Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #46 Sebuah Harapan


__ADS_3

Hari semakin siang. Walau matahari terus beranjak meninggi, akan tetapi sengatan sinarnya hari itu tampak meredup seakan tidak mampu menembus awan tebal yang tengah menyelimuti langit kala itu. Udara terasa sejuk, anginpun bertiup syahdu. Sang surya terlihat begitu asyik bersembunyi di balik mendung, seolah ikut menunggu titik air yang akan turun membasahi semesta.


Di tepi jalan di pinggir taman kota, Flo mengayun langkahnya dengan gontai. Kakinya bergerak begitu saja tanpa tahu kemana harus berjalan. Pikirannya pun melayang entah kemana, jiwanya hampa, hatinya begitu pedih saat mengingat semua hal yang terjadi padanya.


"Maafkan aku, Baruna. Aku terpaksa berbohong padamu. Semua itu aku lakukan semata-mata untuk kebaikanmu dan juga keluargamu." Flo menggumam sendiri, air mata tiada henti membasahi wajah sayunya.


"Aku sangat mencintaimu, Baruna. Demi cintaku, aku rela melakukan apapun untukmu." Flo menyeka air mata yang terus menitik dari manik biru miliknya itu. Meninggalkan Baruna serta melupakan semua rasa cintanya pastilah bukan hal yang mudah bagi Floretta, terlebih hubungan mereka sebelumnya sudah sangat jauh.


"Harus pergi kemana aku sekarang?" Sejenak Flo berpikir kemana dia pergi. Namun, ketika itu pikirannya sangatlah kacau, Flo sama sekali tidak tahu akan apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Flo menyentuh rambutnya yang tiba-tiba terasa basah oleh tetesan air dari atas. Tanpa dia sadari, derai hujan perlahan kini mulai turun dan membasahi tubuhnya. Disertai tiupan angin yang semakin kencang, bulir-bulir air hujanpun semakin deras berjatuhan dari langit.


Orang-orang yang tadi ramai ada di jalanan di sekitar Flo, kini berlomba-lomba menepi mencari tempat untuk berteduh. Akan tetapi, Flo tetap tidak menghentikan langkahnya. Di tengah derasnya hujan, dia terus berjalan. Udara dingin dan tubuhnya yang basah pun tidak diperdulikannya.


Sesaat ia menatap ke atas, tiba-tiba langit terlihat bagai terbelah oleh kilatan cahaya petir diiringi suara gemuruh yang mengelegar. Flo hanya memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Kalau biasanya dia sangat takut mendengar suara petir dan gemuruh, akan tetapi entah mengapa hari itu dia seakan tidak peduli akan semua itu. Kegalauan hatinya kala itu, jauh melebihi semua rasa phobianya.


Flo menghentikan laju kakinya dan menyentuh keningnya. Kepalanya terasa pusing, sekujur tubuhnya lemas dan terasa ngilu di semua persendiannya, serta pandangannya berkunang-kunang.


Bruugh!


Tubuh Flo ambruk di atas trotoar yang sedang dia lewati dan tidak sadarkan diri.


****


Seberkas sinar menyelinap di balik mata Flo yang membuatnya mengerjap. Hari sudah terang, pertanda hujan yang tadi turun sangat lebat kini sudah berhenti dan berganti matahari yang mulai menampakkan sinarnya, walau hari sudah sore.


Ketika Flo terbangun, dia merasa seperti tengah berada di sebuah tempat yang tidak terlalu asing baginya. Dia merasa seperti pernah berada di tempat itu.


"Apa aku sedang bermimpi?" Flo merasa linglung seraya mengucek mata dan mengangkat punggungnya dari kasur tempat dia terbaring.


Kasur itu terasa sangat empuk dan nyaman, wangi parfum laundry tercium sangat kuat dari sprei dan sarung bantal berwarna putih bersih di sekitarnya.


"Aku sedang ada dimana?" Flo duduk di atas ranjang itu dan dia menyadari kalau dirinya kini ada di dalam sebuah kamar yang juga di dominasi warna putih di sekelilingnya.


"Mengapa aku bisa ada disini?" pikir Flo mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya, sehingga dia bisa berada di sebuah kamar yang mana sebelumnya dia merasa seperti pernah ada di sana.


"Tadi, terakhir kalinya aku hanya ingat kalau aku masih di tengah hujan dan kepalaku tiba-tiba terasa pusing." Flo kembali menyentuh keningnya, bahkan sampai saat itupun kepalanya masih terasa pusing. Dia sama sekali tidak sadar mengapa dan siapa yang membawanya sampai di kamar itu.

