
Tatkala bahagia datang menyapa semua insan, doa-doa ucapan syukur akan karunia terbaik Tuhan pun terdengar menggema dan mengalun bagai sebuah simponi nan indah.
Pemandangan kebahagiaan seperti itulah yang kini tengah terlihat di antara semua orang di Keluarga Waradana.
Senyum lebar selalu melengkung di bibir Arkha dan Mutiara kala menyapa semua undangan yang hadir, karena hari itu adalah hari pernikahan Ardila dengan Diaz.
Di atas panggung megah sebuah ballroom hotel bertaraf internasional di kota itu, Keluarga Waradana sedang berkumpul bersama. Arkha, Mutiara, Baruna, Flo dan Arnav, berdiri berjejer mengapit pasangan pengantin Diaz dan Ardila. Mereka sedang melakukan prosesi foto bersama.
Semuanya tersenyum dan kebahagiaan yang sama tengah mereka rasakan.
"Selamat ya untuk kalian berdua!" Arkha memeluk erat Diaz dan Ardila bergantian disusul oleh Mutiara.
"Terima kasih banyak, Pa." Diaz balas memeluk Arkha. Mulai hari itu, dia sudah tidak memanggil Arkha Om lagi. Arkha tersenyum dan merasa senang karena semua kini sudah memanggilnya 'Papa'.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau dalam setahun ini, aku pulang ke tanah air dua kali dengan tujuan yang sama," seloroh Arnav, mengungkapkan kebahagiaannya karena kedua kakaknya kini sudah menikah.
"Iya ... dan tahun depan, kamu yang akan pulang untuk menikah, Arnav!" timpal Baruna seraya memukul pundak adiknya.
"Oohh ... kalau itu sih nggak mungkin, Kak. Aku belum ingin buru-buru menikah. Aku harus menyelesaikan kuliahku dengan baik dulu!" sahut Arnav justru terkesan serius menanggapi candaan kakaknya.
Semua percakapan konyol itu sontak mengundang tawa semua orang disana. Arkha dan Mutiara ikut tertawa lebar, karena mereka tahu Baruna hanya sedang bercanda saja. Usia Arnav barulah menginjak dua puluh tahun saat itu, sudah pasti dia belum memikirkan untuk sebuah pernikahan.
"Tapi, beberapa bulan lagi, kamu tetap harus pulang lagi, Arnav. Sebentar lagi, ponakan kecilmu kan akan hadir di keluarga kita." Flo tidak mau kalah ikut menimpali. Sambil tersenyum menggoda adik iparnya itu, Flo mengusap perutnya yang sudah terlihat membuncit, karena kandungannya sudah masuk bulan keempat.
"Nggak apa-apa, Pa. Toh juga malam ini kami akan terbang ke Singapore untuk minta restu Oma Yuna." Ardila tersenyum, dia ingat kalau malam itu juga, dia bersama Diaz akan terbang ke Singapore. Selain untuk menjenguk Oma Yuna dan meminta restu darinya, mereka juga akan menghabiskan beberapa malam untuk berbulan madu disana.
Tawa canda kebahagian terus terdengar di antara mereka, hingga tanpa mereka sadari, hari sudah semakin gelap dan para undangan pun sudah meninggalkan tempat acara tersebut.
__ADS_1
Ardila dan Diaz bergegas berkemas dan mengambil kopernya. Diantarkan oleh kedua orang tua bersama Baruna dan Flo, malam itu juga mereka berangkat menuju bandara untuk bertolak ke Singapore.
_TAMAT_
...----------------...
Cerita ini cukup sampai disini ya, guys.
Author ucapkan terima kasih banyak untuk semua pembaca yang selalu setia mendukung cerita ini dari awal hingga tamat.
Mohon maaf apabila di cerita ini Author belum bisa menyajikan alur yang menarik, karena Author masih akan terus berproses untuk belajar membuat alur serta tulisan yang lebih baik.
Buat yang masih setia menunggu bonus episode cerita ini, akan Author usahakan update beberapa episode lagi.
__ADS_1
Sekali lagi Author ucapkan banyak terima kasih dan tetap dukung karya Author selanjutnya ya...
Sampai jumpa....