Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #26 Siapakah Pria Itu?


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Hari itu adalah hari pertama Baruna bekerja di perusahaan papanya.


Tidak jauh berbeda dari Arkha, Baruna bisa dengan cepat beradaptasi di kantor itu dan mampu mengerjakan tugas-tugas yang Arkha berikan kepadanya dengan sangat cekatan.


Maklum saja, semenjak kecil Baruna sudah sangat sering mendengar papanya membahas masalah pekerjaan kantornya, baik itu bersama mamanya ataupun rekan bisnisnya yang lain. Sehingga tanpa dipelajarinya pun, Baruna dengan mudah memahami apa saja yang biasa dikerjakan Arkha.


"Papa perhatikan kamu sepertinya sedang gelisah, Una. Ada apa?" ujar Arkha, seraya menggelengkan kepalanya, ketika menyadari sore itu putranya terlihat tidak tenang dan mulai tidak fokus dengan pekerjaannya.


"Ee ... apa aku boleh pulang duluan, Pa?" tanya Baruna. "Aku ada janji ketemu teman-temanku," bohongnya sambil melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Dia ingat kalau sudah waktunya dia harus menjemput Floretta dari tempatnya bekerja.


Arkha hanya tersenyum tipis serta menghela nafasnya dalam. Meski putranya sudah bersedia mengikuti kemauannya dan mulai belajar mengelola perusahaannya, tetapi Baruna belum sepenuhnya bisa menghilangkan kebiasaannya dan masih lebih suka menghabiskan waktu bersenang-senang menikmati masa mudanya bersama teman-temannya.


"Baiklah, papa izinkan kamu meninggalkan kantor duluan. Tapi ingat, kamu jangan pulang kemalaman ya!" tegas Arkha, tetapi tidak ada niatnya melarang putranya untuk bertemu teman-temannya itu.


"Terima kasih, Pa. Kalau gitu, aku duluan." Baruna bergegas meraih jaketnya dan hendak segera meninggalkan kantor itu.


"Tunggu, Una!"


Belum sempat Baruna melangkahkan kakinya, kembali Arkha menghentikannya.


"Langit mendung, Una. Sepertinya akan turun hujan. Sebaiknya kamu jangan naik motor, kamu pakai mobil papa saja," saran Arkha. Melihat cuaca yang mulai kurang baik karena sudah masuk musim penghujan saat itu, Arkha sedikit mengkhawatirkan putranya dan tidak tega melihat Baruna mengendarai motor.


"Nggak apa-apa, Pa. Aku nggak akan pergi jauh-jauh kok, nggak akan sampai kehujanan," tolak Baruna. Tentu, bukan karena tidak takut terkena hujan, melainkan dia akan susah mencari alasan ketika nanti Flo bertanya padanya tentang mobil yang dia pakai.


"Aku pulang sekarang, Pa," pamit Baruna, seraya mencium punggung tangan papanya lalu bergegas meninggalkan kantor itu.


.


Baruna melajukan motor besarnya dengan sangat cepat karena menyadari dia sudah terlambat menjemput kekasihnya.


"Maafkan aku terlambat, Flo. Kamu pasti sudah lama menungguku kan?" sesal Baruna, saat senyum manis Flo menyambut kedatangannya di kantor tempat Flo bekerja.

__ADS_1


"Nggak masalah, Bar. Aku tahu ini hari pertamamu mulai bekerja. Lagian, aku juga belum lama kok menunggu disini," ujar Flo tetap dengan tetap tersenyum manis. Meski sebenarnya dia sudah cukup lama menunggu, tidak ada kekesalan di hatinya. Dia dengan setia menunggu kekasih pujaan hatinya itu datang untuk menjemputnya.


Baruna kemudian memacu motornya perlahan. Mengingat Flo kini sudah dibonceng bersamanya, dia merasa tidak perlu ngebut lagi untuk segera sampai di tujuan.


Di tengah perjalanan, tiba-tiba mendung semakin tebal menyelimuti seluruh kota. Sehingga, jalanan menjadi gelap dan angin juga bertiup cukup kencang. Bulir-bulir air hujan pun mulai berjatuhan dari langit dan membasahi apa saja di permukaan bumi.


"Hujannya cukup deras, Bar. Mendingan kita berteduh saja dulu!" pekik Flo di telinga Baruna sambil membuka sedikit kaca helmnya.


Baruna lalu menepikan motornya dan mencari tempat teduh untuk berlindung dari terpaan air hujan.


Di depan sebuah ruko kosong, mereka berhenti dan berteduh disana. Semakin lama hujan turun semakin deras. Oleh karena Baruna tidak melengkapi dirinya dengan jas hujan, maka mereka memilih tetap duduk di depan ruko itu dan menunggu hujan reda.


"Baju kamu basah, Bar." Floretta mengusap jaket Baruna yang basah oleh air hujan yang sempat mengguyur mereka sebelumnya.


