Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #21 Menyimpan Rasa


__ADS_3

Hari semakin gelap, malam sudah semakin larut. Kediaman Waradana juga sudah terlihat sepi karena para penghuni rumah besar itu sudah masuk ke kamarnya dan terbuai dalam bunga tidurnya masing-masing.


Dari salah satu kamar di rumah itu, Baruna tampak masih terjaga. Dia duduk di balkon kamarnya yang terletak di lantai dua rumah itu sambil tersenyum menatap layar ponselnya.


"Syukurlah Floretta mau menuruti nasehatku untuk tidak bekerja sebagai penari di club itu lagi," gumam Baruna setelah membaca sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Flo kepadanya dan mengatakan bahwa dia sudah benar-benar tidak kembali untuk bekerja di nightclub itu lagi.


"Setelah ini, aku akan membantunya mencari pekerjaan lain yang lebih baik." Lagi-lagi Baruna tersenyum, selalu ada perasaan berbeda yang dirasakannya saat teringat akan Floretta.


"Mengapa aku selalu kepikiran akan gadis itu ya?" Baruna mengusap wajahnya, entah mengapa bayangan wajah cantik Flo selalu melintas di kepalanya. Sebuah senyum juga terus terulas di bibirnya saat ingat saat-saat pertemuannya dengan gadis bermata biru itu.


"Apa mungkin aku jatuh cinta kepada Floretta?" Baruna membatin. Hatinya seakan berbunga-bunga saat dia membayangkan semua hal dalam diri Floretta.


"Aahh, aku sendiri tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Selama ini, semua gadis yang bersamaku hanyalah teman untuk bersenang-senang saja." Baruna terus menggumam. Seakan ada perasaan tidak biasa yang tengah memenuhi pikirannya dan tidak dapat ia ingkari saat itu.


Beberapa menit berjalan, Baruna masih terus duduk di balkon kamarnya dan melamun disana. Karena kantuk belum juga datang menghampirinya, Baruna lalu beranjak dari balkon itu dan keluar dari kamarnya, hendak melangkah ke dapur untuk mengambil segelas susu disana.


Saat melewati kamar Ardila, Baruna menghentikan langkahnya. "Lampu kamar Kak Dila masih menyala, apa dia juga belum tidur?" pikirnya.


Baruna lalu mendekati pintu kamar Ardila dan mengetuknya perlahan.


"Kakak belum tidur?" tanya Baruna saat Ardila sudah membukakan pintu untuknya.


"Kakak belum ngantuk," sahut Ardila sambil kembali duduk di atas ranjangnya dan memeluk bantalnya.


Baruna juga ikut naik ke ranjang Ardila dan merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Ardila.

__ADS_1


Sedari kecil, Baruna dan Ardila memang sangat dekat. Mereka tumbuh besar bersama dalam asuhan serta kasih sayang Mutiara dan Arkha. Meskipun sebenarnya mereka tidak punya hubungan darah, tetapi Arkha dan Mutiara memang tetap selalu merahasiakan kebenaran akan Ardila, kepada ketiga anaknya itu, sehingga Ardila dan Baruna hanya tahu bahwa mereka adalah saudara tiri dengan satu ayah yang sama.


"Kamu sendiri kenapa belum tidur, Una?" Ardila kini berbalik menanyakan hal yang sama kepada Baruna.


"Aku juga belum bisa tidur, Kak," jawab Baruna singkat.


"Pastinya belum bisa tidur! Wong biasanya kamu masih keluyuran di club, jam segini!" cibir Ardila sambil memukul kepala Baruna dengan bantalnya.


"Aahh, Kak Dila tahu aja!" balas Baruna sambil tersenyum menatap wajah Ardila yang juga masih terlihat belum ada rasa mengantuk.


"Kakak lagi lihat apa?" Baruna memperhatikan Ardila yang terus memandangi layar ponselnya lalu mendongakkan kepalanya mencoba mengintip apa yang tengah dilihat Ardila begitu serius di ponsel itu.


Baruna mengernyitkan keningnya saat melihat Ardila terpaku menatap sebuah foto wajah seorang pria disana.


"Foto siapa ini, Kak?" Baruna yang merasa penasaran melihat Ardila begitu fokus mengarahkan netranya ke foto itu, lalu dengan secepat kilat menyambar ponsel Ardila dan ikut melihat foto yang sedang dipandangi oleh kakaknya.


