
Mobil yang dikendarai Baruna, Ardila dan juga Diaz meluncur cepat melewati sebuah jalan. Semakin jauh, jalan yang mereka lalui semakin sepi, gelap, sempit, bahkan berkelak-kelok.
"Berhenti disini, Baruna!" seru Diaz ketika mereka tiba di sebuah hamparan tanah kosong yang ditumbuhi rumput ilalang. Tidak ada cahaya terlihat disana. Hanya ada sebuah bangunan yang tampak berdiri menyendiri di lahan kosong itu dan tempatnya sangat jauh dari keramaian.
"Kamu yakin Daniel membawa Flo ke tempat ini, Diaz?" Baruna terlihat ragu.
"Aku sangat yakin. Kau lihat villa di depan sana? Villa itu digunakan sebagai markas tempat persembunyian Daniel. Setiap habis melakukan suatu tindakan besar, dia dan anak buahnya pasti akan bersembunyi dan berpesta, merayakan keberhasilannya di villa itu," beber Diaz. Tentu saja dia sangat yakin akan dugaannya. Sekian tahun menjadi pengikut setia Daniel, banyak hal tentang seluk beluk Daniel beserta komplotannya yang pasti diketahui oleh Diaz.
"Ayo kita menyelinap masuk ke dalam villa itu lewat pintu belakang!" ajak Diaz seraya turun dari mobil Baruna.
"Dila, sebaiknya kamu tetap tinggal di mobil. Akan sangat berbahaya kalau seorang wanita sepertimu ikut masuk kesana. Penjagaan di sana sangat ketat!" saran Diaz, melarang Ardila ikut bersamanya masuk ke villa itu.
"Benar kata Diaz, Kak. Kalau Kakak disini, itu akan mempermudah Kakak bisa mencari bantuan jika seandainya terjadi sesuatu!" timpal Baruna ikut menegaskan.
"Baiklah. Kalian berdua berhati-hatilah! Aku akan berjaga disini!" Ardila mengangguk tanpa membantah.
Baruna dan Diaz lalu berjalan perlahan, menyeruak di antara semak belukar. Villa itu memang letaknya jauh ke tengah dari sisi jalan utama, tersembunyi di antara rerimbunan ranting-ranting ketapang dan juga pohon-pohon kelapa.
Angin dingin berhembus cukup kencang menggerakkan dedaunan serta rerumputan yang tinggi menjulang. Rumput-rumput yang tubuh liar tersebut bahkan lebih tinggi dari lutut orang dewasa. Desiran angin terasa berbeda. Aroma tanah tandus dan asin air laut menyerbak disana, sudah pasti tempat itu tidak terlalu jauh dari area pantai. Selain itu, suara deburan ombak di laut juga bisa terdengar sayup-sayup dari sana.
Tidak banyak cahaya lampu disana, tetapi suasana cukup terang oleh sinar bulan yang terpantul dari kilauan air laut. Sungguh sebuah tempat yang sangat ideal untuk persembunyian dan dengan mudah bisa luput dari pencarian siapa pun.
"Ayo, Baruna. Kita panjat tembok ini!" Diaz menunjuk tembok pagar pembatas bagian belakang villa itu.
"Ok!" Baruna mengangguk. Pagar itu tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlihat ada benda berbahaya pada tembok itu.
Keduanya lalu memanjat dan Diaz naik terlebih dahulu sebelum Baruna.
"Hupp!"
__ADS_1
Baruna dan Diaz melompat bersamaan dan kini mereka sudah berada di dalam area villa tersebut. Sejenak keduanya saling menoleh dan menatap. Di dalam villa itu terlihat sangat terang karena banyak lampu menyala disana. Riuh tawa dan suara orang-orang yang tengah berbincang juga terdengar dari dalam.
"Dugaanku tepat, Baruna. Mereka sedang berpesta disana. Ini kesempatan kita bisa masuk!"
Mereka dengan sangat leluasa bisa mendekati bangunan utama villa itu, karena ketika Daniel dan anak buahnya tengah asyik berpesta seperti itu, artinya mereka semua sedang lengah.
Diaz juga sudah sangat paham lokasi itu sehingga tidak sulit baginya menemukan celah untuk bisa menyelinap masuk.
Baruna dan Diaz terus mengendapkan langkah mendekat, seraya menempelkan tubuh mereka di tembok. Dari balik celah jendela, Diaz dan Baruna mengintip ke dalam living room villa itu. Beberapa pria terlihat duduk dan saling bercengkrama. Ditemani beberapa orang wanita-wanita cantik dan seksi, suara kekehan dan gelak tawa mereka terdengar menggema dan bau alkohol juga menguar hingga ke luar area villa.
