
Mutiara masih terus menatap wajah gadis di hadapannya. Wajah itu tampak sangat jujur dan apa adanya, air mata juga berlinang di mata birunya kala dia memohon.
"Tapi, saat ini Baruna masih belum pulih. Dia mengalami cedera di kakinya akibat ditembak oleh Daniel. Selain itu, anak buah kakakmu juga sudah menghajarnya sampai babak belur," ungkap Mutiara.
"Atas nama kakak saya Diaz, izinkan saya mohon maaf sekali lagi, Tante." Floretta masih terus memasang wajah memelas. Air matanya pun menetes tak tertahankan.
"Flo.....!!"
Di waktu yang sama, terdengar teriakan Baruna dari depan pintu utama rumahnya. Mutiara, Arkha dan juga Floretta sontak menoleh ke arah pintu itu secara bersamaan.
Nampak Baruna berjalan tertatih untuk segera mendekat ke arah mereka. Walau cedera di kakinya membuat Baruna masih sangat sulit untuk berjalan, tetapi Baruna tetap berusaha berjalan secepat mungkin.
"Baruna....!!" Flo juga berteriak memanggil nama itu dan ikut menggerakkan kakinya untuk menghampiri Baruna.
"Una....! Masuk dan jangan pernah kau temui wanita itu!" cegah Arkha. Kakinya juga ikut bergerak ingin mencegat Baruna agar tidak menemui Flo.
"Biarkan saja mereka, Bang!" pekik Mutiara seraya bergegas mencekal tangan Arkha dan melarangnya mencegah putra mereka menemui gadis pujaan hatinya itu. Mutiara menggelengkan kepala dan tersenyum penuh arti serta menatap wajah suaminya yang terlihat masih kesal. Arkha pun diam dan hanya membuang nafasnya kasar, dia paham maksud istrinya mencegahnya untuk melarang Baruna menemui Floretta.
Sementara itu, Baruna tetap menyeret langkahnya, terseok menuju ke arah Flo yang juga setengah berlari ke arahnya. Perintah Arkha itu pun sama sekali tidak dipedulikannya. Melihat orang yang paling dia rindukan kini ada di rumahnya, tentulah dia sangat tidak mungkin untuk tidak menemuinya.
"Flo!" Baruna langsung memeluk erat tubuh gadisnya itu dengan sangat erat.
"Baruna!" Flo juga membalas memeluk Baruna sangat erat.
"Kau tahu dari mana aku ada disini, Flo?" bisik Baruna penuh haru. Dia merasa bersalah karena selama ini menyembunyikan identitasnya dari Flo.
"Aku sudah tahu semuanya tentang dirimu, Bar. Aku juga tahu kalau selama ini kau membohongiku dan mengatakan kau hanya seorang perantau di kota ini." Flo tersenyum samar.
"Maafkan aku, Flo. Aku tidak bermaksud berbohong padamu. Aku hanya tidak ingin kau salah paham dan menjauhiku setelah tahu siapa aku." Baruna juga tersenyum.
"Aku tidak mempermasalahkan semua itu, Bar. Aku tahu kau berbohong agar aku tidak canggung padamu, kan?" Flo menggeleng. Meski dia sudah tahu kalau Baruna selama ini berbohong tentang dirinya, tetapi semua itu tidak terlalu dipermasalahkannya. Justru, Flo menganggap semua itu adalah kebesaran hati seorang Baruna yang rela mengaku sebagai seorang pria biasa hanya agar dirinya tidak canggung terhadap Baruna yang merupakan seorang putra dari orang terpandang di kota itu.
"Aku sangat mencemaskanmu, Flo. Aku takut Diaz dan Daniel menyakitimu." Baruna memegang pundak Flo, menatap wajahnya sambil mengusap air mata haru yang seketika mengalir deras di pipi Flo saat keempat netra mereka beradu.
"Aku juga mengkhawatirkanmu, Bar. Aku tahu kakakku sudah melakukan perbuatan yang tidak baik terhadapmu, karena itulahah aku kesini untuk menemuimu," ucap Flo, membalas menatap mata Baruna yang juga tampak berkaca-kaca.
"Katakan padaku apa saja yang sudah terjadi, Flo? Aku dan Kak Dila mencarimu kemana-mana. Rumahmu kosong dan kau juga sudah tidak pergi ke kantormu beberapa hari," telisik Baruna sangat ingin tahu, namun juga dengan kekhawatiran yang teramat sangat, terdengar jelas dari nada suaranya.
