
Panasnya sengatan sinar mentari, seakan tidak dihiraukan oleh Baruna. Dia tetap dengan cepat melajukan motor besar barunya menyusuri padatnya jalanan kota dan menyeruak di antara kemacetan. Membonceng seorang gadis bersamanya, membuat perasaan berbeda mengisi hati Baruna saat itu.
Tidak peduli betapa teriknya siang itu, Baruna menepati janjinya kepada Floretta untuk mengantarnya berkeliling mencari pekerjaan. Mereka baru saja mengunjungi beberapa perusahaan yang sudah memanggil Flo untuk interview kerja, karena Flo sudah mengirim banyak surat lamaran kerja sebelumnya melalui email.
"Aku haus dan lapar, Bar. Sebaiknya kita istirahat dulu!" Floretta berbisik di telinga Baruna yang masih fokus menjalankan motor itu. Baruna hanya mengangguk dan segera menepikan motornya, mencari tempat teduh di pinggir jalan yang baru saja mereka lewati.
"Kamu mau makan apa, Flo?" tanya Baruna sambil membuka kaca helmnya, saat motor itu berhenti di sisi sebuah taman kota.
"Setahuku, di taman ini banyak jajanan enak dan murah. Bagaimana kalau kita cari makan disini saja?" Flo menunjuk deretan pedagang kaki lima yang berjejer di ujung taman itu.
Lagi-lagi Baruna mengangguk setuju. Makan di pinggir jalan seperti itu, memang bukan hal biasa baginya. Akan tetapi, dia tidak mungkin menolak ajakan Flo. Dengan segera Baruna mengarahkan motornya ke area parkir dan keduanya mendatangi sebuah lapak penjual bakso disana.
"Bagaimana interview tadi, Flo? Apa ada yang cocok menurutmu?" Baruna membuka percakapan di antara mereka, sambil menunggu pesanan makanan mereka disajikan oleh tukang bakso.
"Entahlah, Bar. Aku kurang percaya diri, sepertinya aku tidak akan diterima kerja disana. Rata-rata tadi itu kan perusahaan besar, pastinya mereka sangat selektif dalam merekrut calon karyawan. Sementara aku, hanya bermodal ijazah SMA. Sepertinya sih aku nggak akan lolos seleksi disana," celoteh Floretta, merasa tidak percaya diri akan bisa diterima bekerja di salah satu perusahaan yang sebelumnya sudah memanggilnya datang untuk wawancara.
"Kok kamu pesimis gitu sih, Flo? Harus optimis dong! Aku justru sangat yakin kalau kamu pasti akan diterima," ujar Baruna dengan senyum dan berusaha menyemangati Floretta.
"Terima kasih banyak ya, Bar. Kamu selalu mendukungku." Flo ikut tersenyum menatap wajah pria tampan di hadapannya. Walau hatinya tidak yakin akan bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat, tetapi senyum Baruna mampu membangkitkan gelora semangat di dalam jiwanya.
"Sama-sama, Flo." Baruna tetap hanya tersenyum. Berada dekat dengan gadis cantik itu, membuat perasaan nyaman selalu mengisi benaknya.
"Bagaimana dengan kakakmu, Bar? Apa dia sudah kembali ke kota kelahiran kalian?" tanya Flo, melanjutkan obrolan mereka.
"Ee ... iya, sudah," jawab Baruna gugup, karena dia ingat kalau dia sudah mengarang banyak cerita bohong untuk menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Floretta.
__ADS_1
Sambil menikmati makan siang di taman itu, Baruna dan Floretta tetap asyik mengobrol dan bergurau berdua. Meski pun hanya makan sederhana di warung kaki lima, tetapi kesan istimewa begitu terasa di antara keduanya, sehingga tanpa mereka sadari, perasaan berbeda juga kian tumbuh di hati masing-masing.
Drrtt! Drrtt!
Suara getar dari ponsel Flo menghentikan sejenak percakapan santai mereka.
Flo tersenyum lebar saat membaca sebuah pesan singkat yang mengatakan bahwa sebuah perusahaan finance menerimanya bekerja sebagai staff administrasi disana.
"Alhamdulillah, akhirnya aku diterima kerja, Bar!" serunya sangat senang dan refleks memeluk Baruna dengan sangat erat.
"Wahh, selamat ya, Flo!" Baruna balas memeluk Flo. Dia turut merasa senang dengan keberhasilan Flo.
