Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #23 Terlalu Dimanja


__ADS_3

Hari menjelang sore. Setelah dari pemakaman, Baruna dan Ardila langsung pulang ke rumahnya dan mendapati Arkha dan Mutiara sedang duduk santai minum kopi di teras rumah besar itu.


"Una, duduk sini! Papa pengen ngobrol sama kamu," perintah Arkha memanggil putranya.


"Baik, Pa." sahut Baruna patuh, lalu duduk di kursi di sebelah Arkha.


"Dila, ayo kamu juga ikut duduk disini!" sambung Arkha, juga memerintahkan Ardila untuk duduk di salah satu kursi yang ada di teras itu.


Ardila pun tidak membantah, dia langsung duduk di antara Arkha dan Mutiara, bersebelahan dengan Baruna.


Seorang pelayan dengan sigap menghampiri mereka seraya membawakan dua cangkir teh serta beberapa potong kue untuk Baruna dan Ardila.


"Oh ya, kalian habis dari mana saja?" tanya Arkha memulai obrolan mereka.


"Kami habis ziarah ke makam Mama Livina, Pa. Habis itu, kami jalan-jalan sebentar." Ardila menerangkan kemana dia dan Baruna pergi sebelumnya kepada Arkha.


Arkha hanya menganggukkan kepalanya, dia tahu kalau sejak dulu Ardila memang rajin ziarah ke makam Livina.


"Tapi ada yang sedikit aneh tadi disana, Pa," celetuk Ardila. "Tidak biasanya ada orang lain juga mengunjungi makam Mama Livina. Tadi aku lihat ada setangkai mawar tampak masih segar disana." Ardila menceritakan apa yang ditemukannya di makam itu kepada Arkha.


Ardila memang sangat dekat dengan Arkha, sehingga hal-hal kecil sekalipun pasti akan dia ceritakan kepada pria yang dianggap papa kandungnya itu, dan bahkan hal itu sudah terjadi semenjak dia masih kecil.


"Bunga mawar yang masih segar?" Arkha mengangkat satu ujung alisnya.


"Siapa yang mengunjungi makam Livina?" batin Arkha bertanya-tanya. Dia turut merasa sedikit heran karena tidak biasanya ada orang lain mengunjungi makam Livina selain Ardila.


"Kok kelihatannya Papa kaget mendengar ceritaku?" tanya Ardila ketika menyadari Arkha seperti sedang terkejut ketika dia mengatakan prihal bunga itu kepada papanya.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Sayang. Papa hanya sedikit kaget, selama ini mamamu Livina, tidak punya kerabat ataupun saudara di kota ini. Papa hanya heran kenapa ada orang lain yang tiba-tiba mengunjungi makamnya? Satu-satunya orang terdekat Livina di kota ini hanya Alfin," ungkap Arkha.


"Alfin?" Ardila membulatkan matanya saat mendengar Arkha menyebut nama seseorang.


"Alfin itu siapa, Pa?" tanyanya penasaran, karena baru kali ini dia mendengar Arkha menyebut nama itu.


"Ee, itu ... itu ..." Arkha tergagap. Tanpa disadarinya dia keceplosan menyebut sebuah nama yang selalu dia rahasiakan dari dulu kepada semua anak-anaknya.


"Alfin itu, nama teman semasa kecil Papa Arkha dan Mama Livina, Dila. Tapi, sekarang dia tinggal di luar negeri. Bisa jadi saja dia sedang ada di kota ini dan sengaja datang untuk berziarah ke makam Mama Livina," sela Mutiara. Menyadari suaminya sudah salah berbicara, Mutiara dengan cepat menyela dan mencari alasan untuk mengalihkan.


"Oohh." Ardila hanya mengangguk, sementara Mutiara dan Arkha saling melirik dengan sebuah kode rahasia tersirat dari tatapan mata keduanya.


"Papa punya sesuatu buat kalian berdua." Dengan cepat Arkha juga mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Ra, tolong ambilkan kotak yang ada di kamar, Sayang!" perintah Arkha kepada istrinya. Dan Mutiara pun tidak menolak, dia langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menuju ke kamar.


Sambil tersenyum penuh arti, Arkha meraih kotak itu dan membukanya.


"Papa belikan ini buat khusus buat kamu, Una." Arkha mengambil sebuah kunci remote dari dalam kotak itu dan menyerahkannya kepada Baruna.


