Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #40 Rasa Tidak Terima


__ADS_3

Alfin melangkahkan kakinya, berjalan melewati sebuah halaman rumah yang cukup luas. Meskipun dia tahu kalau Diaz akan marah kepadanya setelah yang baru saja terjadi, akan tetapi Alfin tetap tidak takut untuk kembali ke rumah itu.


Alfin hanya tersenyum tipis.


Ketika dia sudah masuk ke dalam rumah itu, wajah datar Diaz sudah menyambutnya di ruang tamu. Dari tatapan Diaz yang saat itu terlihat kosong, nampak aura kemarahan menghiasi pancaran matanya.


"Setelah apa yang sudah Om lakukan, masih berani juga rupanya Om Alfin datang ke rumah ini lagi," sindir Diaz sinis serta menatap tajam ke arah Alfin yang berdiri dengan santainya di hadapannya, seolah tidak terjadi masalah apapun.


"Apa Om tidak malu menunjukkan wajah Om itu lagi di rumah ini?" Diaz menyeringai, merasa sangat kesal dengan apa yang sudah Alfin lakukan seperti laporan Oscar dan satu orang anak buahnya yang lain, kepadanya.


Alfin hanya mengangkat satu ujung bibirnya. "Bukan Om, tapi seharusnya kamu yang malu, Diaz!" pekiknya berbalik mencibir.


"Oscar dan anak buahmu itu ternyata hanya seorang pengecut! Apa pantas seorang pria kuat menghabisi seorang wanita dan seorang pria yang dalam keadaan lemah?! Dimana kejantanan kalian?" ejek Alfin.


"Om Alfin tidak perlu menggurui aku, Om! Pantas ataupun tidak, Ardila dan Baruna juga adalah musuhku. Seperti apapun caranya, mereka harus aku habisi!" bentak Diaz semakin sinis, sangat kecewa dan merasa direndahkan ketika mendengar ucapan Alfin yang mencibirnya.


"Tapi apa kamu pikir setelah kamu berhasil menyingkirkan dua orang itu kau akan seketika menang, Diaz?" cebik Alfin lagi.


"Apa kamu lupa target utama kamu yang sebenarnya siapa, Diaz? Arkha atau anak-anaknya? Apa kamu tahu apa yang akan terjadi jika dua orang itu mati lebih dulu?" Alfin terus berceloteh dengan senyum seringainya.


"Dengar, Diaz! Kalau sampai anak-anaknya terbunuh lebih dulu, maka Arkha tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan mengincarmu. Sampai ke lubang semut pun Arkha pasti akan mencarimu dan juga akan menggiringmu ke penjara! Ingat, Diaz! Arkha bukan orang sembarangan. Untuk menghabisi seseorang sepertimu, sangat mudah dilakukan oleh seorang Arkha!" urai Alfin.


Diaz sejenak terdiam, ucapan Alfin menyiratkan banyak petuah. Sambil menghela nafas dalam, Diaz berusaha mencerna semua nasehat Alfin.


"Maka dari itu, Diaz. Aku ingatkan sekali lagi sama kamu, jangan bertindak gegabah! Kita harus bisa bermain cantik. Kekuatan kita tidak sebanding dengan Arkha. Tapi, kelicikan yang harus kita mainkan!" Alfin kembali menegaskan nasehatnya.


Diaz menganggukkan kepalanya, yang dikatakan Alfin memang masuk akal. Dia tahu, menghadapi Arkha bukanlah hal yang mudah. Tanpa pernah melakukan kesalahan yang melanggar hukum, tentunya Arkha sangat kuat. Hukum sudah pasti akan berpihak kepadanya dan hal itu secara tidak langsung akan mempersempit ruang gerak Diaz dalam menjalankan rencananya.


"Baiklah, Om. Kali ini aku setuju denganmu. Kita memang tidak boleh gegabah, bagaimanapun juga, target utama kita adalah Arkha. Dia orang yang harus pertama kali kita singkirkan!" decak Diaz dengan dendamnya yang kian berkobar. Namun, saat itu dia harus bersabar, kali ini dia merasa sepemikiran dengan Alfin.

__ADS_1


Alfin tersenyum licik, dia tahu kalau dia akan sangat mudah mempengaruhi Diaz.


"Satu hal lagi, Diaz. Om tidak mau kamu menyakiti Ardila. Kalau kamu berniat menghancurkan semua orang di Keluarga Waradana, silahkan saja! Aku akan setia mendukungmu. Tapi, jangan pernah kau sentuh Ardila! Kalau sampai terjadi sesuatu terhadapnya dan aku tahu itu karena perbuatanmu, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu, Diaz!" ancam Alfin.


Diaz terperangah, kalimat terakhir yang diucapkan Alfin, membuat kedua alisnya seketika tersentak bersamaan.


"Ada apa dengan Ardila, Om?" Sudut mulut Diaz kembali terangkat. "Ardila adalah putri dari Arkha, dia juga bagian dari Keluarga Waradana. Tentu saja aku juga pasti akan menyingkirkan gadis itu!" sengit Diaz, dengan nada kesal.


