Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #41 Peringatan Kedua


__ADS_3

Ardila dan Baruna sampai di Kediaman Waradana ketika malam sudah cukup larut.


Seketika suasana di rumah itu berubah tegang sewaktu mereka berdua tiba. Arkha dan Mutiara sangat panik mendapati Baruna pulang dalam keadaan babak belur penuh luka.


Setelah memanggil dokter dan memberikan pengobatan terhadap Baruna, Arkha duduk di tepi tempat tidur putranya sambil mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Dia sangat marah mengetahui ada orang yang hampir saja menghilangkan nyawa kedua anaknya.


Selain itu, dia juga sangat kesal setelah mengetahui kalau Ardila dan Baruna sudah bersekongkol, membohonginya dan mengatakan kalau mereka hanya keluar untuk jalan-jalan saja.


Arkha menghela nafas panjang. Di balik sorot matanya yang menyiratkan kemarahan, wajahnya juga tampak memancarkan kekhawatiran. Dia menyadari kalau bahaya memang sedang mengintai keluarganya.


Arkha terus memandangi Baruna yang tengah terbaring lemah di atas ranjang itu dengan luka lebam dan membiru terlihat di beberapa bagian permukaan kulitnya.


Untuk sejenak suasana menjadi hening di kamar itu. Meskipun Mutiara dan Ardila juga ada disana saat itu, namun semuanya bungkam tidak ada yang berani membuka suara. Kemarahan Arkha sebelumnya juga sudah membuat Ardila hanya mampu menundukkan kepala, tanpa berani sedikitpun menatap wajah papanya.


"Kak Dila nggak salah, Pa. Jangan marahi dia. Semua ini salahku. Aku yang membujuknya agar mau mengantarkan aku untuk mencari Floretta," ucap Baruna lirih, akan tetapi suaranya cukup bisa memecah keheningan disana.


Arkha kembali membuang nafas panjang sambil meremas rambutnya dengan kasar.


"Berapa kali lagi papa harus ingatkan sama kamu, jauhi wanita itu, Una!" tegas Arkha dengan suara yang sudah mulai datar. Dia berusaha menenangkan dirinya dari semua rasa kecewa dan marah yang masih menyesakkan dadanya.


"Kamu sudah dua kali hampir kehilangan nyawamu gara-gara gadis itu. Bahkan kali ini, Ardila juga hampir jadi korban. Kenapa kamu nggak mengerti juga nasehat papa, Una!" Arkha menggelengkan kepalanya pelan. Dia sangat kesal karena putranya tidak mengindahkan perintahnya.


"Aku sangat mencintai Flo, Pa. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menjauhinya. Sampai kapanpun aku akan terus mencarinya," ungkap Baruna jujur. Walau dia tahu Arkha tidak akan pernah setuju akan hal itu, tetapi dia kukuh tetap pada pendiriannya.


Akha terdiam, pengakuan jujur Baruna membuatnya tidak sanggup berkata-kata lagi. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia juga sebenarnya tidak ingin melarang putranya berhubungan dengan gadis yang dia cintai. Akan tetapi, dia juga tidak ingin membiarkan saja apabila semua itu bisa justru akan berakibat fatal dan membahayakan keselamatan putranya, dirinya, bahkan juga semua anggota keluarganya yang lain.

__ADS_1


"Dengar, Una! Ini peringatan kedua dari papa. Sampai kapanpun papa tidak akan pernah mengizinkan kamu berhubungan dengan wanita itu lagi, Una!" pungkas Arkha. Kendati tidak tega, bagaimanapun juga dia harus bersikap tegas terhadap putranya. Terlebih hubungan antara Baruna dan Flo sudah pasti akan membawa ancaman serius untuk keluarganya.


Baruna ikut terdiam tidak ingin menanggapi peringatan papanya. Dia tahu kalau saat itu Arkha sedang sangat marah terhadapnya. Karena itulah, Baruna tidak ingin memperpanjang lagi perdebatan di antara mereka. Dalam hatinya, Baruna tetap tidak setuju dan menentang perintah papanya kali ini.