"Hanya sedikit, Flo. Kamu juga basah." Baruna ikut mengusap pundak Flo. Dia ingat kalau hujan yang turun secara tiba-tiba tadi, sudah berhasil membuat mereka sama-sama basah.


Jarum jam terus berputar, tetapi hujan turun masih sangat deras, Baruna dan Floretta juga tetap memilih diam duduk berteduh di depan ruko itu.


"Kamu kedinginan ya, Flo?" Baruna merangkul pundak Flo lebih erat.


"Sedikit," sahut Flo singkat, sambil merapatkan tubuhnya ke pelukan Baruna. Meski dingin terasa menusuk hingga ke tulang, namun perasaan hangat memenuhi kedua insan yang tengah jatuh cinta itu.


"Aaaaa!!" Flo berteiak dan berhambur, membenamkan wajahnya di dalam dekapan Baruna, ketika mendadak terlihat kilatan petir dibarengi suara gemuruh yang menggelegar.


"Aku sangat takut mendengar suara petir, Bar," ucap Flo dengan bibirnya yang bergetar ketakutan, saat gemuruh petir itu memekik di telinganya. Baruna semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan takut, Flo. Kan ada aku disini. Kamu tidak perlu takut apapun saat aku bersamamu," hibur Baruna sambil tersenyum, menenangkan Flo yang semakin gemetar di dalam pelukannya.


"Kalau hujannya sudah agak reda, sebaiknya kita segera pulang, Bar! Aku takut berada di luar rumah saat petir seperti ini," keluh Flo.


"Iya, Sayang. Jangan khawatir, kan aku selalu ada untukmu." Baruna terus menghibur dan berusaha mengusir rasa takut Flo.


Keduanya terus saja sama-sama tersenyum dan saling menatap. Walau sebenarnya Flo sangat takut dengan suara gemuruh serta kilatan petir, tetapi ada Baruna di sampingnya mampu menghilangkan semua rasa takutnya itu.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, hujanpun mulai mereda. Tanpa membuang waktu, Baruna dan Flo bergegas meninggalkan tempat mereka berteduh menuju rumah kontrakan Flo.


Meski hujan masih turun gerimis, tetapi Baruna tetap melajukan motornya melewati beberapa genangan air di jalan yang sedikit terendam banjir setelah hujan begitu deras mengguyur kota itu.


****


Sementara itu di waktu yang sama.


Dari sudut lain tak jauh dari tempat tadi Baruna dan Flo berteduh, seorang pria tersenyum sinis melihat kedekatan mereka.


Pria itu bertubuh tinggi, tegap dan kala itu mengenakan pakaian formal. Usianya memang terlihat cukup matang, tetapi ada sebuah wibawa terpancar dari wajahnya.


Setelah Baruna dan Flo berlalu, pria itu berjalan menerobos rintik hujan menuju ke tepi jalan dan masuk ke sebuah premium SUV berwarna abu metalic yang sedari tadi terparkir disana. Setelah duduk di dalam mobil sport mewah miliknya, pria itu lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memandangi sebuah foto yang baru saja dia ambil melalui kamera ponselnya.


"Diaz! Semua ini tidak bisa dibiarkan!" Pria itu berdecak. Aura kemarahan terpancar dari sorot matanya saat memandangi foto Baruna dan Flo di layar ponselnya.


Pria itu lalu menghubungi sebuah nomor kontak yang ada di ponselnya itu.


"Diaz, apa kau sudah menerima foto yang aku kirim di ponselmu?" Pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut pria itu tatkala orang yang dihubunginya sudah menerima panggilannya.


"Kau bukannya segera menyerahkan Flo kepadaku, tapi kau justru membiarkan Flo dekat dengan pria lain. Apa kau sudah merasa hebat sehingga tidak lagi membutuhkan bantuanku?" seringai pria itu, sangat kecewa mendengar jawaban seseorang yang tengah di teleponnya.


"Aku tidak mau dengar lagi alasanmu, Diaz! Flo harus segera jadi milikku. Kalau tidak, aku bisa saja menggiringmu ke kantor polisi, dan kau akan meringkuk selamanya di dalam penjara!" ucap pria itu bernada penuh ancaman seraya menutup sambungan telepon.


"Aku harus segera menikah dengan Flo. Kalau Diaz berani main-main denganku, dia akan merasakan sendiri akibatnya!" Pria itu kembali berdecak. Melihat kedekatan Flo dan Baruna, membuat emosi membara membakar jiwanya.


"Aaah, sial! Siapa pria yang tadi bersama Floretta itu?" sengitnya.


Braakk!


Pria itu memukul stir mobil di hadapannya. "Aku juga harus menyingkirkan laki-laki ingusan yang bersama Flo itu. Tidak akan kubiarkan seorangpun memiliki Flo kecuali aku!" geram pria itu sambil menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam dan memacunya kencang meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2