"Ini semua berkat kamu, Bar. Terima kasih banyak karena sudah banyak membantuku." Setetes air mata haru menitik di pipi Flo. Kehadiran Baruna, membuat dia merasa mendapat semangat baru dalam menjalani hidupnya. Perasaan itu bahkan hampir tidak pernah dia rasakan selama ini. Sebab, dia sudah terbiasa hidup sendiri tanpa kasih sayang dari siapapun bersamanya.
"Semoga setelah ini, kamu juga akan segera dapat pekerjaan di kota ini, Bar," ucap Floretta penuh harap. Cerita bohong Baruna yang mengatakan bahwa dia juga tengah mencari pekerjaan di kota itu, masih melekat di ingatan Floretta.
****
Semenjak hari itu, kedekatan antara Baruna dan Floretta semakin terjalin erat. Baruna selalu menyempatkan waktunya untuk mengantar dan menjemput Flo bekerja. Namun, kebohongan demi kebohongan tentang dirinya juga semakin banyak dikarangnya.
Semakin dekat dengan Flo, gadis cantik yang selalu menunjukkan kesan tegar dan apa adanya itu, membuat Baruna semakin tidak berani mengatakan kebenaran akan dirinya. Ada rasa takut di benak Baruna, dia khawatir apabila Flo tahu kalau sebenarnya dia adalah putra seorang pengusaha tersohor di kota itu, maka semua itu bisa membuat Flo merasa canggung dan tidak mau lagi berteman dengannya.
.
"Terima kasih banyak ya, Bar. Hari ini kamu sudah mengantar dan menjemput aku dari tempat kerja." Flo turun dari motor Baruna seraya membuka helmnya.
__ADS_1
Sore itu, mereka baru saja tiba di rumah kontrakan sederhana milik Floretta, setelah Baruna menjemputnya dari kantor tempat ia bekerja.
"Ayo masuk dulu! Aku akan buatkan teh buat kamu!" tawar Flo, mengajak Baruna mampir ke rumahnya itu.
Baruna tidak menolak. Dia bergegas memarkirkan motornya dan ikut masuk bersama Flo.
"Diminum tehnya, Bar!" Floretta menyodorkan secangkir teh untuk Baruna saat dia duduk di sebuah sofa usang di ruang tamu kontrakan sederhana milik Floretta.
"Terima kasih." Tanpa ragu Baruna mengangkat cangkir teh dan meniupnya, kemudian menyeruput teh yang masih panas itu secara perlahan.
"Teh buatanmu sangat enak, Flo. Manis, seperti kamu," sanjung Baruna dengan senyum menggoda.
"Ehm, rayuan gombal!" seloroh Flo sambil sedikit menaikkan ujung bibirnya. Akan tetapi, hatinya bergetar setiap kali mendengar kata rayuan dari mulut Baruna.
"Bukan gombal, Flo. Memang kenyataanya kamu sangat cantik. Pastinya selama ini banyak laki-laki yang suka sama kamu," puji Baruna lagi. Dia benar-benar tidak dapat menyembunyikan kekagumannya terhadap gadis bermata indah itu.
Flo hanya tersenyum tipis menanggapi pujian Baruna.
"Kamu terlalu berlebihan, Bar. Sebenarnya kamu itu yang sangat tampan. Pastinya juga banyak gadis yang antri pengen dekat sama kamu." Floretta balas memuji. Kekaguman yang sama juga begitu dirasakannya, ditambah lagi kebesaran hati Baruna yang selalu sedia membantunya, membuat kesan tersendiri di dalam sanubarinya.
Untuk sesaat, keduanya hanya saling menatap dan hanyut dalam kekaguman masing-masing, sehingga sejenak suasana menjadi hening di antara keduanya. Floretta menundukkan wajahnya, tersipu malu melihat senyum Baruna yang semakin menggoda kala menatapnya.
"Oh ya, Bar. Itu motornya Tobias, kapan kamu balikin? Setelah motor itu diambil lagi sama pemiliknya, pasti kamu nggak bisa antar jemput aku lagi deh!" celetuk Floretta, memecahkan keheningan di antara mereka.
"Enggak lah, Flo. Untuk sementara, motor itu belum akan diambil oleh Tobias. Dia kan anak sultan, motor begituan, apalah artinya bagi seorang Tobias," kilah Baruna menyembunyikan kebohongannya.
__ADS_1
Sejak awal dia memang berdusta kepada Flo dan mengatakan bahwa motor itu adalah kepunyaan Tobias, yang dipinjamkan kepadanya.