Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #35 Hanya Bisa Pasrah


__ADS_3

Daniel terus tersenyum mendominasi. Dia lalu mendekati Flo dan duduk di kursi yang lain di sebelahnya.


"Akhirnya kau akan segera jadi milikku, Flo!" ucap Daniel sambil menatap wajah Flo yang terlihat memasang senyum tidak suka kepadanya.


"Hmm... tersenyumlah, Flo! Jangan sembunyikan wajah cantikmu ini, karena mulai hari ini kamu akan hidup senang di rumah ini bersamaku!" Daniel mengangkat dagu Flo dengan dua jarinya sehingga dia bisa melihat dengan jelas raut cemberut Flo yang menatap sinis ke arahnya.


"Ciih! Aku tidak akan pernah sudi hidup denganmu!" balas Flo dengan membentak dan menghempaskan kasar tangan Daniel dari wajahnya.


"Dasar munafik! Sok jual mahal!" hardik Daniel kesal. "Kau lihat saja nanti, apa yang bisa aku lakukan untuk menaklukkan kesombongan mu ini, Flo!" geram Daniel sambil menghela nafasnya kasar dan menatap tajam mata Flo.


"Pelayan!" pekik Daniel dan menjentikkan jarinya, sebagai isyarat memanggil pelayan yang ada di rumahnya.


"Iya, Tuan!"


Dua orang pelayan wanita berpenampilan tomboy bergegas menghampiri ke ruang tamu dan membungkuk hormat serta menundukkan kepala di hadapan Daniel, tanpa berani menatap wajahnya.


"Bawa gadis ini ke kamarnya dan layani dia dengan baik. Berikan dia pakaian yang bagus. Aku ingin dia tampil cantik di hadapanku malam ini!" perintah Daniel, menyuruh pelayannya menangani Flo.


"Baik, Tuan!" angguk dua pelayan itu dan segera meraih tangan Flo untuk mereka ajak ke sebuah kamar yang dimaksud oleh Daniel.


"Tidak! Lepaskan aku! Aku tidak mau!" jerit Flo sambil berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan dua orang pelayan itu yang semakin kuat mencekal kedua lengannya. Akan tetapi, cengkraman dua wanita tomboy itu sangatlah kuat, sehingga Flo tidak sanggup untuk melawannya.


Kedua wanita itu tetap memaksa Flo dan menggiringnya masuk ke sebuah kamar disana.


Diaz menghela nafas dalam melihat adiknya diseret paksa oleh dua pelayan itu. "Maafkan aku, Flo. Aku harus melakukan semua ini untuk kebaikan kita bersama." Diaz membatin.


Di balik kekejaman sikapnya selama ini terhadap Flo, sesungguhnya dia sangat menyayangi adik kandung satu-satunya itu. Sebenarnya dia pun menyesal dan tidak tega memaksa Flo untuk menikah dengan Daniel, tetapi semua keadaanlah yang memaksanya melakukan semua itu. Dendam sudah membutakan mata hatinya sehingga dia tega mengorbankan adiknya sendiri demi ambisinya itu.


Daniel kembali memasang senyum sinis.


"Kau boleh pergi sekarang, Diaz! Aku sangat senang karena kau sudah berhasil membawa adikmu kesini untukku!" ujar Daniel, puas akan apa yang sudah suka rela Diaz korbankan untuknya saat itu.

__ADS_1


"Baik, Bos!" Diaz berdiri dari tempat duduknya dan hendak keluar dari rumah Daniel.


"Eh, tunggu dulu, Diaz!" cegah Daniel. "Bagaimana dengan bocah tengik yang bernama Baruna itu? Apa kau juga sudah menyingkirkannya?" lanjutnya bertanya, yang membuat Diaz kembali membalikkan badannya menoleh ke arah Daniel.


"Belum, Bos. Saya masih menunggu waktu yang tepat, karena saya tidak hanya akan menghabisi Baruna saja, tapi saya akan sekaligus menghancurkan seluruh Keluarga Waradana!" jengah Diaz dengan tangannya yang mengepal teringat akan dendamnya yang semakin membara.


"Bagiku itu tidak masalah, Diaz. Lakukan saja apa yang kamu mau. Aku tidak punya urusan dengan Keluarga Waradana!" Daniel hanya mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Diaz. Dia sama sekali tidak peduli akan kesumat Diaz terhadap Arkha dan keluarganya, karena yang daniel inginkan hanyalah mendapatkan Floretta, gadis yang menjadi obsesinya selama ini.


****


Malam sudah cukup larut ketika Diaz meninggalkan Flo di rumah besar milik Daniel.


Di dalam kamar dimana Flo disekap oleh pelayan Daniel, Flo tengah duduk di depan cermin meja rias.


Air mata menganak sungai membasahi pipinya. Dia sangat bingung karena tidak sedikitpun bisa lepas dari pengawasan dua pelayan yang memaksanya agar bersedia berganti pakaian dan juga berdandan untuk Daniel.


