
"Una, bangun!" Ardila mengguncang-guncangkan tubuh Baruna yang sudah tidak berdaya, terkulai di atas jalan aspal setelah tendangan keras dari pria bertato itu.
"Kak Dila!" Hanya kata itu yang keluar lirih dari mulut Baruna. Tubuhnya lemah dan ada setetes darah yang keluar dari hidungnya.
"Una ... kamu harus kuat! Bangunlah kita harus segera kabur dari sini!" suara Ardila bergetar, rasa khawatir akan keadaan adiknya terpancar jelas di wajahnya.
"Tolong! Tolong! Tolong....!!" Ardila berteriak sekencang-kencangnya, berharap ada orang yang mendengar dan menolong mereka. Ardila tahu kalau mereka masih dalam bahaya, karena belum lepas dari dua pria yang berniat menyakiti mereka.
"Hahaha! Percuma berteriak! Tidak akan ada seorangpun yang menolong kalian! Hidup kalian akan berakhir hari ini!" Pria bertato sudah ada di dekat mereka dengan pisau juga masih terhunus di tangannya. Pria itu tergelak dan terdengar semakin menegaskan ancamannya.
"Sekarang, silahkan ucapkan kata terakhir sebelum kalian aku kirim ke neraka! Hahaha....!" Tawa pria itu terus menggelegar.
Pria bertato itu lalu menarik lengan Ardila dan membawanya berdiri di hadapannya. Dia mendekatkan tubuh Ardila ke tubuhnya sambil menodongkan pisaunya tepat di depan wajah Ardila.
"Tolong! Aku mohon jangan sakiti aku!" Ardila memejamkan matanya dan menahan nafas, sangat ketakutan merasakan pisau tajam itu hanya berjarak satu inchi di ujung hidungnya.
"Wajah ini sangat cantik, sungguh kasihan sekali ... sangat disayangkan, usiamu harus berakhir malam ini! Hahaha....." Pria bertato tersenyum sinis. Dengan mata melotot, dia terus menatap wajah Ardila yang kian memucat karena menahan rasa takutnya akan ancaman pria itu, apalagi ada senjata tajam di gengngamannya.
"Jangan sakiti dia!" pekik Baruna dengan suara lemah, dia sangat mengkhawatirkan kakaknya. Meski sekujur tubuhnya terasa sakit, dia tetap berusaha mengangkat punggungnya untuk bisa bangun. Akan tetapi, saat itu juga, dengan cepat pria satunya mendekat ke arah Baruna dan menendangnya lagi. Baruna kembali terhempas semakin menjauh dari posisi Ardila dan pria bertato.
Dor!
Di waktu bersamaan pula, terdengar sebuah suara tembakan.
"Hentikan, Oscar! Jangan coba-coba menyakiti Ardila!" Pekikan suara nyaring seseorang juga terdengar setelah suara tembakan.
Dari balik kegelapan di salah satu sudut di tempat itu, tiba-tiba muncul seorang pria yang lain.
Pria bertato yang tak lain adalah Oscar, yaitu asisten kepercayaan Diaz itu, sontak menoleh ke arah pria yang baru saja memberikan sebuah tembakan peringatan ke udara.
__ADS_1
"Sedikit saja kau berani melukainya, maka aku yang akan membunuhmu disini, Oscar!" Suara lantang itu terdengar lagi disertai dengan derap langkah kaki seorang pria yang berjalan cepat mendekati Oscar, seraya menodongkan sebuah pistol tepat mengarah di kepalanya.
Oscar mendengus kasar ketika mengetahui siapa pria yang menodongkan pistol itu ke arahnya.
"Pak Alfin!" decaknya gusar dan matanya kian terbelalak lebar. "Kenapa Pak Alfin melarangku untuk menghabisi mereka?" tanya Oscar heran, dengan senyum miring di bibirnya.
Oscar seketika melepaskan cengkraman tangannya dari tubuh Ardila lalu mendorong Ardila dengan sangat kasar, hingga Ardila tersungkur ke aspal tidak jauh dari tempat Baruna terbaring lemah.
"Dasar pengecut, kalian!" bentak Alfin berang.
"Ardila hanya seorang wanita. Kau tidak pantas mengancamnya apalagi bermaksud melenyapkannya dengan cara sadis seperti itu!" Suara Alfin semakin meninggi. Tentu saja, dia sangat marah ketika mengetahui ada orang yang berniat menyakiti putrinya.
"Memang apa salahnya, Pak Alfin? Mereka itu adalah anak-anaknya Arkha. Anak dari pria yang menjadi musuh bebuyutan Bos Diaz. Tujuan utama kita memang untuk menghabisi mereka!" seringai Oscar turut merasa marah. Dia sangat heran, mengapa Alfin yang juga sangat membenci Arkha, kini justru berbalik membela anak-anak dari Keluarga Waradana itu.
"Iya, itu benar, Oscar! Arkha memang musuh kita, tapi Ardila tidak! Jadi sebaiknya kalian segera pergi dari sini sebelum aku benar-benar menembak kepala kalian berdua!" bentak Alfin sarat akan ancaman.
Oscar lagi-lagi mendenguskan nafas kasar. "Baiklah, kali ini kami akan biarkan dua bocah itu selamat. Tapi ingat, Pak Alfin! Kami akan melaporkanmu kepada Bos Diaz. Aku yakin setelah dia tahu akan hal ini, kau pasti akan dibunuh olehnya!" Meski bersedia mengurungkan niatnya menghabisi Ardila dan Baruna, tetapi Oscar ikut menegaskan sebuah ancaman. Dia sangat yakin setelah tahu kejadian itu, Diaz pasti akan berbalik memusuhi Alfin.
