
Matahari masih memancarkan sinarnya dengan sangat terik. Walau hari sudah sore, tetapi hawa panas masih terasa menyelimuti seluruh kota.
"Ini, silahkan diminum kopinya, Bang!"
Mutiara menyuguhkan secangkir kopi untuk Arkha yang saat itu tengah duduk bermalas-malasan di teras utama rumahnya.
Hari itu adalah Hari Minggu. Arkha tidak pergi bekerja dan memilih untuk tidak kemana-mana, tinggal di rumah saja bersama istrinya.
"Terima kasih, Sayang." Arkha menggeser tempat duduknya dan memberi ruang untuk istrinya ikut duduk di sebelahnya.
"Hari ini, rumah kita rasanya sepi lagi ya, Bang? Arnav sudah kembali ke Prancis dan Mama Yuna juga sudah balik lagi ke Singapore. Padahal rasa kangenku belum sepenuhnya terobati pada mereka," keluh Mutiara sambil menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
"Sabar, Ra! Setelah menyelesaikan bulan madunya, Baruna dan Flo juga sebentar lagi pulang. Saat nanti mereka sudah kembali, aku yakin kamu nggak akan merasa kesepian lagi, karena mereka akan selalu ada bersama kita," hibur Arkha sambil mengusap pundak istrinya.
"Iya, Bang. Aku sangat senang melihat kebahagiaan mereka. Semenjak Flo hadir di kehidupan Baruna, aku bisa merasakan kedewasaan dalam dirinya. Putra kita itu, terlihat lebih bersemangat dan aku yakin kalau Baruna benar-benar mencintai Flo. Semoga saja mereka akan selamanya seperti itu."
"Tentu saja, Sayang. Sifat Baruna itu, tidak jauh berbeda denganku. Apabila dia sudah jatuh cinta pada seorang wanita, seumur hidup dia akan selalu menjaga perasaannya itu," seloroh Arkha, tersenyum manis menatap wajah istrinya.
Mutiara ikut tersenyum. Selama ini perjalanan cinta mereka juga berjalan sangat manis. Baik Arkha maupun Mutiara sama-sama saling menjaga kesetiaan dan keutuhan cinta keduanya, sehingga hubungan mereka tetap hangat walau sudah puluhan tahun mereka jalani bersama.
"Mudah-mudahan Flo bisa segera hamil lagi ya, Bang. Rasanya sudah tidak sabar ingin punya cucu," ujar Mutiara lagi. "Iya, Sayang. Aku juga sudah merindukan kehadiran seorang bayi lagi di rumah ini." Arkha membelai lembut kepala istrinya dan mengecup keningnya mesra.
"Sore, Ma! Sore, Pa!"
Suara sapaan Ardila terdengar melengking. Dia baru saja turun dari kamarnya dan langsung menemui Arkha bersama Mutiara di teras.
Arkha mengerutkan keningnya melihat penampilan putrinya yang sedikit berbeda saat itu. "Kamu mau pergi kemana, Dila? Tumben jam segini sudah rapi?" tanyanya sembari memandangi Ardila dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Hari itu Ardila memang sengaja mengenakan outfit yang berbeda dari biasanya. Blouse berwarna putih polos dan panjang, dia padukan dengan mini jeans pendek, namun kedua kaki jenjangnya itu tetap tertutup dalam balutan legging dan sepatu sneakers yang meninggalkan kesan sedikit sportif.
"Hmm ... aku mau izin keluar sebentar, Pa. Diaz mengajakku jalan-jalan ke Otomotif Expo yang sedang diselenggarakan di sebuah Convention Center di pusat kota," jawab Ardila sekaligus juga meminta izin dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kamu mau pergi sama, Diaz?!" tanya Mutiara dengan sebelah matanya yang menyipit.
"Iya, Ma. Aku mau nemenin Diaz melihat-lihat trend otomotif terkini disana. Barangkali saja ada sesuatu yang bisa mengisprirasi untuk melengkapi bengkelnya," jawab Ardila tanpa menghiraukan Mutiara yang sepertinya ragu, kala dia mengatakan akan pergi bersama Diaz.
"Permisi! Selamat sore semua!"
Di waktu yang sama, sapaan seorang pria juga terdengar menyela.
Arkha, Mutiara dan Ardila sontak tersenyum bersamaan ketika melihat siapa yang kini datang menghampiri mereka.
"Hey... Diaz! Bagaimana kabar kamu?"
Arkha lagsung berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Diaz, menjabat tangan serta menepuk pundaknya.
"Kabar baik, Om," sahut Diaz, segera mencium punggung tangan Arkha dan Mutiara bergantian.
Tanpa banyak berbasa-basi, Diaz langsung menjelaskan tujuannya datang ke rumah itu kepada Arkha. Seperti yang Ardila katakan sebelumnya, Diaz ikut meminta izin kepada Arkha dan Mutiara, untuk mengajak Ardila keluar sore itu.
Sepeninggal Ardila dan Diaz, Mutiara kembali menyandarkan kepalanya di pundak Arkha.
