
Hari semakin siang, Ardila memacu mobilnya pelan di antara kemacetan jalanan kota.
Kecemasan terpancar di raut wajah Baruna yang saat itu duduk di kursi penumpang di sebelah Ardila yang sedang menyetir. Mereka sudah cukup lama berkeliling di kota itu, akan tetapi belum juga menemukan petunjuk tentang keberadaan Floretta.
"Sekarang, kita harus kemana lagi, Una?" tanya Ardila karena sudah tidak tahu lagi harus kemana mencarinya.
Mereka sudah sempat mendatangi rumah Flo, tetapi disana sepi. Rumah itu juga terkunci dan tidak satu orang pun tetangganya disana yang mengetahui Flo pergi kemana.
Mereka juga sudah mencari ke kantor tempat Flo bekerja. Namun, disana justru mereka mendapat informasi bahwa Flo sudah tidak datang untuk bekerja beberapa hari terakhir setelah kejadian penembakan itu. Floretta juga tidak datang ke kantornya tanpa pemberitahuan apapun.
"Aku juga bingung, Kak. Aku nggak tahu lagi harus kemana mencari Flo. Ternyata kekhawatiranku benar, Flo memang sedang tidak baik-baik saja. Aku takut Diaz menyakitinya." Baruna berkali-kali mengusap wajahnya. Rasa cemas dan bingung memenuhi jiwanya. Dia sangat takut terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap kekasihnya itu.
"Apa Kakak tahu dimana rumahnya Diaz?" tanya Baruna. Dia ingat kalau Ardila pernah menjalin hubungan dengan Diaz, bisa jadi saja Ardila tahu dimana Diaz tinggal selama ini.
Ardila hanya menggeleng pelan. "Kakak tidak pernah tahu dimana alamat rumahnya Diaz, Una. Walau dia pernah jadi pacar Kakak, tapi kami belum lama saling kenal. Semenjak kejadian malam itu, Kakak sudah tidak mau tahu lagi semua hal tentang dia," ungkap Ardila jujur.
Baruna kembali mengusap kepalanya sambil menghela nafas dalam-dalam. Hatinya semakin gelisah, dia sangat bingung menentukan apa yang akan dilakukannya lagi untuk mencari keberadaan Flo, terlebih dengan kondisinya saat itu yang masih belum leluasa bergerak akibat luka bekas tembakan di kakinya. Selain itu, Arkha juga sangat membatasi gerak-geriknya. Masih beruntung karena bujukan Ardila pagi itu, Arkha setuju memberi izin sehingga mereka bisa keluar berdua.
"Sayangnya kita nggak mungkin minta bantuan papa, Una. Seandainya papa dan juga Om Rendy mau membantu, aku yakin mereka bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang Flo," ujar Ardila.
"Iya itu benar, Kak. Tapi papa tidak akan pernah mau membantuku. Papa sudah jelas-jelas melarangku berhubungan dengan Flo." Baruna menggelengkan kepalanya. Tentu saja, meminta bantuan dari Arkha bukanlah solusi baginya. Sudah pasti, Arkha tidak akan setuju, melainkan akan semakin melarangnya.
"Tapi ada satu tempat lagi yang kita belum datangi, Kak!" seru Baruna tiba-tiba. "Dulu Flo pernah bekerja jadi penari di klub malam, bisa jadi saja ada orang disana yang tahu dimana Flo sekarang." Kendati sedikit ragu, Baruna tetap belum menyerah. Dia berusaha mengingat kemana Flo biasanya pergi dan tetap ingin mencarinya kesana.
"Klub malam?" Ardila menggeleng. "Lalu kapan kita akan kesana, Una. Tempat itu baru buka malam hari, sementara ini masih sore," sergah Ardila juga terlihat ragu.
"Kita tunggu sampai tempat itu buka, baru setelah itu kita pulang, Kak."
"Tidak mungkin, Una. Papa akan memarahi kita kalau kita pulang malam!"
"Aku mohon, Kak. Kita harus kesana. Jam delapan malam tempat itu sudah buka. Kita hanya harus menunggu beberapa jam lagi," bujuk Baruna. Dia sangat berharap Ardila mau memenuhi keinginannya.
"Ya sudah. Baiklah, Una! Kalau bukan demi kamu, Kakak nggak akan pernah mau ke tempat seperti itu." Meskipun terpaksa, Ardila tidak ingin menolak keinginan adiknya.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak. Kak Dila memang sangat pengertian," ucap Baruna sedikit senang.
"Sekarang sebaiknya kita cari makan dulu, Una. Kakak lapar, dari tadi siang kita belum makan." Ardila tersenyum, bagaimanapun juga dia sangat peduli dengan Baruna. Dia ingin adiknya itu bisa mengurangi kegalauannya dan sebisa mungkin akan membantunya.
Ardila lalu mengarahkan mobilnya menuju ke sebuah restoran masakan Indonesia yang ada di pusat kota. Sambil menunggu waktu buka nightclub itu, mereka makan dan duduk menghabiskan waktu disana.
Mendekati pukul delapan malam, Ardila dan Baruna keluar dari restoran itu dan langsung menuju ke klub malam yang dimaksud oleh Baruna. Mobil itu pun kembali melaju lambat karena jalan kota masih cukup ramai oleh kendaraan.