__ADS_1
"Aku ... aku-," bibir Flo kelu tak mampu berucap. Matanya menatap nanar ke wajah Baruna yang dipenuhi luka lebam. Pandangan Flo juga tertuju kepada kaki kanan Baruna yang masih dibalut perban dan membuatnya tidak bisa berdiri tegak. Hatinya terasa begitu pedih menyaksikan semua itu.
"Aku baik-baik saja, Bar. Kak Diaz menjemput dan membawaku ke rumahnya. Dia ingin mempertemukan aku dengan Daniel," ucap Flo tidak mengungkapkan yang sejujurnya.
"Apa mereka menyakitimu?" tanya Baruna lagi mencoba mencari tahu.
Flo hanya menggeleng. "Tidak, Bar. Kak Diaz dan Daniel tidak pernah menyakitiku," jawabnya kembali berbohong.
"Kau terluka parah bahkan hampir kehilangan nyawamu gara-gara aku, Bar." Flo mengusap pipi Baruna. Berbagai perasaan bergemuruh di dadanya. Melihat keadaan Baruna, dia semakin tidak bisa menahan rasa bersalah yang kian merajam di hatinya. Dia merasa bahwa karena dirinya lah, Baruna harus terluka dan dimusuhi oleh Daniel.
"Bukan, Flo! Semua ini bukan karena kamu." Baruna kembali memeluk Flo sangat erat.
"Aku sangat merindukanmu, Flo. Aku mencintaimu dan ku tidak ingin berpisah lagi darimu. Tidak akan pernah aku biarkan Diaz dan Daniel menyakitimu," ucap Baruna.
"Aku juga sangat mencintaimu, Baruna. Tapi, hubungan kita ini akan membahayakan keselamatanmu dan juga keluargamu," Flo membatin. Dia menyadari bahwa hubungannya dengan Baruna akan berakibat buruk bagi semua orang di sekeliling Baruna.
"Tapi Kak Diaz ataupun Daniel tidak ada menyakiti aku, Bar!" ungkap Flo berbohong sambil melepaskan pelukan Baruna.
"Aku baru sadar kalau tujuan Kak Diaz selama ini tidak salah. Dia tidak sejahat yang aku pikirkan, Bar. Dia menjodohkan aku dengan Daniel, agar kehidupanku di masa depan jauh lebih baik." Flo terus berbohong.
"Kau bilang apa, Flo?" Baruna melebarkan matanya mendengar kalimat yang diucapkan Flo.
"Banyak alasan yang tidak akan kamu pahami walaupun aku jelaskan padamu, Bar. Kak Diaz dan aku banyak berhutang budi terhadap Daniel. Kami tidak lagi hidup di jalanan itu juga karena dia. Dan karena itulah, aku memutuskan akan menerima perjodohanku dengan Daniel." Flo menundukkan wajahnya. Dia menarik nafasnya sangat dalam, berusaha menahan air matanya agar tidak semakin deras berhambur membanjiri wajahnya.
"Tidak mungkin, Flo. Katakan padaku kalau kau sedang berbohong terhadapku. Aku yakin pasti Diaz sudah mengancammu kan? Selama ini, Diaz juga selalu memaksakan kehendaknya terhadapmu!" sergah Baruna semakin tidak percaya.
"Kenyataannya semua itu benar, Bar. Tujuanku kesini sebenarnya adalah untuk mengatakan padamu agar mulai sekarang kamu belajar melupakan aku dan menjauh dariku. Aku tidak pernah serius menjalin hubungan denganmu." tampik Flo dengan kalimat tidak jujur.
"Tidak, Flo. Jangan katakan hal itu padaku. Aku tidak mungkin melupakanmu karena aku sangat mencintaimu!"
"Bagaimanapun juga, Kak Diaz adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki, Bar. Dia kakak kandungku. Aku yang selalu salah paham terhadapnya selama ini. Aku juga salah karena sudah membencinya. Yang sebenarnya terjadi adalah dia ingin melihatku hidup bahagia bersama laki-laki yang tepat dan aku juga dengan senang hati akan menikah dengan Daniel."
Deg!
