
Malam semakin larut, suasana di tempat acara pesta pernikahan Baruna dan Floretta sudah terlihat sepi. Hanya lalu-lalang para crew dari wedding organizer yang masih terlihat disana membereskan sisa-sisa acara.
"Alhamdulillah, semua acara berjalan lancar!" seru Mutiara merasa sangat bahagia karena pesta pernikahan putranya berlangsung lancar tanpa kendala sedikitpun.
"Iya, Sayang. Walau hari ini cukup melelahkan, tapi semua orang berbahagia," timpal Arkha, mengungkapkan kebahagiaan yang sama dengan istrinya.
"Sekarang semua sudah beres dan ini juga sudah larut malam, sebaiknya kita segera beristirahat. Lagian, pengantin baru kita ini, pastinya juga sudah tidak sabar menikmati malam pertama mereka," seloroh Ardila juga ikut menimpali.
Baruna dan Flo sontak tersenyum tersipu dan menundukkan wajahnya mendengar candaan Ardila, lalu semua orang disana terkekeh bersamaan.
"Aku juga sangat lelah. Aku baru kembali dari Prancis tadi malam dan sedari pagi sudah langsung sibuk menyapa semua undangan. Aku mau istirahat!" sela Arnav, tidak mau kalah ikut menimpali.
Tanpa ingin menunggu lama, Arnav bergegas meraih pengangan kursi roda Oma Yuna, untuk segera mengantarkannya ke kamarnya.
"Ya sudah ayo sekarang kita ke kamar masing-masing dan beristirahat!" pungkas Arkha.
Malam itu, Keluarga Waradana semuanya ikut menginap di resort itu. Semua orang mendapat jatah kamarnya masing-masing dan saling berdekatan, namun hanya kamar pengantin saja yang paling istimewa.
Baruna dan Flo akan menempati sebuah presidential villa di resort itu yang letaknya terpisah dari kamar yang lainnya. Dengan mesra Baruna menggandeng tangan gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya itu, berjalan menyusuri sebuah lorong menuju ke villanya.
"Dila, tunggu!" panggil Diaz, ketika Ardila berjalan mendahuluinya, menyusuri koridor yang akan menuju kamarnya.
"Kamar kita berdekatan, Dila. Kita akan jalan kesana sama-sama!" ajak Diaz sambil ikut berjalan di samping Ardila.
Ardila hanya tersenyum manis dan tetap melanjutkan langkahnya, tanpa membalas ajakan Diaz.
"Hmm... selamat ya, Dila. Kita sudah jadi saudara ipar sekarang," ujar Diaz berusaha memulai sebuah obrolan antara dia dan Ardila.
"Iya, memangnya kenapa?" balas Ardila singkat dan tidak terlalu peduli.
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sangat bahagia, karena adikku dan adikmu sekarang sudah menyatu. Semoga mereka juga akan selalu bahagia selamanya."
__ADS_1
"Cuma itu saja, Diaz?" tanya Ardila sedikit menyeringai.
"Iya, itu saja," jawab Diaz asal.
"Lalu, kamu sendiri bagaimana, Diaz? Apa kamu tidak memikirkan dirimu sendiri?" gurau Ardila dengan pertanyaan yang juga asal saja.
"Aku masih menunggu bidadari yang masih sangat aku cintai untuk bersedia menikah denganku, Dila."
"Memangnya siapa bidadari yang masih kamu tunggu itu, Diaz?"
"Bidadari itu ... " Diaz tersenyum dan menghentikan ucapannya seraya menatap Ardila.
"Kamu, Dila," lanjut Diaz dengan gurauannya, namun berharap Ardila akan menanggapinya dengan sedikit serius.
"Ahh... ngaco kamu!" cebik Ardila tidak ingin terlalu menanggapinya. Senyum penuh arti kini sama-sama terulas di bibir mereka masing-masing.
Tanpa terasa, mereka kini sudah tiba di depan kamarnya masing-masing yang letaknya memang side by side.
"Kamu juga, Diaz. Good night!" pungkas Ardila seraya menempelkan key card di pintu kamarnya dan bergegas masuk ketika pintu sudah terbuka.
"Good night!" balas Diaz dan ikut menempelkan key card di pintu kamarnya.
Setelah memastikan bahwa Ardila sudah benar-benar masuk ke dalam kamarnya, barulah Diaz ikut masuk ke kamarnya.