"Mungkin saja sih. Aku juga pernah dengar kalau dulu mereka berdua pernah pacaran," sahut Arkha tidak terlalu heran dengan kedekatan mereka.
"Kalau ternyata iya mereka saling mencintai, lalu apa kita akan merestui hubungan mereka, Bang? Walau Ardila secara biologis memang bukan darah daging kita, tapi kan dari kecil kita sudah menganggapnya sebagai anak kita. Dila juga sudah mendapatkan nama belakang keluarga ini semenjak baru lahir," tampik Mutiara.
"Hmmm ... " Arkha mengernyit. "Selama ini kita tidak pernah melarang anak-anak kita untuk memilih sendiri calon pendampingnya, Sayang. Aku juga tidak tahu harus melarang atau merestui hubungan mereka." Arkha mengusap keningnya. Saat itu dia pun belum bisa memikirkan apa yang akan dia lakukan apabila ternyata Ardila dan Diaz memang benar saling mencintai dalam kondisi yang semua orang tahu bahwa mereka adalah saudara ipar, setelah Baruna dan Flo resmi menikah.
****
Hari sudah berganti malam. Ardila dan Diaz baru saja keluar dari sebuah gedung convention, dimana sebuah pameran akbar otomotif diadakan rutin setiap tahunnya disana.
Di atas mobil yang melaju perlahan, senyum-senyum bahagia tampak senantiasa menghiasi bibir Ardila dan Diaz. Keduanya sudah cukup puas melewati waktu bersama sore itu sehingga mereka sama-sama bisa menemukan sesuatu yang meningkatkan endorfin-nya masing-masing.
__ADS_1
"Sebelum aku antar kamu pulang, apa kamu mau menemaniku makan malam dulu, Dila? Perutku lapar, dari tadi siang aku belum makan," celoteh Diaz berharap Ardila menerima tawarannya untuk makan bersama malam itu.
"Boleh. Kebetulan aku juga sudah lapar!" sahut Ardila setuju.
Diaz lalu mengarahkan mobilnya menuju sebuah restoran tak jauh dari gedung convention dan mulai memesan beberapa jenis seafood di restoran yang selalu ramai pengunjung itu.
Keduanya memilih tempat duduk yang cukup private di sudut ruangan non smoking area, dan perbincangan akrab merekapun berlanjut disana. Sesekali gelak tawa terdengar di antara mereka, Diaz selalu bisa menghadirkan suasana ceria penuh canda dengan berbagai macam kekonyolannya. Ardila pun terlihat sangat menikmati acara jalan-jalan mereka sore itu.
"Dila, apa aku boleh tanya sesuatu padamu?" tanya Diaz, sesaat setelah mereka sama-sama menyelesaikan makan malam mereka.
"Iya, kenapa?"
"Apa ... a-apa kamu masih menyimpan sedikit rasa cinta untukku, Dila?" Walau dengan sedikit gugup dan terbata, Diaz akhirnya menanyakan juga sesuatu yang masih mengganjal di hatinya selama ini.
"Maksud kamu apa, Diaz?" Ardila mengangkat satu ujung alisnya dan sedikit terkejut akan pertanyaan yang diutarakan Diaz.
"Ee ... ma-maksud aku ... " Diaz kembali terdiam. "Kalau seandainya kamu masih mencintaiku, aku ingin kita menyambung lagi hubungan kita yang dulu, Dila," ujarrnya berterus terang.
Jantung Ardila seketika berdegup kencang mendengar pernyataan jujur Diaz. Dalam hati, dia juga menginginkan hal yang sama, karena rasa cinta terhadap Diaz itu, sesungguhnya masih ada tersimpan jauh di dasar sanubarinya.
"Jangan bercanda, Diaz! Sekarang kita adalah satu keluarga. Mana mungkin kita bisa menjalin hubungan lebih, sementara kau sekarang adalah kakak ipar dari adikku," elak Ardila, menyembunyikan semua rasa yang juga bercampur aduk di dadanya.
"Kamu kan bukan anak kandung di Keluarga Waradana, Dila. Apa salahnya kalau kita saling mencintai?"
"Tidak, Diaz. Aku tumbuh dan besar di keluarga itu. Dan sedari lahir, secara tertulis Papa Arkha adalah papa kandungku." Ardila terus mengelak. Dia tidak berani menanggapi serius perkataan Diaz. Dia takut apabila semua orang akan menghujatnya apabila dia nekat menjalin hubungan lebih dengan Diaz.
...----------------...
Dear Pembaca Setia,
Kali ini Author minta saran dari pembaca semua, apa kalian setuju atau boleh apa tidak, apabila Ardila dan Diaz disatukan? Secara status mereka adalah saudara ipar. Namun, secara biologis Ardila tidak memiliki hubungan darah dengan Keluarga Waradana.
__ADS_1
Tolong tuliskan saran kalian di kolom komentar dan bantu Author melanjutkan jalan cerita, agar Author bisa menyajikan ending yang lebih menarik untuk kisah ini!
Terima kasih dan ditunggu sarannya ya!