Baruna terperanjat, jantungnya berdetak sangat kencang. Ucapan Flo membuat sejuta kecewa kini memenuhi sukmanya.
"Senang? Coba katakan sekali lagi, Flo! Apa benar, kau senang menikah dengan Daniel?" bantah Baruna sambil melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arah Flo.
__ADS_1
"Senang atau sangat terpaksa, Flo?" Baruna tersenyum miring. Hatinya sangat tidak bisa menerima pengakuan bohong Flo.
"Aku sama sekali tidak terpaksa, Baruna! Aku akan menikah dengan Daniel secepatnya. Dengan begitu aku akan bisa berdamai dengan kakakku dan hidupku juga akan sangat berkecukupan bersama Daniel!" tegas Flo dengan suara bergetar dan isak tangis yang tertahan. Apa yang dia ucapkan itu tentu saja sangat bertentangan denga isi hatinya yang sesungguhnya.
Baruna menghela nafas dalam-dalam. Apa yang disampaikan Flo membuat sejuta perasaan bergejolak menyesakkan dadanya.
Kecewa? Sudah pasti! Dia sama sekali tidak menyangka kalau secepat itu Flo berubah pikiran dan memilih berpihak kepada kakaknya yang bahkan selama ini sangat dibencinya.
"Maafkan aku, Bar. Aku harus segera pergi dari sini. Aku tidak ingin Kak Diaz melihatku disini." Flo mengusap air matanya.
"Selamat tinggal, Baruna. Mulai saat ini kita harus jalani hidup sendiri-sendiri dan carilah wanita lain yang lebih pantas menjadi pendampingmu!" Flo membalikkan badannya membelakangi Baruna yang terdiam membeku di tempat semula.
Baruna tetap terdiam seribu bahasa tanpa bisa mencegah Flo yang kini berlalu dari hadapannya. Hatinya begitu sakit. Pertama kalinya dalam hidupnya dia merasa jatuh cinta kepada seorang wanita, tetapi wanita itu justru membuatnya merasa kecewa.
Baruna hanya menatap kosong ke depan sewaktu Flo melangkah pergi meninggalkannya. Hatinya sangat ingin menahan Flo untuk tidak pergi. Akan tetapi, egonya sebagai seorang laki-laki juga membuncah. Ini pertama kalinya dia ditolak oleh seorang wanita, sehingga dia memilih diam dan membiarkan saja Flo berlalu tanpa ada keinginan untuk mencegahnya.
Flo berjalan sambil menundukkan wajahnya. Air mata yang sedari tadi mampu ditahannya akhirnya meluncur deras tanpa diminta.
"Saya permisi, Om, Tante!" ucap Flo menahan isak tangisnya, ketika dia lewat di hadapan Arkha dan Mutiara yang masih berdiri di tempat yang sama.
Mereka berdua juga diam dan tak berani berkomentar melihat yang terjadi antara Floretta dan putranya.
"Maafkan saya sudah menciptakan banyak masalah di keluarga kalian." Flo membungkukkan punggungnya dan terus melangkah keluar melewati pintu gerbang utama rumah besar Kediaman Waradana itu.
Mutiara dan Arkha saling menatap tanpa bisa melakukan apapun selain membiarkan saja Flo pergi dari rumah mereka.
"Kasihan gadis itu, Bang. Aku tahu dia mangatakan hal bohong terhadap Baruna. Dia sengaja berkata tidak jujur agar Baruna bisa melupakannya," lirih Mutiara dengan air mata yang juga menggenang di sudut matanya.
"Iya, Sayang. Aku juga kasihan terhadap mereka berdua. Aku tidak tega memisahkan mereka. Tapi apa boleh buat, ini adalah keputusan terbaik yang harus mereka jalani demi keselamatan semua orang termasuk Floretta sendiri." Arkha mengusap wajahnya dan menoleh untuk mengarahkan pandangannya pada Baruna yang terlihat sangat gundah dengan semua terjadi.
Arkha pun bisa merasakan apa yang tengah dirasakan putranya. Ditinggal oleh kekasihnya ketika masih sangat sayang padanya, pastilah sangat menyakitkan.
......................
Guys, sampai disini ada yang baper nggak nih?
Ayo... Author tunggu komen serta jempolnya ya.
__ADS_1
Setelah episode ini akan makin banyak yang membuat baper!
Selamat menunggu kelanjutannya ya.....