Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #53 Menemukan Sebuah Rahasia


__ADS_3

Arkha duduk melamun di kursi ruang kerjanya. Walau malam sudah semakin larut, rasa kantuk masih belum datang menghampirinya. Karena itulah dia memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan kantornya, yang dia bawa pulang hari itu.


Beberapa kali Arkha menekan keningnya ketika ingat pertanyaan Ardila tentang Alfin. Semua itu membuat banyak kegalauan muncul di benaknya.


"Ini aku buatkan kopi untukmu, Bang!" Mutiara masuk ke ruangan itu seraya membawakan secangkir kopi untuk suaminya.


"Terima kasih, Sayang." Arkha meraih cangkir kopi itu dan mulai menyeruputnya perlahan.


"Sepertinya Abang sibuk sekali. Tumben jam segini masih ngurusin kerjaan dan belum tidur?"


Mutiara bergelayut manja di pangkuan suaminya seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Arkha.


Meski sudah lebih dari dua puluh tahun mereka hidup bersama, keromantisan di antara keduanya memang masih terjaga dengan sangat baik. Keduanya selalu bisa mempertahankan keharmonisan hubungan mereka. Ikatan cinta keduanya sangatlah erat, sehingga di usia mereka yang kini sudah tidak muda lagi, hubungan asmara antara Arkha dan Mutiara masih dipenuhi hangatnya kemesraan.


"Nggak, Sayang. Aku hanya sedang menunggu telepon dari Rendy," sahut Arkha sambil melingkarkan tangannya di pinggang istrinya seraya mengecup pipi Mutiara dengan mesra.


"Memangnya ada apa, Bang?"


"Aku hanya kepikiran pertanyaan Ardila tadi. Entah dari mana dia tahu kalau Alfin bekerja di bengkel reparasi mobil."


"Jadi, sampai sekarang Abang belum tahu tentang keberadaan Alfin?"


"Belum, Sayang. Tapi aku sudah suruh Rendy untuk menyelidiki lebih lanjut."


Drrttt! Drrttt! Drrttt!


Ponsel Arkha yang ada di meja kerjanya bergetar dan terlihat di layar ponsel itu, Rendy sedang memanggilnya.


"Sebentar, Sayang. Rendy menelpon."


Arkha melepaskan pelukan istrinya dan bergegas meraih ponselnya.


"Bagaimana, Rendy? Apa kau sudah mendapatkan informasi yang lain tentang Alfin?" ucap Arkha, bertanya kepada asistennya itu di sambungan telepon.


"Sudah, Bos! Ternyata orang yang sudah membebaskan Pak Alfin dari penjara adalah Diaz, kakak kandungnya Floretta."


"Diaz?" Alis Arkha berkerut.

__ADS_1


"Iya, Bos. Diaz dan Floretta itu ternyata adalah anak dari Aryo Rivaldy, salah satu partner Pak Alfin dulu sewaktu perusahaan anda sempat dipegang olehnya."


"Aryo Rivaldy?" Arkha kembali menunjukkan ekspresi terkejutnya.


"Benar, Bos."


"Lalu untuk apa Diaz membebaskan Alfin?"


"Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman, Bos ..." Rendy lalu menjelaskan panjang lebar semua hal yang dia ketahui tentang Diaz kepada atasannya itu.


"Informasi apa yang Bang Rendy dapatkan tentang Alfin dan Diaz, Bang?" tanya Mutiara ketika melihat raut wajah suaminya berubah setelah menerima telepon dari Rendy.


Arkha mengusap dadanya dan menghirup udara dalam-dalam. Apa yang Rendy sampaikan kepadanya, juga dia ceritakan ulang kepada istrinya.


"Apa itu artinya Alfin dan Diaz sedang bekerjasama untuk membalas dendam padamu, Bang?" Mutiara menautkan kedua ujung alisnya.


"Iya, Sayang. Tapi itu semua hanya salah paham. Aku tidak pernah ada niat menghancurkan perusahaan Rivaldy. Kebangkrutan Rivaldy's Company itu karena kesalahan Aryo sendiri yang tidak amanah dalam menjalankan perusahaanya."


"Ya, Tuhan! Apa yang tengah mereka berdua rencanakan, Bang?" Kelopak mata Mutiara terangkat dan keningnya berkerut. Ada kekhawatiran yang tersirat dari ucapannya.


"Kamu tidak usah ikut mengkhawatirkan hal ini, Sayang. Percayalah, aku dan Rendy pasti bisa menyelesaikan semua permasalahan ini." Arkha mengusap lembut wajah istrinya.