Setelah yakin bahwa Oscar dan temannya sudah benar-benar pergi, Alfin lalu menghampiri Ardila yang masih berjongkok di tepi jalanan itu dan terlihat masih sangat ketakutan, sambil menahan punggung Baruna yang semakin lemah.
"Ardila...!!!" Alfin berteriak sambil berlari dan ikut menghampiri kesana.
"Dila, kamu tidak apa-apa kan, Nak?" Alfin menatap lekat wajah putrinya.
"Om ini siapa? Kenapa Om tahu namaku?" Ardila mengangkat wajahnya dan ikut menatap Alfin dengan mengernyit. Beribu tanda tanya kini ada di kepalanya, dan pastinya dia sangat heran, karena dia tidak pernah merasa mengenal pria di hadapannya. Namun, sebaliknya pria itu bersikap seperti sudah sangat mengenalnya.
"A-aku ... a-aku," Alfin tergagap. Pertanyaan Ardila membuatnya tersadar kalau belum waktunya dia membuka identitas di hadapan putrinya. Dia tahu, Ardila pastilah akan sangat membencinya apabila Ardila mengetahui kalau dia adalah ayah kandungnya yang sebenarnya.
"Namaku Alfin, Dila. Aku ini sahabat lama almarhumah Livina, mama kandungmu," jawab Alfin berbohong.
__ADS_1
Ardila langsung mengangguk. Dia ingat cerita Mutiara dan Arkha akan seseorang bernama Alfin yang merupakan sahabat masa kecil Livina dan juga papanya, Arkha.
"Oh, jadi Om Alfin ini adalah teman mama dan papa yang katanya tinggal di luar negeri itu, ya?" terka Ardila merasa sedikit lega karena pria di hadapannya bukanlah orang jahat.
"I-i-iya, itu benar, Dila," sahut Alfin terbata. Jantungnya berdetak kencang, dia sangat gugup, karena itu adalah pertama kalinya dia bisa melihat wajah dan senyum putrinya begitu dekat di hadapannya.
"Maafkan papa, Dila. Belum saatnya kamu tahu siapa aku sebenarnya," batin Alfin menggumam.
"Terima kasih banyak karena Om Alfin sudah menyelamatkan kami." Ardila tersenyum, kedatangan Alfin di waktu yang tepat sudah menyelamatkan nyawa mereka dari Oscar dan kawannya.
Alfin ikut membalas dengan tersenyum. Dia sendiri tidak paham, apa yang tengah dirasakannya saat itu. Meski Ardila tidak pernah tahu kalau dia adalah ayah kandungnya, akan tetapi sebuah ikatan darah sepertinya membuat perasaan berbeda muncul di benak mereka masing-masing.
"Sama-sama, Dila. Sekarang cepatlah pulang! Tempat ini berbahaya untuk kalian!" saran Alfin. Dia ingin Ardila segera pergi dari tempat itu karena bisa jadi saja, Diaz dan anak buahnya akan datang lagi kesana.
"Baik, Om. Tapi tolong bantu aku membawa Baruna ke dalam mobil. Dia sangat lemah, dia harus segera mendapat pertolongan," pinta Ardila dan Alfin pun sama sekali tidak ingin menolak.
Alfin lalu mengangkat tubuh Baruna, seraya mengalungkan lengan Baruna di bahunya. Bersama Ardila, dia memapah Baruna, di bawa masuk ke dalam mobil milik Ardila.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Om. Kami berhutang nyawa sama Om Alfin," ujar Ardila ketika dia sudah berada di dalam mobil dan siap meninggalkan tempat itu.
Alfin hanya mengangguk dan terus tersenyum. "Iya, Dila. Berhati-hatilah dan jaga diri kalian!" sahutnya sambil melambaikan tangan ke arah mobil Ardila yang kini sudah melaju kencang meninggalkannya.
Alfin terdiam dan masih tetap berdiri di tempat semula memandangi mobil Ardila yang sudah semakin menjauh.
"Tidak akan aku biarkan Diaz menyakiti putriku!" gumam Alfin, geram akan semua kelakuan Diaz dan anak buahnya.
"Baruna ... harusnya aku senang kalau bocah itu tadi mati saja dihabisi oleh Oscar. Dan tadi itu, aku harusnya juga bisa membunuhnya degan tanganku sendiri!" Alfin berdecak nanar.
"Tapi untuk saat ini, aku terpaksa membiarkan dulu dia selamat. Aku tidak mungkin menghabisinya di hadapan Ardila!" Alfin menghela nafas kasar seraya menggeleng.
__ADS_1
"Sepertinya Ardila sangat menyayangi Baruna. Selama ini, Arkha dan Mutiara sudah menjaga putriku dengan sangat baik. Mereka juga memberikan kasih sayang yang sangat tulus terhadapnya." Tiba-tiba sebuah pertentangan timbul di dalam benak Alfin. Ketika menyadari kebesaran hati Arkha dan Mutiara dalam menjaga dan merawat putrinya, membuat perasaan berbeda yang saling berlawanan ada di hatinya.
"Tidak! Sampai kapanpun, Arkha tetap adalah musuhku! Aku tetap akan menghancurkannya!" jengah Alfin. Senyum kegetiran kembali terulas di bibirnya. Dendam masih berkobar memenuhi isi kepalanya. Niat untuk membalaskan semua kepahitan kepada Arkha, masih membuncah di dalam jiwanya.