
Malam semakin larut, waktu kini sudah menunjukkan tepat pukul dua belas tengah malam.
Keheningan malam menyelimuti bumi, hanya suara jangkrik dan serangga malam lainnya yang mampu menyibak hamparan gelap di malam hari itu.
Lampu-lampu di dalam kamar di rumah-rumah warga, banyak yang sudah mulai dipadamkan, pertanda semua orang pun sudah terlelap di atas peraduannya masing-masing.
Di dalam sebuah rumah besar nan megah, nampak lampu dari salah satu kamar disana masih menyala.
Meskipun malam sudah sangat larut, akan tetapi di dalam kamar itu, Floretta belum bisa memejamkan matanya. Beberapa hari sudah dia dikurung oleh Daniel di rumahnya, dan selama itu dia tidak bisa berhubungan dengan siapapun. Ponsel dan semua akses dunia luar lainnya, sudah diblokir oleh Daniel.
Selama disana, Flo hanya bisa berinteraksi dengan pelayan-pelayan di rumah itu, yang selalu setia membawakan makanan serta segala kebutuhannya yang lain. Namun, para pelayan itu juga membuatnya tidak leluasa bergerak, karena mereka dengan sangat ketat mengawasi setiap gerak-geriknya.
Setelah kejadian malam dimana Daniel tidak jadi memaksakan kehendaknya terhadap Flo, semenjak itu pula Daniel tidak ada menemui Flo di kamarnya. Noda merah bekas jejak kepemilikan Baruna, juga masih ada di permukaan kulit Flo, yang membuat Daniel enggan melihat Flo.
"Sudah empat hari aku disekap di kamar ini, tapi aku masih tidak tahu bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini." Floretta bersungut sendiri. Ada rasa putus asa mengisi hatinya, karena tidak tahu bagaimana caranya dia bisa kabur dari pengawasan Daniel dan semua pelayannya.
"Entah mengapa malam ini aku begitu mengkhawatirkan Baruna, firasatku mengatakan sesuatu hal sudah terjadi padanya." Flo mengusap pipinya yang tiba-tiba basah. Tanpa dia sadari, air matanya menitik ketika dia teringat akan kekasihnya. Firasat buruk selalu melintas di kepalanya yang membuatnya sangat tidak tenang.
"Tuhan! Tolong bantu aku memikirkan cara agar bisa keluar dari sini!" Flo mencakupkan kedua tangannya di dadanya, dia sangat berharap ada keajaiban yang bisa membantunya keluar dari sangkar emas yang diciptakan Daniel untuknya.
Di tengah kegalauan yang melanda hatinya ketika itu, tiba-tiba netra Flo tertuju ke sebuah jendela kaca di dinding kamarnya.
"Seandainya saja aku bisa keluar lewat jendela itu," gumam Flo ragu.
Walau sangat tidak yakin, tetapi entah mengapa kakinya tergerak begitu saja mendekati jendela itu.
Flo melebarkan pandangannya keluar melalui kaca bening jendela yang tertutup rapat. Dari sana dia bisa leluasa melihat sekeliling halaman rumah yang sangat luas, karena letak kamarnya ada di lantai dua.
"Di luar terlihat sepi, bisa jadi saja anak buahnya Daniel sudah tertidur semua," pikir Flo menerka-nerka.
"Aaahh, seandainya saja aku bisa kabur melalui jendela ini?" Flo menatap nanar ke luar jendela. Terali besi penghalang jendela di hadapannya sangatlah kokoh. Sudah pasti, dia tidak akan mungkin bisa keluar melalui jendela itu.
Meski sangat tidak yakin bisa keluar melalui jendela itu, tetapi kedua indera penglihatan Flo tetap menelisik, dia tetap berharap ada celah yang bisa membawanya keluar dari sana.
Sesaat, mata Flo berbinar. Pandanganya tertuju pada besi pengait gorden yang tergantung di atas jendela. Seketika dia teringat akan sebuah film action yang pernah dia tonton. Melihat gorden panjang dan besi pengaitnya itu, imajinasinya langsung meruak, dan dia seperti mendapat sebuah ide brilian.
__ADS_1
"Aku akan coba trik seperti di film favorite ku itu. Mudah-mudahan bisa berhasil." Flo melengkungkan sebuah senyum di bibirnya. Ide nekat yang tiba-tiba muncul di kepalanya membuat ia merasa bersemangat, Flo sangat yakin akan bisa keluar dari sana.
