Muara Hasrat Baruna

Muara Hasrat Baruna
Eps. #65 Tidak Bergairah


__ADS_3

Baruna dan Jessica menyelesaikan makan malam romantis itu dengan cepat tanpa banyak berbicara, karena pada prinsifnya mereka sama-sama memang tidak menginginkan perjodohan di antara mereka.


Acara itupun tidak meninggalkan kesan yang berarti bagi mereka berdua.


Setelah makan malam selesai, keduanya bergegas meninggalkan restaurant fine dinning itu. Baruna tetap bertanggung jawab untuk mengantar Jessica pulang ke rumahnya seperti yang sedari awal sudah dititahkan oleh Andreas.


"Bar," bisik Jessica dengan nada merengek manja dan menatap Baruna dengan senyum menggoda.


Saat itu Baruna tengah sibuk menyetir dan mobil yang dikendarainya sudah melaju perlahan di padatnya jalanan kota.


"Hmmm." Baruna hanya menanggapi dengan tersenyum tipis.


"Apa kita akan langsung pulang?"


"Iya. Memangnya kamu mau kemana lagi?"


"Mmm ... apa nggak sebaiknya kita ke hotel dulu dan check in sebentar?" bujuk Jessica genit.


Baruna menghela nafas dalam dan menelan ludah mendengar pertanyaan Jessica. Sejujurnya dia sangat ingin menolak. Namun, dia ingat komitmen yang pernah dia buat bersama Jessica. Selama mereka sama-sama belum menikah, maka sudah kewajiban mereka untuk saling memenuhi kebutuhan batin masing-masing.


"Aku merasa kurang fit hari ini, Jess. Sebaiknya lain kali saja," tolak Baruna.


Jessica seketika mendengus dan memasang wajah cemberut mendengar penolakan Baruna.


"Well, kalau kamu nggak mau, itu artinya kamu ingin aku benar-benar menerima pejodohan kita dan aku akan minta pada daddy agar segera melangsungkan pertunangan kita," ketus Jessica mengancam.


Lagi-lagi Baruna hanya bisa menghela nafasnya menanggapi ancaman Jessica.

__ADS_1


"Ok! But this is maybe for the last time. (Baiklah! Tapi mungkin ini yang terakhir kalinya)."


"Why? (Kenapa?)" Jessica membulatkan matanya.


"I am falling in love with someone else and I love her so much (Aku jatuh cinta pada gadis lain dan aku sangat mencintainya)." jawab Baruna jujur.


"That's fine!" Jessica hanya mencebikkan bibirnya dan tidak terlalu peduli dengan alasan Baruna. Baginya yang terpenting bisa bersenang-senang malam itu bersama pria yang selama ini selalu bisa memuaskannya.


Baruna lalu mengarahkan mobilnya ke sebuah hotel berbintang yang letaknya searah menuju ke rumah Jessica.


Setelah memesan kamar sebagai walk in guest, Baruna dan Jessica lalu masuk ke sebuah kamar deluxe yang mereka pesan disana. Kamar yang tidak terlalu mewah, tetapi cukup untuk mereka melepaskan hasratnya malam itu.


Baruna menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan menyandarkan punggungnya di head board tempat tidur di kamar itu. Matanya memenatap ke arah Jessica yang sudah mulai melucuti pakaiannya sendiri untuk memperlihatkan kemolekan tubuhnya ke hadapan Baruna.


Dengan sisa pakaian dalam saja yang masih melekat di tubuhnya, Jessica mendekati Baruna dan ikut duduk di tepi ranjang di sebelah Baruna. Jessica mendekatkan wajahnya ke wajah Baruna dan mulai menyesap bibir Baruna dengan begitu liar. Baruna memang mengakui kalau Jessica adalah gadis yang hypers*x sehingga dia sangat agresif saat di atas ranjang.


Jessica mulai membuka satu persatu kancing kemeja Baruna dan mencumbu dada bidang di balik kemeja itu dengan brutal. Kecupan-kecupan penuh gairah di daratkannya di semua bagian sensitif di tubuh Baruna. Setelah puas bermain di tubuh kekar itu, Jessica lalu melepaskan pengait penghalang dua pucuk keindahannya.


Dengan posisi menindih tubuh Baruna dan kedua pahanya mengapit pinggang Baruna, Jessica menunjukkan gerakannya yang sangat sensasional. Jessica sengaja mendekatkan dadanya ke wajah Baruna serta memberi kesempatan agar Baruna menikmati gundukan buah kenyal miliknya. Sebagai respon, Baruna pun menyentuh dua gundukan itu lalu merremasnya perlahan. Dia mulai membuka mulutnya dan membiarkan lidah nakalnya bergerilya di atas pucuk coklat muda nan ranum itu.


