
Daniel terus mencumbu Flo dengan sangat rakus. Bibirnya mellumat bibir Flo dengan kasar, tangannya juga begitu liar menjamah semua bagian-bagian indah di lekuk tubuh Flo yang saat itu sudah polos tanpa busana.
"Hentikan, Daniel! Aku mohon, jangan lakukan ini padaku!"
Kata-kata memelas itu juga terus terlontar dari bibir Flo. Akan tetapi, semua penolakan Flo justru membuat Daniel semakin brutal memperlakukannya dengan garang.
"Aaahhh, malam ini kau harus jadi milikku, Flo! Kau tidak akan bisa menolakku lagi," desah Daniel sembari meremas kasar dua gundukan kenyal dan padat di dada Flo lalu menghisapnya penuh nafsu. Menyentuh intens semua keindahan di raga Flo, membuat dia semakin tidak mampu menahan semua gairahnya.
Setelah cukup puas bermain di puncak kembar milik Flo yang begitu menantang, Daniel kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Flo dan terus mencumbunya.
Beberapa saat Daniel begitu hanyut dalam kejallangannya. Dia merasa sangat berhasrat karena akan mendapatkan gadis idamananya malam itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja dia menghentikan semua kegiatannya. Sontak matanya terbelalak lebar dan menelisik tajam pada sesuatu yang tampak membekas di leher Flo.
"Apa ini, Flo?!" pekik Daniel mendengus marah. "Katakan padaku, perbuatan siapa ini?" bentaknya dengan suara bergetar dan tangan mengepal.
Dengan sangat kasar Daniel lalu mencengkram pipi Flo dan mengangkat dagunya agar bisa memperhatikan lebih seksama apa yang dia lihat ada di tubuh Flo saat itu.
Noda merah kebiruan terlihat jelas tidak hanya di leher Flo, melainkan juga bertebaran di semua permukaan kulit dada mulusnya yang lain, dan seketika membuat Daniel merasa sangat marah sekaligus juga kecewa.
"Sa-sakit, Daniel! Tolong lepaskan tanganmu!" ringis Flo tersengal, karena tangan Daniel begitu kuat mencengkram pipinya dan membuat Flo kesulitan bernafas.
"Aaah, sialan!" Daniel menggeram lalu melepaskan tangannya dari wajah Flo secara kasar.
"Laki-laki mana yang sudah meninggalkan tanda ini di tubuhmu? Siapa yang sudah menjamahmu sebelum aku, Flo?!" tuding Daniel dengan intonasi suara kian meninggi. Dari noda merah kebiruan yang tertinggal di beberapa bagian di tubuh Flo itu, dia langsung bisa menebak kalau sudah pasti ada pria lain yang sudah menyentuh Flo sebelum dirinya.
Flo yang masih terlentang di atas ranjang dan ada dibawah kungkungan Daniel, hanya bisa diam sambil berusaha menutupi bagian sensitifnya dengan kedua tangannya. Dia semakin takut kalau Daniel pasti akan menyakitinya setelah mengetahui semua tentang dirinya.
__ADS_1
Hembusan nafas Daniel terdengar semakin memburu, aliran darahnya seakan naik hingga ke ubun-ubun. Dengan amarah yang begitu meradang, Daniel beranjak dari atas tubuh Flo kemudian menarik tangannya dan membawanya Flo berdiri di depan cermin.
"Lihatlah! Lihat semua ini baik-baik, Flo!" Dengan telunjuknya, Daniel menekan kuat satu noda merah yang ada leher Flo. "Cepat katakan padaku siapa yang sudah melakukan ini terhadapmu?! Apa ini juga perbuatan bocah tengik bernama Baruna itu? Apa kau sudah menyerahkan dirimu padanya?" cecar Daniel mengulang bertanya dengan nada marah dan kecewa yang kian memuncak. Daniel semakin kesal karena Flo tidak menjawab pertanyaanya.
Flo menundukkan wajahnya. Dia tidak berani menatap ke arah bayangan cermin. Selain malu memandangi tubuhnya yang masih bugil, dia juga sangat takut melihat tatapan Daniel yang begitu menyeramkan seolah ingin menelannya bulat-bulat, ketika dia tengah sangat marah seperti saat itu.