__ADS_1


Ceklek!


Belum habis semua rasa bingungnya, pintu kamar tempat dia berada itu terbuka dan seorang pria berjalan masuk ke dalam kamar itu sambil membawa segelas susu hangat dan tersenyum menatap ke arahnya.


"Syukurlah kau sudah sadar, Flo!" Kata-kata itulah yang langsung keluar dari mulut pria yang baru saja masuk itu.


Flo mendengus kasar dan tersenyum kecut. "Untuk apa lagi kau membawaku kesini, Diaz? Apa belum cukup kau menyiksaku dengan memberikan aku kepada laki-laki bejat yang bernama Daniel itu?" ketus Flo sambil menatap penuh amarah kepada Diaz yang kini ikut duduk di tepi ranjang di sebelahnya.


"Hmmm!" Diaz menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya sambil terus menatap wajah Flo yang terlihat sangat marah kepadanya.


"Tadi siang anak buahku menemukanmu pingsan di jalan, lalu membawamu kesini," ungkap Diaz.


"Tubuhmu sangat lemah, sepertinya kau kelelahan, Flo. Sekarang minumlah susu ini. Kau pasti juga belum makan kan? Aku juga sudah suruh pelayan untuk menyiapakan makanan untukmu dan sebentar lagi mereka akan membawanya kesini," sambung Diaz merasa sangat peduli terhadap adiknya itu, sambil menyodorkan gelas susu ke hadapan Flo.


"Untuk apa kau melakukan semua ini, Diaz? Apa kau belum puas menyakiti aku? Kepada siapa lagi kau akan menjualku setelah Daniel tidak mau menerimaku?" tanya Flo sinis dan bermakna sindiran.


"Tidak akan, Flo! Aku tidak akan pernah melakukan kesalahan ini lagi," dengus Diaz bernada penyesalan.


"Maafkan aku, Flo. Ini adalah sebuah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Aku sadar sudah melakukan tindakan yang sangat bodoh dengan menyerahkanmu kepada Si Kuda Nil bajingan itu! Dan sekarang, aku menyesali semua kekeliruanku, Flo," ucap Diaz tegas dan bernada emosi.


"Aku juga sudah tahu semuanya, Flo. Daniel memang sudah sangat keterlaluan. Semua janjinya tidak bisa dipegang, dia melakukan semuanya hanya untuk keuntungannya sendiri!Mulai saat ini aku janji, aku tidak akan melakukan hal yang tidak benar itu lagi. Aku juga berjanji akan selalu menjagamu dan berusaha menjadi kakak yang baik buatmu, Flo." Diaz mengusap kepala Flo dengan lembut. "Aku sangat menyayangimu, Flo!" Sebingkai kaca melintas di mata Diaz. Melihat adikknya dengan kondisi sangat kacau seperti saat itu, membuatnya merasa sangat bersalah dan menyesal.


"Aku tahu semua memang sudah terlambat, Flo. Tapi banyak hal yang masih bisa diperbaiki. Aku juga sudah memutuskan untuk tidak lagi menjadi pengikut Daniel. Aku akan berhenti melakukan kejahatan dan sekarang aku hanya akan fokus untuk bisa kembali membangun perusahaan papa."


Flo hanya menatap Diaz dengan senyum tanpa arti. Walau dia merasa sangat kecewa dan benci dengan semua perbuatan keliru Diaz selama ini, akan tetapi jauh di dalam hatinya, Flo juga sangat menyayangi kakak kandung satu-satunya itu.


"Apa aku nggak salah dengar, Diaz?" Flo mengangkat sudut mulutnya.


"Tidak, Flo. Aku sekarang sudah tobat. Aku tidak akan pernah lagi menjadi pengedar narkoba dan menjadi bawahannya Daniel. Hasil dari show room saja sudah cukup untuk biaya kehidupan kita sehari-hari. Aku tidak perlu menambah kekayaan dengan cara merusak hidup orang lain lagi, Flo."


Flo terdiam, ucapan Diaz saat itu terdengar sangat jujur. Dia ingat kalau selain melakukan pekerjaan ilegal dengan menjadi pengikut jaringan Daniel, kakaknya itu juga masih memiliki usaha halal lainnya. Selama ini Diaz juga mengelola sebuah show room mobil bekas sekaligus bengkel aksesoris mobil.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu itu, Diaz?" Flo terus tersenyum menyeringai.