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan sebuah motor terus membuntuti mereka. Dua orang pria mengenakan helm full face, terus mengawasi mereka. Ketika Ardila memutar stir dan membelokkan mobilnya ke sebuah jalan sepi yang akan mengarah ke nightclub tujuannya, motor itu menyalip dan menghadang tepat di depan mobilnya.
"Una, sepertinya kita dihadang perampok! Bagaimana ini, Una?" seru Ardila panik seraya menghentikan mobilnya.
"Tenang, Kak! Aku akan menghadapi mereka!" Baruna dengan santai menanggapi kepanika Ardila.
"Bagaimana kamu akan menghadapi mereka, Una? Sedangkan kakimu masih sakit." Ardila semakin khawatir. Biasanya bersama Baruna dia memang tidak takut ancaman apapun, tetapi dikarenakan kaki Baruna saat itu masih mengalami cedera, tentu dia tahu kalau Baruna tidak akan sanggup menghadapi pria-pria itu.
"Kita lihat dulu, apa maunya mereka?!" ujar Baruna tanpa rasa takut.
"Buka pintunya, cepat!" bentak salah seorang pria berbadan kekar dan mengenakan kaos ketat, memperlihatkan otot-otot lengannya serta hampir seluruh tubuhnya dipenuhi tato.
"Una, Kakak takut. Mereka sepertinya berniat menyakiti kita," ucap Ardila ketakutan.
"Cepat buka! Kalau tidak, aku akan pecahkan kaca ini!" teriak pria itu lagi, menegaskan sebuah ancaman.
Perlahan Baruna menurunkan kaca mobil di sebelahnya dan mengarahkan tatapannya ke arah dua pria yang berdiri acuh di samping mobil itu seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Maaf, ada apa ya, Bang?" tanya Baruna sambil memasang wajah datar karena dia tidak ingin memulai keributan dengan dua pria itu.
"Jangan buang-buang waktu lagi! Cepat kita habisi saja mereka disini!" seru pria yang satunya.
Mendengar seruan temannya, pria bertato itu lalu membuka paksa pintu mobil itu dan menarik Baruna keluar dari dalam mobilnya.
Bruugh!
__ADS_1
"Aarrghh!" Baruna mengerang. Tubuhnya langsung jatuh terjerembab ke atas aspal. Dalam kondisi kakinya yang masih sakit akibat lukanya, tentunya dia tidak dengan mudah bisa berjalan, apalagi melawan pria itu.
"Hahaha! Hari ini juga kamu harus mati, Bocah Tengik! Kali ini kau tidak akan bisa melawan kami!" gelak pria bertato itu penuh kemenangan.
Baruna berusaha bangun dari tempatnya terjatuh dan mencoba berdiri tegak.
"Dasar pengecut! Aku tidak takut pada kalian! Ayo hadapi aku kalau berani!" tantang Baruna tidak mau kalah.
"Jangan sombong! Kakimu saja pincang begitu, bagaimana kau akan menghadapiku? Hahahaha....!" cibir pria itu, terus tergelak mengejek Baruna.
Tanpa pikir panjang, pria itu langsung menyerang Baruna. Di awal perkelahian, Baruna masih cukup mampu menangkis dan mengelak dari pukulan serta tendangan pria itu. Akan tetapi, dengan hanya bertumpu di satu kaki, membuat Baruna kewalahan juga menghadapi serangan pria itu.
"Aaarrrghh!" Tubuh Baruna terpental ke belakang ketika sebuah tendangan keras dari pria itu menghantam dadanya.
"Baruna....!!!" Ardila berteriak. Dia sangat cemas melihat Baruna jatuh terkapar di atas aspal.
Ardila segera berlari mendekati Baruna. Namun, belum sampai disana, salah seorang dari pria itu dengan cepat menangkapnya dan mencengkram kuat tangannya.
"Lepaskan aku dan jangan sakiti dia!" Ardila meronta dan terlihat samakin ketakutan karena tidak mampu lepas dari tangan-tangan kekar pria itu.
"Diam kau! Kalau kau ingin selamat sebaiknya tutup mulut dan diam!" Pria itu ikut berteriak memberi ancaman.
Menyadari keselamatan Ardila terancam, Baruna dengan sisa tenaganya mencoba bangun dan berdiri. Tetapi, belum sempat berdiri, sebuah tendangan kembali mendarat di tubuhnya. Pria bertato itu menendangnya dengan kuat sehingga tubuh Baruna langsung ambruk jatuh lagi ke atas aspal tak dapat bergerak.
"Baruna!!" Teriakan Ardila kembali memekik kencang. Dengan sekuat tenaga dia meronta sehingga berhasil lepas dari tangan pria yang memegangnya.
Secepat kilat Ardila berlari ke arah Baruna dan mencoba membantu Baruna untuk bisa bangun.
"Kita habisi mereka sekaligus!" seru pria itu kepada pria bertato.
"Iya! Makin cepat akan akan lebih baik!" sahut pria bertato sambil merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sana.
Sambil menghunus pisaunya, pria bertato lalu ikut berlari mendekati Baruna dan Ardila.
__ADS_1