"Ayo jawab, Flo!" bentak Daniel lagi, teramat jengkel melihat sikap bungkam Flo.
Flo menghela nafas dalam-dalam sambil memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya.
"Aku menyerahkan diriku kepada laki-laki manapun, bukan urusanmu, Daniel!" Jawaban ketus itu terlontar juga dari mulutnya. Sambil membalas tatapan tajam Daniel, Flo ikut membuang nafas kasar.
"Asal kau tahu, Daniel! Aku memang sudah tidak suci lagi. Aku sudah memberikan semua yang aku punya untuk pria yang aku cintai, pria yang memang pantas mendapatkannya!" pekik Flo sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Daniel.
Daniel kembali mencengkram kedua pundak Flo dan mendorongnya dengan kasar, hingga Flo terhempas lagi ke atas ranjang.
"Dengar, Flo! Kau sudah tidak suci lagi, itu artinya aku tidak akan pernah menikahimu. Bagiku, sekarang kau sama saja dengan wanita-wanita penghiburku yang lainnya, kau hanya akan menjadi budak nafsuku saja!" gertak Daniel jengah seraya mendesak tubuh Flo di atas ranjang.
"Tapi kali ini, aku tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu, Flo! Selama noda-noda ini masih ada di tubuhmu, aku sangat jijik melihatnya dan aku tidak akan sudi menyentuhmu!" Daniel memalingkan wajahnya dan beranjak dari atas ranjang.
Dengan beribu kecewa yang masih memenuhi jiwanya, Daniel mengenakan kembali semua pakaiannya.
"Diaz! Kau sudah membawa sampah ke rumah ini!" Daniel berdecak. "Sekali sampah tetaplah sampah, jadi aku juga akan memperlakukan adikmu ini seperti sampah disini!" gusarnya merasa sangat dikecewakan oleh Diaz dan juga Flo.
Sejenak Daniel menoleh dan menatap sinis ke arah Flo yang masih meringkuk di atas ranjang sambil membungkus tubuh polosnya dengan selimut.
__ADS_1
Tanpa berucap sepatah katapun lagi, Daniel bergegas keluar dari kamar itu dan membanting pintu dengan sangat kasar menegaskan akan kemarahannya.
Flo membeku di atas ranjangnya. Nafasnya masih terengah, ketakutan masih ada memenuhi seluruh jiwanya. Air mata mengalir deras di pipinya, berjuta perasaan kembali bergejolak di hatinya.
"Terima kasih, Tuhan. Untunglah kali ini Daniel tidak melakukan apapun terhadapku."
Dalam hati dia sangat bersyukur karena malam itu Daniel tidak jadi memaksakan keinginannya. Akan tetapi kecemasan belum sirna, dia tahu kalau Daniel tidak akan melepaskannya dengan mudah.
"Baruna..." Flo melepaskan selimutnya dan memandangi tubuhnya yang masih telanjang bulat.
"Noda-noda kepemilikan Baruna, malam ini sudah berhasil menyelamatkanku dari laki-laki bejat itu," gumam Flo merasa sedikit lega.
"Aku sama sekali tidak menyesal telah menyerahkan diriku padamu, Baruna." Flo mengusap dua pucuk keindahan di dadanya dan merasakan sedikit perih karena mulut Daniel sudah begitu ganas menggigitnya.
Walau matanya masih basah oleh air mata, tetapi sebuah senyum kecil terulas di bibirnya kala teringat akan pria yang sangat dicintainya. Kekhilafan yang mereka lakukan, untuk sementara sudah menyelamatkan dirinya dari kegilaan Daniel.
"Aku harus bisa keluar dari sini! Selama noda ini masih ada di tubuhku, Daniel tidak akan mau melihatku. Ini artinya aku punya kesempatan untuk bisa kabur dari rumah ini!" Flo menguatkan tekadnya. Dia sangat yakin akan menemukan jalan untuk bisa kabur dari rumah Daniel.
...****************...
Readers Tercinta,
Tetap ditunggu dukungannya dengan memberikan like, komen, vote dan hadiah ya!
Terimakasih dan selamat menunggu part selanjutnya.....
__ADS_1