Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #62 Kehidupan Baru


__ADS_3

Pagi hari berikutnya di tempat yang berbeda.


Sebuah kapal penyeberangan antar pulau terus melaju memecah gelombang. Angin laut berhembus sangat kencang seirama dengan deru mesin kapal yang terus bergemuruh.


Tiga hari berlalu setelah kejadian malam itu, Diaz bersama Floretta saat ini tengah ada di dalam sebuah Kapal Ro-Ro yang sedang berlayar di tengah samudra.


"Kemana kapal ini akan membawa kita, Kak?" tanya Flo kepada kakaknya, ketika dia menyadari kalau kapal yang nereka tumpangi sudah mengarungi lautan selama hampir tiga hari tiga malam lamanya.


Saat itu, mereka berdua tengah duduk berdua di deck kapal dan pandangan mereka sama-sama mengarah lepas ke hamparan laut di hadapan mereka.


"Aku juga tidak tahu dimana kapal ini akan berlabuh, Flo. Kau ingat kan, kita masuk ke kapal ini secara sembunyi-sembunyi di dalam truck yang bermuatan sembako itu," sahut Diaz disertai gelengan kepalanya.


Mereka berdua memang masuk ke kapal itu secara ilegal tanpa membayar tiket sekalipun.


Sebelumnya, pada waktu mereka mencoba melarikan diri, Diaz mengajak Flo menaiki sebuah truck dan menyelinap untuk bersembunyi di dalam dump truck yang bermuatan bahan-bahan kebutuhan pokok, tanpa ada seorangpun yang mengetahui keberadaan mereka disana. Truck itu lalu membawa mereka menuju ke sebuah pelabuhan yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari lokasi villa yang menjadi markas persembunyian Daniel.


Truck itu juga membawa mereka masuk ke dalam sebuah kapal penyeberangan antar pulau yang bahkan mereka sendiri tidak tahu kemana kapal itu akan membawanya.


Keduanya juga sangat beruntung, karena pemeriksaan penumpang di dalam kapal itu tidak terlalu ketat, sehingga mereka dengan mudah lolos dari pengawasan petugas disana.


Selain itu, Diaz dan Flo memiliki wajah blasteran dan lebih dominan seperti bule atau warga negara asing. Hal itulah yang membuat awak kapal dan para penumpang lain yang ada di kapal tersebut mengira bahwa mereka adalah pelancong dan akan pergi mengunjungi sebuah pulau yang akan menjadi tujuannya.


Tidak seorangpun menaruh kecurigaan terhadap mereka. Selain mengangkut mobil, truck dan kendaraan-kendaraan berbadan besar lainnya. Kapal roll on - roll out itu juga menganggkut penumpang. Dan karena penumpang di kapal itu juga kebanyakan adalah para pelancong dari luar negeri dan bisa diperkirakan, kapal itu pasti akan membawa mereka ke sebuah pulau yang merupakan tempat tujuan para wisatawan.

__ADS_1


Di dalam kabin kapal juga tersedia sebuah klinik. Di klinik itulah Diaz mendapat penanganan untuk lukanya.


Luka akibat tembakan itu memang tidak terlalu parah. Peluru tidak sampai bersarang di tubuh Diaz, melainkan hanya melukai permukaan lengannya saja dan hanya menyisakan luka robek di kulit lengannya itu.


"Sampai saat ini aku masih belum mengerti apa tujuan kakak sebenarnya mengajakku melarikan diri seperti ini." Flo menatap sendu wajah kakaknya. Sejujurnya dalam hatinya dia sangat ingin menentang keinginan Diaz membawanya pergi dari kota kelahirannya.


"Maafkan aku, Flo. Ini adalah jalan terbaik untuk kita bisa menyelamatkan diri. Bagaimanapun juga kita harus sebisa mungkin menjauh dari pemeriksaan polisi," sahut Diaz.


"Kita?" Flo tersenyum kecut.


"Aku tidak perlu menjauhi polisi, Kak. Kakak saja yang sebenarnya pengecut! Kakak takut polosi akan menangkap Kakak dan memenjarakan Kakak, kan?" hardik Flo dengan menyeringai ketus.


Diaz membuang nafas kasar mendengar hardikan Flo terhadapnya.


"Iya! Aku memang takut masuk penjara, Flo. Aku takut, apabila nanti aku mendekam di dalam penjara, maka tidak seorangpun yang bisa menjagamu lagi. Kakak tidak ingin kamu hidup sendiri lagi," urai Diaz seraya menatap wajah adiknya yang terlihat kesal terhadapnya.


"Aku juga membebaskan Om Alfin dari penjara secara ilegal. Om Alfin adalah musuh Arkha di masa lalu. Setelah Arkha mengetahui aku membebaskan Om Alfin untuk bekerja sama membalas dendam padanya, pastinya dia juga tidak akan tinggal diam. Dia pasti ikut memusuhiku, sementara aku sudah tidak punya apa-apa lagi di kota itu. Bengkelku sudah hancur, anak buahku juga sudah semua dilumpuhkan oleh Daniel."