"Selama aku masih hidup, tidak akan aku biarkan kau menyentuhnya, Diaz!" jengah Alfin. Tentunya dia semakin tidak senang apabila Diaz berniat menyakiti putrinya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan Diaz menyakiti putriku." Batin Alfin menggerutu. "Tapi untuk saat ini, tidak boleh ada seorangpun yang tahu kalau Ardila bukanlah putri Arkha. Selama ini dia hidup di lingkungan keluarga terpandang. Kalau ada orang lain yang tahu bahwa Ardila bukanlah bagian dari Keluarga Waradana, maka reputasinya akan hancur. Semua orang akan memandang sebelah mata terhadapnya." Alfin terus membatin. Meski tidak ingin mengungkap kebenaran bahwa dia lah ayah kandung Ardila yang sesungguhnya, tetapi dia juga tidak ingin putrinya dalam bahaya. Dia ingin selalu bisa melindunginya dengan sepenuh hati.


"Semua itu tidak penting bagiku, Om. Ardila hanya seorang wanita lemah. Dan dia bukan apa-apa bagiku!"


Alfin kembali tersenyum licik. Ucapan remeh Diaz meyakinkannya bahwa Ardila bukan target utama yang sedang diincar oleh Diaz, sehingga sudah pasti Diaz tidak akan sembarangan menyakiti Ardila.


"Aku sedang sangat pusing sekarang ini, Om. Selain belum bisa membalaskan dendam terhadap Arkha, sekarang muncul lagi masalah baru," beber Diaz mencoba menyampaikan keluh kesahnya kepada Alfin.


Alfin tetap hanya diam, sejenak dia memperhatikan wajah Diaz yang terlihat murung, seperti ada sesuatu yang tengah membebani pikirannya.


"Sekarang Daniel sudah tidak mau lagi membantu kita. Pengikut kita sudah berkurang. Setelah Daniel tahu kalau Flo sudah tidak suci lagi, dia sudah menarik semua anak buahnya dan tidak akan ada lagi yang menjadi pengikut kita!" terang Diaz mencurahkan hal yang menjadi kegalauannya saat itu.


"Apa? Adikmu itu sudah suci lagi?" Alfin mengerutkan dahinya mendengar penuturan Diaz. "Apa itu perbuatan Baruna juga?" tanyanya sedikit terkejut.


"Benar, Om. Semua itu perbuatan si bajingan Baruna itu!" decak Diaz. "Dia sudah merayu Floretta agar menyerahkan kegadisannya. Dan bodohnya, Flo mau saja dibohongi oleh laki-laki brengsek itu!" Kesal dan kecewa nampak semakin jelas di raut wajah Diaz.


"Adikmu itu wanita normal, Diaz. Tanpa merayu pun aku rasa Baruna dengan mudah bisa mendapatkannya," kekeh Alfin menyeringai miring.


"Aku sedang tidak bercanda, Om Alfin!" geram Diaz tidak suka mendengar Alfin yang seolah mencibirnya.

__ADS_1


"Sekarang bantu aku memikirkan cara untuk bisa membebaskan Flo dari genggaman Daniel, Om! Setelah Daniel tidak mau menikahinya, aku juga tidak rela Flo hanya dijadikan budak nafsu oleh Daniel!" sambung Diaz mempertegas ucapannya.


"Posisi kita sekarang semakin sulit, Diaz. Kalau Daniel sudah tidak mau lagi membantumu, itu artinya kita tidak akan bisa berbuat banyak lagi!" risau Alfin.


"Iya, Om. Daniel memang sangat keterlaluan. Semua janjinya tidak bisa dipegang! Dia membantuku hanya demi keuntungannya saja!" umpat Diaz.


"Sebenarnya aku sudah lama ingin lepas dari Daniel. Karena itulah, aku ingin kita mulai bisa mandiri. Aku tidak mau bergantung pada Daniel saja dan aku juga tidak rela dia menyakiti adikku!" Diaz mendengus kasar. Dia sadar selama ini Daniel sudah banyak memperalatnya. Mengatasnamakan hutang budi karena sudah menolongnya dari kehidupan sebagai anak jalanan, selama ini Diaz bersedia saja menurut dan tunduk terhadap Daniel.


Diaz mengusap wajahnya kasar dan menekan keningnya, terus berusaha memikirkan cara agar bisa lepas dari Daniel.


"Maafkan aku, Flo! Aku membuat kesalahan besar karena sudah menyerahkanmu pada laki-laki brengsek itu!" Diaz mengusap dadanya. Tanpa ia sadari matanya berkaca ketika teringat akan adiknya.


"Daniel sangat egois! Aku sangat menyesal sudah menyerahkan Flo kepadanya. Sekarang Flo pasti sangat tersiksa ada di rumahnya!" Penyesalan semakin menyesakkan hati Diaz.


"Mulai sekarang, aku tidak akan mau lagi jadi pengikutnya! Aku harus mencari cara lain tanpa harus bersinggungan dengannya lagi. Dan aku juga harus menyelamatkan Flo. Bagaimanapun juga dia adalah adikku, aku tidak seharusnya mengorbankan dia demi ambisiku!" Benak Diaz dipenuhi berjuta penyesalan. Sikap pamrih Daniel sudah menyadarkannya bahwa tidak seharusnya dia tunduk terhadap Daniel yang selalu saja bertindak dengan sesuka hati terhadapnya.


...****************...


Dear Readers,


Saatnya pengumuman pemenang give away!


Bagi yang namanya ada di ranking pertama, silahkan hubungi author via jalur pribadi ya...


Buat yang belum menang, tetap ditunggu dukungannya. Give away selanjutnya masih ada dan akan jadi kejutan tak terduga.


So, tetap ikuti dan dukung cerita ini....


__ADS_1


__ADS_2