"Apa ini, Pa?" Mata Baruna terbelalak saat Arkha memberinya sebuah wireless key motor besar. Dari logo yang ada di wireless key itu, Baruna tahu bahwa motor itu termasuk kategori motor balap berkapasitas mesin mencapai 1100 cc dan tenaga mesin juga melebihi 200 horse power.


"Papa membelikan motor buatku?" tanya Baruna, merasa sangat senang karena mendapatkan motor yang sudah lama jadi impiannya, yaitu sebuah motor besar buatan Italia dan tentu harganya bukan sekedar kaleng-kaleng.


"Iya, Una. Sesuai janji papa dulu, papa belikan kamu motor sebagai hadiah, karena kamu sudah menyelesaikan pendidikanmu di Sydney." Arkha tersenyum menatap wajah girang putranya karena sudah mendapatkan motor yang selama ini dia idam-idamkan.


"Terima kasih banyak, Pa!" Baruna juga tersenyum sumringah. Selama ini, Arkha memang selalu memberikan apa saja yang diinginkannya apabila dia mencapai sebuah keberhasilan.

__ADS_1


"Dan ini buat kamu, Dila. Sebentar lagi kamu juga akan mendapatkan gelar S2 mu kan?" Arkha juga menyerahkan sebuah remote yang lain kepada Ardila.


"Wah, papa membelikan aku mobil baru! Terima kasih, Pa!" Ardila pun terlihat sangat senang. Arkha memberinya sebuah remote premium hatchback, yaitu mobil jenis city car terbaru buatan Jerman yang juga sudah pasti harganya sangat mahal.


"Una, Hari Senin besok, Papa minta kamu ikut Papa ke kantor dan mulailah belajar untuk mengurus perusahaan! Papa mau kamu bisa segera menggantikan papa untuk memimpin perusahaan itu," ujar Arkha. Dia sudah tidak sabar untuk mengajarkan Baruna menjalankan perusahaannya.


"Senin besok?" Baruna mengerutkan keningnya. "Apa harus secepat itu, Pa?" sergah Baruna.


"Memangnya kapan lagi, Una? Kamu kan sudah lulus. Sudah kewajiban kamu untuk melanjutkan pekerjaan Papa," tegas Arkha dan berharap Baruna bersedia memenuhi keinginannya.


"Mulai Senin besok kan aku janji mau membantu Floretta mencari pekerjaan baru, kalau Papa menyuruhku bekerja di kantornya, bagaimana aku bisa mengantarnya?" batin Baruna bimbang.


"Kasih aku waktu untuk liburan dulu, Pa. Aku kan baru saja kembali ke tanah air. Biarkan aku bersenang-senang dulu menikmati masa mudaku. Aku belum ingin jadi budak pekerjaan," celoteh Baruna, terang-terangan menolak keinginan papanya.


Arkha hanya menghela nafas kasar dan menganggukan kepala, paham akan kemauan putranya.


"Ok, baiklah! Papa kasih kamu waktu sebulan lagi untuk bebas menikmati masa liburanmu, Una. Tapi setelah itu, tidak akan ada dispensasi lagi. Kamu harus turuti keinginan Papa!" ucap Arkha dengan penekanan.


"Baik, Pa." Baruna kembali tersenyum. Setelah Arkha memberinya kebebasan sebulan lagi, dia sangat yakin kalau selama itu, dia akan bisa membantu Floretta mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.


"Ayo, Kak! Kita lihat hadiah yang diberikan papa!" ajak Baruna bersemangat, seraya menarik tangan Ardila mengajaknya ke halaman rumah itu. Dia tahu motor dan mobil baru yang dihadiahkan Arkha untuk mereka, pastilah sudah ada di garase.


Ardila hanya mengangguk, dia pun terlihat sangat antusias untuk segera mencoba kendaraan baru yang diberikan Arkha untuknya.


"Kamu terlalu memanjakan mereka, Bang!" protes Mutiara setelah kedua anaknya meninggalkan mereka berdua di teras itu.


"Tidak apa-apa, Sayang. Lagian aku memberikan hadiah untuk mereka juga karena mereka punya pencapaian. Kalau tidak, aku tidak akan memberikan apapun," sahut Arkha enteng. Akan tetapi, sebuah senyum merekah di bibirnya. Ada rasa bangga yang dia rasakan melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang yang pintar dan berprestasi sesuai harapannya.

__ADS_1


__ADS_2