"Aku sangat yakin, Flo. Karena itulah, mulai sekarang aku minta kau tinggallah bersamaku disini. Aku ingin kau juga membantu usahaku agar kita bisa menabung dan bisa mewujudkan keinginan almarhum papa dan membangun kembali perusahaannya."


Lagi-lagi Flo terdiam, dia tahu kalau sebenarnya selama ini kakaknya itu punya satu cita-cita yang sangat mulia, yaitu mendirikan kembali perusahaan Rivaldy yang sebelumnya sudah hancur. Namun, Diaz begitu berambisi untuk mewujudkan keinginannya itu, sehingga dia menghalalkan segala macam cara untuk bisa mendapatkan banyak dana, termasuk menjadi anggota jaringan Daniel dan bisa mendapatkan uang banyak dengan cepat serta cara yang tidak baik.

__ADS_1


"Apa itu artinya kau juga akan melupakan dendammu terhadap Arkha Waradana?" tanya Flo lagi.


Mendengar pertanyaan Flo, Diaz ikut mencebikkan bibirnya seraya menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Flo! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah bisa memaafkan laki-laki yang bernama Arkha itu! Dia yang sudah menghancurkan keluarga kita. Papa meninggal gara-gara dia dan secara tidak langsung, mama juga meninggalkan kita gara-gara laki-laki sombong itu!" geram Diaz. Sorot dendam itu masih terlihat berkobar dari pancaran matanya.


"Aku rasa kebencianmu itu tidak beralasan Diaz! Hancurnya perusahaan papa, bisa jadi bukan karena Arkha. Kenapa kau tidak menyelidikinya lagi?"


"Menyelidiki?" Diaz ikut menyeringai.


"Semuanya sudah jelas, Flo. Perusahaan papa dulu bangkrut karena Arkha tidak mau bekerja sama lagi dengan papa, bahkan dia tega memutus semua kontrak kerjanya dengan papa saat perusahaan papa sedang dalam keterpurukan!"


Flo menggeleng, dia masih sangat kecil ketika semua kejadian itu terjadi, bahkan dia juga tidak terlalu ingat bagaimana papanya meninggal.


"Aku tahu kau sekarang meragukan semua ini karena otakmu sudah dicuci oleh anaknya Arkha yang bernama Baruna itu kan?" ketus Diaz dengan wajah kesal.


"Aku tegaskan padamu, Flo! Putuskan hubunganmu dengannya dan jangan coba-coba mendekati semua hal yang ada kaitannya dengan Arkha lagi!" Diaz meninggikan nada suaranya.


"Tapi aku sudah ..." Flo menghentikan ucapannya.


"Iya aku tahu, Flo! Kau sudah menyerahkan dirimu pada laki-laki sialan itu kan?" bentak Diaz memotong ucapan Flo dan menatap tajam matanya.


Flo menundukkan wajahnya. Dia tahu kalau Daniel pasti sudah menceritakan semua hal tentangnya kepada Diaz.


"Sudahlah, Flo! Semua sudah terjadi. Aku yang akan memperbaiki semuanya!" jengah Diaz.


"Sekarang minum susumu dan beristirahatlah! Mulai detik ini, kau akan tinggal di rumah ini bersamaku. Aku akan menjagamu dari Daniel maupun Baruna! Tidak ada seorangpun yang akan aku biarkan berani menyakitimu, Flo!"


Diaz memalingkan wajahnya dari Flo lalu melangkah keluar dari kamar itu, tanpa sepatah katapun lagi terdengar dari mulutnya.


Sesaat setelah Diaz menghilang dari kamar itu, Flo masih duduk terpaku di atas tempat tidur.


"Sepertinya Diaz serius ingin kembali ke jalan yang benar," pikir Flo.


"Sebagai adiknya, aku berkewajiban untuk membantunya kembali menjadi orang baik." Senyum tipis terulas di bibir Flo.


"Dia juga tidak seharusnya mendendam. Aku harus bersaha menghilangkan semua kebencian Diaz terhadap Arkha. Aku yakin semua masih bisa diselesaikan dengan cara baik-baik." Hati Flo dipenuhi berbagai keyakinan, sekelumit rasa senang juga turut mengisi sukmanya.

__ADS_1


Sebuah asa baru tiba-tiba timbul di benaknya. Setelah mendengar pengakuan jujur Diaz, dia merasa punya harapan bahwa dia pasti akan bisa mengubah jalan pikiran kakaknya, sehingga tidak lagi membenci Arkha. Dan semua itu tentu saja akan sangat berpengaruh terhadap keselamatan Keluarga Waradana termasuk Baruna.


__ADS_2