Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #59 Tamat Riwayatmu


__ADS_3

"Diaz....!"


Teriakan Ardila terdengar nyaring pada saat dia menyaksikan tubuh Diaz terpelanting ke belakang setelah timah panas yang meluncur dari ujung pistol milik Daniel tepat mengenainya. Sekuat tenaga Ardila melepaskan tangan Daniel lalu secepat kilat berlari mendekat ke arah Diaz.


"Diaz, kau tertembak!?" Ardila tampak sangat khawatir. Ia kemudian berjongkok di sebelah tubuh Diaz yang terhempas ke permukaan tanah.


"Aaarrrghh!" Diaz meringis seraya memegang pangkal lengan nya yang mengeluarkan darah segar akibat terkena tembak.


Sewaktu Daniel menembakkan pistol itu ke arahnya, Diaz memang sempat mencoba menghindar, tetapi sayangnya peluru itu tetap mengenai bagian lengannya.


"Kak Diaz!"


"Diaz...!"


Flo dan Baruna juga ikut berlari hendak menghampiri Diaz dan Ardila.


"Kalian berdua diam di tempat!" pekik Daniel mencegat langkah Baruna dan Flo mendekati Diaz bersama Ardila. Daniel kini berpindah menodongkan pistolnya ke arah Baruna dan Flo.


"Tangkap dua orang ini, John! Aku akan menghabisi Diaz terlebih dahulu!"


Daniel memberi isyarat agar anak buahnya menangkap Flo dan Baruna.


Baruna tidak dapat berkutik, selain pistol Daniel masih ditodongkan tepat ke arahnya, John kini juga menodongkan sebilah pisau tepat di lehernya.


"Kalian semua pengecut! Kalian hanya berani melawan orang yang sedang tidak bersenjata!" umpat Baruna seraya mendengus marah, apalagi ketika melihat anak buah Daniel yang lainnya juga sudah kembali berhasil menangkap Flo.


"Aku harus bisa mencari kelengahan mereka," pikir Baruna dalam hati. Walau dia terdesak oleh John yang terus menempelkan pisau tajam itu di lehernya, akan tetapi dia berusaha tenang dan terus mencari celah untuk bisa berbalik melumpuhkan John.


"Berbicaralah sepuasmu, Bocah Ingusan! Sebentar lagi kau juga akan mati disini! Hahaha...!" Daniel terus terbahak dengan congkaknya menatap tajam ke arah Baruna.


Tak ingin menanggapi Baruna yang sudah mampu dikuasai oleh anak buahnya, Daniel lalu berbalik kembali ke arah Diaz dan Ardila.


"Ayo bangun, Diaz! Kita harus menyelamatkan diri dari sini."


Ardila mengangkat pundak Diaz untuk membantunya bangun.


"Hahaha...!" Tawa nyaring Daniel terus menggelegar.


"Ardila...!" Daniel tersenyum sinis menatap ke arah Ardila dan Diaz. "Aku tidak akan menyakitimu asal kau mau ikut denganku. Aku akan menjadikanmu ratu di antara semua wanitaku yang lain!" ucapnya penuh kesombongan.


"Cih...! Jangan mimpi kamu, Daniel! Aku lebih baik mati daripada harus ikut denganmu!" tampik Ardila ketus.


"Haahh!" Daniel mendengus kesal mendengar umpatan Ardila. Dengan sorot mata nanar dia menatap Ardila.


"Kalian tangkap juga gadis ini dan bawa dia ke villa, cepat.....!!" perintahnya kepada anak buahnya yang lain.


Dua orang pria bawahannya itu pun langsung menghampiri Ardila sembari mencengkram kuat tangannya dan menariknya dengan kasar.


"Lepaskan aku!" Ardila kembali meronta dengan sekuat tenaga.


"Tunggu....! Jangan coba kau sakiti dia!"


Diaz yang sudah bisa kembali berdiri, mencoba berlari, berpaya untuk bisa menyelamatkan Ardila.


"Aku akan membunuhmu sekarang juga, Diaz!" pekik Daniel sambil kembali menodongkan ujung pistolnya ke arah Diaz.


"Diaz...!"


Ardila yang ketakutan melihat Daniel sudah siaga menembak Diaz lagi, berteriak dan meronta. Beruntung dia berhasil melepaskan cengkraman tangan pria yang memeganginya, lalu sekonyong-konyong Ardila berlari mendekat ke arah Diaz.


Di saat bersamaan, telunjuk Daniel sudah menarik pelatuk pistolnya.


Dooorrr!


Peluru kedua kembali meluncur tak terduga dari ujung senjata api milik Daniel.

__ADS_1


"Ardila, awaass..........!"


Tepat di waktu yang bersamaan pula, teriakan lain terdengar dari arah yang berbeda. Sesosok bayangan pria berkelebat dan berlari secepat kilat mendorong tubuh Ardila menghindarkan dari lontaran peluru milik Daniel.


"Aaarrghh!" Pria itu mengerang dan jatuh tersungkur ke tanah. Timah panas yang keluar dari pistol Daniel tepat mengenai bagian dada pria itu.


"Aaww...!" Ardila memekik. Tubuhnya terguling dan bergeser cukup jauh akibat didorong oleh pria itu, sehingga peluru itu luput darinya.


"Tidaakkk!!"


Ardila menjerit serta menutup kedua mata dengan telapak tangannya ketika melihat siapa pria yang seketika rubuh dan terjengkang di atas permukaan tanah. Darah segar terlihat mengalir deras dari tubuh pria yang terkena lontaran peluru dari pistol Daniel tersebut.


