
Flo menundukkan wajahnya. Meski merasa kecewa akan kebohongan Baruna, tetapi hatinya berusaha meyakinkan kalau Baruna melakukan semua itu pastilah karena suatu alasan yang memang sengaja tidak diungkapkannya.
"Tidak, Diaz! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan penjahat itu! Bagiku Baruna tetap adalah satu-satunya pria yang aku cintai dan aku tidak pernah peduli siapa dia sebenarnya!"
Dengan suara bergetar, Flo tetap dengan tegas menolak dan tidak mau menuruti keinginan kakaknya.
"Selama ini aku selalu membujukmu dengan cara baik-baik, Flo. Aku harap kamu bisa mengerti maksudku dan mengikuti kemauanku! Tapi ternyata, kamu itu sangat keras kepala! Kalau kau tidak mau, maka maafkan aku karena aku akan memaksamu!" ancam Diaz dengan suara keras. Dia semakin kesal dengan sikap keras kepala Floretta.
"Malam ini juga, aku akan menyerahkanmu kepada Daniel!" tekan Diaz sambil kembali menatap tajam kepada Flo.
"Ingat satu hal lagi, Flo! Baruna dan juga semua orang di Keluarga Waradana sebentar lagi akan aku habisi! Kau tidak perlu berharap apapun darinya, karena mereka semua akan hancur di depan mataku!"
Dengan matanya yang menyala dan sorot dendam yang tersirat di raut wajahnya, Diaz mencengkram kedua tangan Flo lantas menyeretnya, memaksa membawanya menuju ke sebuah kamar yang ada di rumahnya itu.
"Lepaskan aku, Diaz! Aku tidak mau! Jangan paksa aku seperti ini!" Flo terus berteriak dan meronta, akan tetapi Diaz tidak memperdulikannya.
Diaz lalu mendorong kasar tubuh Flo untuk masuk ke kamar itu, hingga Flo terjengkang dan jatuh di atas sebuah ranjang disana.
Tanpa belas kasihan ataupun rasa iba sedikitpun, Diaz meninggalkan Flo sendiri dan segera mengunci pintu kamar itu dari luar.
"Buka pintunya, Diaz! Keluarkan aku dari sini!" teriak Flo merengek seraya terus menggedor dan memutar-mutar gagang pintu kamar itu sekuat tenaga.
"Diaz, kamu sangat jahat kepadaku. Sampai hati kau melakukan semua ini terhadapku!" gerutu Floreta seraya menangis tersedu. Air mata seketika tumpah membasahi pipinya. Marah, sedih, kecewa dan takut bercampur aduk di dalam jiwanya.
Flo terduduk lemas di belakang pintu kamar itu tanpa tahu apa yang bisa dia lakukan untuk bisa keluar dari sana.
"Diaz! Kamu memang sangat kejam, tidak punya perasaan!" Bibir Flo mengumpat penuh rasa murka. Tangis kecemasan serta kekecewaan semakin tidak dapat dibendungnya. Dia sangat takut apabila Diaz betul-betul akan menyerahkannya kepada Daniel, seorang penjahat yang sangat ditakutinya karena terkenal kejam dan bengis. Selain itu, dia juga merasa sangat kecewa. Seorang kakak yang seharusnya menjaga dan melindunginya, justru malah sebaliknya. Diaz sangat tega dan sampai hati memaksakan keinginannya terhadap dirinya hanya demi uang dan juga kekuasaan yang dijanjikan Daniel terhadapnya.
"Baruna!" Flo mengusap wajahnya, menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangannya. "Diaz sudah tahu hubunganku dengannya. Setelah ini, Diaz pasti akan mencoba menyakiti Baruna. Apalagi dia adalah putra dari Arkha Waradana, orang yang sangat dibencinya. Diaz pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk membalaskan dendamnya," gumam Flo.
__ADS_1
"Pagi ini Baruna tidak datang menjemputku. Dan tiba-tiba saja, anak buah Diaz datang menculikku. Aku yakin semua ini pasti ada kaitannya." Flo mengerutkan dan menyentuh dahinya pelan, seketika ia teringat semua kejadian pagi itu. Flo berusaha menyimpulkan sesuatu dan dia sangat yakin kalau Daniel ataupun Diaz pasti ada di balik semua hal yang terjadi padanya.