"Ya, Tuhan! Apa yang akan terjadi padaku? Apa yang akan Daniel lakukan terhadapku?" Flo mengelus dadanya perlahan. Kekhawatiran dan ketakutan semakin menghantuinya. Setelah Diaz menyerahkannya kepada Daniel, dia tahu kalau Daniel bisa melakukan apa saja terhadap dirinya.


"Sudah, Tuan!" Pelayan-pelayan itu kembali membungkuk. Tanpa ada perintah dari Daniel, mereka langsung paham akan tujuan majikannya masuk ke kamar itu, lalu keduanya pun bergegas keluar dari kamar itu meninggalkan Daniel dan Flo berdua disana.


Daniel tersenyum lebar sambil mendekati Flo, menatap wajah muram dan cemberut itu dari pantulan cermin di hadapannya.


Daniel menggeleng dengan senyum kecut di bibirnya. "Kamu memang sangat menawan Flo. Wajah cantikmu benar-benar sudah membuatku mabuk," ucap Daniel dengan mulut menganga sangat terpesona memandangi bayangan wanita cantik dari cermin di depannya. Dengan mini dress yang dikenakannya serta make up flawless memghias wajah ayunya, kecantikan Flo memang terpancar nyata. Semua itulah yang membuat Daniel begitu berhasrat ingin memilikinya.


"Ayo, Sayang, berdirilah! Tunjukkan pesonamu kepadaku, dan malam ini kita akan bersenang-senang berdua!" Daniel meraih tangan Flo dan mengajaknya berdiri.


"Jangan coba macam-macam denganku, Daniel! Sampai kapanpun aku tidak akan mau menuruti kemauanmu!" bentak Flo sambil berdecak dan melepaskan tangan Daniel dengan kasar.


Plakk!


Tangan Flo spontan naik dan menampar keras pipi Daniel dengan penuh kemarahan.

__ADS_1


"Haah, shhhiitt!" umpat Daniel berdecak murka. Tamparan dari Flo membuatnya seketika gusar.


"Dengar, Flo! Kau sudah ada dalam genggamanku, kau tidak akan bisa menolak lagi, karena kau sudah menjadi milikku sepenuhnya!" geram Daniel merasa kecewa akan penolakan Flo.


Dengan kasar, Daniel lalu menarik tangan dan mendekatkan pinggang Flo agar menempel di tubuhnya, sambil menatap tajam mata Flo.


"Kau tidak akan bisa lepas dariku, Flo! Malam ini aku akan memilikimu seutuhnya!"


Pupil mata Daniel melebar, tatapan jallangnya terlihat sangat menyeramkan dan membuat Flo hanya mampu menahan nafas, menutup matanya, semakin merasa sangat ketakutan.


"Jangan sentuh aku, Daniel! Kau tidak boleh melakukan ini terhadapku!" teriak Flo lagi dan memukul-mukulkan kepalan tangannya ke dada kokoh Daniel.


Flo berupaya keras agar bisa lepas dari cengkraman tangan kekar Daniel. Akan tetapi, Daniel tidak bergeming, dia justru semakin kuat mendekap pinggang Flo lalu mendorongnya dengan kuat sehingga mereka jatuh ke atas tempat tidur dengan posisi Daniel menindih tubuh Flo.


Dalam keadaan seperti itu, Flo semakin tidak dapat melawan dan kini Daniel semakin mudah menguasainya.


"Lepaskan aku, Daniel!" Walau teriakan memelas itu terus terlontar dari bibir Flo, namun Daniel tidak memperdulikannya sama sekali. Semakin Flo meronta, semakin berhasrat pula Daniel untuk bisa mendapatkan Flo malam itu juga.


Sambil terus mengungkung tubuh Flo dengan tubuhnya, tangan Daniel dengan kasar menarik dress yang tengah dikenakan Flo hingga robek dan terlepas dari tubuh Flo.


Daniel tersenyum penuh kemenangan, gairah memuncak di jiwanya saat menyadari kini tubuh Flo sudah polos tanpa sehelai benangpun menutupinya.


"Aku mohon jangan lakukan apapun terhadapku, Daniel!" Air mata menetes deras di kedua mata Flo. Mencoba melepaskan diri, dia sudah tidak sanggup. Flo hanya bisa pasrah menerima nasibnya.


"Malam ini kau akan jadi milikku, Flo," bisik Daniel sambil mencumbu semua yang ada di tubuh Flo.


"Jangan, Daniel! Aku mohon jangan lakukan ini terhadapku!"


Teriakan memelas yang keluar dari mulut Flo sama sekali tidak digubris oleh Daniel, nafsu bejat sudah menguasai jiwanya.


Dengan tangan kirinya, Daniel terus mencengkram kedua tangan Flo diatas kepalanya, sedangkan tangan kanannya melepaskan ikat pinggang yang tengah dikenakannya. Daniel sudah sangat tidak sabar menikmati sesuatu yang sudah bertahun-tahun dia ingin dapatkan dari seorang gadis polos yang membuatnya sangat terobsesi, yaitu Floretta.

__ADS_1


__ADS_2