Memiliki pengalaman pahit hidup di jalanan bersama Diaz, juga mengajarkan Flo menjadi seorang wanita yang kuat. Sehingga, memanjat jendela itu bukanlah hal yang sulit baginya.
Flo menyingsingkan lengan kemeja yang sedang dikenakannya dan menarik sebuah kursi, diletakkannya di depan jendela yang menggantung lebih tinggi dari tubuhnya itu. Dengan menirukan gaya spiderman, dia memanjat trali disana. Dengan sangat mudah pula dia bisa melepaskan gorden bersama dengan besi pengaitnya.
Senyum terus terkembang di bibir Flo. Besi pengait gorden itu terlihat cukup kokoh dan Flo bisa pastikan benda itu juga cukup kuat untuk dia pakai mencongkel trali besi pada jendela. Kain gordennya pun cukup panjang. Apabila direntangkan, panjangnya bisa mencapai lantai dasar rumah itu.
Sembari terus bertumpu pada kursi di depan jendela, sekuat tenaga dan berbagai upaya, Flo terus berusaha mencongkel trali tersebut. Flo juga harus melakukannya dengan sangat berhati-hati agar apa yang sedang dikerjakannya tidak sampai menimbulkan suara ribut, yang bisa saja terdengar oleh para penghuni di rumah itu.
Setelah lebih dari satu jam berusaha, trali itu pun berhasil di congkelnya. Sehingga, kini terbuka ruang yang cukup untuknya bisa menyelipkan badannya di jendela itu.
"Akhinya aku bisa keluar dari sini," ucap Flo senang. Bergegas diikatkannya kain gorden itu di kusen jendela dan trali di sisi jendela yang satunya lagi.
"Kain gorden ini cukup panjang. Ini bisa jadi pegangan untuk aku bisa turun." Flo terus tersenyum, dia sangat yakin kalau dengan bantuan kain panjang tersebut, dia akan bisa menuruni lantai dua menuju lantai dasar rumah itu.
Setelah selesai mengikatkan kain gorden, Flo lalu memiringkan badannya. Tubuhnya yang ramping bisa dengan mudah menyelip di celah jendela yang cukup sempit.
Sambil memegang erat kain gorden, Flo kembali menirukan gaya spiderman, merayap pelan menuruni dinding rumah itu. Dia juga sangat beruntung karena dinding rumah di dekat kamarnya itu luput dari pantauan CCTV, sehingga tanpa ada halangan sedikitpun, dia dengan sangat mudah berhasil turun dari lantai dua rumah itu ke lantai dasar.
Flo melompat dan mendaratkan kakinya di halaman rumah yang permukaannya berlapiskan rumput tebal. Walau telapak kakinya terasa dingin karena tidak mengenakan alas kaki, tetapi semua itu tidak dipedulikannya. Hanya ada satu hal dipikirannya, yaitu segera keluar, untuk bisa melarikan diri dari cengkraman Daniel.
Flo lalu melangkah mengendap-endap, bersembunyi di balik rerimbunan tanaman hias di halaman yang sangat luas.
Sampai sejauh itu, Flo masih tidak menemui hambatan apapun. Akan tetapi, ketika sampai di depan pintu gerbang utama, Flo menghentikan langkahnya. Dia merapatkan tubuhnya dan bersembunyi di balik pepohonan untuk mengintip. Di pos penjagaan keamanan rumah itu, terlihat seorang pria masih terjaga dan sedang menonton acara televisi di dalan ruangan pos jaga itu.
"Gawat! Kalau penjaga itu melihatku, aku bisa celaka!" gumam Flo cemas. Bola matanya terus berputar, menelisik untuk bisa menghindar dari pantauan kamera pengawas yang terpasang hampir di semua sudut di halaman rumah itu.
Sambil terus mengendapkan langkahnya, Flo sebisa mungkin menahan nafas dan menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak menimbulkan suara yang bisa menimbulkan kecurigaan, sehingga anak buah Daniel yang tengah berjaga tidak menyadari kehadiran Flo ada di dekatnya.
Flo terus menyelinap di balik kegelapan serta rimbunnya pepohonan yang lain. Flo menghentikan langkahnya ketika dia sampai tepat di depan pintu gerbang utama rumah itu.
