Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #78 Menata Hidup Baru


__ADS_3

Rona jingga di langit ufuk barat sudah tidak terlihat lagi dan berganti gelap yang mulai menutupi langit kota. Rembulan dan gemintang kini saling berlomba menampakkan kerlip indah cahayanya sebagai penghias cakrawala.


Malam sudah menjelang, aktivitas kehidupan kota pun kini sudah berganti. Sebagian orang sudah mulai pulang ke rumahnya masing-masing untuk berkumpul bersama keluarga, serta beristirahat melepas penat setelah begitu lelah mengejar rupiah.


Suasana hangat kumpul keluarga itu juga terlihat di Kediaman Waradana. Saat itu Arkha, Mutiara, Ardila dan Baruna tengah duduk berkumpul bersama di ruang tengah.


Senyum-senyum sumringah tampak menghiasi wajah-wajah disana, tanda sebuah kebahagiaan tengah mereka rasakan kala itu.


Ting! Tung!


Suara bel rumah itu terdengar berdenting, tanda tamu yang tengah mereka nantikan sudah tiba disana.


"Biar aku yang buka pintu!" Senyum girang itu semakin terlukis di bibir Baruna.


Bergegas dia beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke pintu.


"Mereka sudah datang. Ayo, Dila, kita siapkan meja makan!" ajak Mutiara.


"Iya, papa juga akan ikut menunggu mereka di ruang makan saja." Arkha ikut beranjak dari sofa, dan mereka semua bergegas meninggalkan ruang tengah.


Senyum Baruna semakin mengembang setelah membuka pintu. Diaz dan Flo tampak berdiri di hadapannya dan ikut tersenyum manis kepadanya.


"Hi.... welcome home!" sambut Baruna ramah. "Ayo kita langsung saja ke ruang makan. Papa, Mama dan Kak Dila sudah menunggu!" ajaknya. Baruna lalu mengantar Diaz bersama Flo ke ruang makan.


Diaz berjalan pelan dengan kondisi kakinya yang baru sembuh, sedangkan Baruna menggandeng tangan Flo dan mereka berjalan bersamaan.


"Bagaimana kabarmu, Flo?" Sambil terus melangkah ke ruang makan, Baruna mencuri bertanya kepada Flo.


"Baik, Bar."


"I miss you," bisik Baruna tepat di telinga Flo, dan dibalas hanya dengan senyum oleh Flo.

__ADS_1


Setelah kejadian yang menimpa mereka, Flo bersama Diaz sudah kembali ke rumah mereka dan selama itu, mereka juga sangat jarang bisa bertemu, karena sibuk dengan pekerjaanya masing-masing.


Tiba di ruangan makan, senyum ramah Arkha, Mutiara dan Ardila juga kembali menyambut mereka.


"Bagaimana kondisi kakimu, Diaz? Apa sudah lebih baik?" tanya Arkha memulai percakapan mereka sambil menikmati salad sebagai makanan pembuka di acara makan malam santai itu.


"Alhamdulillah sudah, Om. Aku sudah tidak butuh bantuan tongkat lagi untuk berjalan," sahut Diaz.


Hari itu sudah sebulan berlalu semenjak kejadian kecelakaan di kapal. Mendapat perawatan yang baik, membuat cedera kaki yang dialami Diaz membaik dengan cepat.


Arkha juga menoleh ke arah Flo. "Dan kamu, Flo. Bagaimana kondisi kesehatanmu?" tanyanya.


"Aku juga baik, Om." Flo hanya mengangguk dan membalas tersenyum.


"Bengkel mu bagaimana, Diaz? Apa semua sudah berjalan normal?" Baruna ikut bertanya untuk menciptakan suasana akrab di antara mereka.


"Masih ada beberapa tahap lagi yang harus aku benahi, Bar. Akibat kebakaran waktu itu, kerugian yang harus aku tanggung cukup besar."


"Kamu harus tetap semangat, Diaz. Sedikit demi sedikit, kamu pasti bisa membangun kembali bengkel itu seperti sebelumnya," timpal Mutiara.


"Aku juga sudah menugaskan Rendy untuk mengurus izin untuk Rivaldy's Company. Mulai bulan depan, kamu sudah bisa memulai mengelola lagi bisnis papamu itu, Diaz."


"Benarkah, Om?" Diaz tersenyum sumringah.


"Iya!" Arkha hanya mengangguk kecil.


"Dila...." Arkha menoleh ke arah Ardila yang masih asyik menyuap makanannya.


"Hmmm... iya, Pa." Ardila menghentikan kunyahannya seraya meneguk air dari gelas di hadapannya.


"Berhubung kamu sudah menyelesaikan kuliahmu, Papa ingin kamu membantu Diaz dalam mengelola perusahaannya. Yah ... anggap saja, papa menempatkan kamu magang disana."