"Aaahhh......!" d*sahan panjang terus keluar dari bibir Jessica. Sensasi cairan saliva dari lidah Baruna memberinya kehangatan tiada tara yang membuat tubuhnya menggeliat dan menegang hebat.


Setelah cukup puas menikmati permainan di bagian atas, Jessica bisa merasakan bagian intinya kini mulai basah, tanda gairahnya sudah memuncak. Bergegas dia turun dari tubuh Baruna dan meraba bagian pangkal paha Baruna.


Gadis itu mendengus kasar ketika merasakan bagian paling menggairahkan di tubuh Baruna itu bagaikan tidak bereaksi seperti biasanya. Akan tetapi, Jessica tidak peduli. Dia bergegas menurunkan resleting celana Baruna dan meremas benda yang masih belum terlihat bangun dari tidurnya di balik pakaian dalam Baruna yang masih menutupinya. Tanpa ragu, Jessica mulai mendekatkan bibirnya ke pangkal paha Baruna dan dengan liar lidahnya juga mengembara, mellumat dan memberi sentuhan-sentuhan rangsangan dengan hisapan bibirnya.


Baruna hanya memejamkan matanya sambil mengusap wajahnya. Entah mengapa malam itu dia sama sekali tidak merasakan gairah. Tatkala Jessica begitu berhasrat menjamahnya, dia bahkan tidak ingin mengimbangi. Pikirannya selalu teringat akan beberapa malam indah yang pernah dia lewati bersama Floretta. Gadis polos itu bahkan tidak sepiawai Jessica saat di atas ranjang, akan tetapi mampu membuatnya sangat bergairah.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, Bar? Tidak biasanya kamu letoy seperti ini?" dengus Jessica kesal. Berbagai sentuhan dan gaya sudah dilakukannya, tetapi keperkasaan Baruna tetap tidak bergeming. Masih saja terlelap dalam tidur nyenyaknya.


"Maafkan aku, Jess. Mungkin aku kelelahan. Aku sama sekali tidak bergairah malam ini," aku Baruna jujur.


"Aaahhh, payah kamu, Bar!" hardik Jessica cemberut. Dia sangat kecewa karena Baruna benar-benar tidak memiliki hasrat untuk menyentuhnya.


"Aku tetap akan memuaskanmu, Jess." Baruna lalu berbalik membaringkan tubuh Jessica di bawah tubuhnya. Baruna mengarahkan tangannya ke bagian inti Jessica dan memainkan jarinya di atas bagian paling indah di tubuh Jessica yang sudah sangat basah itu.


"Aaahhh, Aku tidak suka ini, Bar!"


Jessica memukul tangan Baruna agar tidak perlu lagi bermain di area sensitifnya itu. Dengan raut penuh kekecewaan, Jessica lalu beranjak dari atas ranjang, memunguti semua pakaiannya dan kembali mengenakannya.


"Ayo antar aku pulang, Bar!" ketusnya bernada kecewa. Sekian lama menjalin hubungan dengan Baruna, baru kali ini dia benar-benar merasa tidak terpuaskan. Baruna bahkan terlihat sangat tidak ingin bersentuhan dengannya.


"Sekali lagi maafkan aku, Jess. Mungkin hari ini aku kurang sehat, itu sebabnya aku sangat tidak bergairah," ucap Baruna menyesal.


"Bukan tidak bergairah, Bar. Tapi aku tahu kalau kamu sedang punya beban pikiran. Kamu pasti cuma ingat kekasihmu yang menghilang bagai di telan bumi itu, kan?" terka Jessica dengan seringai kekecewanya.


Setelah gagal memenuhi hasratnya malam itu, akhirnya Baruna dan Jessica memilih untuk segera check out dari hotel tersebut. Baruna mengantarkan Jessica pulang ke rumahnya terlebih dahulu, baru kemudian dia sendiri pulang ke rumahnya. Selama perjalanan Baruna terus berpikir akan dirinya.


"Apa yang sebenarnya terjadi terhadapku? Mengapa malam ini aku tidak memiliki gairah sama sekali?"


Tangan kanan Baruna tetap fokus di setir mobilnya sementara tangan kirinya menyentuh pangkal pahanya. Aset paling berharga di tubuhnya itupun tetap tidak bereaksi dan tetap tertidur dengan pulasnya.


"Flo ... cuma kamu yang bisa mengembalikan semuanya seperti dulu," gumamnya.


Baruna semakin menyadari, setelah bertemu dengan Floretta, kini bukan hatinya saja yang beku untuk wanita lain, bahkan hasratnya pun tidak bisa bangkit apabila tidak bersama wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.

__ADS_1


__ADS_2