"Om Alfin........!"


Ardila berteriak seraya berlari menghampiri tubuh pria yang kini terkapar tidak berdaya.


"Om Alfin.......!"


Diaz juga meneriakkan nama itu dan ikut berlari ke arah Alfin dan Ardila.


"Ardila....." Suara lirih itu keluar dari mulut Alfin seraya menatap Ardila yang berjongkok dan memegang pundaknya.


Tubuh Alfin sangat lemah, pandangan matanya samar, darah terus mengucur dari luka tembakan yang mengenai tepat di bagian dadanya.


"Om Alfin.... mengapa Om rela melakukan semua ini? Untuk apa Om mengambil resiko sebesar ini hanya untuk menyelamatkan aku?" Ardila terisak. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Alfin begitu berani menghadang tembakan Daniel serta mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya.


"Ardila....."


Hanya kata itu yang terus terucap dari bibir Alfin.


"Aaahh.... sialan! Dari mana datangnya pria itu?" Daniel berdecak gusar. Dua butir timah panas dari senjata apinya dirasa percuma, karena belum berhasil menghilangkan nyawa Diaz. Namun, kini bahkan mengenai orang yang tidak berkepentingan sama sekali dengannya.


Sambil mendengus kasar, Daniel kembali mendekat ke arah Ardila, Diaz dan juga Alfin sambil tetap menodongkan pistolnya.


Doorrr!


Suara tembakan lagi-lagi terdengar melengking. Akan tetapi, tembakan itu bukan berasal dari pistol milik Daniel. Tembakan itu adalah sebuah tembakan peringatan yang dilontarkan kosong ke udara.


"Hentikan semuanya!!"


Terdengar suara teriakan lain dari kejauhan. Bersamaan dengan itu pula, dari sudut kegelapan yang lain, terdengar derap kaki beberapa orang mendekat ke tempat itu.


Doorr!


"Aarrgghh!"


Suara tembakan itu terdengar lagi diiringi rintih kesakitan dari mulut Daniel, karena sebuah peluru yang lain berhasil mengenai tangannya.


Daniel menghempaskan senjata apinya itu lalu memegang tangan kanannya yang seketika mengucurkan darah segar. Sebutir timah panas berbalik bersarang di tubuhnya dan yang pasti, ada orang lain yang sudah menembaknya.


"Menyerahlah, Daniel! Tempat ini sudah dikepung oleh polisi!"


Dua orang pria kini berbalik menodongkan pistol ke arah Daniel.


"Papa..... Om Rendy....!"


Ardila menarik nafas lega. Arkha bersama asisten kepercayaannya kini ada di tempat itu, datang di waktu yang tepat untuk menyelamatkan mereka.


"Cepat buang senjata kalian semua dan bersiaplah karena polisi sudah ada disini untuk menangkap kalian semua!" pekik Rendy.


Arkha terus menodongkan pistolnya ke arah Daniel, sedangkan Rendy memutar badannya di balik punggung Arkha, sambil mengarahkan ujung pistol yg juga ada di genggamannya itu kepada John dan anak buah Daniel yang lainnya satu persatu. Rendy menegaskan perintahnya agar semua bawahan Daniel, melepaskan Baruna dan juga Floretta.


"Kurang ajar! Dari mana datangnya orang-orang ini?" sungut Daniel merasa sangat kesal tetapi juga gentar, karena Arkha menempelkan ujung pistolnya tepat di kepalanya dan raungan sirine mobil polisi juga terdengar sudah sangat dekat dari tempat itu.


"Kalian semua angkat tangan dan jangan bergerak. Tempat ini sudah kami kepung!"

__ADS_1


Beberapa orang pria berseragam polisi berhamburan dari berbagai penjuru dan menangkap semua anak buah Daniel.


"Terima kasih banyak, Pak Arkha. Anda sudah membantu kami menangkap komplotan penjahat yang sudah lama jadi buronan kami ini," ujar seorang polisi yang dengan sigap meringkus Daniel serta memasangkan gelang besi di kedua tangannya. Arkha hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tegas. Tanpa mendapat perlawanan yang berarti, polisi dengan mudah meringkus Daniel beserta komplotannya.


"Tamat riwayatmu, Daniel Denaro!" pekik Arkha menyeringai tatkala melihat Daniel beserta semua anak buahnya kini sudah digiring oleh polisi.


Arkha menoleh ke arah Ardila yang masih berjongkok memegang tubuh Alfin yang sudah semakin lemah.


"Alfin!" teriak Arkha dan dia pun bergegas mendekatinya kesana.


Baruna dan Floretta yang kini sudah lepas dari cengkraman anak buah Daniel, juga ikut berlari ke arah Ardila dan Alfin.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selalu ditunggu dukungannya ya, wahai readers tercinta. Vote, like, komen serta hadiahnya selalu dinantikan sebagai vitamin penyemangat buat author bau kencur ini 🙏


Sambil menunggu kelanjutannya, yuk mampir ke karya keren bestie aku Weny Hida. Dijamin bikin baper loh....



CUPLIKAN:


Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.


"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.


"Sudah," jawab Luna singkat.


"Ayo kuantar pulang!"


Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.


Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.


"Terima kasih, Luna."


Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.


'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.


"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."


****


Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.


Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.


CLUP


Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.


"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.


"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.


Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.


"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."


Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.


'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano.

__ADS_1


__ADS_2