Baruna dan Floretta saat itu juga sudah tiba di villa mereka. Flo tersenyum girang ketika mereka sampai di living room area dan tempat itu sudah dihias dengan sangat indah. Banyak rangkaian bunga yang sudah menghiasi setiap sudut di villa itu. Meski tidak ada lampu yang menyala, tetapi suasana temaram nan romantis terlihat disana. Hampir semua bagian estetik di villa itu juga sudah dihias dengan banyak lilin, bahkan sebuah private swimming pool yang ada di dalam villa itu pun ikut dihias dengan rangkaian bunga dan lilin yang mengapung di tengah-tengahnya.
"Wah... ini indah sekali!" seru Flo sangat takjub dengan semua yang dilihatnya disana.
"Tentu saja, Sayang. Ini kan hari bahagia kita. Hari ini semuanya harus special!" sahut Baruna menanggapi kekaguman Floretta.
"Flo, mulai hari ini kamu sudah sah menjadi istriku dan aku sangat bahagia, Sayang. Apa kamu juga merasakan kebahagiaan yang sama denganku?"
__ADS_1
Baruna menarik pinggang Flo dan mendekatkan tubuh langsing nan indah yang masih terbalut gaun pernikahan itu ke tubuhnya. Dia lalu menatap lekat wajah gadis di hadapannya dengan sorot mata penuh kebahagiaan. Senyum kebahagiaan juga terus terulas di bibirnya. Wanita yang sangat dia cintai, kini sudah seutuhnya menjadi miliknya.
"Aku juga sangat bahagia, Baruna! Bahkan, rasa bahagia ini tidak bisa aku ungkapkan dengan kosa kata apapun." Flo mengalungkan kedua tangannya dengan manja di bahu Baruna dan keduanya saling menatap.
"Aku sangat mencintaimu, Flo."
"Aku juga mencintaimu melebihi apapun di muka bumi ini, Baruna."
Senyum indah semakin mengembang di bibir kedua orang yang tengah dimabuk asmara itu. Baruna lalu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Flo yang sudah tahu pasti apa yang akan dilakukan Baruna, dengan cepat memberi respon untuk perlakuan suaminya itu. Flo bergegas membuka mulutnya karena dia tahu Baruna pasti akan menciumnya. Tanpa bisa terhindarkan, kedua bibir mereka pun menyatu dan saling mellumat mesra. Keduanya saling bertukar saliva dan lidah mereka pun saling bertautan yang membuat sesuatu yang berbeda juga bergelora di jiwa mereka.
"Sayang, ayo kita ke kamar!" bisik Baruna genit setelah melepaskan ciumannya dari bibir Flo.
"Memangnya kita mau ngapain, Bar? Kenapa harus buru-buru ke kamar?" tanya Flo sedikit ambigu. "Aku masih sangat menikmati suasana di living room ini. Kasihan kan, tempat ini sudah dihias cantik-cantik tapi malah kita menghabiskan waktu di kamar," selorohnya. Dia tahu kalau Baruna sudah sangat tidak sabar ingin segera menikmati malam pertama mereka. Karena itulah, Flo sengaja menggodanya.
"Di kamar pasti jauh lebih indah, Sayang. Kita akan menikmati banyak hal istimewa disana," bujuk Baruna.
"Nanti sajalah, Bar. Suasana disini jauh lebih romantis," tolak Flo.
"Hmmm.... apa kamu ingin kita melakukannya disini, Sayang?" Baruna mengernyitkan keningnya. "Area disini terbuka, Sayang. Banyak celah untuk mengintip. Apa kamu mau malam pertama kita menjadi tontonan orang-orang?" tanya Baruna ikut menggoda.
"Lah, memangnya kita mau melakukan apa, Bar? Kita kan cuma duduk-duduk saja disini. Buat apa mereka mengintip kita?"
Baruna langsung tersenyum lebar mendengar jawaban pura-pura lugu istrinya itu.
"Ahh... kamu terlalu banyak menguji kesabaranku, Flo. Sekarang kamu rasakan hukuman dariku. Aku akan membuatmu tidak bisa bangun besok pagi!" gemas Baruna, semakin tertantang mendengar kalimat polos yang diucapkan Floretta.
Tanpa memberi isyarat, Baruna langsung mengangkat tubuh Flo dan membopongnya menuju kamar tidur utama di villa itu.
"Ehh... turunkan aku, Bar! Kamu maunya apa?" Flo menghentak-hentakkan kakinya meronta dari gendongan Baruna.
"Mau mengajakmu pergi ke surga!"
__ADS_1
Tanpa memperdulikan apapun lagi Baruna tetap menggendong tubuh Flo dan membawanya masuk ke dalam kamar.