"Kamu juga, Dila!" Arkha lalu menoleh ke arah Ardila dan kembali menatapnya dengan tajam.


"Papa tidak mau kamu mendukung Baruna lagi untuk alasan apapun terkait Floretta. Masih untung hari ini kalian bisa selamat. Tapi besok-besok, papa tidak tahu apa yang mungkin terjadi. Jadi, sebaiknya hindari semua hal yang bisa membahayakan diri kalian." Arkha kembali menegaskan perintahnya.


"Baik, Pa." Ardila hanya mengangguk, tentu saja dia tidak berani melawan atau membantah perkataan papanya.


"Una, Dila, semua yang papa katakan itu benar. Masih untung kalian bisa selamat hari ini. Tadi mama juga sangat mencemaskan kalian," sergah Mutiara ikut menimpali. Hatinya juga ikut pedih saat harus melarang putranya memperjuangkan cintanya.


"Oh ya, Dila, siapa pria yang kamu bilang sudah menyelamatkan kalian?" tanya Mutiara merasa penasaran karena ada orang yang begitu berani dan berbaik hati mau menyelamatkan anak-anaknya, walau sudah pasti banyak resiko yang akan dihadapinya.


"Alfin?" Arkha membelalakkan matanya mendengar sebuah nama yang disebutkan oleh Ardila.


"Memangnya kenapa, Pa? Kok papa kaget gitu mendengar aku menyebut nama Om Alfin?" Ardila mengerutkan keningnya. Dia semakin tidak mengerti mengapa Arkha terlihat sangat gugup dan terkejut ketika dirinya menyebut nama 'Alfin'.


"Ah, nggak apa-apa, Dila. Papa hanya sedikit heran, kalau dia benar adalah Alfin teman masa kecil papa dan Mama Livina, lalu kenapa dia tidak berkabar sama papa kalau dia sudah kembali ke tanah air," kilah Arkha menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Aaahh ... mungkin saja dia sibuk, sehingga belum berkabar sama papa," ujar Arkha berbohong mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Ini sudah malam, sebaiknya kita tinggalkan Baruna disini. Biar dia beristirahat dan kita juga harus beristirahat," ajak Arkha seraya melangkah keluar dari kamar Baruna, diikuti oleh Mutiara dan Ardila.


Ardila langsung masuk ke kamarnya. Arkha dan Mutiara pun ikut menuju ke kamarnya dan hendak beristirahat.

__ADS_1


"Apa mungkin yang menyelamatkan Ardila dan Baruna itu adalah Alfin, papa kandungnya Ardila ya, Bang?" tanya Mutiara, ketika dia dan suaminya sudah ada di dalam kamar mereka. Mendengar cerita Ardila, dia pun ikut merasa penasaran.


"Entahlah, Ra. Aku juga tidak tahu. Saat ini Alfin masih di penjara, sudah pasti itu bukan dia." Arkha terlihat ragu, karena dia mengira kalau Alfin masih ada di Lapas.


"Tapi kata Ardila, pria itu mengaku sahabatku dan juga Livina di masa kecil, artinya dia tahu masa laluku. Bisa jadi juga itu memang Alfin." Arkha menekan keningnya mencoba menerka-nerka. "Lalu siapa yang mengeluarkan dia dari penjara?" Hati Arkha dipenuhi banyak pertanyaan.


"Aku akan telpon Rendy untuk mencari tahu!" gumam Arkha seraya menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya.


Arkha lalu merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Bergegas ditekannya nomor kontak Rendy, dan segera dihubunginya asisten kepercayaannya itu untuk mendapatkan informasi terkait tentang Alfin.


...----------------...


Buat para pembaca setia, tetap Author tunggu like, komen dan hadiahnya agar Author terus semangat melanjutkan cerita ini.


Berhubung ini Hari Senin, votenya juga boleh dibagi untuk karya ini ya..


Ditunggu juga kejutan dan give away berikutnya ya, Guys...


Terima kasih dan selamat menunggu kelanjutannya ya...


Follow akun sosial media Author di:


IG. ini_yunita


FB. Yunita Yanti

__ADS_1


__ADS_2