.


Baruna dan Ardila berjalan mengendap-endap menuruni tangga di depan kamarnya menuju ke ruangan kerja Arkha yang ada di lantai dasar. Sedari tadi mereka berdua sudah mengintai papa dan mamanya disana. Setelah kedua orang tuanya keluar dari ruangan itu dan masuk ke dalam kamarnya, Baruna bersama Ardila menyelinap masuk ke ruangan kerja itu.


"Kamu yakin kita bisa dapat petunjuk tentang Om Alfin disini, Una?" tanya Ardila berbisik kepada Baruna ketika mereka berdua sudah berhasil masuk ke ruangan kerja Arkha.


"Tidak ada salahnya kita coba, Kak," sahut Baruna yakin.


Baruna dan Ardila lalu sama-sama memeriksa beberapa dokumen-dokumen lama yang ada di sebuah rak buku ruangan itu.


Selama ini, mereka berdua memang sangat jarang masuk ke ruangan tersebut karena Arkha melarang dan mengatakan bahwa banyak dokumen penting dan rahasia yang dia disimpan disana, sehingga tidak sembarang orang boleh masuk kesana.


Dalam beberapa menit, keduanya terlihat sangat serius memeriksa dan menelisik satu persatu dokumen disana.


Baruna melebarkan matanya ketika menemukan dan membaca beberapa lembar kertas yang terdapat pada sebuah map usang berwarna hitam dan ada lambang kepolisian negara di bagian depan map itu.

__ADS_1


"Kak, aku menemukan ini!" seru Baruna, seraya menunjukkan isi map itu kepada Ardila.


Ardila bergegas meraih map itu dari tangan Baruna dan ikut membacanya.


"Salinan surat pengajuan perkara pidana?" Mata Ardila membulat. "Alfin Bastian." Ardila membaca dengan teliti semua isi di dalam map itu dan menemukan nama Arkha dan Alfin juga tertulis disitu.


"Berarti papa sama mama selama ini berbohong sama kita, Una. Om Alfin selama ini bukan berada di luar negeri, tapi ada di penjara dan papa lah yang sudah menjebloskannya ke dalam penjara," ujar Ardila.


"Iya, Kak. Tapi sayangnya dokumen ini tidak lengkap, kita tidak tahu apa kasus yang pernah terjadi diantara mereka dulu."


"Benar, Una. Dan Kakak sekarang tahu kenapa tadi Diaz bilang kalau papa adalah musuh mereka. Mungkin saja Om Alfin menaruh dendam terhadap papa karena dulu sudah memenjarakannya," terka Ardila.


"Tapi, Diaz ...?? Untuk apa dia juga membenci papa?" Ardila memijat keningnya sendiri.


"Kalau Om Alfin menyimpan dendam, mengapa dia justru menyelamatkan Kakak? Mestinya dia membiarkan saja Kakak disakiti oleh Diaz. Kakak juga bagian dari Keluarga Waradana, kan?"


Banyak pertanyaan yang kini memenuhi pikiran Ardila dan dia menjadi sangat penasaran tentang siapa Alfin sebenarnya.


"Besok kita akan coba cari tahu, Kak." Baruna meyakinkan Ardila kalau mereka berdua akan menemukan jawaban dari semua rasa ingin tahu mereka saat itu.


"Iya, Una. Kalau papa dan mama sengaja merahasiakan ini dari kita, Kakak yakin ini ada hubungannya dengan kita atau bisa jadi dengan Kakak dan juga Mama Livina." Berbagai kecurigaan juga bermunculan di benaknya.


"Kakak tahu kemana kita harus mencari kejelasan tentang semua ini, Una." Ardila tersenyum penuh keyakinan.


"Om Alfin! Dia adalah satu-satunya orang yang bisa memberi keterangan atas semua ini, Una," sambung Ardila lagi.


Baruna hanya menganggukkan kepalanya paham akan tujuan Ardila.


...----------------...


Hai Readers,


Buat yang masih bingung dan penasaran tentang siapa dan bagaimana peranan Alfin di cerita ini, pasti belum membaca kisah sebelumnya yaitu DEBURAN GAIRAH SANG SEGARA.


Saran Author, silahkan baca cerita itu dulu ya! So, kamu akan lebih memahami beberapa rahasia yang masih belum terungkap di cerita ini.


Sambil menunggu up episode selanjutnya silahkan dibaca kisah awalnya dulu ya.....

__ADS_1



__ADS_2