__ADS_1


Ardila langsung menoleh ke arah Diaz setelah Arkha menyelesaikan kalimatnya. Diaz tampak tersenyum dan mengangguk, lalu keduanya juga saling membalas melempar senyum penuh makna.


"Aku tidak tahu bagaimana lagi harus berterima kasih. Keluarga ini sudah banyak membantuku dan aku sangat berhutang budi terhadap kalian semua, terutama Om Arkha," sambung Diaz. Dia merasa sangat sungkan. Orang yang selama ini dibencinya, ternyata justru sangat membantunya kala ia terpuruk. Bahkan, berkat tangan dingin Arkha, harapannya untuk membangun kembali perusahaan papanya akan bisa segera terwujud.


"Kamu tidak perlu sungkan seperti itu, Diaz," tampik Arkha. "Kamu dan juga Floretta sudah aku anggap seperti keluarga. Lagi pula, sebentar lagi kan Baruna dan Flo akan menikah. Setelah itu kita akan seutuhnya menjadi sebuah keluarga," ujar Arkha, tidak ingin Diaz terlalu sungkan kepadanya.


Mendengar ucapan Arkha, Baruna dan Flo yang duduk dengan posisi saling berhadapan, sejenak saling menatap dan sama-sama tersenyum tersipu.


"Sebenarnya, tujuanku mengundang kalian makan malam disini adalah untuk membahas tentang pernikahan Baruna dan Flo. Aku ingin pernikahan mereka harus segera dilaksanakan. Setelah Flo mengalami keguguran kemarin, aku tidak mau sampai ada berita miring tentang Baruna dan Flo, tersebar di luar sana," celoteh Arkha menerangkan semua keinginannya.


"Iya, Om. Aku sependapat denganmu." Diaz kembali mengangguk.


"Bagaimana, Una? Apa kalian berdua sudah benar-benar siap untuk menikah?" Mutiara ikut menyela dan bertanya, sekedar untuk lebih meyakinkan saja. Dia tahu usia Flo dan putranya masih sangat muda. Menjalani rumah tangga di usia mereka sekarang pastilah akan cukup banyak tantangannya.


"Yakin, Ma!" sahut Baruna lugas tanpa sedikitpun keraguan terlihat di matanya.


Acara makan malam itupun akhirnya lebih banyak diisi dengan pembahasan acara pernikahan Baruna dan Flo. Mereka sudah menyepakati acara sakral tersebut akan mereka selenggarakan bulan depan. Tidak mau terlalu ambil pusing, mereka lebih memilih untuk menyerahkan semua acara itu kepada sebuah wedding organizer yang cukup ternama di kota itu.


Setelah makan, mereka semua kembali duduk berkumpul di ruang tengah dan berbincang membahas apa saja sekedar untuk bercengkrama disana. Namun, Baruna dan Flo tidak ikut, mereka berdua lebih memilih duduk di sebuah sunbed di sisi kolam renang yang ada di rumah itu.


"Apa pendapatmu tentang rencana pernikahan kita, Flo?"


Baruna mengusap lembut rambut Flo yang saat itu duduk di sebelahnya sembari menyandarkan kepalanya di pundak Baruna.


"Aku sangat bahagia, Baruna. Ini bagai sebuah mimpi bagiku. Aku masih tidak percaya kalau sebentar lagi kita akan jadi pasangan suami istri."


"Aku juga sangat bahagia, Sayang." Baruna mengecup kening Flo dengan mesra.


"Aku mungkin bukan laki-laki yang sempurna buatmu, Flo. Aku banyak melakukan kekeliruan dalam hidupku. Pergaulanku terlalu bebas selama ini. Tapi, semenjak bertemu denganmu, aku merasa kamulah satu-satunya wanita yang mampu menggetarkan hatiku. Aku sangat mencintaimu, Flo."


"Iya, Bar. Aku juga sangat mencintaimu," balas Flo dengan senyum manis yang terus terulas di bibirnya.

__ADS_1


Melihat bibir indah itu, Baruna sungguh tidak dapat menahan dirinya. Baruna mendekatkan bibirnya ke bibir Flo dan keduanya pun berciuman dengan sangat dalam.


Baruna menelan ludahnya. Mencumbu bibir Flo seperti itu membuat rasa berbeda membuncah di dalam jiwanya. Detak jantungnya berpacu sangat cepat seakan ada sesuatu tengah memompanya. Namun, sesuatu itu masihlah harus ditahan dan disimpannya dalam-dalam. Dia berusaha menepati janji pada dirinya sendiri. Sebelum menghalalkan hubungannya dengan gadis itu, dia akan berusaha untuk tidak menyentuhnya lagi, serta tidak ingin melakukan kekhilafan yang sama.


__ADS_2