
Malam semakin larut dan Baruna masih ada di rumah Flo. Meski hujan sudah sedikit reda, Baruna enggan pulang ke rumahnya. Walau hanya duduk ngobrol dan bersenda gurau berdua bersama Flo, semua itu tentunya meninggalkan kesan bahagia di hati dua insan yang sedang jatuh cinta itu.
"Astaga, sudah jam sembilan!" sentak Baruna, saat matanya tanpa sengaja melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Tadi sore papa berpesan agar aku tidak pulang terlalu malam. Kalau aku pulang kemalaman lagi, pasti papa akan memarahiku," pikir Baruna. Rasa nyaman saat sedang bersama kekasihnya, membuat ia lupa waktu.
"Maaf, Flo. Ini sudah larut malam, sebaiknya aku pulang sekarang." Baruna melepaskan tangannya dari pundak Flo, yang saat itu duduk seraya merapatkan tubuhnya di dada bidang milik Baruna. Selama berbincang berdua di ruang tamu itu, Baruna memang tidak pernah lepas memeluk Flo.
"Baiklah, Bar." Flo hanya mengangguk tidak ingin lagi melarang Baruna pulang, karena dia sadar tidak baik kalau di rumahnya ada seorang pria bersamanya, sementara malam sudah semakin larut.
Flo lalu beranjak dari sofa itu dan mengambilkan kemeja serta jaket Baruna yang tadi dia angin-anginkan, lalu membantu Baruna mengenakannya kembali.
"Syukurlah baju dan jaketmu sudah agak kering, jadi kamu tidak perlu pulang kedinginan dengan baju basah," ujar Flo sembari merapikan kancing kemeja Baruna.
"Terima kasih, Flo. Kamu sangat perhatian terhadapku," balas Baruna sambil mengecup kening Flo.
Flo lalu mengantar kekasihnya itu sampai di depan pintu.
"Aku pulang dulu ya, Flo!" Baruna meraih helmnya dan berjalan pelan keluar dari pintu rumah itu.
"Jalanan masih basah dan pastinya sangat licin. Kamu jangan ngebut-ngebut naik motornya!" pesan Flo.
"Iya, kamu juga jaga diri ya! Kunci pintu dan cepatlah tidur. Jangan sampai sakit!" pamit Baruna sambil kembali mengecup pipi Flo dengan mesra dan tersenyum menggoda.
Keduanya saling melambaikan tangan ketika Baruna sudah naik di atas motornya.
Saat bersamaan, sekelebat cahaya terang terlihat menyambar langit disertai suara dentuman yang cukup kencang.
__ADS_1
"Aaaaaaaa!!!!" Flo berteriak sekeras-kerasnya. "Baruna!!! Aku takut, Bar!" pekik Flo seraya memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya ketika kilatan petir disertai suara gemuruh terdengar sangat menyeramkan memecahkan keheningan malam itu. Hujan yang tadi sudah sempat berhenti, kembali turun dengan derasnya.
Baruna bergegas turun dari motornya dan kembali masuk ke dalam rumah Flo sambil memeluknya sangat erat.
Tubuh Flo bergetar hebat, sangat ketakutan ketika petir dan suara gemuruh itu menggelegar begitu dekat di telinganya.
"Jangan takut, Flo. Hanya suara petir." Baruna membawa Flo kembali duduk di sofa ruang tamu sambil terus memeluknya erat dan mengusap-usap kepalanya untuk mengurangi rasa ketakutan Flo.
Di waktu yang bersamaan pula, semua lampu di dalam rumah itu tiba-tiba padam, bahkan seluruh lampu yang ada di rumah-rumah yang lain di komplek perumahan itu juga ikut padam, sehingga disana menjadi gelap gulita.
"Yah ... mati lampu!" Baruna merogoh saku jaketnya dan mengambil ponsel lalu menyalakan flashlight disana untuk sedikit menerangi ruangan itu.
Kilatan petir dan suara gemuruh juga terus bersahutan diiringi deras hujan yang turun semakin kencang.