Mendengar semua penjelasan Diaz, Flo hanya bisa menundukkan wajahnya. Meskipun dia tahu kalau kakaknya dulu banyak berbuat kejahatan saat masih menjadi pengikut Daniel, akan tetapi dia pun tidak ingin kakaknya itu masuk penjara. Dia tahu perbuatan Diaz selama ini didasari karena ambisinya yang terlalu berlebihan, untuk bisa mewujudkan cita-citanya membangun kembali perusahaan papanya. Flo juga sangat yakin, kalau Diaz ada bersamanya, Diaz pasti akan bisa membawanya kembali ke jalan yang benar.


"Lalu apa Kakak yakin setelah kita mininggalkan kota itu kita akan aman berada di tempat yang baru?" tanya Flo lagi masih dengan keraguannya.


Diaz menggeleng. "Entahlah, Flo. Aku juga tidak yakin. Tapi, setidaknya untuk sementara kita bisa aman dan aku juga bisa memikirkan hal apa yang akan kita lakukan selanjutnya," ungkap Diaz berusaha mengurangi semua hal yang dikhawatirkan adiknya.

__ADS_1


Diaz dan Flo terus duduk di deck kapal itu dan membahas rencana masa depan mereka disana. Diaz terus berusaha meyakinkan Flo bahwa tindakan mereka melarikan diri ketika kejadian itu, adalah tindakan yang paling tepat mereka lakukan.


.


Tanpa terasa, kapal itu terus melaju dan kini berlabuh di sebuah pelabuhan yang terlihat tidak terlalu besar.


Flo dan Diaz kini mengetahui kalau mereka mendarat di sebuah pulau kecil, namun pulau itu cukup ramai dikunjungi para wisatawan asing. Pulau itu juga sangat terkenal dengan keindahan alam dan wisata baharinya. Tourist yang berkunjung kesana umumnya adalah para penjelajah yang menyukai petualangan bahari serta pencari kedamaian yang jauh dari suasana kehidupan kota.


Hari sudah mendekati sore, ketika kapal itu menepi.


Di tempat itu, Diaz dan Flo juga dengan mudah mendapatkan penginapan. Banyak cottages, villa serta resort bertaraf international di tempat itu. Berbekal sisa uang yang ada di dompet Diaz, mereka bisa mencari tempat menginap yang cukup nyaman disana.


"Untuk sementara kita bisa tinggal di penginapan ini, Flo. Tapi sisa uangku tidak banyak, hanya cukup untuk beberapa hari saja. Besok aku akan mulai mencari pekerjaan disini, agar kita bisa bertahan hidup di pulau ini," ujar Diaz ketika mereka sudah berada di kamar sebuah guest house untuk mereka bisa beristirahat dengan nyaman di pulau tersebut.


"Apa aku juga boleh ikut mencari pekerjaan disini, Kak? Aku juga ingin membantumu mencari nafkah, agar kita bisa segera memiliki tempat tinggal tetap di pulau ini."


"Tentu saja, Flo. Kita akan memulai kehidupan baru di pulau ini. Kakak sangat yakin kita akan aman disini dan kita bisa menjauh dari kehidupan kota yang sangat kejam itu." Diaz tersenyum menatap wajah adikknya. Setelah tinggal di pulau yang sangat jauh dari kehidupan kota, dia sangat yakin akan bisa hidup lebih tentram di tempat itu dan luput dari pencarian polisi.


Flo ikut membalas senyum Diaz. Dia juga memiliki keyakinan yang sama dengan kakaknya. Tinggal di pulau itu pastlah akan membuat Diaz benar-benar melupakan kehidupannya di masa lalu yang sangat dekat dengan kejahatan dan dunia kriminalitas.


"Selamat tinggal, Baruna. Aku akan menetap di pulau ini untuk selamanya dan kita tidak akan pernah bertemu lagi," batin Flo kembali teringat akan cintanya yang dia tinggalkan di kota.


"Kau pasti akan dengan mudah bisa melupakan aku, Baruna. Mulai saat ini aku juga akan belajar untuk melupakanmu. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kita akan berjalan dalam takdir kita masing-masing." Flo bergumam dalam hati tentang semua keresahan dan kegalauan yang bercampur aduk di dalam kalbunya.

__ADS_1


Meskipun batinnya sangat tidak rela, Flo tetap meyakinkan hatinya untuk bisa melupakan Baruna dan mengubur dalam-dalam rasa cintanya.


Bagaimanapun juga, hubungannya dengan pria yang sangat dicintainya itu tidak akan pernah bisa menyatu. Banyak hal yang menjadi penghalang cinta mereka dan semua itu sangat tidak memungkinkan untuk mereka bersama.


__ADS_2