
"Selamat pagi, Pa."
"Pagi, Ma."
Baruna melangkah gontai menuju ruang makan dan menyapa semua orang yang sudah menunggunya untuk sarapan pagi bersama disana.
"Pagi, Una," ucap Ardila membalas sapaan Baruna, mendahului Arkha dan Mutiara.
"Pagi, Kak." Baruna langsung duduk di salah satu kursi di sebelah Ardila.
Baruna sudah berpakaian rapi dan siap berangkat bekerja pagi itu. Namun, wajahnya terlihat lesu dan tidak ada pancaran semangat di nampak disitu.
"Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu kurang sehat?" tanya Mutiara, ketika menyadari wajah putranya terlihat sedikit pucat.
"Nggak apa-apa, Ma. Hanya kurang tidur saja," kilah Baruna menyembunyikan segala keresahan hatinya dari semua orang keluarga itu.
"Belakangan ini, nggak tahu kenapa, aku terkena insomnia. Tidurku tidak pernah nyenyak," terangnya lagi berkeluh kesah.
Mendengar pengakuan Baruna, Mutiara menoleh ke arah suaminya yang juga ikut menoleh dan menatap ke wajah istrinya. Lalu sejenak keduanya saling menatap.
"Hmmm ... itu pasti karena kamu kepikiran terus sama Floretta, kan?" gurau Ardila sedikit berkelakar menggoda adiknya.
Baruna tidak menjawab, dia hanya menanggapi dengan gerakan kepala seraya menghela nafas dalam. Perlahan diraihnya gelas jus yang sudah disajikan Mutiara di hadapannya dan perlahan meneguknya.
"Hari ini, papa akan mengerahkan lebih banyak orang-orang suruhan papa untuk melanjutkan mencari Flo dan Diaz, Una. Jadi papa harap, kamu tidak usah terlalu khawatir dan sampai stress gara-gara memikirkan hal ini, Una," ujar Arkha.
Tidak ingin putranya terlalu bersedih karena selalu memikirkan wanita yang dicintainya itu, Arkha mencoba sekedar menghiburnya.
"Baik, terima kasih, Pa." Baruna hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
Sarapan pagi keluarga hari itu berlangsung cepat. Meski hujan masih tetap awet mengguyur marcapada sedari tadi malam, Arkha bersama Baruna tetap lekas meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke kantor.
__ADS_1
.
"Pagi, Bos!" sapa Rendy, ketika ia melihat Arkha bersama Baruna sudah tiba di kantornya.
"Pagi, Om Rendy," balas Baruna.
"Ikut aku ke ruanganku, Rendy!" perintah Arkha, tetapi dia tetap tidak berhenti dan terus mengayun langkahnya untuk masuk ke ruangannya diikuti oleh Baruna.
"Baik, Bos!" Rendy begegas menyusul langkah cepat atasannya itu.
"Bagaimana kelanjutan upaya pencarianmu, Rendy?" tanya Arkha setelah mereka bertiga sudah sama-sama mengambil tempat duduk di ruang kerja Arkha.
"Saya dan anak buah saya sudah terus melakukan pencarian, Bos. Kami juga sudah merencanakan untuk menyisir semua pulau-pulau terpencil di wilayah timur dan tengah negeri ini. Tapi karena cuaca kurang bersahabat beberapa hari ini, jadinya kami kami masih menunda untuk melaksanakannya," terang Rendy.
"Apa tidak mungkin mereka sudah pergi ke luar negeri, Om?" terka Baruna sekedar ikut menimpali.
"Sepertinya tidak, Baruna. Aku sudah menugaskan orang-orangku mengawasi semua kantor-kantor imigrasi. Sampai saat ini tidak ada bukti dan keterangan yang menunjukkan bahwa mereka berdua pergi ke luar negeri," tampik Rendy.
"Kemungkinan terbesar adalah mereka berada di salah satu pulau di kawasan timur negeri ini. Karena aku sudah menemukan dugaan yang mengarah pada fakta, kalau malam itu mereka menyeberang bersama kapal Ro-Ro yang mengangkut bayak wisatawan asing," sambung Rendy mengungkap semua informasi yang sudah dia dan anak buahnya berhasil kumpulkan terkait Floretta dan Diaz.
"Kalau memang seperti itu, sebaiknya segera lakukan pencarian ke pulau-pulau yang banyak dikunjungi wisatawan asing, Om. Cukup masuk akal kurasa kalau mereka dengan mudah menyembunyikan identitas disana tanpa ada yang mencurigainya," timpal Baruna.