"Oh, Tuhan! Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Baruna! Tolong bantu aku menemukan cara agar bisa keluar dari sini! Aku tidak mau menikah dengan Daniel dan aku juga harus menyelamatkan Baruna beserta keluarganya dari dendam Diaz yang tidak beralasan itu!" Flo menyatukan kedua tangannya di dadanya serta memejamkan matanya. Dalam hati dia terus berdoa, berharap Baruna dan semua keluarganya terhindar dari segala mara bahaya yang sedang mengintai mereka.
Perlahan Flo bangun dan beranjak dari pintu itu. Flo berdiri mondar-mandir di kamar itu sambil terus memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk bisa lepas dari cengkraman kakaknya, sehingga Diaz tidak akan sampai menyerahkannya kepada Daniel.
****
Waktu terus berjalan, pagi hari itu kini sudah berganti malam.
Di sebuah rumah besar yang setiap sudutnya dijaga ketat oleh pria-pria berbadan tegap, nampak seorang pria tengah duduk di atas sofa mewah di dalam kamarnya. Pria itu bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek saat itu. Di tangannya, pria itu memegang sebuah wine glass sembari meneguk minuman berwarna merah di dalam gelas itu secara perlahan.
"Mau tambah lagi, Honey?"
Seorang wanita cantik berpakaian sangat minim duduk di tepi sofa dan menyodorkan sebotol red wine kehadapannya.
Pria itu hanya tersenyum tipis dan membiarkan saja wanita itu menuangkan wine lagi ke dalam gelasnya.
Dengan manja wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Daniel sambil mengecup pipinya beberapa kali.
Daniel hanya memasang wajah datar serta menaikkan sedikit ujung bibirnya mendengar pertanyaan wanita itu. "Aku akui kamu memang sangat hot, Baby. Tapi sayangnya kamu bukan perawan lagi. Aku hanya akan terpuaskan kalau mendapatkan seorang gadis yang masih suci!" sahut Daniel sambil tersenyum acuh.
"Jaman modern seperti sekarang ini, mana ada gadis yang masih perawan?" sungut wanita itu ikut memberi cibiran.
"Tentu ada. Dan sebentar lagi aku pasti akan mendapatkannya!" ujar Daniel sangat yakin dengan ucapannya. Senyum sinis tergambar di bibirnya kala teringat seseorang yang sangat membuatnya terobsesi.
Tok! Tok! Tok!
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan di pintu kamar Daniel.
__ADS_1
"Siapa?" teriak Daniel menyahut.
"Pak Diaz sudah datang, Bos!" sahut seseorang yang sedang ada di depan dan mengetuk pintu.
Senyum semakin mengembang di bibir Daniel. Dia tahu apabila pelayannya berani mengetuk pintu saat dia tengah bersama seseorang di kamarnya, sudah pasti akan ada sebuah kabar baik untuknya. "Ok, tunggu sebentar!" sahutnya senang.
Daniel bergegas bangun dari tempat duduknya dan memakai semua pakaiannya.
"Kau sekarang pergilah! Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi saat ini!" perintah Daniel kepada wanita teman ranjangnya malam itu.
"Baik, Honey!" Tanpa berani membantah, wanita itu pun segera keluar dari kamar Daniel.
Daniel kemudian melangkahkan kakinya ke ruang tamu dan menemui Diaz yang sudah ada disana menunggunya.
Senyum sumringah kembali terlukis di bibir Daniel, begitu dia melihat seseorang yang juga ada bersama Diaz di ruangan itu.
"Bagus, Diaz! Akhirnya kau menepati janjimu untuk membawa Floretta kesini untukku." Daniel mengacungkan jempolnya sambil menoleh ke arah seorang wanita cantik yang sedang duduk dan menundukkan kepalanya di sebelah Diaz.
"Saya tidak akan mungkin menjilat ludah sendiri, Bos. Kalau saya sudah berjanji, pasti akan saya tepati," jawab Diaz tersenyum penuh percaya diri.
"Diaz benar-benar keterlaluan! Dengan bangganya dia menyerahkan aku kepada pria bejat ini. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Diaz!" bantin Flo mengumpat marah.
"Aku harus bisa melarikan diri dari tempat ini!" Pikiran Flo meyakinkan kalau dia pasti akan bisa mendapatkan kesempatan untuk bebas dan keluar dari rumah Daniel.
......................
Dear Silent Readers,
Harap tinggalkan jempol dan sarannya, agar cerita ini lebih menarik dan bisa memenuhi keinginan pembaca semua.
__ADS_1
Terimakasih dan tetap dukung karya ini ya.... 🙏🙏♥️