Baruna mendengus kasar sambil menggelengkan kepalanya. Meski Ardila sudah merebut kembali ponselnya, tetapi dia sudah melihat foto siapa yang terus dipandangi oleh Ardila saat itu.


"Kenapa Kakak masih saja suka lihat-lihat foto laki-laki brengsek itu? Apa Kakak masih berhubungan dengannya? Atau jangan-jangan Kakak masih cinta ya, sama Diaz?" hardik Baruna dengan pertanyaan bertubi-tubi. Ada rasa tidak senang di hatinya begitu menyadari Ardila masih memikirkan pria jahanam yang hampir saja merenggut kesuciannya itu.


Ardila hanya menundukkan wajahnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja nakas.


"Bagaimanapun juga, Diaz itu cinta pertama Kakak, Una. Walau sekarang Kakak tahu dia bukan orang yang baik, tapi Kakak tidak bisa dengan mudah melupakannya," aku Ardila jujur. Sesungguhnya, di lubuk hatinya yang paling dalam, Ardila masih menyimpan rasa terhadap Diaz.


"Sudahlah, Kak! Lupakan laki-laki bajingan itu. Diaz itu seorang penjahat! Kakak jangan pernah lagi memikirkan laki-laki pembuat onar itu!" tegas Baruna semakin tidak senang Ardila masih menyimpan perasaan terhadap Diaz.

__ADS_1


"Penjahat? Pembuat onar?" Ardila menautkan kedua ujung alisnya mendengar kata-kata yang diucapkan Baruna.


"Tahu dari mana kamu kalau Diaz itu penjahat dan suka membuat onar, Una?!" sentak Ardila dengan kedua matanya yang membulat, karena merasa sedikit terkejut mendengar penuturan Baruna.


"A-aku ... aku dapat informasi dari teman-temanku, Kak!" sahut Baruna mencari alasan.


Ardila kembali menundukkan kepalanya. "Selama ini, Kakak memang tidak pernah tahu apa pekerjaan Diaz. Setahu Kakak, dia adalah laki-laki yang baik dan selalu perhatian sama Kakak. Tapi ternyata dibalik semua itu, Diaz menyimpan banyak misteri yang Kakak tidak pernah ketahui, Una," sesal Ardila seraya mengusap wajahnya pelan. Tiba-tiba rona kesedihan terbias di wajah cantiknya itu.


"Jangan pernah menyesali perpisahan dengan laki-laki jahat itu, Kak! Di luar sana, masih banyak laki-laki lain yang jauh lebih baik dari Diaz. Kak Dila sangat cantik, pastinya banyak laki-laki yang tergila-gila sama Kakak," seloroh Baruna, berusaha menghibur kakaknya dan menghilangkan kesedihannya.


Ardila hanya mengangguk dan berusaha memasang senyum di bibirnya, menatap Baruna. Di pikirannya, apa yang dikatakan Baruna benar adanya. Dia harus berusaha melupakan Diaz dan kembali membuka hatinya untuk pria lain yang tentunya jauh lebih baik dari pada Diaz.


"Oh ya, Una. Apa besok kamu ada acara?" Ardila bertanya dan mengalihkan pembicaraan mereka saat itu.


"Emm, nggak ada, Kak. Memangnya kenapa?"


"Apa kamu mau antar Kakak ke suatu tempat?"


"Kemana, Kak? Ke kampus ya?" terka Baruna.


"Bukan ke kampus, Una. Besok Kakak nggak ada perkuliahan." Ardila menggelengkan kepalanya.


"Lalu kemana, Kak?" Baruna bertanya lagi.


"Besok kamu akan tahu sendiri," pungkas Ardila hanya dengan tersenyum dan tidak berniat mengatakan kemana dia akan pergi esok hari.

__ADS_1


"Baiklah, Kak. Kemanapun Kakak pergi aku akan antarkan. Setelah aku kembali ke rumah ini, aku janji akan selalu melindungi Kakak. Kalau ada yang berani ganggu kakakku yang cantik ini lagi, dia harus berhadapan denganku!" sanggup Baruna percaya diri seraya membalas tersenyum manis kepada Ardila.


Dia merasa senang karena Ardila tidak lagi memikirkan Diaz, laki-laki yang sudah hampir saja menghancurkan masa depannya itu.


__ADS_2