"Pasti, Baruna!" Rendy merespon dibarengi anggukan kepalanya.
"Ya, Tuhan! Semoga kali usaha Om Rendy membuahkan hasil. Aku ingin segera bisa menemukan, Flo. Jangan sampai Diaz menjodohkannya dengan pria lain lagi," harap Baruna, dengan terus bedoa dalam hati.
Tring! Tring! Tring!
Di tengah keseriusan ketiga orang itu berbincang dan membahas rencana mereka melanjutkan upaya pencarian terhadap Diaz dan Flo, ponsel Rendy berdering nyaring dan untuk sejenak sukses mengheningkan suasana di antara mereka.
"Maaf, Bos. Saya terima telepon sebentar," potong Rendy seraya beranjak dari tempat duduknya sambil meraih ponsel dari saku celananya. Rendy berdiri sedikit menjauh dari tempat duduk Baruna dan Arkha. Beberapa menit dia terdengar sangat serius berbicara dengan seseorang yang tengah melakukan panggilan dengannya.
__ADS_1
"Baru saja saya menerima kabar dari anak buah saya yang bertugas di pelabuhan, kalau ada sebuah cruise yang mengalami kecelakaan tidak jauh dari area pelabuhan pribadi milik perusahaan kita, Bos!" seru Rendy setelah mengakhiri percakapan melalui ponselnya.
"Apa ... kecelakaan?" Kedua alis Arkha tersentak bersamaan.
"Iya, Bos! Kejadiannya baru beberapa menit yang lalu dan di laut saat ini sedang terjadi badai besar, kemungkinan kapal pesiar itu sudah dihantam gelombang yang sangat dahsyat!" pekik Rendy.
"Lihat ini, Bos!" Rendy menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Arkha. "Ini foto yang berhasil anak buah saya ambil dari area pelabuhan kita," terangnya.
Mata Arkha terbelalak lebar ketika melihat foto yang ada di ponsel Rendy itu.
"Kalau tidak salah, ini kapal pesiar tempat Genta bekerja sekarang, Rendy?" Meskipun tidak terlalu jelas, tetapi dari logo pada bendera yang masih bisa terlihat dari kapal tersebut, Arkha ingat kalau itu adalah kapal pesiar yang cukup terkenal. Sebelum Genta resign, dia memang pernah bercerita kepada Arkha bahwa dia akan bekerja di kapal tersebut sebagai kapten kapal.
"Hah ... Ayah Genta?!" Mata Baruna ikut membulat. Dia segera menyambar ponsel milik Rendy dari tangan Arkha dan ikut memperhatikan foto itu dengan seksama.
"Iya benar, Pa. Ini adalah cruise tempat Ayah Genta bekerja sekarang!" seru Baruna yakin. Dia juga tahu pasti kemana Genta pindah bekerja, setelah pria yang masih selalu dipanggilnya 'Ayah' itu mengundurkan diri dari perusahaan papanya, karena alasan keluarga.
"Aku akan coba hubungi Genta." Arkha ikut meraih ponsel miliknya dan mulai menelepon Genta, mantan asisten kepercayaannya itu.
"Ponsel Genta tidak bisa dihubungi!" kalut Arkha.
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Genta, Arkha tetap tidak mendapat jawaban, bahkan ponsel Genta tidak aktif.
"Aku harus ke pelabuhan sekarang, Pa! Aku harus pastikan tentang berita ini. Semoga saja Ayah Genta sedang tidak bertugas di kapal itu!" sergah Baruna.
"Papa akan ikut denganmu, Una!" timpal Arkha.
"Tidak perlu, Bos! Anda tidak usah ikut ke pelabuhan. Anda di kantor saja, biar saya dan Baruna yang kesana!" cegah Rendy.
"Ya sudah. Baik, Rendy. Kau dan Baruna segeralah pergi ke pelabuhan. Apapun berita yang kalian dapatkan disana, segera kabari aku!" Arkha menggangguk.
"Siap, Bos!"
__ADS_1
Baruna bersama Rendy kemudian bergegas keluar dari ruang kerja Arkha.
Hujan masih turun dengan derasnya, banjir juga sudah mulai menggenangi beberapa ruas jalan kota, ketika mobil yang dikendarai oleh Rendy dan Baruna meluncur cepat menuju pelabuhan pribadi milik perusahaan Arkha.