Flo menghela nafas kasar. Pintu pagar yang terbuat dari besi itu sangatlah tinggi dan terkunci rapat. Banyak kawat-kawat berduri di pasang diatasnya. Sudah pasti, untuk memanjat pagar itu, akan sangat sulit baginya. Belum lagi, dia juga harus terus bersembunyi dari sorotan kamera pengawas yang ada disana.
"Bagaimana aku bisa melewati pagar ini?" Flo kembali memutar otaknya, mencari cara agar bisa melewati pagar itu.
__ADS_1
Di balik pepohonan itu, Flo hanya bisa duduk dan tetap berdiam diri disana. Hatinya seketika galau, meski tidak satu oranpun yang melihatnya, akan tetapi dia tetap tidak mudah bisa keluar dari rumah itu.
"Sialan! Sistem pengamanan di rumah ini benar-benar ketat. Kalau kondisinya seperti ini, aku tidak akan bisa kabur dari sini." Flo mengusap wajahnya dan semakin bingung.
Tanpa tahu harus berbuat apa lagi, Flo hanya bisa pasrah dan tetap duduk di tempat semula.
Dia sadar, sistem keamanan di rumah besar milik seorang mafia seperti Daniel, pastilah sangat ketat. Selain banyak memiliki anak buah dan bodyguard, kamera pengawas juga terpasang dimana-mana.
****
Jarum jam terus berputar, malam itu pun kini berganti subuh.
Walau hari masih cukup gelap, namun suasana di rumah Daniel pagi subuh itu mendadak heboh. Semua orang panik ketika menyadari Flo sudah menghilang dan kabur dari kamarnya.
Para pelayan dan anak buah Daniel yang bertugas tadi malam, berdiri berjejer dan menundukkan kepala di sebuah ruangan khusus di rumah itu.
Mereka semua bungkam dengan raut wajah yang terlihat sangat ketakutan. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang berani bersuara apalagi menatap wajah Daniel yang saat itu duduk angkuh, menyilangkan kaki di atas kursi putarnya. Mereka semua sangat takut, karena setelah Flo berhasil kabur dari rumah itu, pastinya Daniel akan marah besar terhadap mereka.
"Kalian semua tidak becus! Mengawasi seorang wanita lemah seperti Floretta saja kalian tidak bisa!" bentak Daniel dengan suara tinggi.
Daniel lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati semua pelayan dan anak buahnya yang terlihat semakin ketakutan tatkala Daniel ada begitu dekat di samping mereka.
Bagaimana tidak takut, selain mengumpat dengan kata-kata kasar, Daniel juga memegang sebuah pistol di tangannya. Ketika sedang marah, Daniel memang terkenal kejam. Dia tidak segan menembak dan menghabisi orang-orang yang terbukti melakukan kesalahan dan merugikannya, meski itu orang kepercayaanya sekalipun.
Sambil memutar-mutar pistol itu dengan jarinya, Daniel terus berjalan, berkeliling memperhatikan satu persatu wajah pelayan dan anak buahnya.
"Hahaha!" Daniel terbahak dan tersenyum sinis. "Kalian semua sedang sangat beruntung hari ini, karena aku tidak akan menghabisi kalian!" ucapnya bernada ejekan.
"Biarkan saja perempuan itu pergi. Aku sudah tidak peduli lagi dengannya. Tidak ada gunanya perempuan yang sudah tidak perawan itu ada di rumah ini!" Senyum miring terus terlukis di wajah Daniel. Dia sama sekali tidak menunjukkan rasa menyesal karena Flo berhasil kabur dari rumahnya.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Daniel itu, semua pelayan dan anak buah Daniel yang ada di ruangan itu sontak saling melirik dan tersenyum. Mereka merasa bisa sedikit bernafas lega. Kendati bingung dengan sikap atasannya kala itu, mereka semua senang karena Daniel tidak akan menghukum mereka.
"Diaz!" Daniel mendengus dan terus tersenyum kecut. "Kau harus membayar mahal atas semua ini!" decaknya.
"Puuhhh!" Daniel meniup ujung pistolnya jumawa. Sorot matanya menunjukkan kemarahan terhadap seseorang yang membuatnya kecewa, yaitu Diaz.
__ADS_1