"Aku trauma dengan petir, Bar. Dulu sewaktu aku kecil aku pernah punya pengalaman buruk akibat tersambar petir." Dengan tubuh gemetar, Flo terus membenamkan kepalanya di pelukan Baruna. "Aku dan Kak Diaz terbiasa hidup di jalan. Kami tidak punya tempat tinggal tetap dan saat musim hujan seperti ini kami juga terbiasa basah-basahan di alam terbuka." Setetes air mata jatuh membasahi pipi Flo. Dia lalu bercerita tentang masa lalu yang begitu berat pernah dia jalani bersama Diaz, kakak kandungnya. Flo juga menceritakan sebuah kisah dimana dia dan Diaz pernah hampir tersambar petir saat tengah berteduh di bawah pohon besar.
Baruna hanya mengangguk dan mengurungkan niatnya untuk pulang. Rasa khawatir juga memenuhi pikirannya. Dia tidak tega meninggalkan Flo sendiri dalam keadaan takut di rumahnya. Apalagi, setelah mendengar cerita Flo tentang rasa phobianya akan suara gemuruh dan petir.
Setengah jam duduk disana, lampu di komplek itu belum juga menyala dan hujan juga turun masih sangat deras tanpa menunjukkan tanda akan berhenti.
"Uaahem!" Beberapa kali Flo menguap dan menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kalau kamu sudah mengantuk, sebaiknya kamu tidur saja di kamar, Flo!" ujar Baruna karena menyadari Flo sudah terlihat mengantuk.
"Mana mungkin aku meninggalkan kamu disini sendiri, Bar?" kilah Flo.
"Nggak apa-apa, Flo. Aku juga akan beristirahat disini sambil menunggu hujan reda," sahut Baruna.
__ADS_1
"Haatchi! Haatchi!" Bersin itu terdengar lagi keluar dari mulut Flo.
"Ayo, sana buruan ke kamar dan isirahat. Jangan begadang, nanti kamu tambah sakit," tegas Baruna.
"Baiklah, Bar. Kalau nanti aku ketiduran, tolong kamu bangunin aku sebelum kamu pulang ya!" Flo perlahan bangun dari tempat duduknya untuk menuju kamarnya yang letaknya hanya beberapa langkah saja dari sofa itu.
Praaangg!
Saking gelapnya suasana di rumah itu, tanpa Flo sadari, dia sudah menyenggol sebuah benda dari atas meja. Dari lengkingan suara benda jatuh itu, bisa ditebak benda yang jatuh itu pastilah terbuat dari kaca dan hancur berkeping-keping saat menghantam lantai.
"Diam di tempat, Flo! Jangan bergerak, atau kaca-kaca itu bisa melukai kakimu," pekik Baruna menahan langkah Flo.
Baruna lalu mengarahkan lampu senter ponselnya ke arah Flo dan bergerak mendekatinya. Dia bisa melihat sebuah vas bunga dari gelas kaca terjatuh disana.
"Aku akan antar kamu ke kamar dengan cahaya ponselku ini," ujar Baruna sambil menggandeng tangan Flo dan memapahnya ke kamar menghindari pecahan kaca yang berserakan di lantai.
Bruugh!
"Aaaaa!!" Kembali Flo berteriak karena kakinya menyandung kaki kursi saat mereka sudah sampai di dalam kamar Flo, sehingga dia terjatuh berguling ke atas ranjangnya. Namun, kala itu tangannya tengah memegang tangan Baruna dan tak elak, Baruna juga ikut ditariknya dan terjatuh menindih tubuh Flo di atas tempat tidurnya.
Dari temaram sinar senter yang masih di genggaman Baruna, mereka saling menatap dan wajah mereka begitu dekat dengan tubuh mereka yang juga menempel saling menindih.
"Flo!" Baruna terkekeh menatap wajah Flo yang tersenyum saat tubuh mereka berhimpitan tanpa jarak.
Melihat senyum manis itu, Baruna kembali mendekatkan bibirnya di bibir Flo. Keduanya kembali berciuman sangat dalam. Tanpa ragu, Flo mengalungkan kedua tangannya begitu manja di leher Baruna. Ciuman mesra itu untuk sesaat membuat mereka terbuai hasrat dan Baruna yang sudah sangat berpengalaman dalam menjamah tubuh wanita, juga hanyut dalam gairahnya lalu tanpa sadar menurunkan bibirnya dari bibir Flo seraya mengecup leher Flo dan mencumbunya mesra.
"Aahh! Baruna." Flo tidak mampu menahan suara d*esahan yang keluar dari mulutnya saat merasakan sentuhan bibir Baruna begitu hangat mendarat di seluruh tubuh bagian atasnya.
__ADS_1