"Kurang ajar! Daniel sedang berpesta merayakan keberhasilannya menghancurkan bengkelku!" decak Diaz marah ketika melihat Daniel dan beberapa orang anak buahnya tertawa lepas di tempat itu.
"Ku rasa mereka sudah mulai mabuk." Baruna ikut melebarkan pandangannya, memperhatikan setiap orang yang tengah berpesta, menegak minuman keras dan menikmati serbuk haram yang ada di hadapan mereka.
"Iya kamu benar, Baruna. Ini kesempatan kita bisa menyusup masuk. Aku yakin Daniel pasti menyekap Flo di salah satu kamar di villa ini!" Diaz sangat yakin. Dia tahu pasti dimana dia bisa menemukan adiknya.
Keduanya terus mengendap-endap. Melalui sebuah pintu di bagian samping mereka menyelinap dan berhasil masuk untuk naik ke lantai dua villa itu, tanpa seorangpun melihatnya.
Sementara itu, di sebuah kamar yang ada di lantai dua villa itu, seorang wanita tampak terbaring di atas ranjang. Tangan dan kakinya diikat dengan posisi terlentang.
Wanita itu terus meronta dalam posisinya seperti itu, berusaha keras melepaskan tali yang mengikat kedua kaki dan tangannya.
Setelah berhasil membawa Flo kabur dari rumah Diaz, Daniel sengaja mengurung dan mengikat Flo di dalam kamar itu, agar tidak ada kesempatan bagi Flo untuk kabur lagi darinya.
"Aku harus bisa melepaskan tali-tali ini, aku tidak mau Daniel melakukan hal gila terhadapku." Pikiran Flo bergumam sendiri.
Flo terus menggerak-gerakkan tangan dan kakinya mencoba sekuat tenaga melepaskan ikatan tali yang begitu kuat mengungkung tubuhnya. Berteriak minta tolong sudah pasti tidak bisa dilakukannya, karena mulutnya tengah dibekap dengan selembar kain.
"Tuhan! Tolong bantu aku lepas dari sini. Aku juga harus menyelamatkan Kak Diaz. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya." Flo terus berdoa dalam hatinya. Ada rasa takut dan juga khawatir yang memenuhi pikirannya.
__ADS_1
Braaakkk!
Pintu kamar tempat Flo disekap terbuka akibat didobrak oleh seseorang.
"Flo.....!!!"
Baruna dan Diaz berteriak dan berhambur masuk ke kamar itu.
"Flo, kamu tidak apa-apa, kan?"
Baruna segera menuju ranjang dan melepaskan tali-tali yang mengikat tangan serta kaki Flo, sementara Diaz berjaga di dekat pintu, mengawasi kalau-kalau ada orang-orangnya Daniel melihat mereka.
"Baruna!" Bibir Flo langsung menyebut nama itu saat kain yang membekap mulutnya dibuka oleh Baruna. Senyum senang seketika melengkung di bibirnya, ketika melihat sang pria pujaan hati bersama dengan kakaknya kini ada di hadapannya sebagai pahlawan penyelamatnya.
"Flo!" Baruna juga menyebutkan nama itu dan sesaat keempat netra mereka saling beradu tatap.
Flo langsung berhambur ke pelukan Baruna. "Daniel menculik dan menyekapku disini, Bar!" isak Flo haru. Tanpa disadarinya air mata lolos begitu saja keluar dari sudut matanya ketika melihat Baruna kini ada di dekatnya.
Baruna mengusap lembut wajah Flo yang masih terlihat ketakutan.
"Jangan takut, Flo! Aku dan Diaz akan membawamu keluar dari tempat ini." Baruna terus menatap lembut mata basah Flo sambil mengulas sebuah senyum penuh arti. Di balik rasa cemasnya, keharuan yang sama juga memenuhi jiwanya.
"Ayo cepat, Bar! Kita harus segera membawa Flo kabur dari sini, sebelum Daniel dan anak buahnya melihat kita!" pekik Diaz membuyarkan keharuan antara adiknya bersama Baruna.
"Kak Diaz, apa kau baik-baik saja?" tanya Flo mencemaskan kakaknya. Dia ingat sewaktu di rumahnya, Daniel sudah menghajar kakaknya itu habis-habisan serta menyekapnya disana.
"Aku tidak apa-apa. Baruna dan Ardila juga yang sudah menyelamatkan aku," terang Diaz.
"Sekarang kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini!" Tanpa basa-basi lagi, Diaz menarik tangan Flo untuk segera mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Ketiganya lalu keluar dari kamar itu dan kembali mengendap-endap menuruni anak tangga.