hanya berdiri mematung di ruangan itu.


"Selama ini aku sudah menanamkan dendam dan menabur benih permusuhan denganmu. Aku baru sadar kalau semua itu hanyalah kesalahpahaman. Dulu aku mengira kalau Om adalah orang yang sudah menyebabkan kebangkrutan perusahaan milik papaku, tapi ternyata kenyataannya tidak demikian," ungkap Diaz merasa menyesal.


"Apa yang sudah kau ketahui tentang aku, Anak Muda?" tanya Arkha sambil menatap lekat kedua manik biru di mata Diaz dan memengang pundaknya.


"Diaz sudah tahu semuanya, Bos. Saya yang sudah menceritakan semua kebenaran padanya," sela seorang pria yang baru saja ikut masuk ke ruangan itu.


Arkha menoleh ke arah orang yang baru saja berbicara tersebut, lalu tersenyum lebar.


"Genta!"

__ADS_1


Arkha langsung mendekati pria itu.


"Bagaimana keadaanmu, Genta? Tadi aku sangat khawatir tentang keselamatanmu. Tapi sekarang aku sangat senang mendengar berita kalau kamu dan semua penumpang di kapalmu selamat dari kecelakaan itu."


Arkha memeluk Genta seraya menepuk pundaknya beberapa kali.


"Alhamdulillah baik, Bos. Saya sangat bersyukur karena Tuhan masih menunjukkan kemurahan hatiNya dan memberi keselamatan pada kami semua." Genta dan Arkha saling berjabat tangan.


"Ayah Genta!" timpal Baruna ikut memeluk Genta dengan erat.


Genta terus tersenyum dan kembali berujar, "Selain itu, Baruna dan Rendy juga datang tepat waktu dan ikut membantu proses evakuasi. Kalau tidak ada bala bantuan dari fast boat - fast boat milik perusahaan anda, mungkin petugas saja tidak akan mampu menolong kami dengan cepat," beber Genta sangat merasa bersyukur.


"Ayah bangga padamu, Una! Hampir lima tahun kita tidak pernah bertemu, sekarang kamu sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang sangat gagah dan pemberani, sama seperti papamu," sanjung genta menatap takjub penampilan Baruna yang memang terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan sewaktu terakhir mereka bertemu.


"Baruna juga yang sudah dengan sangat berani menyelamatkan aku sewaktu aku terjebak di deck kapal dan kakiku terjepit locker besi," sela Diaz ikut memuji. "Saya banyak berhutang budi pada Baruna. Selain kejadian kemarin, Baruna juga pernah menolongku sewaktu aku disekap oleh Daniel dan membantuku membebaskan Flo dari cengkramannya."


Diaz menatap semua orang yang ada di tempat itu satu-persatu, termasuk juga Baruna yang masih terlihat kesal terhadapnya.


"Selama ini aku selalu membenci kalian, tapi kalian jugalah yang selalu menjadi dewa penolong bagi aku dan Flo," sesal Diaz sangat jujur.


Arkha kembali tersenyum mendengar pengakuan Diaz.


"Syukurlah kamu sudah menyadari semua kekeliruanmu, Diaz. Setelah ini, aku harap tidak ada lagi kesalahpahaman. Hiduplah dengan damai tanpa permusuhan dan dendam," ujar Arkha memberi nasehat.


Suasana yang tadinya sempat tegang, kini berangsur mencair di antara orang-orang yang ada di ruang tunggu IGD rumah sakit itu. Mereka berbincang akrab dan saling menguatkan. Mereka juga sama-sama memanjatkan doa agar Flo baik-baik saja dan tidak terjadi hal yang lebih serius terhadapnya.

__ADS_1


Diaz yang awalnya merasa canggung dan malu karena sudah salah paham terhadap Keluarga Waradana khususnya Arkha dan Baruna, kini juga sudah mulai bisa berbaur di antara mereka, dan dia semakin sadar bahwa kebencian dan dendamnya terhadap Arkha selama ini adalah sebuah kesalahan besar yang dia perbuat.


__ADS_2